
Inta dan Zacry menunggu di depan mall. Siang hari ini, Inta ingin mengajak Abi bermain. Sebagai permintaan maafnya dari kekalahan waktu itu.
Zacry sempat menolak hal tersebut karena Inta ingin pergi berdua saja bersama Abi. Dia khawatir dengan putranya, lalu Inta yang kini dianggap sebagai istri sekaligus cinta pertama.
"Apa benar Kakak Ipar akan membawa Abi ke sini?" tanya Inta memastikan. Dia memikirkan keadaan sahabatnya yang mau menjembut Abi.
Zacry mengangguk, dia berdiri di samping Inta dengan memperhatikan pakaiannya.
Saat ini, keduanya mengenakan pakaian dengan warna yang sama. bedanya, Inta mengenakan baju abu-abu yang di masukkan ke dalam celana panjangnya. Sedangkan Zacry mengenakan hoodie abu-abu dan celana panjang.
Seperti sepasang kekasih yang baru saja pacaran. Di pandangan orang-orang mereka seperti itu. Kenyataannya, mereka berdua adalah sepasang suami istri yang sudah ada Putranya. Meski bukan, anak kandung Inta.
Tidak lama menunggu, sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan keduanya. Keluar wanita yang mengendong Abi, di susul pria yang tidak lain adalah Zivta, kakak Zacry.
"Mal, kau ikut dengan kakak ipar?" tanya Inta kaget dengan kedatangan mereka. Dia berpikir, Malinda akan menolak.
Anggukan kepala Malinda berikan, dia menyerahkan Abi yang asik menikmati krepes miliknya.
"Hm, aku tidak akan menyerahkan tanggung jawabku kepada orang lain. Selama ini tugasku, Aku akan mengantar Abi kepadamu." sahut Malinda.
Semua yang mendengar sahutan itu setuju. Tanggung jawab merupakan hal yang selalu di anggap sepele oleh orang lain. Bahkan, bisa-bisa ada perkelahian karena hal ini.
"Oke, Aku sudah mengantar Abi. Sekarang, Aku akan pulang." ucap Malinda ingin meranjak pergi.
Inta segera menahan Malinda. "Tunggu dulu, Ikutlah bersama kami. Aku dan Zacry mengajak Abi ke sini untuk bermain permainan di dalam mall."
"Hah? Inta, itu namanya liburan keluarga. Orang seperti ku tidak seharusnya ikut. Kalian bertigalah yang harus menikmatinya." tutur Malinda. Dia tidak habis pikir dengan Sahabatnya ini. Mengajak orang lain saat liburan keluarga, itu aneh.
Inta melirik Zacry untuk meminta bantuan. Dia tahu, Malinda ini akan menolak hal-hal seperti ini. Asalan Inta mengajak Malinda karena ingin menbayar utang budi, melalui kebersamaan mereka.
Tahu apa yang diinginkan Istrinya, Zacry menatap ke arah Malinda. "Kakak ipar, Abi besok libur sekolah. Jadi, bermain bersama banyak orang akan ada keseruannya."
Malinda mengerutkan alis, dia ingin tertawa mendengar ucapan Zacry. Pria kaku di depannya ini begitu unik.
Tidak tinggal diam, Zivta juga ikut membantu. "Mari ikutlah Malinda, lagi pula apa yang dikatakan adikku itu benar. Kita bermain bersama untuk menemani Abi."
Melihat semua orang membujuk Malinda. Abi yang menikmati krepesnya, ikut bergabung. "Ayolah tante, kita bermain bersama."
Malinda menggeleng kepala mendengar bujukkan orang-orang ini. Dia tidak ingin ikut campur dalam keluarga Park. Ada alasan khusus yang membuatnya melakukan itu semua.
Tahu Malinda akan menolak lagi, Inta segera menambahkan. "Aku ingin menantangmu bermain di Pump it up." tantangnya.
Malinda yang tadi menolak segera mengangguk setuju. Pump it up adalah permainan yang paling disukai Malinda. Dia tidak akan melewatkan itu apa lagi mendapatkan lawan bermain.
Zacry serta Zivta hanya bisa tercenga setelah mendapati Malinda setuju begitu saja. "Membujuknya tidak susah!" benak keduanya.
Tiba di wahana bermain. Inta dan Malinda berdiri dengan menatap Pump It Up yang ramai di mainkan anak muda.
"Yang kalah?" tanya Inta.
Malinda tanpa menoleh menjawab, "Akan mendapatkan hadiah!"
