Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
10 : Cara menakluhkan anak kecil


__ADS_3

"Hah! Apa yang kau bilang?"


Inta menjauhkan ponsel dari telinganya. Pekikkan Malinda hampir membuat telinga Inta tuli. Setelah mereda sesaat, ponsel itu kembali terarah di telinganya. "Aku meminta bantuanmu untuk bisa menakluhkan anak kecil."


Sambil menunggu balasan Malinda, Inta duduk di tepi kasur dan menatap jendela kamarnya. malam ini benar-benar sunyi. Dia baru sadar seperti inilah kediaman Zacry. Sepi, sunyi dan penuh keheningan.


"Hm, jadi maksudmu. Kau ingin mencari cara untuk menakluhkan anak kecil? Apa dia anak angkatmu?"


Inta segera membalas perkataan Malinda. "Iya, lebih tepatnya anak asuh. Aku menikahi Zacry bukan karena mencintainya. Tapi, karena uangnya." celetuk Inta.


Di seberang panggilan itu, suara tawa Malinda pecah seketika. Inta tahu bahwa, Sahabatnya pasti berpikir, 'Dia mengakui dirinya sebagai iblis.' Seperti itulah yang bisa dirinya tebak.


"Ha, hahaha ... aku tidak percaya, kau yang tidak ingin diajari jalan sesat. Tapi mengakui bahwa tujuanmu itu menyimpang. Inta, kau sudah lulus menjadi muridku. Hehe, sebagai murid iblis."


Inta memutar bola matanya dengan malas. Dia menghela napas dengan berkata. "Kita ini manusia, untuk menjadi iblis pun, Sepertinya tidak akan lulus. Oh tidak, hanya kau, Malinda. Yang bisa memanipulasi pikiran orang lain."


"Oke sudahlah, kita bahas kepermasalahan utama. Kau ingin menakluhkan anak kecil kan?"


"Iya, aku ingin menakluhkan Abi. Dia anak yang begitu licik." sahut Inta.


"Licik? Selicik apa dia?"


Inta membaringkan tubuhnya di kasur. Dia dengan santai menjelaskan kejadian yang di alaminya. "... seperti itulah, Abi sangat pandai memainkan perannya. Di depan Zacry, dia memanggiku Ibu. Tanpa Zacry, dia panggil aku Tante. Hahh, anak itu punya sifat licik ini dari siapa sih?" cibir Inta.


Di seberang sana menjawab, "Kau pun juga punya sifat licik. Bagaimana caramu membuat Alfazi selalu mencintai dan ada di saat kau susah. Heh, tidak sadar diri. Eh, jangan bilang kalau Abi itu anakmu?"


"Kau! jangan berucap omong kosong begitu. Aku masih perawan dan menjaga kesucianku. Selama ini, tidak ada satu orang lelaki yang pernah menyentuhku. kecuali,"


"Kecuali Zacry. Suami yang mencium singkat bibirmu. Hahaha, bibirmu sudah ternodai."


Inta mengubah ekspresinya menjadi datar. dia seketika ingat kejadian tadi sore. Melihat tubuh luar biasa Zacry. Otot-otot yang di bentuk dengan begitu baik. Kepala Inta segera menggeleng, tidak harusnya dia mengingat semua itu.


"Hei! Apa yang membuatmu terdiam?"


"Tidak ada, oh ya ... kau bisa membantuku kan?" tanya Inta.


"Tentu, Aku akan memberikan saran untukmu. Bagaimana kalau, kau menganggu dirinya."


"Menganggu? ku rasa itu tidak mungkin. Besok, dia ada sekolah hingga sore hari. Kalau menganggunya, aku hanya bisa melakukannya di malam hari."


"No, pikiranmu salah. Pertama, usahakan disaat dia ada. Kau menganggunya, apa pun yang dia kerjakan. Karena besok, tidak ada jadwal kampus. Kau izin untuk keluar di sore hari hingga malam tiba. Lihatlah, apakah ada perubahan dari anak itu."


"Kau tidak mengajarkanku, jalan pintas yang sesat kan?"


"Hei! Aku tahu yang mana baik dan buruk. A- a, siapa nama Anak angkatmu itu?"


"Abi!"


