
Dua minggu, hampir empat belas hari aku tidak bertemu dengannya “Kent”.
Tiba-tiba saja dia menghilang bak ditelan perut bumi. Aku bahkan sengaja mampir ke rumah Mama beberapa kali, tapi tak kutemukan tanda-tanda kehidupan di rumah sebelah.
Hari ini sebuah papan tergantung di pagar rumah bertuliskan “Rumah Dikontrakkan”. Sempat bertanya-tanya sendiri dalam hati, apa iya dia pulang ke negaranya?
Sore ini di rumah Mama.
“Ma…”
Mama menoleh memandangku, “Apa sayang?”
“Uhm… rumah sebelah beneran dikontrakkan?” tanyaku dengan wajah memohon, berharap kabar baik terlontar dari mulut Mama.
“Kenapa? Kangen ya sama Kent, katanya dah putus,” olok Mama menyindirku.
Kuputar mata jengah. “Enggaklah, siapa juga yang kangen sama dia," jawabku sewot, menyendok makanan di dalam piring dengan kesal.
Mama mendekatiku, mengusap rambutku sayang. “Sayang… kenapa enggak telepon langsung? Kan kamu bisa tanya dimana dia sekarang.”
“Mama… ditanya apa jawabnya apa,” jawabku mengerucutkan bibir cemberut, “buat apa juga adek telepon, dia sudah sibuk sama pacar barunya.”
Mama menghela napas pendek. “Memangnya Kent punya pacar lain selain kamu.”
Aku menggelengkan kepala menolak. “Enggak tahulah Ma. Adek dah nggak mau tahu lagi sama dia.”
“Benar nggak mau tahu. Apa perlu Mama telepon Tante Erna?”
“Mama…” pekikku tertahan.
“Ya sudah kalau begitu,” ujar Mama menyindir kecil. Sekali lagi Mama mengusap ujung kepalaku sayang sembari berkata, “Kamu sudah dewasa, harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan mengandalkan emosi semata.”
“Iya Ma,” jawabku pasrah.
Sesal, ada secuil rasa menyesal dalam hati, padahal aku yang sengaja mengusir mereka berdua dari hidupku.
Sepuluh hari setelah kejadian penculikan, Fint menepati janjinya: mengumumkan pembatalan pernikahan kami di depan pers.
Sore itu, di dalam ruangan kantor Fint. Aku duduk sendirian, bersandar pada punggung kursi sesaat setelah Fint meninggalkan kecupan kecil di keningku.
“Aku bakal tunggu sampai kamu mau terima, tapi kalau hatimu memang bukan buatku. Anggap aku mantan yang selalu ada buat kamu.”
Meski kami tidak jadi menikah, tapi dia rela melepas tuntas rasa cintanya padaku. Aku salut melihat sikap baiknya yang rasional.
Seseorang tiba-tiba menyelonong masuk, lalu duduk di sebelahku. Benar-benar membuatku terbelalak terkejut. Ia yang kuharapkan kini hadir di depan mata.
“K-Kent,” ucapku menyebut namanya gugup.
Entah kenapa kaki ini ingin rasanya berlari menjauh sejauh mungkin darinya.
“Mau kemana? Kita harus bicara.”
Tangannya menahan lengan kananku kuat. Aku menoleh dengan pandangan mata sinis. Sejenak ingatanku kembali pada kejadian saat di rumah sakit tempo hari.
Malam itu, aku terbangun. Aku tak mendapati kehadiran Kent di dalam kamar, hanya Fint yang tertidur di sofa panjang. Hmm, mungkin dia jalan-jalan di luar, pikirku menerka.
__ADS_1
Kuputuskan untuk mencarinya, meski kuakui aku sedikit takut berjalan sendirian di dalam rumah sakit, namun aku tak sampai hati membangunkan Fint. Selang infusku baru saja dilepas tadi siang, kata Kent aku sudah boleh pulang besok.
Aku berjalan pelan-pelan keluar dari dalam kamar. Beruntung di luar kamar, masih ada segelintir dokter dan perawat yang berjalan melewati koridor. Dengan rasa penasaran yang cukup, aku berjalan menengok beberapa kamar pasien yang pintunya separuh terbuka, sampai aku tiba di salah satu ruangan.
Kent? Aku berharap aku salah lihat karena jarak pandang yang lumayan jauh, tapi tidak, itu benar-benar dia.
