
Terasa berat untuk dibuka tapi rasa kantuk telah menghilang darinya. Inta membuka mata dan melihat sekeliling. Pandangan yang tampak tidak jelas, kini menampilkan keindahan kamar seseorang.
"Oh, aku lupa kalau aku tidur di kamar, Dadry." benak Inta.
Saat mengubah posisi tidur, Inta merasa seluruh tubuhnya sakit. "Kenapa, semuanya sulit digerakkan." gumamnya.
Setelah bergumam seperti itu, Inta seketika mengingat kejadian tadi malam. Dia benar-benar melakukannya dengan Zacry.
"Eh, eeehhhh!"
Inta menutupi seluruh wajahnya, dia benar-benar malu. Bayangan kejadian malam itu terukir di ingatannya. Inta baru menyadari kalau saat ini dia belum mengenakan satu pakaian pun.
Dengan menyembunyikan diri dibalik tangannya. Inta mendengar suara pintu terbuka. Mengintip dicela-cela jari, Inta melihat seorang pria berpakaian santai tengah membawa makanan.
"Kau sudah bangun?" ucapnya yang melangkah mendekat.
Inta tahu siapa pria itu, dia segera menjauhkan tangannya. "Hm,"
"Duduklah dan makan." ucap Zacry yang menaruh nampan di atas nakas.
Inta berusaha untuk bangun, rasa sakit ditubuhnya membuat dia berbaring kembali. "Sakit Dadry," ucapnya.
Zacry segera menuntun Inta untuk duduk bersandar diheadboard. "Maaf, aku terlalu kasar tadi malam." ucap Zacry.
Inta mengangguk, dia tidak bisa marah karena semua ini kemauannya sendiri. "Dadry, haus." rengek Inta.
Zacry sigap mengambilkan gelas yang sudah berisi air. Dia membantu Inta minum dengan menyodorkan gelasnya.
"Bwaaa, segarnya ... jam berapa sekarang?" tanya Inta.
Zacry menaruh gelas di atas nampan. "Sudah jam 4 sore," Sahutnya.
Mata Inta membelak mendengar sahutan Zacry. "Lah, aku tidur selama itu. Aw!" Inta memegang bagian privasinya yang nyeri. Selimut yang menutupi tubuhnya terbuka karena tidak ditahan.
Zacry membelakkan mata melihat hal itu, dia harus menahan diri karena tubuh Inta dipenuhi tanda-tanda kepemilikannya.
Dengan cepat Zacry mengambil baju miliknya, lalu mengenakan baju itu di tubuh Inta. "Aku sudah memberi salep di sana."
"Salep? Maksudmu, kau memberikan salep di sini?" tanya Inta dengan menunjuk bagian pribadinya. Zacry mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya itu.
"Ah sudahlah, tidak perlu bertanya lebih jauh. Aku akan malu sendiri." benak Inta. Dia merapikan baju Zacry yang ada di tubuhnya.
"Dadry, Abi di mana?" tanya Inta menganti pembicaraan.
Melihat Inta yang sudah mengenakan pakaiannya. Zacry duduk di samping sang istri dan mengambil makanan yang dia bawa.
"Abi sedang belajar. Sini, makan dulu," ucap Zacry. Dia mengambil nasi dengan sup yang dibuat pelayan.
Inta makan dengan perlahan, dia menerima suapan demi suapan yang Zacry berikan.
"Lagi?" tanya Zacry.
Inta mengangguk, dia tidak akan kenyang jika nasi itu hanya semangkuk kecil. Dia perlu nasi dalam mangkuk sedang. Setidaknya, dua nasi dari mangkuk itu.
Zacry segera pamit mengambil nasi untuk Inta. Dia menutup pintu dengan senyum terlukis di bibirnya.
Inta bersandar setelah kepergian Zacry. Dia melihat di nakas ada ponsel pintarnya. "Malinda, aku ingin menghubunginya." benak Inta.
Mengapai ponsel yang dekat itu terasa sulit. Dia benar-benar tidak ingin bergerak sekarang. "Buas, pasti Zacry itu siluman buas. Bagaimana bisa, dia membuatku tidak bisa bangun seperti ini. Sakit semua lagi," gerutuk Inta.
Menyerah dengan niatnya, Inta lebih memilih untuk menunggu Zacry kembali.
Yang di tunggu tiba, Zacry kembali dengan nasi di tangannya. "Maaf lama," ucap Zacry.
Inta menggeleng, dia segera menunggu Zacry menyuapinya.
