Adikku Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku

Adikku Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku
Bab 58 ~ Jatuh ~


__ADS_3

Naila kesal atas sikap suaminya yang tidak mau menuruti kata-katanya,dia tidak terima saat Raisa bisa menikmati hidup dengan nyaman bergelimang harta dari mertuanya padahal status mereka sama-sama istri dari satu pria.


Naila pergi ke dapur lalu mengambil air minum dari kulkas dan meneguknya samapi tinggal separuh lagi.


"Bagaimana caranya agar aku bisa mendekati ibunya mas Irwan,aku tidak mau kalau semua hartanya jatuh ke tangan Raisa lagian kami sudah sama-sama menantu di rumah ini." Ucapnya dalam hati.


Dia keluar dari dalam dapur menuju ruang tamu disana dia duduk memikirkan ide agar bisa mendekati ibunya Irwan dia benar-benar tidak mampu kalau harus seperti ini terus diam dan hannya mengharapkan Irwan pria yang tidak tegas menurutnya.


Naila terus duduk di ruang tamu,pikirannya melayang entah sampai kemana memikirkan hidupnya yang semakin berantakan.


"Aku kira aku bisa hidup dengan nyaman setelah menikah dengan mas Irwan nyatanya Raisa tetap yang pertama dan paling prioritas,di rumah ini." Ucapnya dalam hati.


Sementara itu Irwan turun dari lantai atas,dia juga tidak kalah frustasi dengan hidupnya sekarang,Raisa yang memaksanya untuk cerai membuat pikirannya hancur sementara itu Naila juga tidak mau mengalah untuk cerai dan meninggalkan dirinya.


"Mas kamu mau kemana?" Tanya Naila saat melihat Irwan dengan penampilan rapi.


" Kamu bisa diam tidak,aku tidak suka melihatmu yang selalu ingin mengekang ku,gara-gara kamu hidupku berantakan seperti ini,bahkan aku kehabisan uang,sesuatu yang tidak pernah aku alami selama ini,kamu wanita pembawa sial dalam hidup ku." Ucap Irwan dengan wajah penuh emosi membuat Naila kaget.


"Apaan sih mas,memangnya kamu pikir cuma kamu yang stres,aku juga pusing mas...Ini semua terjadi karena kebodohan mu,kenapa kamu begitu bodoh membiarkan semua hartamu di kuasai Raisa...Kalau bukan bodoh apalagi namanya?"


"Plak...." Irwan memukul wajah Naila dengan sangat kasar hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar,dia benar-benar muak dan sudah tidak tahan lagi melihat sikap Naila yang semakin terlihat buruk.


Naila memegangi wajahnya yang panas akibat pukulan tangan suaminya telinganya seakan ikutan berdenging saking kerasnya dia memukulnya.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu berani merendahkan atau bicara hal yang tidak tentang Raisa aku bisa lebih kasar dari ini kepadamu,kamu wanita pembawa sial dalam hidupku,aku menyesal telah jatuh ke perangkap busuk mu,kenapa memangnya kalau semua harta ku kuberikan kepadanya apa kamu keberatan,kamu wanita yang sangat kotor dan rendahan." Ucap Irwan kembali.


Naila merasa harga dirinya sangat terluka,dimana pria yang sangat dikaguminya dari dulu akhirnya ikutan merendahkan dirinya.


"Kalau kamu masih punya harga diri sebagai seorang wanita tinggalkan aku dan jangan pernah usik hidupku lagi,aku tidak Sudi punya istri seperti mu lagi,selain tidak punya harga diri kamu juga anak durhaka kamu tidak pantas di pertahankan." Ucapnya kembali membuat Naila semakin tidak bisa berbicara.


Entah apa yang terjadi tiba-tiba Naila merasa kepalanya sangat pusing,jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Tiba-tiba tubuhnya jatuh ke atas sopa dan dia tidak sadarkan diri.Irwan sekilas menoleh tapi dia membiarkan Naila begitu saja karena dia berpikir kalau Naila hannya berpura-pura pingsan agar dirinya kasihan dengannya.


