12 MANTAN

12 MANTAN
PART 31 PERTAMA KALI MELIHATMU


__ADS_3

Kubuka mataku, mengerjap pelan. Terkejut ketika mendapati diri, sendirian di dalam kamar. Di mana aku? Perasaan tadi, aku masih di studio. Bajuku… masih sama, gaun sutra tanpa lengan mid-length rok A-line, kostum yang kupakai untuk pemotretan.


Kupandangi seisi ruangan. Asing! Perasaan aku tak pernah ke sini sebelumnya. Siapa yang membawaku? Ponsel! Di mana ponselku?


Kuacak-acak bantal dan selimut, mencari ponselku, tapi tak kutemukan. Aku berlari menuju pintu.


Sial! Pintunya terkunci. Fint, apa Fint yang mengunciku di kamar ini. Kemarin Kent bilang kalau dia akan membuat pernyataan tentang pembatalan pernikahan. Hari ini, ya hari ini. Kenapa dia malah mengunciku di dalam kamar ini? Aku jadi tak mengerti.


Pandanganku mengedar, di meja dekat jendela tersaji beberapa makanan, minuman dan wine di sana. Sepertinya dia sengaja menahanku lebih lama di sini. Mataku beralih ke arah lemari, aku mendapati beberapa baju tergantung di lemari. Jangan-jangan dia berniat menyembunyikanku selamanya. Oh tidak! Apa yang Fint lakukan? Dia benar-benar sudah gila.


Kusingkap tirai yang menutup jendela. Pantai, aku tak bisa dengar suara dari luar, sepertinya kamar ini kedap suara. Posisiku sekarang, hampir sama seperti adegan penculikan di salah satu film yang pernah kumainkan. Apa iya aku di culik?


Hampir sore saat aku mulai bosan berapa di kamar ini, ingin rasanya aku dobrak saja pintu dan jendelanya, namun aku tak sanggup. Aku harus menjaga janinku, Kent berpesan padaku untuk tidak melakukan hal gila, seperti memanjat tembok tempo hari. Terpaksa, aku harus berdiam diri tanpa bisa melarikan diri dari tempat ini.


Klek!


Suara kunci diputar, seseorang membuka pintu. Saat daun pintu terbuka lebar, kedua bola mataku membelalak sempurna.


“Kamu! Kenapa kamu di sini?”


Kent Pov


Kujambak rambutku kesal, seketika mendapati rumahku tanpa kehadirannya. Entah berapa jam aku berkeliling, mulai dari studio, rumah mamanya, rumah Fint dan terakhir rumahku. Tas travel, bajunya masih berada di dalam lemari, kosmetiknya masih ada di atas meja rias. Aku baru saja menelepon Vivi, dan dia bilang juga sedang mencarinya. Kemana dia pergi?


Kecupan bangun tidur darinya masih membekas di bibirku. Kami juga tidak bertengkar. Saat aku menelepon Fint, ia malah marah padaku karena membiarkan Nesya pergi sendirian.


Nesya Reneschea, gadis yang selama ini aku cari-cari. Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu kembali dengannya.


Kuletakkan gelas wine-ku di atas meja. Aku berdiri, melempar pandangan ke arah laut lepas yang dalam. Laut Aegea, ini pertama kalinya aku terdampar di tempat seperti ini. Tempat yang sungguh indah, pemandangannya memukau kedua bola mataku. Kuhela napas lega, melepas penat yang sepanjang hari tiada pernah berujung. Sudah berapa banyak pasien yang kutangani, seribu? Mungkin tak terhingga.


 Hai! Aku seorang dokter, lebih jelasnya dokter bedah. Kuhirup dalam-dalam aroma laut yang khas, hmm….


Duk!


“Auch!”


Seseorang menabrak kakiku dan terpekik. Aku menoleh, membalikkan badan, tahu dia akan jatuh, spontan kuraih tubuhnya dengan kedua lenganku. Sudut mataku menatap lekat wanita cantik di balik topeng itu. Kulit putih mulus, dengan bentuk tubuh ramping


“Eng! Maaf,” ujarnya meminta maaf.

