Akhir Cinta Yang bersandingkah ?

Akhir Cinta Yang bersandingkah ?
XI IPA 2


__ADS_3

'Rasa takut tidak untuk dinikmati, tetapi untuk dihadapi dengan keberanianmu!'


Shasa memajang medali PON tahun 20XX nya di dinding.


"Alhamdulillah kak dapat Juara 1,Mama bangga dengan Kakak. Dek contoh Kakak kamu ya" Ucap syukur sang Ibu


"Alhamdulillah,Sha... Bapak udah lega,tinggal ngadap Panglima Bapak nanti ini" ujar Sardi tenang.


Shasa tersenyum bahagia,bahagia ini tak bisa ia pungkiri .


"Iya Ma,Pak Shasa mau kaya Teteh. Masuk kowad tanpa Tes" Ucap nya senang.


"Kakak hebat aku mau jadi kayak Kakak" ucap Adik lelakinya.


"Banyakin latihan Rel" ucap Shasa pada Farel adik laki laki nomor 3


"Tahun depannya lagi kamu yang Berangkat Pon,Dek" ucap Shasa pada Qia


Qia tersenyum


"Pasti Kak"


"Wah kalau Kakak jadi Tentara,udah selesai pendidikan. Pergi ke Alfarmart dipakai terus baju lorengnya nih" Aril-anak ke empat


Shasa tertawa


"Yooo pasti nyo"


*


*


*


*


*


"Sini Kak! Sini!" Panggil Qia


"Opo to?" Tanya nya bingung


"Nanti para Taruna Taruni pesiar loh Kak. Lihat yok sekalian cuci mata hehehe"


Shasa berbinar,pipinya memerah


"Gak ah,Aku gak punya nyali"


"Ngak nyesel kah?"


"Aku takut sama Bapak" ucap Shasa benar


"Gak bah... diam-diam aja Kak. Loncat jendela!"


"Gila kamu! Jendela tinggi woi!"


"Ya Nge-Roll masa petarung gak bisa Roll!"


Shasa bangkit dan menaruh novelnya


"Eh?! Kata siapa? Aku bisa kok."


"Ya udah ayo!"


"Bentar,tak ganti celana dulu"


Setelah mengganti celana,mereka melihat jendela.


Shasa meneguk ludahnya.


'Bruk'


"Ayo cepet Kak!" Ucap Qia memerintahkan Shasa untuk cepat turun


Shasa kaget,sejak kapan ia sampai dibawah? Kenapa ia tidak melihatnya?


Sakti sekali anak itu


"Bismillah,selamatkan hamba ya Allah"


'Bruk'


Shasa memejamkan matanya,ia tidak berani membuka matanya.


"Udah Ayo! Gak usah lebay"


Qia menarik tangan Kakaknya


Qia berhenti mendadak.


"Kenapa berhenti?!"


"Ada Om Protokol tuh Kak" tunjuk Qia pada pria tinggi besar yang menggunakan Jeans


"Nyariin Bapak kali" jawabnya cuek


"Gimana ya? Jalan cuma itu. Mana tuh Om Protokol lambe turah lagi" kesal Qia


"Pura pura aja gimana?"saran Shasa


"Gimana Kak?"


"Bentar Kakak cari ide dulu"


"Cepetan Kak!"tak sabarnya


"Hah,Om Dirga gak pernah lihat kamu Kan?"


Qia mengangguk


Entah kenapa ia Sensi sekali dengan yang Namanya Serda Dirgantara. Si lajang lambe turah itu.


Mereka pernah adu mulut,tetapi Dirga tidak pernah melihat Qia.


Qia melihat sekitar,ia melihat semak semak.


"Lewat situ aja Kak!"


"Takut! Ada uler gimana?"

__ADS_1


"Sebelum matok patokin dulu!"


"Iya iya,Cepetan sebelum Om Dirganya lihat kita!"


"Aku benci banget sama laki laki yang lambe turah kaya Om itu kesel!"


"Udah Cepetan lewat!"


Qia masuk kedalam semak semak,ia berjalan pelan.


"Aman Kak! Ayo masuk!"


Shasa mengikutinya dari belakang


Qia merasa ada yang menyangkut dikepala nya.


Berbau apek.


"Kak ini apa?" Tanya nya


"Mana Kakak lihat,orang gelap. Tapi gak gerak-gerak kan?"


"Gak kok"


"Cepet lanjut jalannya."


Akhirnya mereka dapat keluar dengan selamat.


"Topi mu model baru ya??? Hahaha" tawa Shasa


"Topi apaan? Mana aku pake Topi Kak"


Shasa masih tertawa


"Apaan nih? Hoek" jerit Qia ketika melihat benda tersebut


"Beruntung kamu Hahaha"


"Hoek,jorok amat sih!"


"Palingan punya Mbok Sumi hahaha"


"Apek banget,gak pernah ganti kali dia nih"


"Kamu bawa apaan sih?" Tanya Shasa sambil melirik kertas ditangan nya Qia


"Oh ini... surat cinta Kak"


"Buat siapa?"


"Bang Redy dong"


"Hah? Redy? Gak salah lu?" Tanya Shasa tak percaya


"Hooh"


"Itu Kakak kelas terkonyol banget, sampai sering dihukum. Dia sering banget gantung sepedanya orang di atas pohon"


"Biarlah Kak,aku harus berjuang hahahay" optimisnya


"Eh Neng,lihat situ baru kelas IX loh"ucap Shasa menyadarkan adiknya itu.


"Qia,kaya nya ada yang lupa deh"


"Apa ya Kak?"


