
Deden keluar dari rumah sakit lalu mencari angkutan umum menuju rumah Raisa,sebenarnya dia sudah cukup malu untuk meminta maaf kepada putri pertamanya itu tapi untuk saat ini dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya yang terpenting suaminya bisa sembuh kembali seperti sedia kala.
"Apalah arti dari harga diriku,di banding kesehatan suamiku,bahkan kalau perlu aku meminjam uang kepada Raisa tidak masalah aku jadi pembantu mereka asal aku bisa mendapat uang untuk biaya pengobatan suamiku." Ucapnya dalam hati.
Angkutan yang ditumpanginya sampai di gang menuju rumah anak dan menantunya,dia membayar ongkos dan segera keluar dan berjalan kaki menuju rumah yang di tempati Raisa.
Sesampainya di halaman rumah Raisa,dia cukup kaget melihat mobil menantunya ada disana,dia mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya dalam hati.
"Lah apa mungkin nak Irwan kemabli kepada Raisa,aku sangat bersyukur kalau itu terjadi!!" Ucapnya dalam hati.
Sesampainya dalam rumah,dia melihat Rara yang baru saja keluar dari dalam kamar,Deden menghampirinya.
"Nak ada dimana Raisa?"
"Ooh dia ada di kamar Bu,silahkan masuk." Ucap Rara. Deden mendekati pintu kamar putrinya perlahan dia membuka pintu dan saat itu mereka berdua saling menatap,hingga akhirnya Raisa kembali menunduk seakan tidak peduli kedatangan ibunya yang sudah hampir tiga Minggu tidak menemuinya.
Raisa masih sangat kecewa kepada ibunya,sampai saat ini dia belum bisa memaafkan kesalahan kedua orang tuanya,mereka tega dengan sengaja membohongi dirinya.
"Raisa aku mohon bantu ibu, aku tau aku tidak pantas lagi datang dan memohon kepadamu,tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi,aku hannya punya kamu." Ucap Deden dengan nada yang terputus-putus karena dia sambil menangis.
"Raisa bapak mu sedang di rawat di rumah sakit,dia mengalami kebocoran jantung,ibu tidak punya uang sebanyak dua puluh lima juta,ibu baru bekerja dua Minggu ini,aku mohon Raisa bantu bapak mu,ibu tidak punya siapa-siapa lagi." Deden terus menangis.
Raisa menutup ponselnya lalu menatap ibunya,dia sedikit kaget mendengar ucapan ibunya yang bilang sudah bekerja dua Minggu.
"Naila ada di lantai dua Bu,dia sama suaminya disana kenapa ibu tidak meminta kepadanya saja." Ucap Raisa dia berdiri mendekati ibunya.
__ADS_1
Sebesar apa pun rasa bencinya kepada kedua orang tuanya,mereka tetaplah orang tuanya,dan itu sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Aku sudah tidak menganggap dia sebagai anakku,sampai mati pun aku tidak akan mengakui kalau dia itu anakku lagi...Aku sudah menganggapnya mati, dialah yang membuat bapak mu sakit keras."Jawab Deden.
Deden menatap lurus dengan penuh kebencian saat mengingat Naila,dan semua kata-kata hinaan yang di lontarkan Naila beberapa Minggu yang lalu dari saat itu Deden sudah meniadakan dia dan tidak pernah menganggapnya lagi anak.
"Aku tidak tau apa masalah kalian Bu,tapi yang jelas sebagai anak aku akan tetap membantu bapak dan membiayai pengobatannya.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah,Deden dan Raisa berangkat ke rumah sakit menaiki mobil Raisa.Naila yang ada di lantai dua melihat semua itu,dia sangat iri kepada Raisa yang memiliki mobil dan rumah mewah sementara dirinya tidak memiliki apa pun kecuali rumah buruk yang dibeli oleh Irwan untuk mereka.
