12 MANTAN

12 MANTAN
PART 44 AKU PILIH KAMU JADI PENDAMPING AKU


__ADS_3

Kaget! Apa itu? Suara apa barusan. Seperti bunyi pistol meletus dengan keras. Pikiranku mendadak cemas, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Fint.


Aku berlari menuju pintu, “BUKA PINTUNYA! SIAPAPUN, BUKA PINTUNYA!” menggedor-gedor dengan kedua tanganku, berharap seseorang di luar sana mendengar teriakanku .


Beberapa saat tidak ada suara di luar sana, kemudian seseorang mencoba membuka gembok pintu mobil. Wajah Venita muncul,  membuka pintu mobil, segera saja aku turun dan berlari mencari-cari sosok yang kucari.


“Fint!!!” pekikku keras ketika mendapati darah keluar bercucuran.


Jadi benar, suara tadi suara pistol. Regan tergeletak tak sadarkan diri di sebelahnya. Aku berlari menghampiri pria itu, pria yang telah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku. Wajahnya berkeringat, kemeja putihnya memerah darah, ada lubang di sebelah bahu lengan kirinya. Darah segar mengalir deras dari lubang itu.


“Fint, kamu nggak apa-apa? Tanganmu,” ucapku dengan bibir yang gemetaran.


Tanganku merogoh ke dalam  tas, mencari sesuatu untuk membuntal. Syukurlah, aku membawa syal kesayanganku. Segera saja kulilitkan ke bahu tangan Fint yang terluka. Tak lama kemudian sirine ambulan terdengar mendekat.


Aku menemani Fint menuju rumah sakit, sedangkan Regan dibawa mobil polisi. Kuucapkan terima kasih pada Venita yang sudah ikut menolongku. Tak pernah kusangka sebelumnya, Venita seorang wanita pemberani, kupikir dia wanita yang baik, kalem, dan lemah lembut. Ternyata, Venita adalah jebolan atlet taekwondo. Ia juga yang membuat Regan tergeletak tak berdaya.


Kugenggam telapak tangan besar itu dengan kedua belah tanganku. Pria yang terbaring di tempat tidur ini tampak tertidur dengan tenang, efek dari obat bius setelah operasi. Selongsong peluru di bahu tangannya berhasil diambil dan dia harus kehilangan banyak darah. Kukecup punggung tangannya pelan, maafkan aku sudah membuatmu terluka?


Aku merasa bersalah, teramat sangat bersalah padanya. Ia begitu baik, tapi sebaliknya, aku seolah tak peduli dengan kebaikan yang diberikannya padaku. Aku begitu naif pada diriku sendiri.


“Fint!”


Seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan, wajahnya teramat kesal ketika melihat kehadiranku.


“Kamu lagi!” Sentaknya tak bersahabat. “Pasti gara-gara kamu anak saya jadi seperti ini.” Keriput di wajahnya semakin jelas ketika ia mulai memelototkan mata galak.


Aku berdiri dari duduk, menghampirinya dengan wajah tertunduk dalam. “Maaf Tante. Maafkan saya.”


“Pulang sana! Saya tidak sudi melihat wajah kamu. Wanita pembawa masalah.”


Dengan cepat Tante Widya menarik tanganku, mendorongku keluar dari dalam ruangan kamar pasien. Om Paorl (Papa Fint) hanya memandangku dalam diam, mimik mukanya seakan tidak tega melihatku diusir dengan kasar.


Kuhela napas panjang, berpikir sejenak di luar pintu pasien. Fint masih belum sadar, masa iya aku harus meninggalkannya sendirian? Tanyaku dalam hati.


Kugosok-gosok bahu tanganku, kedinginan. Sialnya! Jaketku tertinggal di dalam. Oh ya, tasku juga masih di dalam. Aku keluar tak membawa apapun, hanya ada ponsel di kantong celanaku.


Kutekan nomor Vivi, menghubunginya, menceritakan alur kejadian, keadaan Fint dan posisiku sekarang. Untungnya, Vivi segera datang menemuiku, bawakanku beberapa barang yang kubutuhkan. Aku tidak mungkin pergi meninggalkan Fint sendirian, tegasku membatin.


Semalaman aku berada di halaman parkir rumah sakit, duduk tertidur di dalam mobil, sendirian. Aku meminta Vivi untuk pulang, tidak ingin menyusahkannya lebih banyak. Dini hari, aku berjalan menuju ke kamar Fint. Tampak sepi, tidak ada seorang pun di dalam ruangan. Kuusap dada bersyukur, tidak ada Tante Widya di dalam kamar, jejaknya (tas) juga tidak kutemukan. Aku berjalan menghampiri ranjang pasien. Fint masih tertidur pulas, kuremas punggung tangannya pelan, mengusap-usapnya dengan sayang.


“Hoaem.”


