12 MANTAN

12 MANTAN
PART 13 INTEROGASI MENDADAK


__ADS_3

Pukul 10.15, aku berjalan terburu-buru setelah turun dari mobil, selesai memarkirkan mobilku di pinggir jalan (depan warung soto seberang sekolah).


Tak jauh dari mobilku ada mobil lain yang terparkir di situ, mungkin itu mobil Reza. Iya kalau zaman SMA dulu, berangkat dan pulang sekolah masih naik sepeda motor. Sekarang sudah beda.


Warung Soto Cak Man, itu nama warungnya. Soto legendaris, buka sejak tahun 1955. Bangunan rumah sederhana dengan beberapa kursi dan meja kayu. Tak lupa, selalu ada blek kerupuk warna biru di atas meja, bertuliskan “kerupuk bagong”.


Dulu sepulang sekolah, aku dan Reza sering mampir untuk makan. Menikmati makan bareng pacar. Aih, jadi baper lagi. Aku berjalan masuk ke dalam, celingak-celinguk mencari wajah seseorang.


Reza, cowok ganteng berbadan kekar tengah duduk memandangku dari kejauhan. Ia tersenyum manis menyapa, “Nes, sini duduk,” ajaknya menyeret kursi sebelahnya mempersilakanku untuk duduk.


Sambil jalan aku mengamati dirinya dari kejauhan, ada yang sedikit beda dari tampilan Reza: lengannya penuh dengan tato.


Astaga! Glup! Kutelan ludah pelan, perutku mendadak mual, tapi berusaha kutahan.


Seutas senyuman terpaksa tersungging dari bibirku, “Hai, Rez,” sapaku sok ramah.


“Mau makan?” tanya Reza padaku, sesaat setelah pantatku menyentuh dudukan kursi.


Aku menggeleng, “Sudah, teh hangat saja,” ujarku beralasan supaya cepat segera pergi dari tempat ini.


“Mm, oke,” katanya berdiri, menuju kasir memesan sesuatu. “Kamu gimana kabar? Tambah cantik,” pujinya dengan senyuman khas, duduk bersandar kursi sekembalinya dari kasir.


Aku memutar mata menatapnya. “Baik. Lama nggak ketemu, sekarang kerja di mana?” tanyaku sengaja menghindar dari omongan “masa lalu”.


“Mm, aku? Tunggu sebentar kartu namaku,” katanya sembari merogoh dompet mengeluarkan selembar kartu nama berwarna jingga, menyodorkannya padaku.


Aku mengangguk-angguk pelan sambil membaca tulisan dalam kartu nama. “Sudah berapa lama kerja di sana?” tanyaku sengaja memancing bicara.


“Mm, berapa ya? Lima tahun mungkin,” jawabnya coba mengingat.


“Oh, ya! Sudah lama dong. Keliling ke luar negeri juga nggak?” tanyaku hampir menjurus pada maksud tujuanku mencarinya.


“Bulan kemarin aku dari Singapura. Kalau bulan ini masih belum ada jadwal.”


“Mm, biasanya pergi sendiri atau sama teman?” tanyaku lebih ke pokok permasalahan.

__ADS_1


“Sendiri. Emang kenapa? Mau ikut?”


Aku tersenyum tertahan mendengar pengakuannya barusan. Akhirnya, terjawab sudah tanyaku. Yes!


“Mm, lain kali deh!”


Setelah agak lama mengobrol, sepertinya aku merasa tidak ada chemistry dengannya. Feelingku mengatakan kalau Reza tidak punya teman dekat pria, lebih tepatnya dia lebih banyak berteman dengan wanita daripada pria.


Obrolan terhenti setelah Reza mendapat telepon dari seseorang, jadi aku tak perlu bingung untuk mengakhiri obrolan kami.


Setibanya di rumah, entah kebetulan atau bagaimana. Firda menelepon ke ponselku. Dia mengatakan kalau sempat bertemu dengan Steven dan Vino, tapi mereka tidak keluar negeri bulan lalu, mereka juga bilang kalau tidak ada teman seagensi yang tangannya terluka.


