
Kubalikkan badan menghadapnya lagi, bersikap sewajarnya. “Ya, apa?”
“Nikah yuk?”
Glup!
Kutelan ludah pelan, mengatur debar jantung yang satu dua. Sekali lagi, sebuah lamaran tercetus gamblang dari mulutnya.
“Kamu bercanda,” ucapku terkekeh naif.
Dia berjalan mendekat—menarik punggung tanganku cepat—mengangkatnya sembari menatap.
Tiba-tiba saja tanpa alasan menghempas tanganku secara kasar, membalikkan badan, mencengkeram tengkuknya dengan kedua tangan. Tampaknya dia menyadari cincin berlian (lamaran) yang tersemat cantik di jari manisku.
Dia kembali membalikkan badan menghadapku sambil bertanya, “Kamu, nikah?”
“Enggak,” selaku lebih dulu menjawab.
Ia melirik tak percaya, “Cincin itu?”
“Aku beli.” Jelas-jelas aku berbohong. Darimana aku dapat uang untuk beli cincin semahal ini. Lagian aku tidak suka membuang-buang uang, meski hanya untuk sebuah cincin.
“Leon?”
Nama itu sedikit mampu membuatku tersentak saat dia menyebutkannya.
“Udah putus,” jelasku singkat.
“Lalu aku?”
Tersentak, mendongak menatap wajah pria itu seketika mendengar pertanyaan barusan. Gugup, tak tahu harus bilang apa. Tiba-tiba ada rasa bersalah menyelimuti diri. Aku harus terima ‘takdir mempertemukan kami secara terlambat’.
“Mungkin…, aku bukan apa-apa buat kamu.” Saat itu juga dia tertunduk sedih. “Maaf, aku_”
“Ini rumah siapa?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan, membuatnya mengerutkan dahi.
“Rumahku.”
Aku berdeham pendek. “Boleh kan kapan-kapan aku mampir?”
“Nanti ada yang marah?” ucapnya balik menyinggung.
“Enggak kok,” balasku tegas. Jelas-jelas aku berbohong. Fint bakal mencak-mencak kalau aku ketahuan selingkuh. “A-aku pulang dulu,” ujarku terbata dengan telunjuk menunjuk ke sembarang arah.
“Tunggu!”
Sebelah tangannya sudah lebih dulu menahan pergelangan tanganku.
“Apa?” tanyaku menatap kedua bola matanya bergantian.
Dia memutar mata pelan, lalu berkata, “Mm, nomor handphone.”
Aku tersenyum tipis melihat raut wajahnya yang innocent malu-malu. “Aku gak bawa handphone. Handphone-mu mana?”
“Tunggu sebentar.”
Aku membalas dengan anggukan kecil, hanya sekejap setelah dia masuk ke dalam kamar kemudian sudah kembali berdiri di hadapanku.
“Nih!” menyodorkan ponsel berwarna hitam legam itu padaku.
Kuusap layar hologram bergambar bulan purnama itu. “Kuncinya?” tanyaku menyodorkan padanya.
“Seya2512,” jawab tanpa ragu menyebutkan password ponsel miliknya.
__ADS_1
“Seya?” tanyaku melihat padanya tak percaya.
“Ya, Seya. Kenapa?”
Aku menggeleng, “Eng-enggak, nggak apa?” jawabku kikuk.
Masih melekat di ingatanku ketika pertemuan pertama kami di Santoria. Dia memanggilku “Seya”. Aku menggeleng pelan, berpikir, Seya?Apa nama mantannya? Ah, sudahlah, lain kali saja aku tanya. Kuurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut, hanya sempat menyimpan nomor ponselku ke ponselnya. Setelah itu aku buru-buru pamit pulang, takut kalau Fint sudah ada di rumah.
Deg!
Jantungku seakan berhenti berdetak. Sorot mata itu menatap tajam. Benar saja, saat pintu rumah terbuka lebar, tampak Fint tengah duduk di kursi tamu, melirik sinis padaku
“Sayang, dari mana?” tanya Fint spontan berdiri dari duduk, berjalan tegak, menghampiri.
“Ng, ngantar bubur ke tetangga.” Bibirku mendadak kedutan karena harus berbohong di depan Fint.
“Kupikir tadi dah pulang.”
“Mama mana?” tanyaku, sengaja mengalihkan pembicaraan sambil berlagak mencari.
“Tadi ke kamar.”
“Ya, udah. Aku pamit dulu sama Mama.”
Selesai berpamitan, Fint mengantarku pulang. Manik mataku sempat melirik ke rumah pria itu, ketika mobil Fint lewat di depan rumahnya tadi. Ada perasaan senang, muncul lambat-lambat dari relung hati yang paling dalam. Senyum tipis menyembang dari bibirku.
“Dari tadi senyum terus, ada yang lucu?” tanya Fint heran, sesaat setelah kami tiba di rumah dan dia memutuskan untuk mampir.
Sontak menggeleng. “Eng-enggak, nggak apa-apa? Sudah malam, kamu nggak pulang?” ucapku seakan sengaja mengusirnya.
Fint tersenyum kecut. “Ngusir nih, ceritanya,” ucapnya terdengar kecewa, “Mm, boleh gak tidur sini.”
Ia menghela napas kecil—berjalan mendekat—melingkarkan kedua tangan ke pinggangku, “Sayang.”
