Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
29 : Makan Malam


__ADS_3

"Aku tidak tahu kalau menantu kedua Park adalah dirimu, Inta." ucap wanita yang dipanggil Bibi oleh Inta. Dia adalah Linta Nurja, adik dari ibunya Inta.


Zacry segera mendekap sang Istri yang tampak pucat pasih. Dia merasa kalau kakak iparnya itu harus dimasukkan ke dalam buku hitam karena berani menganggu Inta.


"Kamu bibinya?" tanya Ayah Harxa. Dia bangun dari tempat duduknya dengan menurunkan Abi dari gendongan.


Abi segera berlari mendekati sang ibu. Dia di gendong oleh ayahnya untuk bisa saling bersama.


"Benar ayah, aku adalah bibinya. Adik dari Ibu Inta." sahut Linta dengan melirik pada keponakkannya.


Inta tidak berani menatap mata itu. Ada sesuatu yang menganggunya. Dia dengan cepat mendekati Zacry dan sedikit menyembunyikan dirinya.


"Kenapa denganmu hm? Apa karena kita tidak pernah bertemu. Kau menjadi takut kepadaku?" tanya Linta dengan mendekat perlahan.


Inta semakin mendekati Zacry. Dia menutup mata dan segera bersembunyi di dada suaminya.


"Jangan memojokkan istriku!" tegur Zacry dengan tatapan tajam. Dia mendekap Inta dalam pelukkannya.


Abi pun tidak ingin diam saja melihat Bibi itu mengangguk Ibunya. "Jangan ganggu ibuku!" ucapnya dengan nada tegas.


Linta yang melihat dua orang membela keponakkannya tersenyum. "Hm, kalian saling mencintai ya."


Tanpa ada pembicaraan lain, Linta pergi begitu saja dari ruang tengah. Meninggalkan semua orang.


"Dasar menantu tidak tahu sopan santun. Kenapa juga dulu aku mau menikahkanmu dengan dia, Zivta." gerutuk Kakek Haqir.


Zivta yang dibicarakan hanya tersenyum tanpa menunjukkan reaksi apa pun. "Sudahlah, Zacry bawalah istrimu untuk beristirahat. Dia tampak lelah, apa dia sakit?"


Zacry menatap Inta yang ada di dalam dekapannya. Dia teringat dengan kejadian tadi malam. "Hm, Dia kelelahan." sahut Zacry.


Zivta yang mendengar sahutan itu, segera tersenyum. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya itu. Melihat wajah datar Zacry yang sebenarnya bisa dia baca. Wajah datar itu terdapat kebahagiaan di dalamnya.


"Ayo Inta," bisik Zacry.


Tubuh Inta yang lemah itu hanya bisa pasrah. Dia digendong Zacry dengan begitu hati-hati.


"Abi kemarilah, Tante Mal mu akan datang loh." ucap Zivta yang memilih untuk duduk di sofa.


"Tante Mal? Siapa dia?" tanya Ayah Harxa dengan wajah bingung.


Zivta menyambut kedatangan Abi dengan mendudukkan dia di pangkuannya. "Tante Mal, dia adalah Malinda." sahut Zivta.


Ayah Harxa mengangguk-angguk kepala. "Oh ya, makan malam ini juga mengundang Kakak Inta ya."


"Siapa itu, Malinda?" tanya Kakek Haqir.


...***...


Di dalam kamar, Zacry membaringkan Inta dengan hati-hati.


"Beristirahatlah," ucap Zacry setelah menyelimuti Inta. Dia ingin melangkah pergi meninggalkan Inta agar bisa beristirahat.


Akan tetapi, Zacry merasa tangannya di genggam oleh seseorang hingga langkahnya terhentikan.


"Dadry, jangan pergi." ucap Inta dengan suara yang begitu lirih.


Mendengar hal itu, Zacry mengangguk dan duduk di tepi kasur. Dia mengusap wajah Inta dengan menyinggirkan anak-anak rambutnya.


"Rambutmu, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang. Sejak kapan kau mewarnai rambutmu." ucap Zacry.