"Gak tau Kakak,tapi jalan dari tadi sampai buat Kaki Kakak sakit deh"


"YA AMPUNNN KITA GAK PAKE SENDAL"


Teriak Qia kaget dan baru sadar


"Kaya nya bukan deh"


"Iya Kak, aku juga Ngerasa ganjil nih"


"Coba tadi bawa Mot---"


"Motor Kak! Lah kita kesana pake apa nih?" Panik nya


Pantas saja mereka merasa tidak sampai sampai. Karena tidak menggunakan alas kaki dan yang lebih parah. Motor saja tidak mereka bawa.


"Kak,lihat noh!" Tunjuk Qia


"Paan sih?"


"Noh noh. Ada motor ada kuncinya" tunjuknya pada motor


"Gak boleh!"


'Sredreett'


"Cepetan Naik!pinjam Bentar nanti di balikin kok"


Shasa naik di belakang nya,dengan kecepatan yang lumayan Qia membawa motor tersebut.


Mereka dapat melihat para siswa Taruna keluar dengan rapi dari sana.


Shasa sudah membayangkan,jika ia keluar dari sana juga.


Akademi Militer


Uh bahkan semua orang juga memimpikannya.


Mereka berpencar masing masing dengan rapi. Ada yang berjalan dimana sang kekasih menunggu.


"Kak,Kak kek nya itu Bang Redy deh. Kakak tunggu disini ya." Ucap nya sambil berlari meninggalkan motor


"Cih! Ceritanya ditinggal nih?"


"Bentar doang Kak"


Shasa melirik sekilas,apa yang orang luar Katakan tentang daerahnya memang benar. Sangat indah. Apa lagi bila memandang abang berbaju loreng hehehe


Shasa berniat beli pulsa untuk mengisi Handphone nya. Dua hari sudah ia tak loading internet.


Ia pergi ke salah satu kios ponsel yang lumayan sepi dari yang Lain.


Ia melihat pria berdada bidang,dan berambut cepak.

__ADS_1


Mungkin anak-anak daftar,pikir nya


Entah kenapa jantungnya berpacu lebih cepat.


Pria berkulit sawo mentah,berhidung mancung dan tubuh yang atletis... err idaman nya sekali.


Pria itu menatap Shasa,jantung Shasa berdetak tak karuan.


Nikmat mana lagi yang engkau berikan Ya Allah.


"Ada apa mbak?" Tanya mbak mbak yang jaga konter tersebut


Mata Shasa tak teralihkan dari pria itu.


"Erzo!" Ucapnya sambil mengulurkan tangan


Shasa masih bingung


"Hah?"


"Mbak beli apa?" Sewotnya


Shasa gelagapan


"Beli Erzo mbak!" Ucapnya tak karuan


Ups keceplosan


Pikiran dan pertanyaan tak sesuai.


"Hah? Beli Erzo?"


Orang yang bernama Erzo itupun tertawa


"Salah mbak,maksud saya beli pulsa" Ucap nya malu,sambil melirik diam pria di sampingnya .


"Nomornya mbak"


Shasa melihat pria itu mengeluarkan handphone nya dan membuka menu telepon.


"0897--" Ucap nya berhenti,Shasa melirik dari ujung matanya pria itu mengetik nomor nya


"Mbak?"


"Oh iya, 79 2345 0607 yang sepuluh ribu aja mbak"


"Ok,sudah terkirim ya Mbak jadinya 12.000"


"Oh iya"


Shasa merogoh kocek koceknya


Habis sudah! Ia tidak membawa uang.


Apa yang harus ia katakan? Pulsa sudah terkirim uang tidak ia bawa .


"Ini mbak,kembaliannya untuk mbak aja" Ucap Erzo sambil memberikan beberapa lembar uang.


"Makasih ya mas"


Shasa seperti orang linglung


"Kok dibayarkan Bang?" Tanyanya


"Gak apa-apa dek"


"Makasih banyak ya Bang"


"Iya Dek"


"Hmm"


"Kelas berapa?" Tanyanya


"IX IPA 2 Bang" jawabnya sedikit dingin karena gugup.


"Nomor kamu udah saya save ya"


Shasa bingung


"KAKAKKKKKKKKK" teriak Qia menggelegar


"Apa?" Balas Shasa cuek dan mood nya tiba tiba berubah menjadi buruk.


"Suratku dibalas!"


"Biasa aja kali"


"Sesuatu banget ini Kak!,eh ada calon kakak ipar. Apa kabar kak?" Sapa Qia


"Kamu apa-apaan sih?" Sewot Shasa karena adiknya sok kenal


"Alhamdulilah baik kok. Ini adik kamu ya?"Tanya Erzo


Shasa mengangguk


"Oh,Dek kamu belum ngenalin namamu loh"


Cewek berambut se punggung itu menoleh.


"Namanya,PMBS JIBANG" ucap Qia membuat Erzo dan Shasa bertanya tanya


"Apaan?"


"Paling Males Banget Sedunia,Jijik banget... ampuni adek Kak!"


Shasa ingin meninju mulut Qia tetapi Qia dapat menghindar.


"Bweee"


Qia berlari ke arah motor


"Awas gak pulang Kak,Bapak marah!"


Mendengar kalimat itu membuat Shasa ngeri. Sedangkan Qia sudah pergi duluan dengan motor yang dipinjam paksa nya itu.


"Kampret!"


"Balik sama saya aja Dek"

__ADS_1


Shasa terpukau dengan pria di depannya ini .


__ADS_2