
Belum puas melihat Naila mengerang kesakitan,Raisa kembali menjambak rambut Naila sekuat tenaga,hingga rambut Naila berserakan di lantai karena putus,karena di tarik Raisa sekuat tenaga.
"Aku akan melampiaskan semua amarah yang sudah aku pendam selama ini sama kamu,aku marah bukan karena aku masih mencintai pria murahan itu,tapi karena aku kecewa kepadamu yang tega menghancurkan rumah tangga kakak mu sendiri,kamu lupa siapa yang sudah membantu selama bahkan sebelum aku menikah kepada mas Irwan aku sudah membantu mu dan teryata kamu malah menggigit ku." Ucap Raisa lalu memukul dan mendorong Raisa hingga terbentur ke dinding.
Naila benar-benar tidak berdaya,sekarang dia tidak mampu lagi untuk melawan Raisa karena dia sudah jauh lebih kuat dan berani.Raisa melihat sebuah gunting di atas meja,dia mengambilnya lalu memotong semua rambut rambut Raisa hingga rambut di kepalanya hannya tinggal sedikit dan tidak beraturan.
Pada saat sama Irwan berlari ke arah mereka,dia cukup kaget melihat Naila yang sudah tidak berdaya dan rambutnya sudah berserakan dia lantai.Raisa menepuk kedua tangannya setelah dia membuang gunting ke tempat sampah lalu menatap mereka berdua secara bergantian karena Irwan sedikit menjaga perasaan Raisa hingga dia tidak mau membantu Naila pada saat itu.
"Hahaha...Aku puas sekarang,dan sekarang kalian bebas dariku dan tidak perlu lagi menjaga apa pun dariku karena hubungan antara kita semua sudah tidak ada lagi baik hubungan suami istri atau hubungan saudara kandung,aku tidak kenal dengan mu lagi." Ucap Raisa dengan wajah cukup puas melihat Naila duduk tidak berdaya di atas lantai.
Irwan tidak tau harus membela siapa di antara mereka,dia memang kasihan kepada Naila tapi dia juga tidak mau membela Naila di hadapan Raisa karena dia takut dan merasa segan terhadap wanita yang masih resmi menjadi istrinya.
"Ingat kata-kata ku,pada akhirnya nanti kalian akan menyesal telah menyakiti ku dan melakukan kecurangan yang cukup kejam." Ucap Raisa lalu pergi begitu saja meningagakan mereka berdua di ruang tamu.
Setelah Raisa pergi Irwan baru mau menolong Naila dan tentu saja Naila sangat marah hingga dia menghempaskan tangan suaminya itu,dia sangat marah kepada Irwan yang tidak berani menolongnya pada saat Raisa masih ada padahal dia sangat berharap dia membelanya disaat Raisa masih ada.
__ADS_1
"Aku masih bisa berdiri,puas kamu mas melihat keadaan ku,suami macam apa kamu yang tidak segera membantuku disaat Raisa masih ada,lihatlah bar-bar nya wanita itu,aku takut dia menjadi seorang psikopat karena kamu sudah meningagakan dia." Ucap Naila dia mulai berdiri dan berusaha untuk berjalan walaupun dia merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.
Sebesar apa pun kemarahan Raisa kepada Naila,sebagai seorang wanita yang masih normal dia, tetap menjaga kandungan Naila dia selalu mencari cela agar setiap pukulannya tidak mengenai perut Naila karena dia sadar yang salah itu orang tuanya dan sang bayi tidak ada dosa sama sekali.
Irwan mengikuti Naila dari belakang,mereka keluar dari rumah itu,lalu masuk ke dalam mobil.
"Mas aku harus ke rumah sakit,aku takut sesuatu terjadi kepada bayi ku ini,dasar wanita psikopat aku tidak menyangka wanita itu bisa berubah menjadi psikopat kasar." Ucap Naila dengan wajah murung dan penuh kemarahan.
