12 MANTAN

12 MANTAN
PART 27 KAMU SAYANG GAK SIH!


__ADS_3

Kent, membantuku turun dari tangga. Memegang pingggangku care.


Saat kedua mata kami bertemu dia berkata sembari menyentil dahiku pelan, “Bodoh. Bikin jantungan aja.”


Kedua tanganku tanpa perlu izin darinya, memeluk dirinya erat. “Kent, aku_”


Cup!


Tiba-tiba saja dia mengecup dan memelukku. “Jangan lakukan lagi, aku bisa mati cemas.”


“Kamu… sayang nggak sama…” pandanganku tertunduk menatap ke arah perut.


Kent tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Tentu saja. Nggak mungkin aku gak sayang.”


“Tapi, kenapa. Kamu…”


“Maaf, aku. Aku cuma bingung.”


“Bingung. Bingung kenapa?” Tanganku menggosok-gosok bahu, mendadak merasa kedinginan. Mungkin Kent menyadari gerak-gerikku saat dia tiba-tiba melepas jaketnya, menyematkan ke badanku.


“Aku antar pulang.”


“Nggak mau. Aku mau di sini.”


Dia menatapku sambil menggaruk sebelah alisnya, “Ayo masuk.” Menuntunku masuk ke dalam rumah.


Menyuguhkan teh madu hangat di atas meja, lalu duduk di sebelahku. Wajahnya tampak lelah, terlihat dari kerut keningnya yang muncul segaris tipis. Kent terdiam tak memulai bicara, tak jua menatapku seperti biasa. Dia terlihat acuh tak acuh.

__ADS_1


“Kent, aku mau menggugurkannya.”


Jelas saja dia spontan menatapku dengan kedua bola matanya mendelik lebar-lebar sambil berkata, “Apa kamu bilang?”


Pelupuk mataku rasanya penuh seketika itu juga, hati ini rasanya sakit mengucap kata yang seharusnya tak pernah ingin kukatakan.


Maafkan Mama sayang, Mama tak bermaksud, ucapku mengatakannya dalam hati, pedih.


“Nesya. Kau bercanda.”


“Aku… aku nggak tahu harus gimana?”


Tangisku tumpah seketika itu juga.


Detik itu juga ia memelukku. “Jangan katakan lagi. Aku tak mau dengar. Biar aku bicara pada Fint.”


Tangisku terisak dalam dekap hangat tubuhnya, Kent mengecup keningku dan berkata, “Sudah malam, aku antar pulang.”


“Sya…” bola matanya menatapku bergantian.


Aku balas menatapnya, sembari merengut cemberut. Berikutnya ia tersenyum melihat ekspresiku yang kekanakan.


“Kamu sudah makan?” tanya Kent lembut.


“Belum.” Padahal aku baru makan tadi, Mama masak tumis dan ayam bakar. Hehehe, maaf perutku masih lapar.


Kent mendengus pendek sembari mengusap wajahnya. “Tunggu sini. Aku buatkan makanan,” katanya kalem.

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan. Kualihkan perhatianku pada Televisi, menit berikutnya kedua kelopak mataku terasa tertindih beban berat. Benar-benar mengantuk.


Keesokan paginya. Kutemukan diriku tertidur di atas tempat tidur. Asing! Sendirian! Dimana aku?


Kucoba mengembalikan ingatan yang terlupa. Oh ya, ini rumah Kent. Pandanganku mengedar. Kemana dia?


Turun dari tempat tidur, berjalan gontai dengan rambut acak-acakan menuju lantai bawah. Baru dipertengahan anak tangga, sayup-sayup kudengar suara Fint di suatu tempat. Masa iya itu Fint? Ragu-ragu kulangkahkan kakiku turun, satu demi satu anak tangga.


Sekilas, tampak punggung Fint dari belakang. Ia memakai kemeja hitam. Serta merta aku kembali menuju kamar. Tentu saja, aku tidak boleh ketahuan kalau berada di sini. Aku berlari ke kamar mandi, tepat di sebelah kamar bekas tidurku semalam.


Memandangi pantulan diri dalam cermin. Aku benar-benar berantakan. Kusikat gigi dan mengelap mukaku. Tidak cukup dengan itu, aku menuju kamar, mengambil beberapa baju milik Kent dan mandi.


Kukancingkan kancing kemeja paling ujung. Aku baru saja selesai mandi.


“Nesya, ayo makan,” ujarnya memanggilku. Ia memandangku tak berkedip, menghampiri. “Bajumu terlalu vulgar, sengaja ya,” bisiknya di telingaku.


“Enggak. Siapa juga_” belum selesai bicara, Kent membekapku dengan ciuman singkat.


“Jangan lakukan ini di depan Fint. Aku tidak suka,” bisiknya di telingaku. Ia menciumku lagi lebih lama, lalu berhenti dipertengahan. “Jangan turun dulu, Fint ada di bawah.”


Aku mengangguk pelan, berlagak tidak tahu. Padahal aku sudah tahu kalau Fint sedang ada di dapur. Key keluar dari dalam kamar, menemui Fint. Tak berselang lama, terdengar derung suara mobil keluar dari halaman rumah. Kent kembali membawa sepasang baju, juga tas milikku.


“Kent, ini kan,” kataku tak percaya.


Ia tersenyum, tertunduk sungkan. “Habis manjat barusan.”


Aku tertawa terkekeh. “Tidak bertemu nyonya besar?"

__ADS_1


"Untungnya tidak," jawabnya tersenyum lebar.


🔘😄


__ADS_2