"Ah, itu! Menurutku, anak kecil memiliki hati yang tulus. Sikap dan perhatian bisa menipu, tapi hati tidak. Aku rasa, Abi sudah menerimamu menjadi ibunya. Namun, dia tidak mengakui hal itu. Jadi, gunakan saranku barusan. Aku yakin, itu akan berhasil."

__ADS_1


"Aku merasa ragu dengan apa yang kau katakan."


"Kalau tidak mau, ya sudah."


"Eh! Jangan begitu. Baiklah, aku akan mencobanya."


"Bagus, besok jam 2 siang datang ke tempat biasa oke!"


"Oke."


Inta menaruh ponselnya di meja rias. Dia berbaring kembali dan memikirkan bagaimana cara menakluhkan anak kecil yang dia asuh.


...***...


Kepagian harinya, Inta berdiri di pintu kamar Abi. Dia sudah memikirkan semua cara untuk menganggu anak kecil yang tengah tertidur.


Kenapa bisa dia bangun pagi, itu semua terjadi karena dia terjaga dengan pikiran berjalan. Jadi, saat ini, matanya begitu berat untuk dibuka.


"Hoaam! Tidak, aku tidak boleh mengantuk!" Inta menggeleng kepala untuk menghilangkan rasa kantuknya.


Dia bergegas mendekati kasur Abi dan berdiri menatap anak berusia 5 tahun itu. "Hei Nak, aku harus bisa menakluhkanmu. Karena setelah itu, Aku bisa bebas. Yeah, Bebas dari utang dan beban." gumamnya.


Inta menarik selimut Abi dengan perlahan. "Abi, ayo bangun!" serunya.


Abi yang masih menikmati mimpi indahnya, merasa terusik. Dia membuka mata dan melihat Inta yang kini memandangnya.


"Hei Nak, bangunlah! Ini sudah jam 6 pagi. Bangun, jangan sampai telat seperti kemarin." ujar Inta dengan semangat membara.


Dengan perlahan, Inta mendudukkan Abi. Dia membersihkan kasur dengan cepat, lalu mengendong Abi menuju kamar mandi.


Tidak ada hal aneh yang Abi lihat saat Ibu angkatnya itu, bertingkah pagi ini. Namun, keanehan semakin menjadi saat dia ingin berangkat sekolah.


Tanpa ada sang ayah, Abi bisa sedikit bebas. Meski begitu, dia tetap mengikuti aturan keluarga. Yaitu, sopan dan santun terhadap orang tua. Tetapi, Inta sudah berhasil membuat dia menjadi lupa aturan.


"Hei, kau harus memperhatikan pakaianmu!"


"Eh, sarapanmu harus di habiskan. Makan dengan benar ya."


"Oh ya, saat di sekolah jangan lupa untuk makan siang. Kalau kau mau, Ibu bisa membuatkan makan siang untukmu. Mau ibu antar?"


"Jangan lupa, perhatikan isi tasmu. Siapa tahu ada yang tertinggal."


Ucapan dan pertanyaan Ibu angkat membuat alis Abi berkedut. Dia mengendong tasnya tanpa menjawab atau membalas perkataan itu. Dia lebih memilih untuk bungkam dan fokus pada tujuannya.


"Abi, tunggu sebentar. Biarkan aku mengantarmu hingga ke mobil!" teriak Inta. Dia berlari dan mendekati Abi yang hampir mendekati mobil.


"Abi!" seru Inta.


Abi berhenti melangkah dan berbalik badan. Tatapan matanya begitu tajam melihat ke arah Inta. "Bisakah Tante tidak mengangguku? Aku benar-benar tidak menyukainya. Jika, Anda ingin menjadi pengasuh, berlagaklah dengan benar. Aku bisa membencimu jika bertingkah seperti itu." ucapnya.

__ADS_1


Inta berhenti tepat di depan Abi. mendengar perkataan yang baru saja terucap, membuat Inta bungkam. Dia tidak tahu kalau Abi bisa semarah ini. Niatnya hanya untuk membuat Abi risih, bukan kesal.


Namun, siapa yang tahu kalau anak kecil itu menjadi kesal hingga membencinya. "E'm, Abi?"