"Beruntung sekali nasib Raisa,sekali pun aku merebut suaminya dia tetap bisa menikmati hidup mewah tinggal di rumah mewah dan memiliki mobil mewah,sementara aku nasibku malah semakin buruk." Ucap Naila dalam hati.
Naila turun dari lantai atas menuju ruang tamu,dia sangat marah kepada dirinya yang tidak seberuntung Raisa,padahal dia sudah berusaha keras untuk mendapatkan Irwan suaminya.
Di saat ibunya masuk keruangan bapaknya di rawat,Raisa pergi mengurus semua administrasi,agar bapaknya bisa segera di rawat di sana.
"Raisa apa yang kamu lakukan di sini?" Seseorang menepuk pundak Raisa hingga membuatnya kaget lalu menoleh kebelakang.
"Dimas..Kamu ngapain disini?"
"Seharusnya aku yang bertanya sama kamu,ngapain kamu disini aku sudah bilang kalau Amora panas kamu tinggal menghubungi aku,tidak baik orang sehat selalu mengunjungi rumah sakit." Ucap Dimas sambil mengelus rambut Raisa.
"Aku tidak membawa Amora mas,bapakku di rawat disini dan dia mau operasi,makanya aku menemani bapak ku." Jawab Raisa.
Setiap melihat Raisa,jantung Dimas begitu gemetaran,sudah sejak lama dia jatuh cinta kepada Raisa tapi karena status Raisa dia hannya bisa menahan perasaannya itu.
__ADS_1
"Raisa aku mengantarmu pulang nanti ya?" Dimas menawarkan jasa berharap Raisa menerima tawarannya.
Raisa dengan keras menolak permintaan Dimas, dia tetap menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita apalagi Irwan yang belum mau menandatangani surat cerainya membuatnya tidak berani dekat dengan pria lain apalagi memberinya harapan.
"Tidak usah mas aku masih menemani ibu." Tolak Raisa dengan halus. Di saat Raisa dan Dimas sedang berbincang Deden yang sedang mencari Raisa melihatnya sedang berbicara dengan seorang dokter,Deden tersenyum dalam hati.
"Aku tau Raisa memang wanita baik-baik makanya pria yang datang pun kepadanya adalah pria yang sangat hebat." Ucapnya dalam hati lalu meninggalkan tempat itu kembali tidak ingin menganggu Raisa.Perasaan Deden sangat senang saat ini karena pada akhirnya suaminya sudah dibawa ke ruang operasi.
****
Irwan baru saja pulang dari kantornya dan kembali ke rumahnya,dia sudah tidak mau kembali lagi ke rumahnya yang dia beli sendiri bersama Naila dan sekarang Naila juga tinggal di rumah itu.
Irwan sudah sangat kelaparan dia sama sekali tidak punya uang untuk makan tadi siang di kantornya.Dia benar-benar merasakan penderitaan yang luar biasa akibat perselingkuhannya dengan Naila.
Sesampainya di rumah dia mencari Naila,dia sudah tidak kuat menjalani pernikahan ini,tapi dia bingung bagaimana caranya meninggalkan Naila yang selalu lengket dengannya.
"Mas kamu sudah pulang?" Tanya Naila.Dia beranjak dari tempat tidurnya untuk menyambut suaminya yang baru pulang kerja.
"Naila aku sudah benar-benar tidak tahan lagi bersama mu,aku minta kepada mu tolong pergilah dari hidupku,gara-gara kamu aku menderita ibuku memblokir semua kartu ku dan aku tidak bisa hidup tanpa itu."Ucap Irwan dia menghempaskan tangan Naila yang ada di tubuhnya.
"Kamu jahat mas,....Kamu keterlaluan,kamu yang terlalu bodoh makanya Raisa semakin semena-mena kepada kita itu karena kamu tidak tegas."
Irwan sudah tidak tahan lagi dua wanita dalam hidupnya mengatakan kalau dia lelaki lemah padahal dia seorang polisi tapi dia tidak mampu menyelesaikan masalah rumah tangganya.
🌺🌺🌺bersambung 🌺🌺🌺
__ADS_1