Inta tersenyum dengan mata tertutup, dia mengambil tangan Zacry yang membelai kepalanya. "Sudah lama, kenapa kau baru menyadarinya." sahut Inta.

__ADS_1


Zacry melihat tangannya berada di dada Inta. Terasa olehnya apa yang ada di balik baju itu. Dia tidak tahu, hasrat tertahan itu akan mudah lepas kendali. Apa lagi, Istrinya inilah yang menjadi penyebabnya.


"Istirahatlah, makan malam akan segera tiba." ucap Zacry. Inta mengangguk dan segera terlelap untuk menenangkan dirinya.


Makan malam pun tiba, Inta membuka mata dan mendapati Zacry bersandar di headboard kasur. Di tambah, Tangan Zacry masih berada di dadanya.


"Zacry?" seru Inta.


Pria berwajah datar itu terbangun. Dia melirik ke arah Inta dan segera memberikan ciuman singkat di jidatnya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Zacry.


Inta tersenyum, "aku baik-baik saja."


Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, seseorang datang memberikan ketukkan pintu.


"Ada apa?" tanya Zacry dari dalam.


"Tuan muda, Tuan Besar mengatakan untuk segera turun dan makan malam bersama."


Ucapan pelayan itu membuat Zacry menatap Inta untuk menyakitkan kondisi istrinya. "Ayo makan," ucap Inta yang tahu apa maksud dari tatapan Zacry.


"Kami akan ke sana." sahut Zacry kepada pelayan yang ada di balik pintu.


Langkah kaki menjauh terdengar ditelinga keduanya. Zacry segera bangun dan membantu sang Istri.


"Aku tidak sakit keras Dadry, jangan menuntunku seakan aku sudah tua." Inta menatap tangan Zacry yang begitu hati-hati menuntunnya keluar kamar.


"Aku tidak ingin kau terluka. Diamlah dan berhati-hati dalam langkahmu." imbuh Zacry.


Inta hanya memutar bola matanya dengan malas, dia melangkah pelan sesuai dengan perkataan suaminya itu.


Tiba di ruang makan. Terlihat semua orang tengah menunggu mereka. Mata Inta membelak melihat Sahabatnya ada di sana.


Malinda bangun dari tempat duduk, dia melangkah mendekati Inta dan memeluknya. "Bagaimana, apa hewan buas memakanmu?" bisik Malinda.


Inta senang mendapatkan pelukkan ini tapi rasa itu menghilang ketika bisikkan Malinda hadir ditelinganya.


"Hehe," Inta hanya bisa tertawa kecut sebagai sahutan Malinda.


"Ayo makan nak!" seru Kakek Haqir.


Makan malam ini sedikit berbeda. Ada orang asing dan seorang keluarga yang muncul tiba-tiba. Inta benar-benar tidak ada niat menatap Bibinya itu.


"Malinda, apa kabar?" sapa Linta menatap Malinda. Dia duduk di samping Zivta.


Malinda mendengar sapaan itu tersenyum. Dia sebenarnya terkejut melihat kedatangan Bibi Inta. "Wanita ini datang setelah tiga tahun berlalu. Apa yang terjadi kepada Inta di usia 17?" benak Malinda.


"Baik Bi, bagaimana denganmu sendiri. Sudah tiga tahun ya, kita tidak bertemu." sahut Malinda.


Linta tertawa kecil mendengar sahutan itu. "Hm, aku baik. Iya, tiga tahun ini aku menghabiskan waktu untuk menjelajahi dunia." balas Linta.


Malinda hanya mengangguk-angguk kepala. Dia tidak memperdulikan kelanjutkan dari perbincangan mereka. Lebih baik menikmati makan malam keluarga ini, kebetulan dirinya mendapatkan undangan langsung dari Ayah Harxa.


"Sudah, ayo makan-makan." ucap Ayah Harxa.


Semua segera menikmati makan makan keluarga. Meski mereka tidak saling merasa nyaman, terutama Inta.


...***...


Makan malam itu berakhir cepat, semua duduk di sofa menikmati perbincangan.

__ADS_1


"Bagaimana rencana kalian ketika lulus kuliah nanti?" tanya Kakek Haqir menatap Malinda dan Inta bergantian.