Mulutku menguap lebar, kantuk masih menyerangku. Padahal aku sudah biasa tidak tidur saat sedang syuting sinetron di luar kota. Aku memutar badan, hendak ke kamar mandi.


Grab!


“Mau kemana?”


Kaget, spontan kaget mendapati Fint yang terbangun dari tidurnya. Tangannya menahan pergelangan tanganku.


“Fint. Sudah bangun,” kataku tak percaya.

__ADS_1


“Mau kemana?” Ucapnya bertanya sekali lagi.


Telunjukku menunjuk ke arah kamar mandi. “Ke kamar mandi.”


“Mmm,” balasnya melepas pegangan tangannya.


Selesai dari kamar mandi, aku kembali padanya, ke posisi semula. Fint yang menyadari kehadiranku hendak bangun dari tempat tidurnya, namun segera kutahan, membantunya duduk berbaring di tempat tidur.


Ia menepuk kasur disebelahnya, memberikan ruang untukku duduk. “Duduk sini.”


Wajahnya terlihat sangat senang ketika aku duduk lebih dekat dengannya. Fint bergerak cepat, lengan kanannya melingkar di pinggangku ketat, menghujaniku dengan kecupan.


“Tega sekali, meninggalkanku sendirian,” ujar Fint merengek manja.


“Mama kamu yang mengusirku.”


Fint mengecup pipi kananku, “Oh ya, terus kamu bilang apa?”


“Tidak bilang apa-apa?”


Pegangan tangannya mengendur, wajahnya terlihat murung. Kubalas dengan mendaratkan kecupan kecil di sudut bibirnya.


“Kok diam.” Kedua ujung alisku bertaut penasaran.


“Kau lupa pada janjimu sendiri,” tukasnya ketus, melipat kedua tangan di dada.


Aku terkekeh geli melihat sikapnya yang berubah murung. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku, mendaratkan kecupan singkat di bibirnya. Fint diam tak membalas, sepertinya dia masih marah padaku.


Selengkung senyum mengembang di bibirnya. Ia melirik padaku malu-malu, mengusap wajahnya sekali sembari menggigit bibir bawahnya pelan. Sinar mata bahagia terpancar dari kedua mata yang menatapku lurus, sekarang.


“Aku mencintaimu.”


“Aku juga,” jawabku sembari memeluknya. “Maafkan aku terlambat mengakuinya.”


Fint mengecup pundakku sayang, lalu memandangku dan berkata, “Besok kita nikah.”


Kupukul lengan kirinya gemas.


“Akh!”


“Akh! Maaf, maaf, maaf.” Tanpa sengaja aku menepuk sebelah lengannya yang sakit. Kutowel hidungnya dengan ujung jari telunjukku. “Kamu tuh ya, udah tahu sakit masih saja ngomongin masalah nikah.”


Telapak tangannya menyentuh pipiku lembut. “Aku takut kamu berubah pikiran.”


Kuraih  tangannya dari pipiku, menggenggamnya dalam kedua tanganku. “Janji adalah hutang. Dan… aku dah janji, nikah sama kamu.”


Fint tersenyum sejenak, kemudian mendadak terdiam. Menatap tanganku dengan muka murung.


“Kenapa?”


Fint menelan ludah pelan lalu berkata, “Aku tidak memaksa kalau kamu nggak mau.”

__ADS_1


“Hei, kok jadi kamu yang nggak yakin. Aku serius. Serius pilih kamu jadi pendamping hidup aku.”


Spontan kedua mata itu menatapku dengan senyum berseri-seri. Berikutnya ia meraih tanganku dan berkata, “Nesya Reneschea, maukah kau menikah denganku.”


“Ya,” balasku merangkul dan memeluknya sayang.


“Ya,” balasku merangkul dan memeluknya sayang. “Tapi Fint, Mamamu,” selaku merubah alur pembicaraan.


“Mama.” Fint menghela napas sejenak. “Biar aku yang bicara pada Mama.”


Aku menggeleng menolak. “Tidak.”


“Maksudmu, kalau Mamaku tidak mau menikah,” sanggah Fint salah paham.


Aku tersenyum kecil, mentowel ujung hidungnya pelan. “Bukan… semuanya salahku, sudah membuat keluargamu benci padaku. Jadi, biar aku yang meminta restu pada mereka,” kataku menjelaskan yang ada dalam pikiranku.


Kuakui semua adalah kesalahanku. Orang tua mana yang rela anaknya disakiti dan dipermainkan, tentunya tidak ada. Jadi sekarang giliranku untuk mendapatkan hati kedua orang tua Fint. Aku ingin mendapatkan restu dari kedua orang tua Fint, sebelum kami benar-benar resmi menikah.


🔶🔸🔸🔸


Horee... akhirnya nikah juga. Menurut kamu sudah selesai belum?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2