__ADS_1


Aku jatuh cinta dengan suaranya, terlalu merdu di telingaku. Pandanganku mengedar, mencari-cari, siapa tahu dia datang ke tempat ini bersama dengan pasangannya. 10 detik, aku tak menemukan keberadaan pria lain di sampingnya.


Tiba-tiba keberanianku muncul seketika itu juga, dan aku berkata, “Ngg, Maukah kau keluar dari keramaian ini bersamaku? Aku hampir mati kebosanan di sini,” ajakku sedikit ragu.


Wanita itu terpaku dalam diam, hanya kedua bola matanya seakan berbicara “Siapa orang ini? Jangan-jangan orang jahat.” Yah, sepertinya dia berkata itu dalam hatinya.


“Tidak, terima kasih!” ujarnya melepas pegangan tanganku, lalu pergi tanpa berkata lagi.


Sepertinya tebakanku benar, dia takut padaku. Mataku menatapnya tak berkedip dari kejauhan, sampai aku mendapati seseorang menghampirinya.


Manik mataku memandangnya dari kejauhan, gerak-gerik mereka berdua terlihat tak biasa. Firasat burukku mengatakan kalau pria di sebelahnya itu akan melakukan hal buruk padanya. Benar dugaanku, lelaki itu mulai melakukan aksinya dan itu membuatku semakin geram.


Aku berjalan cepat ke arah mereka berdua, mencengkeram kuat tangan pria itu sambil berkata, “Anda terlalu vulgar di depan publik,” tukasku dengan nada marah, mungkin aku benar-benar marah saat itu.


Marah, aku menarik tangan wanita itu, membawanya keluar dari pesta. Menyusuri jalan setapak dan beberapa anak tangga. Tanpa kusadari kami sudah berjalan cukup jauh


Langkahku terhenti, tersadar ketika lampu-lampu kota menyinari sepanjang jalan OIA, menyala beriringan bak ribuan bintang yang berkelap-kelip bergantian. Luar biasa indahnya.


“Ouch!”


Aku membalikkan badan, sadar akan kehadirannya. Wajah ini, wajah tanpa topeng. Ingatanku menggulung pelan, kembali pada kejadian 5 bulan lalu. Sore itu, aku baru pulang dari rumah sakit, luar biasa lelah seharian ini mengatasi  operasi beberapa pasien dengan kasus rumit. Saat melewati ruang tamu perhatianku spontan tertuju pada Mama, sebuah foto terpampang jelas di layar ponselnya. Makhluk cantik itu, mirip dengan wanita yang berada di depan mataku sekarang.


“Akh! Sakit lepaskan!”


Dia mendorongku, wajahnya panik, terburu-buru untuk pergi, namun aku tak mau dia pergi begitu saja.


“Jangan pergi, Sea,” kataku spontan membuatnya menatap tercengang.


Dia menatapku dengan muka bingung. Apa iya aku salah orang? Tapi, wajahnya sama dengan yang kulihat di ponsel mama. Sea, aku biasa memanggilnya begitu sejak kecil.


“Ngg, maaf. Kurasa anda salah orang. Nama saya bukan Sea.”


Aku tertegun, berpikir sejenak. Masa iya aku salah orang. Apa Sea punya kembaran? Aku menggelengkan kepala pelan, kurasa tidak, jawabku dalam hati bermonolog.


Kemudian aku menjawab, “Maaf, mungkin saya salah orang. Tadi saya pikir anda mirip teman saya. Maaf mengganggu, saya pergi dulu.” Kuputuskan untuk pergi karena malu. Aku tersentak saat dia tiba-tiba saja menarik bajuku, kukira dia akan mengakui kalau dirinya adalah Sea, ternyata aku salah.


Aku menoleh menatapnya. “Ada apa?”


“Aku tidak tahu jalan. Antar aku,”

__ADS_1


Aish! Kupikir dia mau bilang apa? Aku menahan senyum melihat wajahnya yang memohon manja. Sepintas aku mendapat ide, ide untuk bersamanya lebih lama, untuk mencari tahu   apa benar dia gadis kecil yang kukenal.


🔶🔸😶


Apa Kent pernah bertemu Nesya sebelumnya? Coba tebak


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2