Adikku Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku

Adikku Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku
Bab 42 ~ Suami yang hebat ~


__ADS_3

Setelah turun dari lantai atas Naila langsung ke dapur lalu duduk di kursi meja makan,dia membuka tudung saji makanan sudah terhidang disana dan terlihat masih hangat mungkin ibunya yang memasak saat dia tadi ke kamat suaminya di lantai atas.


Pada saat itu Rara ke dapur membawa nampan bekas makan Raisa,dia mengabaikan Naila yang sedang menatapnya.


"Kamu siapa? tanya Naila dengan nada angkuh dan sombong seakan tidak pernah menjadi orang susah.Rara menoleh ke arahnya lalu menatap Naila yang begitu angkuh.


"Aku Rara, aku perawat pribadi atau baby sitter untuk ibu Raisa." Jawab Rara dengan wajah datar.Dia tidak punya hak untuk menghormati semua orang di rumah itu apalagi melayani semua orang karena dia di tugaskan hannya untuk melayani Raisa dan baby-nya.


"Oohh...Kamu baby sitter nya kakak ku,hmm kamu harus menutup mulut untuk sesuatu yang kamu lihat janggal di rumah ini ya!!." Ucap Naila.Rara sedikit kaget dengan ucapan Naila tapi dia mencoba untuk tidak peduli dia hannya mengangguk lalu keluar dari sana meninggalkan Naila.


"Angkuh juga itu baby sitter,pembantu saja belagu cuih..." Naila meludah ke lantai melihat sikap Rara yang acuh terhadapnya.


"Ibu....Ibu...." Naila beberapa kali memanggil ibunya yang dia tidak tau dimana,dan pada saat itu suaminya juga sudah sampai di meja makan.


"Untuk apa kamu menjerit kamu mau membangunkan Raisa?" Tanya Irwan dengan wajah kesal dan menatapnya tidak suka.


Naila lansung tersenyum saat melihat suaminya hadir di dapur dan saat itu ibunya juga datang entah dari mana dengan napas satu-satu entah dari mana dia membuat Naila kesal.


"Ibu dari mana sih dan kenapa napas ibu satu-satu begitu kayak udah mau mati saja,buatkan kami makanan Bu aku lapar." Ucap Naila dengan wajah masam.


Irwan cukup tersentak saat melihat perlakuan Naila kepada ibunya,dia tidak menyangka Naila memilki sikap yang cukup jelek sangat jauh berbeda dengan Raisa kakaknya.

__ADS_1


Ibunya tanpa melawan langsung menuruti perintah Naila dia menyiapkan makanan di meja dan menyendok makanan ke piring.


"Ibu kita makan bersama saja bapak dimana?" tanya Irwan dia tidak tega melihat mertuanya seperti ketakutan kepada Raisa.


"Dia ada di ruang tamu nak kami makan belakangan saja kebetulan tadi sore ibu baru makan dari rumah." Ucap Deden.


"Oohh ya sudah ibu istirahat saja biar saja nanti Naila yang membereskan piring kotornya." Ucap Irwan.Deden menunduk lalu pergi meninggalkan mereka berdua di meja makan.


" Naila sikap kamu terhadap ibu itu kurang baik,kamu sudah dewasa kenapa untuk makan saja harus ibu yang melayani mu,sejak kamu kamu bersikap tidak sopan seperti ini,aku lihat dulu kamu sangat menghormati kedua orang tua mu."Ucap Irwan.Seketika nafsu makannya hilang saat melihat sikap Naila barusan terhadap ibunya.


"Sejak kakak menikah dengan kamu mas seharunya kamu tidak menikahi Raisa tapi kamu menikahi aku seharunya mereka tidak merestui hubungan kalian tapi karena kamu seorang polisi mereka begitu memujamu."Ucap Naila seperti orang gila di pikiran Irwan.


" Iya memang aku sinting karena kamu,aku juga gila karena kamu,kamu tidak tau betapa besarnya cintaku kepadamu aku takut kehilangan kamu dan aku takut Raisa tidak mengijinkan hubungan kita aku sangat gila karena kamu." Gumamnya dengan nada yang cukup tinggi dan bergema di ruangan itu.


Irwan hannya bisa diam mendengar semua kata-kata Naila, sekarang dia sadar kalau orang terlalu menciantai ternyata tidak enak juga sama seperti dirinya Naila yang begitu mencintainya membuatnya begitu ketakutan.


"Sudah lah aku mau makan dan suaramu tolong dikecilkan Raisa bisa bangun dan memergoki kita disini."


"Raisa...Raisa...Raisa terus yang ada di pikiranmu,kamu tidak tau mendengar nama itu membuatku sangat jijik aku tidak suka kamu tau tolong hargai aku." Ucap Naila dia kembali tidak bisa bicara.


"Satu lagi mas mulai besok jangan sebut nama itu di hadapan ku," Naila mengeluarkan semua kekesalan dalam hatinya dan lagi-lagi Irwan tidak bisa bicara.

__ADS_1


Irwan menelan makanannya dengan susah payah,dia kehilangan nafsu makannya setelah mendengar kata-kata Naila.Sementara itu Raisa yang bosan di dalam kamar karena tidak bisa tidur akhirnya memilih turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamarnya.


Saat Raisa keluar dari dalam kamarnya,Deden dan Lukman sangat kaget mereka baru sadar kalau Irwan dan Naila sedang makan berdua di dalam dapur.


"Raisa kamu mau kemana ini sudah malam kenapa kamu keluar lagi?" Deden menghampirinya wajahnya terlihat pucat dan suaranya terlihat gugup.


"Aku mau mencari mas Irwan Bu..."


"Sudahkan kamu masuk kamar saja ibu akan mencari Irwan untukmu,ayo masuk ibu akan membantu mu?" Ucap Deden lalu menarik tangan Raisa ke dalam kamar membuat Raisa bingung dengan sikap ibunya yang tiba-tiba berubah.


"Ada apa Bu apa yang ibu sembunyikan dariku?" Tanya Raisa dengan hati-hati.Rasanya cukup aneh sikap ibunya yang tiba-tiba memaksanya masuk kedalam kamar disaat dia bosan di dalam kamar.


"Bu...Apa Naila ikut datang ke rumah ini?"


Ibunya terlihat panik dan bahkan pucat sekarang Raisa curiga kepada kedua orang tuanya tentang hubungan Raisa dan suaminya.


"Iya_ iya dia sedang di kamar mandi." Jawab ibunya berbohong.Raisa langsung menuruti kemauan ibunya masuk ke dalam kamarnya,dia juga tidak ingin melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain di rumahnya sendiri.


"Ibu keluar lah dari kamarku aku mau istrahat sekarang." Ucap Raisa lalu menutup tubuhnya dengan selimut.Hatinya akan semakin hancur kalau sampai dia tau ibunya juga tau hubungan Naila dengan suaminya orang tua macam apa yang membiarkan anaknya merusak rumah tangga anaknya juga.


🌺🌺🌺 bersambung 🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2