
Pada saat Naila sedang memandangi wajah dan tubuhnya di depan cermin,tiba-tiba pintu kamarnya di dorong dari luar dan saat itu Raisa langsung masuk ke dalam kamarnya dan berdiri tepat di hadapannya.
Raisa cukup kaget melihat seluruh tanda di tubuh adiknya terutama di dadanya yang semakin montok bahkan mengalahkan dia yang sedang hamil besar.
"Kamu apaan sih kakak,kenapa tidak mengetuk dulu?" Ucap Naila dengan tatapan yang tajam dia langsung memakai selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh tanda biru.
"Kamu menikmati semuanya? Apa kamu bahagia Naila menjalani semuanya,nikmati saja semuanya dan kenapa kamu harus menutupinya kamu malu? memangnya kamu masih mempunyai rasa malu,untuk apa kamu malu dengan ku sementara kamu tidak malu dengan Tuhan mu,kamu berzinah,dan kamu tidak malu melakukan itu? " Ucap Raisa dengan senyum menjijikan di wajahnya.
Wajah Naila yang tadinya santai sekarang malah terlihat emosi dan marah mendengar semua kata-kata dia merasa curiga dengan Raisa,dia takut Raisa tau apa yang mereka lakukan di belakangnya.
"Kamu kenapa sih kak,aku tidak suka dengan kata-kata mu itu ya,tidak ada urusan kakak dengan hidupku,urus saja kehidupan mu,benar kata bang Irwan semakin lama otak kakak semakin tidak beres." Ucap Naila lalu dia mengenakan pakaiannya.
"Apa kamu bilang,apa kamu bilang barusan." Raisa menarik tangan Naila tapi Naila dengan kasar menghempaskan Tubun Raisa hingga dia terdorong ke meja rias hingga perutnya terbentur ke pinggiran meja.
Raisa mengerang kesakitan tapi Naila sama sekali tidak memperdulikan nya bahkan tanpa perasaan Naila menghubungi Irwan dan berbicara melalui ponsel.
Naila sengaja meninggikan suaranya agar Raisa mendengar pembicaraan mereka,entah kenapa Naila merasa Raisa sudah mulai curiga dengan hubungannya dengan suaminya bukan takut dia malah berharap kakaknya mengetahui hubungan mereka.
π Sayang aku ingin menemui mu,kamu dimana kita jumpa di tempat biasa.
Setelah mengucapkan kata-katanya Naila mengakhiri panggilannya, lalu dia keluar dari dalam rumah tanpa pamit kepada ibu atau kakaknya.
__ADS_1
Sementara itu Raisa masih menegang kesakitan si dalam kamar itu,dia menangis sesenggukan di dalam kamar dia merasa Naila sangat membencinya hingga membuatnya menderita seperti itu.
Lelah menangis di dalam kamar itu,dia beranjak dari tempat tidur dia berdiri sambil memegangi pinggiran kursi dan saat itu matanya tertuju dengan kotak perhiasan yang sama persis seperti miliknya.
"Ternyata hannya barang sampah dia memberikan kalung yang sama kepada kami berdua,dasar pria murahan yang tidak punya harga diri sama sekali." Ucapnya lalu dia meletakkan kembali kotak perhiasan itu ke tempatnya semula setelah itu dia keluar dari dalam kamar.
Raisa keluar dari rumahnya lalu menatap taman bunga yang ada di sekitaran taman belakangnya pada saat itu sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumahnya dan ternyata itu Anto sahabat suaminya.
"Permisi,ada pak Irwan Bu Raisa?" Tanya Anto entah kenapa Raisa tidak suka mendengar panggilan itu.
Raisa keluar dari taman bunga lalu dia menghampiri Anto yang berdiri jauh darinya.Dia tersenyum manis menyambut pria lajang yang sudah berumur tapi sampai hari ini dia masih betah untuk sendiri.
"Dia tidak ada di rumah mas,ada apa mencari mas Irwan?"
"Mas kamu mau pulang,aku bisa tidak minta tolong?
"Apa itu?
"Antar aku ke rumah sakit aku ingin memeriksa kehamilan tapi aku malas sendirian,kalau menunggu mas Irwan pasti dia akan lama karena dia sedang sibuk dengan selingkuhannya." Anto menatap aneh ke arah wanita yang sedang hamil besar itu.
"Sudah lah jangan bercanda,aku tidak ada hak untuk mengantar mu,aku tidak ingin persahabatan ku dengan Irwan putus hannya karena salah paham." Ucap Anto lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Raisa menarik napas berat,entah kenapa tiba-tiba dia merasa Anto sangat tampan,bahkan jauh lebih tampan dibanding suaminya sendiri.
"Bagaimana kalau aku membalas perbuatan mu mas aku selingkuh dengan pria lain,sepertinya aku harus mencoba itu."Ucapnya sambil tersenyum kecut.Dia tidak ingin hubungan mereka renggang bahkan pernikahan mereka hancur hannya karena keegoisan suaminya.
Sementara itu Naila menemui Irwan disebuah kamar hotel yang lumayan jauh dari rumahnya,dia langsung tidur di samping Irwan setelah dia sampai di dalam kamar.
"Sayang aku sangat kesal melihat istrimu itu!!" Ucapnya dengan nada yang sangat manja.
"Kenapa sayang,memangnya dia kenapa?"Tanya Irwan lalu mencium bibir Naila dengan kasar.
"Pokoknya aku kesal sekali dengannya,dia sudah membuatku emosi.Dia terus-terusan menyindirku,mas kok aku curiga kalau Raisa sudah mencium bau perselingkuhan kita.Kalau aku sih tidak takut sama sekali malah aku senang agar dia sadar kalau dia bukan satu-satunya nyonya Irwan." Ucap Naila hingga membuat Irwan tersenyum nakal.
Mereka berdua menikmati kebahagian di dalam hotel,Irwan benar-benar lupa kalau dia sudah punya istri dan calon bayi dia terlena dengan hubungan gelapnya dengan Naila.
Naila memang wanita sosok yang sangat dia impikan,Naila sangat hebat untuk memuaskan nafsunya di atas ranjang setiap mereka melakukannya.
Dia begitu puas menikmati goyangan Naila hingga dia melupakan sosok istrinya yang dulu sangat dia sayangi.
"Mas kamu kok melamun,biar mas tau aku tidak mau setiap hari harus frustasi mengahadapi istrimu yang hampir gila.Kalau kamu tidak mau lebih baik aku merantau ke Malaysia agar kamu tau sakitnya kehilangan wanita seperti ku." Ancam Naila hingga membuat Irwan mulai panik.
Irwan mengenakan kembali pakaiannya setelah mereka melakukan penyatuan bersama adik istrinya,irwan tidak menyangka kalau Naila sangat pandai di atas ranjang hingga dia tidak ingin kehilangan Naila.
__ADS_1
"Aku akan mencari jalan yang tepat berharap Naila bisa bersikap sederhana.
πππbersambung πππ