__ADS_1
"Inta,"
"Hm?"
Zacry menaruh piring nasi di nampan. Dia segera mendekati Inta dan memilih untuk duduk di samping istrinya.
Inta bingung melihat Zacry seperti ini. Dia membiarkan pria itu mendekati dirinya. "Dengar, Aku mencintaimu dan telah melakukan itu tadi malam. Jadi, bagaimana kalau kita batalkan saja perjanjian waktu itu."
Alis Inta berkedut ketika Zacry berucap seperti itu. Dia segera menatap wajah Zacry yang duduk di sampingnya.
"Maksudmu?" tanya Inta.
Zacry mengangkat Inta untuk duduk di pangkuannya. Ditutup bagian kaki sang istri dengan selimut untuk menutupi kaki jenjang tanpa sehelai kain itu.
"Inta, aku mencintaimu. Jadi, lebih baik hubungan ini terus berlanjut. Tidak ada perceraian dan aku tidak akan menceraikanmu. Bagaimana?" tanya Zacry.
Inta terdiam mendengarnya ucapan tersebut. Entah kenapa, lidahnya terasa sulit untuk berbicara.
Melihat Inta terdiam, Zacry merasa kejangalan di hatinya. Dia memilih untuk tersenyum dan mengusap kepala Inta. "Sudah, mandilah ... malam ini, kita akan mengunjungi kediaman utama."
Inta mengangguk, dia membiarkan Zacry mengendongnya hingga di dalam kamar mandi.
"Aku akan menunggu di luar, mandilah." ucap Zacry.
Di dalam kamar mandi, Inta memikirkan ucapan Zacry. Pria datar itu membuatnya bingung. "Dulu, aku mungkin akan mengangguk setuju. Tapi, kenapa sekarang ada hal yang membuatku ragu."
Shower air dinyalakan oleh Inta. Dia membiarkan dirinya dibasahi oleh air yang mengalir ini. Sebenarnya, bagian privasi ini telah dibersihkan. Inta tahu, karena tubuhnya tidak terasa lengket.
"Dia sudah memandikanku. Mungkin, mandi sore belum."
Inta menatap langit-langit kamar mandi. Dia harus menenangkan diri dan segera segar kembali. Kejadian tadi malam itu, hasil dari cinta keduanya.
"Tidak masalah. Zacry mencintaiku dan aku mencintainya. Apa yang perlu ku pikirkan lagi, aku seharusnya bahagia. Hm, bahagia!"
...***...
"Bagian dadaku merah semua." gumam Inta.
Setelah melihat tampilannya, dia segera keluar dari kamar Zacry. Berjalan menuju ruang tamu, Inta berusaha untuk bersikap normal.
Untung, Zacry memberi obat anti nyeri padanya. jadi, dia bisa sedikit tenang.
"IBU!" teriak Abi yang berlari mendekat.
Inta ingin mengendong anak angkatnya itu, tapi untuk berjongkok saja sulit apa lagi mengendongnya.
Dengan rasa terkejutnya, Inta melihat Zacry berdiri di samping dengan mengendong Abi mengantikan dia. "Ibumu lagi sakit, jangan membuatnya lelah." tutur Zacry.
Abi segera menoleh ke arah Inta. "Ibu sakit? Semoga lekas sembuh ibu. Biar ibu bisa mengendong Abi lagi," ucapnya.
Inta tersenyum dan mengangguk. Dia sekarang begitu banyak mendapat perhatian. Inilah rasanya keluarga, mereka tidak hanya mendukungmu. Tapi, mereka juga akan melindungimu.
"Terima kasih sayang. Hm, ibu akan segera sembuh." Inta mengusap kepala Abi.
Di kedekataan ini, Inta merasakan pinggangnya dirangkul Zacry. Dia berdiri di dekat sang suami yang mengendong Abi. "Kita akan terus bersama," ucap Zacry.
Abi tersenyum ceria, dia mengangguk bahagia mendengar ucapan ayahnya. Inta yang melihat hal itu tersenyum, dia mengangguk kepala menyetujui ucapan Zacry.
"Ayo sayang, kita harus ke kediaman utama." Zacry menatap Inta yang ada di sampingnya. Tatapan lembut dengan cinta yang ada di sana.
Inta tersenyum, "Dadry, panggilannya berubah ya."
Abi menutup mulutnya mendengar ucapan sang Ayah. Dia senang melihat orang tuanya kini saling mencintai.
