
Semuanya terbongkar setelah sore ini.
Rintik hujan mengalun sendu, aku masih betah menatap ke arah jendela yang basah berembun.
Sedikit bosan, tapi masih tak mengapa, aku suka hujan. Sembari menunggu, aku membuka-buka majalah di atas meja, ada fotoku di sana.
Sejam lebih, sudah berapa kali aku ke toilet, menghabiskan segelas jus alpukat dan 2 gelas air putih yang di sediakan oleh Venita (Sekretaris Fint).
Fint masih ada rapat, jadi aku harus berbosan-bosan ria menunggunya. Kubuka file foto dalam galeri ponselku, tersenyum bahagia menatap wajah tampan lelaki di sebelahku. Sampai kapan aku akan diam, tepatnya bukan diam, hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.
“Sayang, udah nunggu lama ya. Maaf,” kata Fint yang tiba-tiba datang, memelukku dengan kedua lengannya.
Deg!
Aku mendongak menatap kaget, cepat-cepat mematikan ponsel. “Fi-Fint. Udah selesai rapatnya,” tanyaku basa-basi, mendadak gugup.
“Makan yuk. Aku lapar,” ajaknya.
Aku balas mengangguk pelan. Saat akan berdiri, tiba-tiba saja perutku terasa sakit. Mungkin kram, kelamaan duduk miring. Aku meringis kesakitan sembari memegang perut.
“Kenapa, sayang?” tanya Fint dengan muka cemas.
“Sakit…” erangku parau.
“Yang mana yang sakit?”
“Perutku sakit,” kataku lemah.
“Tunggu ya, aku panggil dokter.”
Alisku bertaut, “Dokter! Nggak usah. Ntar lagi juga baikan,” kataku menahan sakit.
“Enggak. Aku nggak mau ada apa-apa sama kamu. Tunggu sini, aku panggil dulu,” pinta Fint, wajahnya benar-benar cemas. Ia berlari terburu-buru pergi.
Kuhirup dan kuembuskan napas beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Mengusap perut dengan penuh sayang sambil berkata, “Adek, jangan rewel ya. Maaf, capai ya.”
Mungkin iya aku kecapaian. Hari ini jadwalku syuting iklan sampai sore, lalu berangkat ke kantor Fint.
__ADS_1
“Fint!” pekik seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan.
Deg!
Mata kami saling bersiborok, sama-sama terkejut dalam diam.
“Nesya!” ucapnya memanggil namaku kaget.
“Kent. Untung kamu balik,” ucap Fint yang muncul setelahnya. “Tolong periksa Nesya. Katanya perutnya sakit,” gurat cemas seakan terukir sempurna di wajah Fint.
Alamak! Kali ini aku tidak bisa mengelak lari. Keduanya ada di depanku sekarang. Aku harus bagaimana?
“Dia?” tanya Kent dengan jari telunjuknya menunjuk padaku.
“Nesya, calon istriku,” kata Fint dengan mata bersinar bahagia.
Spontan memalingkan muka, rasanya ingin kusembunyikan wajahku dalam tong besar supaya tidak ketahuan olehnya.
“Ne-sya,” ujarnya mengeja namaku seakan sangsi dengan apa yang dilihatnya.
Mendadak suasana berubah tegang, Kent menatapku sisnis. Ia mendekat—menghampiri—duduk di sampingku—menatap tanpa berkedip.
“Egh! Pe-perut,” jawabku terbata, ketakutan.
“Nesya hamil, aku takut dia kenapa-napa,” kata Fint menambahkan. Ia berdiri tak jauh dari kami.
Alisnya bertaut. “Hamil?” tanya Kent menolehku tidak percaya.
“Ya, hamil tiga bulan,” jelas Fint pada Kent.
Kent menatapku beberapa saat, kemudian ekspresinya dan nada bicaranya berubah tenang ketika dia mulai memeriksa dengan stetoskop di dadaku.
“Tadi siang habis makan apa? Pedas, kecut?” tanya Kent datar.
“Mm, mangga sama Ayam Geprek,” jawabku wajar.
Ia spontan tersenyum. “Minum susu dan air hangat. Sayur dan buahnya kalau bisa pepaya, apel, alpukat. Boleh mangga, tapi jangan banyak-banyak,” pesannya sudah seperti dokter dari klinik dekat rumah.
__ADS_1
“Mm, oke,” jawabku singkat.
“Oh ya, aku lupa ngenalin. Sayang, ini Kent. Temanku dari SMP. Dia dokter di Rumah Sakit Buana,” tukas Fint memperkenalkan, senyum senang terukir dari bibirnya.
Aku cuma bisa pura-pura senyum diajak bicara sama Fint barusan. Kent, menatapku menyelisik, memperhatikan perutku. Aku jadi sedikit risih dilihat begitu.
“Pak, maaf. Ada tamu yang menunggu di ruangan meeting,” sela Venita. Tiba-tiba masuk dari pintu ruangan yang terbuka lebar.
“Oke, sebentar lagi saya ke sana.”
Fint menatapku khawatir, “Sayang, aku tinggal dulu ya. Kent tolong jaga Nesya sebentar,” pesannya meninggalkan sebuah kecupan di keningku.
Kent memalingkan muka saat itu juga. Ada rasa bersalah muncul dalam hatiku. Aku hanya berdua saja dengan Kent sekarang. Kikuk, tidak nyaman, serba salah.
“Nyonya Fint. Anda sudah baikan,” ujarnya menyindirku pedas.
Aku menatapnya malu, benar-benar tak bisa berkata-kata.
Kent menghela napas pelan. “Kalau begitu, saya pamit dulu. Selamat atas pernikahan kalian,” Ia berdiri dari duduk.
Sebelum dia benar-benar pergi, aku sudah lebih dulu menarik lengannya, keluar dari dalam kantor Fint.
Beruntung, Venita tidak ada di tempat duduknya. Aku mengajaknya berjalan cepat menuju lift.
Terperanjat saat dia berkata, “Hati-hati. Nggak perlu lari. Aku gak ke mana-mana,” pesannya mengingatkan.
Aku menatap kedua mata sendu itu sesaat. “Kent.” Kupanggil namanya pelan.
“Kita mau ke mana?”
“Bicara. Aku mau bicara.”
“Bicara aja.”
“Nggak di sini,” kataku dengan mata berkaca-kaca.
🔘🥰
__ADS_1
Meet malem. gimana rasanya kalau ketahuan selingkuh?
bantu like dan komen ya guys. makasih 😘