"Aku tidak punya uang lagi,ibu sudah memblokir semua kartu yang biasa aku pakai..Mulai sekarang kita harus hemat dan pandai mengatur uang.Apalagi kalau Raisa memaksa kami harus bercerai aku juga harus membagi gaji untuk anakku,itu sudah menjadi kewajiban aku." Ucap Irwan dengan wajah menunduk.Beberapa bulan ini dia sama sekali tidak ada uang masuk dia juga tidak tau kenapa itu terjadi biasanya dia selalu ada uang masuk dari pungli yang dia lakukan.
Naila menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan,dia merasa tidak percaya dengan ucapan Irwan barusan, bagaimana mungkin,seorang polisi yang sudah pangkat perwira kekurangan uang dia bahkan tidak percaya dengan kata-kata suaminya.
Irwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, dia kesal sekali melihat Naila yang selalu memaksa keinginannya padahal dia kelihatan baik-baik saja hannya kepalanya yang membuatnya sekarang jelek.
"Naila....Aku tidak suka ya kalau kamu selalu memaksa keinginannya mu...Ini hal yang paling aku benci dari kamu,selalu memaksa keinginanmu padahal Raisa tidak seperti kamu dia tidak pernah memaksa apa pun kepadanya dan dia selalu menghargai keputusan ku." Irwan Emosi hingga dia melotot ke arah Naila yang tidak mau kalah,dia juga membalas tatapan Irwan yang begitu sinis.
__ADS_1
"Raisa....Raisa....Raisa...Aku tidak suka kamu menyebut nama wanita itu di depan ku,kalau kamu masih mencintainya silahkan kamu kembali kepadanya...Aku benci kamu." Naila keluar dari dalam mobil mereka belum pergi dari halaman rumahnya.
Naila memesan taksi untuk kembali ke rumahnya dia sangat marah saat Irwan membandingkan dirinya dengan wanita yang sangat di bencinya.
Irwan tidak peduli saat Naila naik ke dalam taksi,dia juga masih sangat marah kepada wanita yang semakin hari sikapnya aslinya semakin terlihat.
Irwan membawa mobilnya ke rumah orang tuanya,dia merasa tidak nyaman lagi tinggal di rumahnya sendiri karena semua orang juga tidak ada yang peduli lagi dengannya,karena Raisa sudah menganti semua pelayan yang ada di rumahnya.
Sebenarnya kembali ke rumah ibunya juga dia takut,ibunya juga sangat membencinya bahkan dia jauh lebih menakutkan dari pada Raisa istrinya.Dia ingin ke hotel tapi dia tidak punya uang lagi hannya sisa beberapa lembar lagi padahal gajian masih lama.
Raisa menatap mobil Irwan yang sudah keluar dari terasnya melalui jendela kaca di kamarnya,hari ini dia cukup puas karena sudah meluapkan semua emosinya kepada Naila semua kemarahannya telah dia tuntaskan hari ini.
Saat dia ingin beranjak dari tempatnya berdiri tiba-tiba dia melihat kedua orang tuanya datang ke rumahnya entah kenapa sejak perselingkuhan Naila dengan suaminya dia juga seakan membenci keduanya orang tuanya karena dia sedikit yakin kalau mereka tau hubungan Irwan dan Naila.
Deden dan Lukman membuka pintu rumah,ruang tamu terlihat sepi pada saat itu membuat Deden dan Lukman bingung.
__ADS_1
"Kemana semua orang,rumah sebesar ini tapi tempatnya cukup sepi Bu bagaimana kalau kita tinggal bersama Raisa saja,sejak Irwan dan Naila menikah hidup kita malah melarat apa mungkin Naila melarang Irwan memberikan uang kepada kita dasar anak durhaka sudah di bantu malah tidak ingat orang tua."Sungut Lukman lalu dia duduk di atas sopa.
🌺🌺🌺Bersambung 🌺🌺🌺