12 MANTAN

12 MANTAN
PART 38 KECEWA... MUNGKIN SAJA


__ADS_3

Hilang, sesuatu yang paling berharga hilang begitu saja dari hidupnya.


Isak tangis lirih rintih terdengar miris menyayat, menggema pilu pada dinding kamar yang sepi lengang. Matanya memerah sembab. Dia tidak berbaring, hanya terduduk dengan kedua kaki dilipat ke arah dada, di bawah lantai sebelah tempat tidur. Sedih teramat pedih.


Gelap, kala petang berganti malam, tampak dari kaca jendela yang tertutup tirai berwarna sawo setengah matang.


Seisi rumah seolah selalu siap menjadi pendengar setia, tidak ada orang lain hanya perabot rumah yang  mendengarkan rintihan pilu si pemilik rumah.


Keesokan paginya, suara ketukan pintu terdengar berkali-kali digedor. Hari berikutnya seseorang sepertinya sengaja menggedor kaca jendela sebuah kamar yang masih sedianya tertutup tirai rapat-rapat.


“Nesya! Buka pintunya!” teriak si pemilik suara.


Ruangan kamar tampak sepi tak berpenghuni, tapi jangan salah duga, ada seonggok manusia terbaring di dalamnya. Namun yang dipanggil hanya menggerakkan tubuhnya sebentar kemudian meringkuk kembali ke lantai tanpa selembar selimut di badan. 


Ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur bergetar berkali-kali, tak ada nada suara keluar dari ponsel yang sengaja di mode silent.


Dua hari, tidak, hampir empat  hari, rambut yang biasanya harum bau sampo kini  lepek acak-acakan kusut menggimbal, paras cantiknya yang biasa terpulas riasan tebal kini pucat pasi bak mayat hidup.


“Hoaem…”


Mulutnya yang bau menguap lebar tanpa kontrol. Sudah berapa hari ini dia tidak mandi, hidupnya serasa air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Dia tidak melakukan apapun, hanya terbaring tanpa ingin melakukan hal lain yang berarti.


Bayangan waktu itu masih saja terngiang-ngiang acap kali kedua matanya terbuka.


“Maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan bayi kita.”



 Pipinya merona basah, punggung tangannya mengusap air mata itu sekali lagi. Entah sudah keberapa kalinya dia menangis.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar langkah pasti seseorang memasuki rumah. Brak! Suara pintu kamar yang terbentur tembok membuat si pemilik rumah menoleh terkaget.


“Nesya!” pekik si pemilik suara.


“Vivi! Gimana kamu bisa masuk?”


Seutas senyum senang tersungging dari bibirnya, memamerkan sebuah kunci di tangannya,  “…aku punya serepnya.”


“Vivi…” pekikku menyebut namanya kesal, segera melompat dari tempat tidur, hendak merebut kunci dari tangannya.


Eits! Belum sempat menggelitiki Vivi, seseorang muncul dari ambang pintu. Kupikir itu dia, ternyata bukan.


Kuhela napas pendek, ada sedikit perasaan kecewa merambat halus dalam dada,  kecewa dengan apa yang kulihat di depan mataku sekarang.


Aku mungkin mengharapkannya datang, tapi aku sadar telah menolak kehadirannya. Bukan hanya sekali bahkan berkali-kali dan mungkin saja ia juga merasa kecewa sama seperti yang kurasakan sekarang.


Aku tersenyum membalas sapanya. “Fint.”


Lelaki baik itu menghampiriku. Yeah, Fint memang baik, terlalu baik padaku.


Tangan kanannya menggenggam tanganku lembut, lalu menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga.


“E-ehm, e-ehm…”


Vivi yang berdiri di belakang Fint berdeham keras, memberi isyarat. Mungkin dia malu melihat kedekatan kami berdua, padahal bukan hanya sekali ini saja.


Hohoho, bisa dibilang Vivi sedikit iri padaku.


 Fint tersenyum menoleh  padanya dan berkata, “Vi, bisa bantu siapkan makanan.”

__ADS_1


“Tentu dong! Apa sih yang nggak buat abang ganteng.”


Mendengar celoteh kenes Vivi membuat senyum mengembang di bibir Fint. Sebaliknya, aku melirik jengah melihat tingkah genitnya.


Fint menyipitkan mata memandang, mengendus pundakku. “Sayang, kamu enggak mandi berapa hari?”


Sontak kutundukkan pandanganku malu, menoyor pelan bahu tangannya. “Nyindir nih ceritanya,” kataku tidak terima.


“Enggak, cuma perasaan kok bau sapi ya.”


“Fint…” Kubekap mulut comelnya gemas.


“Mandi dulu gih,” ujarnya perhatian.


“Iya, iya,”


 Selesai mandi, kucomot semeja penuh makanan bersama Vivi dan Fint yang sudah lebih dulu menyiapkan makanan di atas meja makanan.


Fint dan Vivi menatapku tak percaya melihatku makan tanpa kontrol. Nafsu makanku berubah seketika melahap makanan dengan brutal. Kuusap perutku sayang, rasanya masih kemarin aku menjaganya dalam perutku.


Ah,  seperti ini pun aku masih teringat, teringat pada makhluk kecil yang sempat bersemayam dalam rahimku.


Tanpa terasa sudah hampir dua jam mereka berdua di dalam kamarku. Menghiburku dengan obrolan seru dan banyolan konyol yang sanggup membuatku tertawa terpingkal-pingkal.


Aku beruntung memiliki teman seperti mereka, batinku bermonolog.


🔶🔸🥰🥰🥰🥰


Pernah tidak merasa beruntung memiliki teman baik yang selalu ada buat kita, saat kita senang dan sedih, bahkan saat kita merasa terpuruk

__ADS_1


__ADS_2