Anggukkan kepala dilakukan keduanya. Mereka akan bermain saat permainan itu sepi. jadi, keempatnya beserta Abi memutuskan untuk bermain di wahana lain.
Setelah memuaskan Abi, tantangan Inta dan Malinda pun di mulai.
"Bentar dulu, Aku akan membuat kartu member." ucap Malinda yang ingin melangkah ke kasir.
Namun, Zivta segera menghadangnya dengan uluran tangan di depan mata. Terlihat kartu berwarna gold yang mirip dengan kartu member Abi.
__ADS_1
"Ambilah," ucap Zivta.
Inta dan Zacry saling melirik melihat bagaimana Zivta begitu suka rela memberikan kartu member. Tidak masalah, jika itu hanya meminjamkannya. Tapi, ucapan Zivta barusan bukan meminjamkan tapi memberi.
Malinda menggeleng, "aku pinjam saja." ucapnya.
Zivta tersenyum dengan kaku karena pemberiannya di tolak secara halus.
"Apa kakak ipar benar-benar sudah menikah?" bisik Inta kepada Zacry.
Zacry menganggu kepala untuk menjawab pertanyaan Istrinya. Melihat hal itu, Inta hanya memperhatikan mereka.
"Ayo main, yang kalah harus memenuhi permintaan dari yang menang." ucap Malinda.
Inta mengangguk, dia yang mengajak Malinda dan tidak seharusnya menolak. Dia yakin, kalau dirinya akan menang.
Pump It Up di mulai, Inta dan Malinda berdiri di posisi masing-masing. Mereka saling memperhatikan judul lagu yang akan diputar.
"Lagu apa Mal? Jepang,Korea,Inggris atau Indonesia?" tanya Inta.
Malinda mengeser-geser layar di depannya. Dia menghentikan sebuah lagu yang membuatnya tertarik. "Kita pakai lagu yang mengunakan banyak nada. Bersiaplah!"
Inta berpegangan pada pagar besi. Dia bersiap di posisinya. Malinda segera mengklik lagu tersebut yang perlahan mengeluarkan nada.
"Siap! Go!"
Langkah kaki mereka dengan cepat digerakkan. Irama musik dengan mata yang menatap layar. Malinda maupun Inta terus menari dengan langkah yang sudah ditentukan.
"Ayo ibu, kalahkan Tante Mal!" teriak Abi.
"Agh!!!" Inta begitu frustasi karena saat mulai di pertengahan, langkahnya menjadi kacau. Dia melepaskan pegangannya dan berusaha untuk melangkah lebih leluasa.
Saat pertengahan menemui akhir, Zacry yang melihat sang Istri mencari pegangan segera mengulurkan tangannya.
Tanpa melihat, Inta menangkap tangan itu dan mengenggamnya.
"Ayo ibu! Ayo!" teriak Abi.
Zivta yang melihat Zacry membantu Inta. Segera mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan kepada Malinda.
Malinda menyambut uluran tangan itu dan semakin leluasa bergerak.
Zacry yang melihat kakaknya bertindak demikian, semakin bingung. Dia menatap wajah sang kakak yang juga melihat ke arahnya. 'Apa yang kakak lakukan? Kakak akan mendapat masalah jika orang lain melihanya.'
Begitulah raut wajah Zacry saat ini. Zivta hanya tersenyum tanpa memberikan jawabannya.
Musik berakhir, napas terhenga-henga dengan keringat yang mengalir. Membuat Inta dan Malinda begitu mempesona di mata pria. Pria itu tidak lain adalah Zivta dan Zacry. Mereka berdua, meneguk saliva secara tiba-tiba.
"Waah!" pekik Malinda. genggaman tangan Zivta belum dilepas olehnya. Apa lagi, melihat skor menarinya di atas nilai Inta. Dia melompat-lompat dan berputar dalam genggaman Zivta.
Inta yang melihat hal itu segera cemberut, dia mendekati Zacry yang juga masih mengenggam tangannya. "Aku kalah," celetuk Inta.
Abi menatap wajah sedih sang ibu segera berbisik kepada Ayahnya, "Ayah, ayo semangati ibu."
Zacry mengangguk, genggaman tangannya di lepas, lalu di dekap Inta agar mereka lebih dekat. "Bagi Aku dan Abi .... Kau adalah pemenangnya Inta."
Inta tersenyum, dia mengusap kepala Abi dan mengusap kepala Zacry. Usapan itu sebagai rasa terima kasihnya. "Hm, terima kasih."