"Inta mungkin akan memilih untuk menjalankan cafe kecil Kakek," sahut Inta. Dia duduk di samping Zacry dan Abi yang ada di pangkuannya.


"Cafe ya, bagus-bagus." wajah Kakek Haqir tampak bahagia mendengarnya.


"Aku belum memutuskannya Kakek," jawab Malinda.


"Belum memutuskannya? Kenapa Nak, apa jurusan yang kamu ambil tidak sesuai?" tanya Kakek Haqir.


Malinda menggeleng, dia ingin menjawab pertanyaan sang kakek dan berniat untuk menjelaskannya. Namun, seseorang memotong pembicaraan.


"Apa tidak bosan membahas masa depan orang lain? Bagaimana kalau kita ganti pertanyaannya, Inta ... apa kau mengingat kejadian di usiamu yang ke 17 tahun?" tanya Linta secara tiba-tiba.


Inta mengerutkan alisnya. Dia merasa kalau pertanyaan Bibi Linta seperti memojokkannya.


"Kenapa dengan usia 17 tahun, Bibi?" sahut Malinda.


Dua orang itu saling menatap dengan begitu tajam. Bisa digambarkan kalau ada sambaran petir diantara mereka.


"Haha, kenapa Malinda ... kau juga ingin mengetahuinya?" ucap Linta.


Malinda tersenyum, "tentu saja ... bukankah Anda yang paling tahu tentang Inta. Selama ini, Anda lah yang merawatnya."


"Benar, aku lah yang merawatnya. Kau benar sekali ... bahkan di saat itu juga, aku mengetahui kalau Inta telah kehilangan hal penting dalam hidupnya. Ah, semua itu dilakukan karena dengan sukarela." jelas Linta.


Inta terteguh mendengarnya, ingatan 17 tahun itu berubah menjadi abu-abu. Seakan ada sesuatu yang dia lupakan.


Malinda merasakan hal lain, rasa sakit dikepalanya muncul seketika. Dan kilasan sesuatu tergambar di kepalanya.


"Hahah, aku hanya bercanda. Jangan di anggap serius," sambut Linta.


Pembicaraan itu benar-benar menjadi tidak jelas. Pada akhirnya, semua berakhir dengan memilih untuk pulang.


Setibanya di rumah, Inta segera melangkah masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan dua orang yang menatap bingung.


"Ayah, apa ibu baik-baik saja?" tanya Abi.


Zacry mengerutkan alisnya. Dia merasa kejangalan dari semua yang terjadi malam ini. "Ibu akan baik-baik saja. Beristirahatlah Abi, besok kau harus bersekolah."


Abi mengangguk dan segera masuk ke kamarnya. Meninggalkan sang Ayah yang menatap pintu kamar Inta.


Di dalam kamar, Inta berpikir keras dengan kejadian di usianya 17 tahun. Ada sesuatu yang benar-benar dia lupakan. Tidak mungkin Bibinya berbicara seperti itu tanpa ada sesuatu.


"Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang terjadi. Agh! Kenapa aku tidak bisa mengingatnya." gumam Inta.


Asik berpikir sendiri, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Inta segera berbalik badan dan menatap Zacry yang membawa sebuah bantal.


"Ada apa Dadry?" tanya Inta.


Zacry masuk dan mengunci pintu. Dia melangkah menuju kasur Inta lalu duduk di sana.


"Kemarilah, mari kita bercerita!" seru Zacry.


Inta mengerutkan alisnya, dia segera menghampiri Zacry dan duduk di sana.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang, kau ada bersamaku. Apa yang terjadi di usia 17 tahun itu. Tidak perlu kau ingat, Inta." ucap Zacry.


Inta membeku seketika. Dia tidak menduga kalau Zacry begitu perhatian. Perlahan terasa, tubuhnya di tuntun untuk mendekat dan dipeluk dengan lembut.


"Istirahatlah, jangan sampai kau sakit. Besok, kau ada kuliah bukan?"

__ADS_1


Inta mengangguk kepala. Menepis segala permasalahannya, Inta memutuskan untuk beristirahat bersama Zacry.


__ADS_2