"Hm, panggilannya berubah. Inta atau sayang?" Zacry berdiri di depan Inta dengan Abi di dalam gendongannya. Dia menyamakan tinggi badannya dengan wanita yang dia cintai.
__ADS_1
"Bwahahaha ... astaga, aku menangis." Inta mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Ada rasa senang dan sedih yang bercampur di hati. Inta segera memeluk Zacry yang ada di depannya.
"Panggil aku dengan panggilan cintamu kepadaku. Zacry, aku juga mencintaimu." ucap Inta.
Zacry mengangguk, dia mendekap Inta dan mencium puncak kepalanya. "Hm, kalau begitu panggilan Sayang tepat untukmu."
"Abi! Abi juga mencintai ayah dan ibu!" Abi mengangkat tangan kanannya. Dia berteriak untuk menarik perhatikan kedua orang tuanya.
Inta dan Zacry tersenyum, mereka mendekap Abi dengan pelukkan yang hangat. "Hm, kami mencintaimu, Abi." ucap keduanya.
"Hahahaha," Abi tertawa bahagia dengan kasih sayang yang dia dapat.
Kehidupan cinta yang berakhir bahagia. Namun, tidak tahu kedepannya, atau di waktu yang akan datang. Apakah akan seindah ini atau berakhir dengan kesedihan.
...***...
Di kediaman utama, Zacry mengandeng Inta yang mengendong Abi. Malam ini, mereka akan makan malam di kediaman utama.
Setiba di ruang tengah, terlibat dua orang tua yang tengah duduk dengan berbincang-bincang. Saat langkah kaki mereka tiba di sana, dua orang tua itu segera menoleh untuk menatap.
"Waah, menantu ku." ucap Ayah Harxa yang segera bangun. Dia melangkah mendekati Zacry dan Inta.
"Kemarilah cucuku," Ayah Harxa segera mengambil alih gendongan Inta. Dia membawa Abi untuk duduk di ruang tamu.
"Kakek!" pekik Abi setelah di dudukkan pada sofa.
Inta sudah mengenal mertuanya itu. Hanya, ada satu orang di sana yang membuatnya takut.
"Kakek," sapa Zacry dengan mengenggam erat tangan Inta.
Inta terteguh mendengar sapaan Zacry. Dia segera tersenyum dan sedikit menghormat untuk menyapa orang yang dipanggil Kakek itu.
"Oh, jadi inilah Istrimu, Zacry?" ucap seorang pria yang sudah tua. Dia memegang tongkat ditangan dan bertumpu di sana.
Zacry mengangguk kepala mendengar apa yang kakeknya katakan.
"Inta, perkenalkan ini Kakek Haqir Park. Dia adalah Ayahku." ucap Ayah Harxa dengan santai.
Inta mengangguk dan segera menyapa sang kakek. "Inta Kakek," sapanya.
Kakek Harqi mengangguk-angguk kepala, "bagus kalau ada wanita yang tahu tugasnya itu di mana. Tidak seperti menantu yang satunya, pergi tanpa kabar dan kembali seperti hantu gentayangan." celetuk Kakek.
Inta bingung mendengarnya. Dia menatap ke arah ruang tamu ini. Tidak ada siapa pun wanita selain dia di sini.
"Ayooo kakek, apa Anda selalu berbicara seperti itu kepada orang asing?" ucap seorang wanita yang baru saja tiba.
Semua mata menatapnya, kecuali Inta. Dia tidak menoleh setelah mendengar hal itu. Badannya seketika membeku ketika suara itu terasa tidak asing untuknya.
Zacry melihat ketegangan Inta. Dia bergegas mendekat dan menyentuh pundak sang istri.
Inta terkejut hingga matanya menatap Zacry. Entah kenapa, dia merasa tidak ingin bertemu orang asing itu.
"Kau berani datang juga. Sudah lima bulan kau tidak menampakkan dirimu. Aku pikir, kau memilih untuk mencari kehidupan baru." cibir Kakek Harqi.
Wanita asing itu hanya tersenyum, dia tidak menjawab apa yang di katakan oleh keluarga Zivta.
"Wah, Adik ipar sudah punya seorang istri ya, siapa dia Zacry?"
Inta berbalik badan dengan perlahan. Dia menatap ke lantai dan perlahan mengangkat pandangannya.
Wajah wanita asing itu sangat cantik, gaya berpakaiannya begitu menawan untuk orang-orang yang berada. Namun, satu yang Inta bisa pastikan, Keduanya saling mengenali.
"Bibi?"
"INTA?"
__ADS_1