
Kuraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, membuka kontak panggilan terkini, menyimpan nomornya dengan sebuah nama.
Astaga! Aku lupa lagi tanya namanya.
Jari tanganku tergelitik untuk menekan tombol call hijau di layar ponsel. Cepat-cepat kubatalkan hanya dalam hitungan detik, malu untuk memulai.
Tiba-tiba saja, dering suara ponsel membuatku tersentak kaget, sampai terlempar dari genggaman.
“Ng, halo,” ucapku ragu-ragu mengatakan.
“Ini benar Nesya?” bertanya ragu.
“Ya, ini Nesya. Ini siapa?” ucapku sengaja menanyakan. Alasan sebenarnya karena aku belum tahu namanya.
“Kent. Masa lupa? Belum sejam”
Ow, namanya Kent. Yes! Akhirnya aku tahu siapa nama dia.
“Kamu, belum tidur?” tanyaku basa-basi seakan tidak ada bahan obrolan lain.
“Mm, belum. Nunggu telepon kamu.”
Deg!
Spontan terperangah, dada ini mendadak berdebar-debar tak karuan. Kugigit bibir bawahku pelan.
“Bohong. Pasti nunggu telepon dari pacar kamu,” ujarku memancing tanya.
“Aku nggak punya pacar. Punyanya calon istri,” jawabnya sedikit membuatku terkejut.
“Oh ya. Terus kenapa tadi malah_” kuhentikan ucapku, tak berniat meneruskan, menunggunya lebih dulu bicara.
“Masa nggak ngerasa,” nada bicaranya seakan menyindir.
“Maksudnya?”
Dia berdeham sekali, “Besok jalan yuk!” ajaknya mencari celah kosong.
“Mm, ke mana?”
“Maunya ke mana?”
“Di rumah aja,” ujarku tertawa gurau.
“Kok ketawa sih! Serius,” balasnya dengan nada gemas.
“Iya, serius. Besok? Lihat besok. Nanti aku telepon,” kataku tak berusaha menyanggupi.
Desah napasnya terdengar sampai di telinga, “Oke. Met tidur, ya. Love you.”
Deg!
__ADS_1
Apa yang dia katakan barusan? Love you, yang benar saja. Jantungku mendadak berdetak dag dig dug deg dog.
“Mm, malem,” balasku malu-malu, segera menutup telepon.
Selesai telepon bibirku tersenyum-senyum sendiri tidak jelas, sembari memeluk bantal gemas. Serasa berlarian dihamparan luas penuh kelopak bunga bertebaran. Berbunga-bunga rasanya.
Kuusap sayang perutku sembari tersenyum, sejenak kemudian senyumku berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
Pria itu, hadir kembali di saat hubunganku dengan Fint sudah hampir di ujung pernikahan.
Kuakui, aku menyukai pria itu . Kent (ayah dari anakku).
...♡♡♡♡♡♡...
#Kent Pov
“Hai! Maaf telat. Filmnya dah mulai,” tanya Nesya sesaat tiba di hadapanku.
Aku terkekeh geli dalam hati, melihat penampilannya yang berbeda. Memakai topi hitam dan bermasker, menutupi wajahnya. Mungkin dia takut ada yang mengenalinya nanti.
Aku tak menolak, saat dia memesan tiket online nonton film midnight. Kupikir ini kesempatanku untuk lebih dekat dengannya.
“Baru saja,” jawabku singkat. Dia tampak terburu-buru, bisa dibilang setengah berlari.
Kulirik arlojiku, pukul 22.45. Sepi, hanya tinggal aku, Nesya, dan seorang petugas bioskop. “Ayo, masuk. Tanpa canggung, kugandeng tangannya, menuntunnya masuk ke dalam teater.
Akhirnya kami mendapatkan tempat duduk. Terpukau, itu yang kurasakan saat Nesya membuka topi dan maskernya. Dia memang cantik, tak salah kalau aku mengaguminya sejak dulu.
“Mm, apa.” Tolehnya padaku dengan tatapan mata indahnya. Spontan terpaku, memandang.
“Minum,” kataku menyodorkan secup cola yang kubeli sebelum dia datang tadi.
Nesya tersenyum, “Terima kasih.”
Dadaku mendadak berdebar. Mungkin efek suasana heningnya bioskop, atau mungkin karena perasaanku yang tak bisa terbendung.
Perlahan-lahan jari-jemariku bergerak mendekat ke punggung tangannya, lalu menggenggamnya dalam telapak tanganku yang bebas.