Irwan pergi meninggalkan Raisa di ruang tamu,dia pergi ke luar dari rumah mengelilingi halaman rumahnya yang sudah lama tidak pernah dia kelilingi atau jalani.


Sesampainya di belakang dia duduk di bawah pohon mencoba membayangkan semua kenangan indah bersama istrinya dulu,dia memang pria bajingan hannya karena nafsu sesaat dia mengorbankan hubungan rumah tangganya dengan Raisa yang begitu baik dengannya dan juga perhatian.


"Kemana Raisa,sudah dari semalam dia tidak kelihatan,apa dia pergi bersama pria asing itu,aku akan membuangnya dari rumah ini kalau sampai dia berani bermain dengan pria lain." Ucapnya dalam hati.Dia takut sekali kalau sampai Raisa benaran pacaran dengan pria lain.


Pada saat itu Rara lewat dari hadapannya sambil membawa Amora,mereka baru saja selesai jalan-jalan.


"Rara dimana ibu Raisa?"


"Sedang di rumah sakit pak,dia menemani orang tuanya yang sedang melakukan operasi"


"Operasi..Sejak kapan? kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?" tanyanya dengan wajah kaget.

__ADS_1


"Di rumah sakit mana dia?"


"Tidak tau pak tapi kalau salah itu di rumah sakit yang dekat ke rumah ini saja." Jawab Rara mulai meninggalkan Irwan,karena Amora mulai kehausan lidahnya mulai di keluarkan tandanya dia sudah mulai haus.


Irwan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Rara,rencananya dia ingin menyusul Raisa kesana tapi saat dia sampai di ruang tamu dia kaget melihat Naila yang masih tidur.


"Naila....Naila...Kenapa kamu tidur disini." Irwan sangat kaget saat melihat wajah Naila yang sangat pucat di tambah tangan dan wajahnya yang dingin sekarang dia sadar kalau ternyata Naila tadi benaran pingsan dan tidak pura-pura.


Tidak ada pergerakan dari Naila,Irwan segera membopong tubuh Naila dan membawanya ke dalam mobil setelah itu dia segera melarikan Naila ke rumah sakit terdekat.


Beberapa perawat segera membawa Raisa ke IGD lalu mulai memeriksa keadaan Naila dari tekanan darah dan semua kesehatannya.Setelah diperiksa secara detail seorang dokter menemui Irwan yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Dengan bapak Irwan segera ikut ke ruangan saya." Ucap seorang dokter.Irwan mengikuti langkah kaki dokter memasuki ruangannya setelah dipersilahkan duduk akhirnya Irwan duduk di hadapannya.


"Begini pak Irwan,dari pemeriksaan,janin yang ada di kandungan istri bapak tidak bisa berkembang alias sudah mati dan kita harus melakukan pengamatan.Dan sepertinya juga ibu Naila mengidap kangker rahim,jadi kemungkian rahimnya juga harus di angkat." Ucap dokter dengan wajah sedih.


Irwan sangat bahagia mendengar berita dari dokter,karena dengan demikian dia bisa secepatnya pisah dari Naila dan mencoba untuk kembali kepada istrinya dia berharap Raisa mau menerima cintanya lagi dan mereka bisa hidup bahagia.


Irwan keluar dari ruangan dokter,para dokter belum bisa melakukan operasi sebelum Irwan melakukan pembayaran biaya operasi Naila yang cukup besar sementara dia sama sekali tidak punya uang.


Irwan menemui Naila ke ruangannya,dia memang sudah sadar tapi wajahnya masih sangat pucat dan bibirnya juga pecah-pecah.


"Mas apa yang terjadi denganku,anak kita baik-baik saja kan?" Tanya Naila dengan wajah parau.Irwan menatap Naila dengan tatapan sinis sama sekali tidak ada rasa iba di hatinya dan bahkan dia sangat bahagia mendengar kabar dari dokter.

__ADS_1


🌺🌺🌺Bersambung 🌺🌺🌺


__ADS_2