
Aku bergeming, tak yakin pada perasaan hati yang bimbang. Tak siap, saat sebuah ciuman kecil mendarat di keningku.
“Fint, nanti dilihat Mama,” celetukku menoyor pelan lengan tangannya gemas.
Wajah gantengnya menahan senyum mendengar ucapanku yang malu-malu meong. Tatapan iris mata kopi itu sungguh menawan, tak jua membuat mata ini lelah memandang, terasa bagaikan angin laut yang berembus sepoi-sepoi di bibir pantai.
Dadaku berdesir cepat, debarannya pastilah terdengar jelas jikalau sebuah speaker tertancap di dalamnya, tatkala jari-jemari itu mulai menyelipkan anak rambutku ke daun telinga, dengan tenang ia berkata, “Kamu sudah makan?”
Sungguh! Aku salah sangka kalau berpikir dia akan mencoba menciumku sekali lagi. Ternyata cuma menanyakan hal sepele.
“Sudah tadi.”
“Mama masak apa?” tanya Fint mengedarkan pandangan ke sekitar meja makan.
“Sayur lodeh,” jawabku singkat tanpa ingin menjelaskan lebih banyak.
Ia bergerak duduk di sebelahku. “Aku juga mau. Ambilkan dong!” pintanya kenakanan sembari menopang dagu.
Dengan enggan aku berdiri dari duduk, berjalan gontai mengambil piring di rak. Saat hendak menyendok sayur dalam panci, aku mendengar suara Mama tak jauh dari tempatku berdiri, “Nak Fint, kapan datang?”
“Barusan, tante,” jawab Fint bergegas bangkit dari duduk, menghampiri Mama memberi salam (mengecup punggung tangan tanda hormat kepada yang lebih tua).
“Ayo sarapan dulu.”
“Sudah diambilkan Esya,” ujar Fint dengan tutur kata sopan, menolehku.
__ADS_1
Aku melirik tipis pada keduanya, tampak rona bahagia terpancar berkerling-kerling dari kerlipan sorot mata Mama. Dari awal Mama sudah sreg saat pertama kali melihat performa Fint. Tentu saja, Fint adalah menantu idaman bagi Mama.
Bagaimana tidak! Fint Willyor, putra dari Paorl Willyor, seorang milyader yang memiliki beberapa anak cabang perusahaan elektronik terkenal di kotaku, dalam setahun ke belakang usahanya bahkan merambah sampai ke developer rumah dan apartemen.
Fint sendiri mewarisi bakat serta keuletan papanya, ia membuka beberapa outlet barang-barang elektronik, dealer mobil, bahkan sekarang ia sudah mempunyai sebuah kafe dan rumah singgah di luar negeri.
Dengan karakter simpel, ramah, sopan, baik hati, bertanggung jawab, perhatian, respek terhadap orang di sekitarnya, seimbang sih dengan tampang rupawan yang di milikinya.
Aku sempat sangat mendambakannya dulu, sekarang…? Entahlah! Aku masih ragu dengan perasaanku sendiri.
Kotak memoriku rasanya masih penuh dengan kenangan manis bersama orang itu, OIA Yunani.
Selesai makan dan cuci piring, Fint mengajakku keluar. Baru aku tahu tujuan kami saat mobil Fint berhenti tepat di depan halaman toko perhiasan. Ia menggandeng tanganku masuk ke dalam toko (sebetulnya aku enggan).
Aku bakal pakai cincin apa saja yang dia belikan, batinku pasrah.
Aku mengedip menyadarkan diri kemudian tersentak sadar, otomatis menoleh ke belakang. Hanya punggung berkemeja lengan panjang warna mocca yang bisa terlihat jelas dari kejauhan. Ingin rasanya aku berlari mengejarnya, tapi aku tertahan dengan keberadaan Fint sekarang.
“Siapa Sya?” tanya Fint membuyarkan lamunanku.
Spontan membuatku menggeleng cepat. “Bukan, salah lihat,” jawabku kikuk, melemparkan senyum yang dibuat-buat.
“Oo, kupikir kenal. Oh ya, sayang. Kamu pilih aja model cincin yang kamu suka, enggak perlu couple,” pesannya singkat, menghentikan langkah menatap mataku hangat.
Terkejut, sungguh! Aku sempat berpikir kalau bakal disuguhkan dengan pemandangan beberapa model cincin couple yang sudah lebih dulu dipesan oleh Fint jauh-jauh hari.
__ADS_1
Aku salah tafsir!
Dia paling tahu aku tidak suka cincin berdesain polos (hanya berbentuk lingkaran saja atau dengan permata di tengahnya).
Itu pernah terjadi dulu, saat Fint memberikanku sebuah cincin dan aku menolaknya, gara-gara modelnya yang simpel, meski aku tahu bahwa cincin itu mungkin seharga separuh dari rumahku.
“Emang nggak apa?”
“Terserah kamu aja.”
“Kamu terlalu pasrah.”
“Apa coba yang enggak buat kamu,” guraunya menggodaku sembari mencubit ujung hidungku gemas.
Aku tersenyum kecut mendengar lelucon garing yang tidak jelas darinya.
Kupandangi pantulan diri dalam cermin beberapa saat, setelah 15 menit lalu Fint mengantarku sampai di depan rumah. Ingatanku tertuju kembali pada lelaki yang perpapasan denganku tadi.
Dia mengenakan kemeja lengan panjang warna mocca dipadukan dengan celana panjang hitam slim fit, sebelah tangannya tengah sibuk merogoh saku celana, sepertinya sedang mengambil ponsel.
Sayangnya, aku tak begitu menamatkan bentuk postur wajahnya.
Aku mengibaskan kepala sekali, “Mungkin aku salah lihat,” celetukku bermonolog sendiri.
🔘😔
__ADS_1
***Nesya salah lihat atau benar-benar kebetulan lihat?
Tunggu next chapternya. Jangan lupa like dan komennya 🥰***