Mendadak aku sedikit kikuk berada dalam dekapan Fint, tidak seperti biasanya. Kucoba menetralkan perasaan yang mulai galau, semua gara-gara pertemuanku dengan pria itu.
“Mm, apa?” kupaksakan diri menyunggingkan seutas senyum di depannya.
Kedua bola matanya menatapku bergantian. “Gimana kalau besok kita nikah?” usul Fint konyol, mendaratkan sebuah kecupan di pipi kananku.
“Fint…” aku terkekeh geli, menepuk pundaknya gemas.
“Udah gak sabar pingin sama-sama tiap hari.” Raut wajahnya berubah murung.
“Ya, kan. Tinggal sebulan.”
“Gimana kalau tinggal serumah dulu?” ajaknya, kemudian mengecup rambutku beberapa kali.
“Kamu gila. Kalau ketahuan, bisa-bisa aku dilempar sapu sama mama kamu,” sanggahku menolak tegas, menjawabnya dengan gurauan garing.
Fint mendengus pendek, “Aku takut kamu kabur?”
Tersentak kaget setelah mendengar ucapnya barusan. Tunggu dulu! Darimana dia tahu? Kayak dukun aja. Kucoba bersikap sewajar mungkin di depannya.
“Kabur? Emang mau kabur kemana?” jawabku tersenyum simpul.
“Enggak tahu. Perasaan aja. Kemarin juga sempat mimpi, kamu pergi sama cowok lain,” keluhnya bercerita dengan muka murung.
“Oh ya,” ujarku tersenyum kecut.
Kali ini Fint mendekapku lebih erat.
__ADS_1
“Jangan pergi lagi. Aku sayangnya cuma sama kamu. Enggak bisa kalau gak kamu,” kata-kata Fint terdengar terlalu manis di telingaku, membuat dada ini bergetar, rasa sayangku padanya perlahan mulai muncul, tak sampai hati menyakitinya.
Kutangkup wajahnya dengan kedua tangan, menciumnya lembut. Tiba-tiba saja, perutku terasa sakit. Auch! Kucoba menahan seper sekian detik, malah semakin melilit sakit. Padahal aku sudah makan tadi, sebelum pulang, kami mampir makan dulu. Kudorong pundak Fint pelan, kemudian beralih memegang perut. Rasa mual menjalar perlahan, mendadak beraksi ingin muntah.
“Kenapa sayang?”
“Uweek. Mau muntah,” ujarku buru-buru ke kamar mandi. Cepat-cepat kubasuh mukaku dengan air dingin, sedikit membuatku enakan. Mengatur napas, menenangkan diri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Fint cemas, berdiri di depan pintu kamar mandi.
Aku menggeleng lemah, “Enggak.” Berjalan hati-hati keluar dari dalam kamar mandi.
“Perlu kutemani?” tanya Fint terlalu khawatir.
“Nggak apa. Aku mau tidur aja.”
Tanpa permisi, Fint mengangkat tubuhku, membopong, membawaku ke kamar. “Fint, turunkan. Aku bisa jalan sendiri,” erangku menolak.
Cup!
Terbelalak seketika sebuah ciuman membungkam mulutku singkat.
“Bawel banget, sih,” ujarnya membaringkanku di atas kasur, mengecupku di bibir sekali lagi. “Telepon aku kalau ada apa-apa.” Jari jemarinya membelai rambutku lembut.
“Iya, iya,” jawabku kemudian memejamkan kedua mata, berpura-pura tidur.
Ia mengecupku lagi, seakan tak tega meninggalkanku sendirian. Kubuka mata memandang garis mata tajam yang tengah menatapku hangat.
“Kamu nggak pulang?” ujarku membenamkan kepalaku lebih dalam ke dalam bantal.
“Aku masih kangen.”
Aku tersenyum mendengar ucapnya, lalu berkata, “Kangennya dibungkus aja dulu. Besok di buka lagi, biar gak habis.”
“Masalahnya, gak bisa dibungkus. Soalnya kegedean, sampai bungkusnya enggak muat.”
Spontan saja tawa kecilku meledak, serta merta menepuk-nepuk bahu lengannya gemas. Fint balas mencubit ujung hidungku gemas.
“Gimana nggak kangen coba, kalau kayak gini. Jadi pingin nempel terus.”
“Perangko kali,” balasku mengolok canda.
“Fint. Aku mau tidur, capek,” kataku menyudahi obrolan.
“Oh ya. Aku ambilkan air dulu, biar nanti nggak usah ambil air,”
Sungguh, perhatian Fint membuatku tersentuh. Sesaat kemudian ia kembali membawa sebotol air minum, meletakkannya di atas nakas dekat tempat tidur.
“Perutmu sudah baikan?” Telapak tangannya yang besar mengusap perutku sayang.
“Udah.”
“Aku pulang dulu. Tidur yang nyenyak ya, sayang,” pamitnya pulang sembari mengusap rambutku lembut.
Aku membalas dengan sebuah anggukan pendek. Menatap punggung yang kesepian itu menghilang di balik daun pintu kamar yang tertutup.
🔘🤫
Senang nggak sih? Kalau ada yang bilang kangen
Bantu like dan komen ya guys.
🥰😘😘😘
__ADS_1