Seorang wanita berjubah putih sebawah lutut berdiri di depannya, melangkah pelan, menghimpitnya hingga tersudut di pinggiran meja, terlalu dekat. Rambut panjangnya tergerai lepas sepinggang, menutupi separuh wajahnya.
Hei! Apa-apaan dia. Sungguh lancang, berani-beraninya dia menyentuh pipi lelakiku. Kugigit bibir bawahku pelan, ketika bibirnya mulai menyentuh pipi Kent.
Senyum senang mengembang tipis dari bibirnya yang bergincu merah cabai, sadar kalau sang lelaki tak bergerak untuk mengusir atau bergerak menghindar.
Lelaki itu hanya membeku, menatapnya dengan kedua bola matanya yakin, bukan, lebih tepatnya mereka berdua saling memandang dalam diam.
Reflek kubalikkan badan, menyembunyikan diri di balik dinding sebelah pintu, ketika bibir wanita itu menyesap bibir Kent pelan.
Kubekap bibirku dalam kedua tangan yang gemetar, napasku beradu seiring detak jantungku yang mendadak bertalu keras.
Siapa wanita itu? Dokter, sesama dokter. Masa iya Kent….
Kugelengkan kepala meyakinkan diri agar lebih berpikiran positif, tapi aku jelas yakin dengan mata kepalaku sendiri saat kuberanikan diri menengok sekali lagi.
Tangan kanan itu, tangan yang selalu memelukku hangat, menyentuh pipiku lembut, kini memeluk tubuh wanita lain. Jijik, mendadak jijik pada diri sendiri.
Hati yang sedianya hancur, seolah semakin lebur menjadi abu. Mawar putih dalam hati, kelopaknya terkoyak, layu, rontok, jatuh terlepas satu per satu.
Rasa yang kubangun untuknya mulai luntur seiring hilangnya kepercayaanku pada lelaki itu. Kuseka air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Sedih, teramat pedih, di saat diri ini harus menelan mentah-mentah rasa kehilangan. Sakit hati, itu yang kurasakan sampai detik ini. Bullshit!
“Kent, kita tidak bisa bersama lagi. Kita putus saja,” ucapku coba berkata setenang mungkin, setelah beberapa detik lalu kukumpulkan segenap perasaanku untuk kukuh mengatakan pernyataanku barusan.
Kedua alisnya bertaut. “Maksudmu?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu,” balasku ketus, memalingkan muka jengah.
“Pura-pura apanya. Aku benar-benar tidak tahu, bicara yang jelas. Kalau kau tidak bilang, bagaimana aku bisa tahu.”
Ada sejumput emosi dari cara bicaranya yang berubah, terdengar tak bersahabat. Seketika itu juga aku marah, membalikkan badanku hendak pergi, namun Kent lebih dulu menarik lengan kiriku, kemudian mencengkeram kedua lenganku kuat.
Kedua bola matanya menatapku tajam-tajam. “Bayi kita. Apa karena itu tiba-tiba saja kamu minta putus. Kita bisa menikah dan punya anak lagi,” katanya berharap lebih.
Aku mendengus pelan, tersenyum miring meremehkan. “Pernah kau serius padaku? Mencintaiku seorang?”
“Kenapa kamu bicara begitu? Tentu saja aku serius, kita bahkan akan menikah,” jelasnya kepadaku, “tunggu dulu… apa kau berubah pikiran setelah kehilangan bayi kita. Jangan-jangan kau mengharap_” seketika itu juga Kent meghempas kedua lenganku dari pegangannya kasar, mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya kesal.
“Anggap saja begitu. Toh Fint lebih baik daripada kamu,” jawabku gamblang menyulut permusuhan.
Jujur, Fint lebih baik seribu kali daripada dia. Meski sebenarnya Kent juga pria yang baik, tapi tak sebanding dengan perhatian yang selalu diberikan Fint padaku.
Kent terdiam memandangi mukaku dengan sengit, seakan-akan ia ingin mencongkel kedua mataku, marah. Wajahnya terlihat marah, menghela napas beberapa kali di antara giginya yang gemeretuk. Berkacak pinggang dengan tangan kanannya.
Sejenak kemudian, wajah geramnya berangsur-angsur tenang, sepertinya Kent berusaha menahan amarahnya di depanku.
Ia meraih punggung tanganku dengan kedua belah tangannya. “Nesya, aku tahu kau mencintaiku. Kita menikah, secepatnya.”
__ADS_1
🔶🔸🔸 Coba tebak, Nesya bakal menerima atau menolak keras?
__ADS_1