
Lima tahun berlalu dengan cepat, seorang pria mengenakan jasnya sembari melangkah menuruni tangga.
“Zivta, kemarilah!”
Zivta yang baru tiba di lantai bawah menoleh untuk melihat ke ruang tamu. Ada Ayahnya yang sedang menikmati kopi panas. Langkah kaki itu pun menuju ke arah ruang tamu.
“Ada apa Ayah?” tanya Zivta.
Ayah Harxa dengan perlahan mengarahkan pandangannya untuk menyuruh Zivta duduk.
Melihat hal itu, Zivta segera mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dengan Ayahnya.
“Ayah ingin berbicara serius denganmu, Malinda telah meninggal 5 tahun yang lalu. Sekarang, apa kau membutuhkan pasangan hidup, Zivta?” tanya Ayah Harxa.
Zivta tersenyum mendengar hal itu, dia segera menatap wajah Ayahnya. “Tidak perlu Ayah, Zivta akan menjalani kehidupan Zivta seorang diri. Lagi pula, keluarga kita sudah menetapkan aturan dari jaman dahulu. keluarga Park tidak akan menikah untuk yang kedua kalinya.”
Ayah Harxa mengangguk mendengar apa yang Putra pertamanya katakan, dia dengan santai menyeduh kopi sembari berucap, “Apa kau masiha mencintai Malinda, wanita yang bersama Inta itu?”
Zivta terteguh mendengar apa yang Ayahnya katakan. “Bagaimana ayah bisa mengetahuinya?” tanya Zivta.
“Aku ayahmu Zivta. Tentu saja Ayah tahu. Sekarang, apa kau sudah mencari keberadaannya?”
Gelengan kepala di berikan oleh Zivta. “Tidak Ayah, bahkan Alfazi yang menyukai Malinda. Tidak mendapatkan jejak gadis itu. aku bahkan mengunjungi Vila yang menjadi tempat persembunyian Inta. Vila itu sudah hancur tanpa sepengetahuan siapapun.”
Ayah Harxa mengangguk mendengar penjelasan putranya. “Kau benar, Malinda bukan wanita sembarang. Mungkin, suatu saat nanti kau akan menemukannya. Jika itu terjadi, nyatakan cintamu meski dia tidak bisa menerima dirimu.”
Zivta tersenyum tanpa membalas apa yang Ayahnya katakan. Dia memilih untuk pergi bekerja di kantor, mengantikan Adiknya yang kini menghabiskan waktu bersama keluarga. Sudah lima tahun berlalu, Zerya dan Abi telah bertambah usia. Mereka bahkan mampu menarik pihak desainer untuk menjadi model mereka.
Keponakkannya itu sungguh luar biasa, bisa dengan mudah menarik hati siapapun. Namun, Abi dan Zerya memiliki sikap yang mirip Ayahnya. cuek dan dingin, mereka hanya akan berbicara saat seseorang mengajak mrereka berbicara. jika tidak, maka keduanya hanya akan terdiam.
__ADS_1
Di dalam mobil, Zivta tengah menikmati perjalannya. Suara panggilan masuk membuat dia segera mengangkatnya.
“Ada apa Zacry?” tanya Zivta dengan tenang. Dia membelakkan mata mendengar jawaban Zacry hingga menepikan mobilnya. “Apa, Zerya hilang?” pekik Zivta.
...*** ...
Inta dan Zacry tengah mencari anak gadis berusia lima tahun. Mereka baru saja kehilangan putri mereka yang sangat aktif seperti Inta dulu.
“Zacry, bagaimana ini? Zerya benar-benar menghilang seperti di telan kegelapan.” Panik Inta.
Zacry yang mendengar kepanikan istrinya segera memeluk Inta. Dia memberi kecupan di kepala orang yang dia cintai. “Tenang saja, pasti Zerya ada di sekitar sini.”
Setelah berucap demikian, sebuah mobil berhenti di depan mereka. saat ini, keduanya tengah berada di supermarket untuk berbelanja. Berbelanja kali ini karena ada diskon di sana. Inta sangat menikmati kata hemat, tidak heran dia berada di sini bersama Putrinya dan Zacry.
Lalu, Abi sedang menikmati sekolahnya. Anak berusia 10 tahun itu, lebih ingin menghabiskan waktu untuk belajar. Seperti Ayahnya yang gila buku.
“Bagaimana? Apa kalian telah menemukan Zerya?” tanya Zivta dengan wajah panik.
“Berapa banyak orang yang datang untuk membeli telur itu?”
Inta mendekati Suaminya untuk berlindung. Dia merasa dirinya telah bersalah. Zacry pun memeluk Istrinya dengan lembut.
“Kak, itu tidak penting ... yang terpenting Zeryanya.”
“Zacry, bagaimana cara kita mencarinya jik-.”
Zacry segera menatap ke arah di mana kakaknya itu menatap. Sebuah cctv yang diletakkan pada luar toko. Tanpa perlu menjelaskan, keduanya sudah saling berbicara lewat pandangan.
Inta yang ada di dalam pelukkan Zacry tercenga melihat mereka yang saling melirik. “Mereka tidak mungin berbicara lewat batin kan?” benak Inta.
__ADS_1
“Aku akan memeriksanya di dalam, kalian tunggu aku di sini.” Ucap Zivta yang kemudian bergegas memasuki supermarket.
Setelah berkata seperti itu, Zacry dan Inta menatap kearah perginya Zivta. “Zacry, apa Zerya benar-benar menghilang?” tanya Inta.
Zacry segera terdiam. Baik Inta dan Zacry sama-sama tahu. Bahwa Zerya memiliki sikap ibunya. Mudah menindas dan akan menyakiti siapapun yang ada di dekatnya.
Pernah, saat Zerya berusia 1 tahun, Putri mereka di tuduh mencuri buah. Inta dan Zacry tentu akan menganti kerugian itu. namun, saat mereka ingin melakukannya, Zerya dengan santai menarik seseorang yang ternyata adalah pencuri buah itu sendiri.
Apa lagi, Zerya membawa seorang anak berusia 8 tahun. Anak itu, tidak lain adalah anak pemilik buah.
Mengingat semua itu, Inta dan Zacry hanya bisa menatap bingung. Mereka menunggu kedatangan Zivta.
Saat Zivta melangkah sembari membawa hasil rekaman. Seseorang berlari dengan cepat sembari berteriak.
“Ibu! Ayah!”
Inta dan Zacry segera menoleh untuk melihat Zerya yang berlari ke arah mereka. dengan pelukkan yang hangat, Inta mengendong Zerya.
“Kau kemana saja hm? Ibu mencarimu!” ucap Inta dengan memberi ciuman di pipi Putrinya.
Zerya dengan senyum senang menunjukkan mainan yang ada di tangannya. Sebuah mainan mahal yang akan membuat Inta berpikir dua kali untuk membelinya.
“Zerya, siapa yang membelikanmu mainan ini? ini mainan mata-mata yang sangat mahal. Kacamata yang kau pegang, tidak mungkin bisa mudah kau dapatkan.” Ucap Inta dengan wajah penasaran.
Ada sebuah kacamata yang di bawa oleh Zerya. Kacamata itu merupakan sebuah tiruan dari kacamata film mata-mata. Inta pernah melihat model ini dengan harga yang lumayan. Dia tidak akan mungkin bisa membelinya.
“Seseorang memberikannya kepadaku. Namanya, hm ....”
Wajah semua orang menjadi penuh penasaran. Mereka segera menatap Zerya yang berusaha mengingat.
__ADS_1
“Ah, namanya Tante Mal!”