Kami saling tersenyum menatap, mengulum bibir pelan, kembali menatap ke layar bioskop. Bahagia seakan meletup-letup perlahan dalam hati.
Dia menolehku sekali lagi, kami pun saling berpandangan dalam diam. Mimik mukanya tampak malu-malu. Jari-jemari kami saling bertaut erat.
Sungguh, aku tak ingin melepas tangan ini selamanya.
Beberapa menit kemudian… sebuah kepala bersandar di pundakku, menumpu berat. Aku terkekeh geli, menatap kelopak mata Nesya terpejam rapat. Dia tertidur.
Mungkin dia lelah, ya, memang sudah larut malam. Kubenamkan kepalanya dalam pelukanku, membuatnya tidur senyaman mungkin.
Nesya masih tertidur saat film telah selesai. Awalnya aku bingung, hanya bisa menunggu sampai dia terbangun sendiri.
Apa perlu aku menggendongnya?
__ADS_1
Belum sempat tanganku menyentuh, Nesya sudah lebih lebih dulu membuka kedua matanya.
“Sudah selesai?” ucapnya parau, khas suara bangun tidur.
“Ayo, pulang," ajakku, mengulurkan sebelah tangan, tersenyum hangat.
#Nesya Pov
Kupandangi diri dalam cermin, melihat ke arah perut. Bertanya dalam hati, dia bakal tahu nggak ya?
Kukenakan cardigan hitam panjang menutupi perut, tak lupa topi serta masker.
Pukul 9 malam, aku berniat untuk bertemu dengannya lebih awal, tapi… betapa aku dibuat terkejut ketika mendengar suara mobil Fint berhenti di depan pagar. Serta merta aku berbalik badan menuju kamar, mengganti bajuku dengan daster kaus untuk tidur. Tak lupa menghapus gincu di bibir dengan tisu basah.
Suara bel rumah berbunyi sesaat aku keluar dari dalam kamar. Kubuat rambutku seberantakan mungkin, sebelum benar-benar membukakan pintu rumah untuk Fint, supaya terkesan bangun tidur.
“Malam sayang, maaf ganggu. Kamu lagi tidur?” ucapnya bertanya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
“Iya, ngantuk,” jawabku singkat.
Ekor mataku mendapati 2 kantong plastik terjinjing di kedua belah tangannya.
“Kamu bawa apa?” tanyaku saat Fint mendaratkan diri, duduk bersandar di sofa.
“Sya, sini,” katanya memintaku untuk mendekat. Wajahnya tampak lelah, aku tidak tahu apa yang terjadi , tapi sepertinya dia sedang bad mood.
Fint menarik pergelangan tanganku, memaksaku duduk dalam pangkuannya. Seperti biasa, kedua tanganku bergerak melingkar pada pundaknya. Dan saat itu pula, Fint mencium mengulum, mengisap lembut bibirku.
“Kenapa Fint?” tanyaku lagi penasaran, sesaat setelah ia berhenti menciumku.
Fint menggeleng pelan. “Nggak apa, cuma capek aja.”
“Kubuatkan kopi, mau?” kataku menawarkan.
“Nggak usah. Di sini saja, kamu duduk agak ke sana, aku mau tidur sebentar,” pintanya padaku, kemudian bergerak mengambil posisi tidur dengan kepala menyandar pada kedua pahaku.
Kuusap kepalanya sayang, tak tega meninggalkannya sendirian, tapi… Kent pasti sudah menungguku, jadi serba salah. Mana ponselku tertinggal di kamar, aku tak sampai hati membangunkan Fint yang baru saja tertidur.
Pukul 21.55, pasti filmnya sudah mulai, dan Kent benar-benar pulang dengan rasa kecewa yang sangat.
“Hmgh! Jam berapa sekarang?” tanya Fint parau, melihat arloji di tangannya, bangun dari tidurnya dan duduk. “Kenapa nggak bangunin sih sayang, kamu pasti capek. Maaf ya.” Tangannya membelai rambutku, kemudian mengecup kening.
“Nggak apa, udah malam. Pulang, terus istirahat,” ucapku berpura-pura tenang.
“Oke, kamu juga cepat tidur,” katanya menepuk ujung kepalaku sayang. “Met, malam ya sayang.” Telapak tangannya mengelus perutku sayang.
Aku mengantar Fint sampai ke depan pintu, menyisakan senyuman simpul di sudut bibirku.
🔘😍
nge-date. gimana nge-date romantis menurut kamu?
__ADS_1
komen dong. makasih