Huft! Kurebahkan diri di tempat tidur lelah. Menatap nama-nama para mantan yang tertulis dalam catatan.


Aku mencoret nama Reza dari dalam daftar. Jelas sekali kalau lelaki itu bukan teman Reza. Tinggal 5 orang lagi yang belum diinterogasi.


Kruuuk!


“Hmm, aku lupa kalau belum makan,” gumamku bermonolog sendiri.


Beruntung sekali aku punya manajer sekaligus teman yang baiknya minta ampun. Sembari mencomot makanan, mataku melirik ponsel. Tiba-tiba saja aku merindukan suara mama, rasanya ingin pulang tapi kuurungkan.


4 hari kemudian…


Kebetulan siang ini aku ada jadwal pemotretan di gedung A. Kalian tahu siapa model prianya?


Irwansyah, aktor dan penyanyi ganteng kelahiran Jakarta itu pernah jadi pacarku meski cuma seumur jagung. Awalnya sih gara-gara cinlok (cinta lokasi), karena kurang komunikasi dan intensitas bertemu yang jarang akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan.


Suara jepretan kamera terdengar menggema di setiap sudut ruangan berdinding tembok tebal. Sunyi, hening tanpa suara satu pun keluar dari para awak kru yang menyaksikan. Lengkung senyuman palsu tersungging sempurna dari bibir para model, tak terkecuali aku. Bergaya di depan bidikan lensa fotografer, membuang jauh semua rasa canggung, grogi, atau bahkan malu-malu.


Satu hal, pikiranku masih tertuju pada pertanyaan yang bakal kulontarkan sebentar lagi.


“Ya, sesi 1 selesai. Istirahat 15 menit,” seru sang fotografer bersemangat.


Kesempatan nih! Aku berjalan menghampiri Irwan dan menyapa lebih dulu, “Hai, gimana kabar?” tanyaku sok akrab sembari berjalan di sebelahnya.

__ADS_1


“Nesya. Lama nggak ketemu. Baik. Kabar kamu gimana?” tanya Irwan menatap hangat, tampak terlihat dari matanya sinyal-sinyal kerinduan yang masih tersisa untukku.


“Baik. Oh ya. Boleh ngobrol sebentar?” ujarku sembari menarik lengannya menuju ke ruang rias. Ia terbelalak kaget melihat sikapku yang mendadak.


Aku membuatnya duduk di depanku sekarang, menatapnya serius. Untung hanya kami berdua di sini sekarang jadi tidak perlu susah mengusir orang lain untuk tidak mendengar percakapan kami.


“Iyang,” kataku. Itu panggilan sayangku untuknya.


“Hmm,” gumamnya membalas tatapan mataku lembut.


“Mmm—” kataku terputus.


Tiba-tiba ia menggenggam punggung tanganku lembut. “Nes, kamu masih sama Leon?” tanya Irwan menyela bicara.


Deg! Kaget. Sumpah kaget. Terkejut dengan sikap yang ditunjukkannya sekarang.


“E-e-eng sudah enggak. Baru—baru putus kemarin,” kataku terbata. Menarik tangan dari pegangannya, takut ada yang melihat.


Irwan menghela napas pendek, menggigit bibir bawahnya pelan sambil menatap ke arah pintu. Mungkin ia menyadari maksud dari sikap yang kutunjukkan barusan.


Matanya menatapku lagi, “Mm, katanya kemarin kamu ke luar negeri sama dia?” tanya Irwan ragu-ragu sembari menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal.


Itu tandanya ia cemburu, maksudnya cemburu pada Leon.


Dulu pernah, sepulang dari syuting. Dengan wajah cemburu sembari menggaruk ujung alisnya, ia bertanya padaku siapa model pria yang beradegan pelukan denganku.


Kalau sudah kayak begitu wajahnya terlihat cute banget, bikin gemas.


🔘😘


Selamat malam semua, maaf lama up date.


semoga mengobati.


Jangan lupa tempel like dan komennya

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2