"Oke, karena aku yang menang. Inta, kemarilah!" seru Malinda yang kini melangkah mendekati mereka. Tampak Zivta menyusul di belakang.
__ADS_1
"Hm, apa hadiahnya?" tanya Inta yang juga mendekati Malinda.
Dengan bisikkan kecil, Malinda tersenyum dan segera menjauh. Dia melambaikan tangannya ke arah Inta yang bengong di tempat.
"Aku akan mengantarmu," ucap Zivta.
"Oh benar juga, motorku ada di Anda. Baiklah," Malinda mengikuti langkah Zivta dan keduanya berpamitan.
Baik Abi dan Zacry, keduanya penasaran apa yang Malinda bisikkan hingga Inta terdiam mematung.
...***...
Malam harinya, Inta menatap kotak hadiah yang diberikan oleh Malinda. Ini adalah hadiah pernikahannya. Saat menerima kotak hadiah, Inta belum sama sekali membuka semua hadiah itu. Yang ada di pikirannya, hanya melunasi utang.
Jadi, saat tahu ada hadiah-hadiah seperti ini. Inta tersadar dan merasa ragu membukanya.
"Kau memiliki hadiah pernikahan. Aku memberimu sebuah tantangan, buka semua hadiah. Jika berisi pakaian, kenakanlah dan berdiri di depan Zacry. Oh ya, jangan di sembarang tempat!"
Itulah ucapan Malinda. Inta mengingat kalimat dari 'sembarang tempat' yang membuatnya bingung. Dia merasa ada yang jangal dari ucapan itu.
Ada sepuluh kotak hadiah. Inta membuka perlahan salah satu kotak itu. Terlihat sesuatu yang berwarna merah dalam keadaan terbungkus.
Dibuka bungkus itu dan menampilkan baju seksi transparan yang membuat Inta melongo. Dia segera menepis baju itu dan membuangnya di sembarang arah.
Ada keraguan di hati tapi Inta tidak boleh meninggalkan tantangan ini. Dia hanya perlu berdiri di depan Zacry dan segera menganti pakaian.
Saat ini, Inta berada di dalam kamarnya. Tepat pada ruang ganti khusus yang tersedia.
"Oke tenanglah, mari buka semuanya."
Satu-persatu, semua kotak itu di buka. Lagi-lagi isinya sama. Hanya warna berbeda dan tingkat transparan dari baju itu.
Inta terduduk lemas. Sepuluh kotak yang dia buka berisi semua ini. "Gila!" tutur Inta dengan semua hal itu.
Dia melihat-lihat kembali dan memutuskan mengenakan satu dari sepuluh itu. Ada baju lingerie yang di dalamnya seksi tapi terdapat jubah sebagai penutupnya.
Inta segera melihat hasil dari pakaian itu. Saat di buka, dia memerah seketika. Lekukkan tubuhnya tampak bahkan kaki jenjangnya pun begitu mulus terlihat.
Selama ini, Inta selalu menyembunyikan lelukkan tubuhnya. Tapi, tampaknya malam ini dia harus menunjukkan semua itu.
"Tutup dulu, saat kau menunjukkannya di depan Zacry, kau harus menutupnya seperti ini. Setelah itu, berakhir!"
Inta duduk di kasurnya, dia baru saja menghubungi Zacry untuk datang ke kamarnya. Padahal jam saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Untungnya, Zacry tidak marah atau bertanya alasan. Dia hanya mengiyakan apa yang Inta minta padanya.
Pintu kamar di ketuk, degupan hati Inta juga terasa di ketuk. Dia menjadi ragu untuk membuka pintu.
"Inta?"
Suara lemah Zacry membuat Inta tidak tega. Pria itu terbangun karena ulahnya. "Mal sialan! Kau membuatku seperti ini. Agh! Ini juga bukan salahnya." gerutuk Inta.
Ketukkan pintu kedua pun terjadi, Inta tidak tahan lagi untuk mengacuhkannya, dia bergegas membuka pintu. Lagi pula, Dia hanya akan menunjukkan bajunya di depan Zacry lalu semua akan selesai.
Saat menghampiri pintu, tali baju jubah itu terlilit di tangan hingga saat Inta mengapai pintu dan membukanya. Dia juga membuka jubah tersebut.
Zacry yang berdiri di depan pintu terdiam. Memperhatikan apa yang Inta tunjukkan padanya.
"Hahaha, Dadry!" Inta tersenyum tampak seperti orang bodoh.
__ADS_1