Abi berbalik badan, dia membelakangi Inta dan kembali berucap. "Cukup sampai di sini! Aku tahu, Anda menikahi ayah bukan untuk menjadi keluarga. Tapi, untuk memberikan kasih sayang seorang ibu kepadaku. Bukankah aku sudah bilang, aku membenci panggilan Ibu. Apa lagi, orang yang ingin menjadi Ibuku!"


Tidak ada yang bisa Inta katakan. Dia tahu, seberapa marahnya Abi tentang hal ini. Matanya hanya bisa melirik punggung kecil yang melangkah mendekati mobil.


"Jadi, berhentilah seperti itu. Aku akan mengatakan kepada ayah, kalau aku tidak menyukaimu." Abi melangkah masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Inta yang mematung di tempat.


...***...


Helaan napas terhembus dengan panjang. Malinda segera menggeleng kepala dan menepuk pelan punggung Inta.


"Bersabarlah, lagian kau terlalu bersemangat." ucap Malinda.


Inta segera bangun dan menunjuk sahabatnya. "Ini semua karena saranmu! Abi jadi marah kepadaku. Dia pasti sudah menceritakan semua ini ke pria kaku itu." keluh Inta.


Malinda mengeser arah Inta menunjuk. Dia tersenyum, lalu berkata. "Kau bisa menolak saranku, hehe."


Dengan kesal Inta menatap ke arah lain. Dia benar-benar bingung sekarang. Bagaimana jika Abi mengadu kepada Zacry. Apa dia akan langsung diceraikan?


"Aku akan menjadi janda?" gumam Inta.


Malinda yang duduk tepat di sampingnya, mendengar gumaman itu. Dia pun tersenyum, "Bagus bagi Alfazi. Dia akan langsung mengantikan posisi suamimu itu." celetuknya.


Inta yang sedang kebingungan, merasa kesal pada Malinda. Dia menatap sahabatnya dengan wajah tersenyum.


"Ada apa?" tanya Malinda dengan perasaan khawatir.


Tanpa menjawab, Inta mengetuk jidat sahabatnya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Malinda memekik kesakitan.


"Aw! Jidatku." Malinda mengusap jidatnya dengan lembut, untuk menghilangkan rasa sakit.


"Kau ini! Seharusnya membantuku berpikir, bagaimana membujuk anak kecil itu. Eh, kau malah berpikir hal lain. Apa tidak ada hal bagus di otakmu itu, Mal?" keluh Inta. Dia merasa rugi memiliki sahabat seperti Malinda.


Tangan Malinda memangku dagunya. Sedangkan tangan yang lain, memilih untuk mengerakkan jemari yang bermain sedotan. "Kalau aku jadi dirimu. Aku akan bodoh amat. Lagi pula, kesepakatan kalian adalah memberikan kasih sayang seorang ibu. Jika Abi mengadukanmu, maka ada dua hal yang terjadi."


Inta menatap ke arah Malinda. Mereka berada di sebuah bar yang umum dibuka. Meski umum, bar ini juga diperhatikan oleh pihak kepolisian. jadi, tidak ada yang bisa berbuat macam-macam di tempat ini. Kecuali, berminuman yang ada larangan khusus.


"Pertama, kau akan langsung di buang. Jika! Zacry mencintai anaknya." Malinda memainkan piring kosong dengan sisa coklat. Di gambar olehnya, satu titik dari coklat itu.


"Kedua, dia akan tetap membiarkanmu. Karena, keluarga mereka, begitu memperhatikan aturan. Jadi, Zacry akan mendengarkan penjelasanmu sebelum membuat keputusan." lanjutnya.


Inta terdiam mendengar hal itu. Dia memang tidak memikirkan semua ini. Bagaimana pun, perjanjian bisa berakhir. Jika, Abi benar-benar tidak menyukainya.


"Kalau begitu, apa aku akan menganti rugi semua yang terjadi?" tanya Inta.


Malinda menggeleng kepala. "No! Ku rasa itu semua tidak akan terjadi. Sudahlah, bagaimana kalau kita lanjut hingga malam tiba. Pulanglah tepat di jam 10 malam. Di mana semua orang sudah tertidur."

__ADS_1


"Lalu, aku akan ke mana?" tanya Inta. Malinda tersenyum dan memutar kunci motornya. Melihat sahabatnya seperti itu, membuat Inta pasrah. "Sudahlah. Berakhir, ya berakhir." benaknya.


__ADS_2