Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
42 : Zerya dan Zainta


__ADS_3

Tidak ada yang salah dengan semua ini. Hidup yang penuh kebahagiaan selalu diimpikan semua orang. Termasuk Inta, di saat usia kandunganya memasuki 5 bulan, Abi sangat menyayanginya bahkan selalu ada di sampingnya.


Bukan hanya Abi, Zacry pun ikut menjaga dengan kehati-hatiannya. Lalu, Ayah Harxa dan Kakek Haqir, mereka juga melakukan hal yang sama.


Selama kehamilan, Inta selalu dilindungi keluarga. Mereka menjaganya dan bahkan memperhatikan apa yang Inta lakukan.


"Ibu, biar Abi yang membawa nampan itu. Ibu tidak boleh membawa yang berat-berat." kata Abi saat Inta ingin menyajikan teh hangat di ruang tamu.


Penjagaan Abi tidak kalah ketat dengan penjagaan Zacry. Saat Inta tengah menaiki tangga tanpa alas kaki, Zacry dengan cepat mengendong dirinya.


"Ada apa Zacry?" tanya Inta dengan terkejut.


Zacry melangkah menaiki tangga dengan santai. "Kau sedang hamil, kakimu menginjak keramik yang dingin. Inta, kau akan lahiran tidak lama lagi." ucapnya.


Inta bungkam mendengar hal itu, dia hanya membiarkan perhatian keluarga ini kepadanya.


Hingga, kelahiran anak kedua pun tiba. Semua keluarga dengan tenang menuntun Inta ke rumah sakit. Apa lagi,Zivta yang sigap untuk mengurus masalah yang tiba-tiba ini.


Bankar yang kini di dorong para perawat telah memasuki ruang lahiran. Perawat yang terakhir segera menutup pintu dan membiarkan Inta dan Zacry yang ada di dalam.


Inta mengenggam erat tangan suaminya, rasa sakit ini sama seperti saat di melahirkan Abi.


Dengan mengenggam tangan Zacry, rasa sakit itu terasa berkurang.


"Inta, sayang dengarkan aku. Kau harus kuat ya, harus tenang dan semangat." ucap Zacru ngelantur.


Inta yang menahan rasa sakit itu seketika tertawa. Dia saat ini serius dalam lahirannya, tapi entah kenapa, Suaminya ini malah berucap seperti lawakkan.


"Apa yang kau tertawakan, Sayang?" tanya Zacry.


Inta menggeleng, dia tidak bisa menyahut karena rasa sakit diperutnya begitu luar biasa. Dengan hembusan yang kuat dia lakukan, membuat genggamannya semakin erat.


Perawat yang ada di sana hanya bisa tersenyum menyaksikan keromantisan pasangan ini. Mereka melihat bagaimana wajah panik Tuan Muda Zacry dalam menyemangati istrinya.


Tidak hanya itu, mereka juga melihat genggaman tangan Inta yang telah melukai tangan Zacry.


"Tuan, tangan Anda." tegur salah satu perawat.


Zacry segera menoleh ke arah perawat tersebut. "Biarkan terluka, ini tidak seberapa dengan dia yang melahirkan anakku."


Sahutan itu membungkam semua orang. Tapi tidak dengan Inta yang sudah di batasannya.


Tidak lama, suara bayi menangis terdengar di telinga. Inta mengatur napasnya dengan baik agar tidak ada masalah selanjutnya. Dia menjadi lemas hingga Zacry memberkkan ciuman di keningnya.


"Terima kasih, sayang." ucap Zacry.


Inta mengangguk dan segera melihat sang Bayi yang sudah dibersihkan.


"Selamat, Bayinya perempuan." ucap Dokter.


Bayi kecil yang kini tertidur di dekapan Dokter, segera di pindahkan pada dirinya. Inta mengenggam bayi tersebut dengan bantuan Zacry.


"Dokter, namanya Zerya Malda Park." ucap Inta yang menatap ke arah Zacry.


"Zacry, Z yang ada di depan namanya adalah namamu. Rya, juga ambil dari namamu. Malda, nama Malinda, aku sangat menyayanginya. Dan, Park adalah margamu." jelas Inta.

__ADS_1


Zacry segera mengecup kening Inta. "Hm, apa Abi juga akan kau ubah namanya?" tanya Zacry.


"Zainta Abi Park. Inta nama akhir dari Za, adalah namaku. Abi Park, nama yang kau berikan kepadanya. Zacry, semua nama depan anak kita harus Z. Karena mereka lahir dari ayah yang luar biasa." sahut Inta.


Zacry segera memeluk tubuhnya uang masih lemah. Bayi yang ada di dadanya dengan nyaman tertidur. Detak jantungnya, bagai alunan musik untuk Bayi bernama Zerya Malda Park.


"Hm, terima kasih kepada ibu bernama Inta ini. Dia telah melahirkan anak yang luar biasa. Menjaga kandungannya dan selalu ada di samping suaminya. Inta,"


Zacry mendekatkan bibirnya di telinga Inta. "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu."


Mata Inta terpenjam setelah mendengar itu. Dia bahagia dengan ucapan Zacry.


"Tenang tuan, saat ini Nona Inta sedang kelelahan. jadi wajar jika dia tertidur. " ucap Dokter.


Zacry mengangguk dan segera mengurus sisanya. Kamar Inta segera dipindahkan pada kamar rawat. Lalu, bayinya pun satu ruangan dengan sang Ibu.


Abi, Kakek dan Ayah serta Kakak Pertamanya kini menatap ke arah keranjang bayi. Tampak seorang gadis cantik yang terpejam dengan bulu mata panjang.


"Zacry, siapa namanya?" tanya Ayah Harxa.


Zacry segera menyahut. "Namanya, Zerya Malda Park, Ayah. Abi pun juga akan mendapatkan nama depannya, Zainta Abi Park."


Abi yang mendengar nama barunya seketika membelak. Dia menatap wajah sang Ayah yang juga memandangnya. "Ayah, apa ibu yang memberikan nama itu?"


Anggukkan kepala dilakukan oleh Zacry. Abi pun di gendong olehnya sembari menatap bayi yang baru lahir.


"Hei, dedek Zerya," sapa Abi.


Semua keluarga tersenyum dengan hal itu. Mata Zacry melirik ke arah Inta yang mengerjap-ngerjapkan matanya.


Inta yang baru bangun itu tampak lesu, bibirnya pucat dengan mata sedu.


"Kakek, Ayah, Kakak Ipar?" tanya Inta dengan suara lemah.


"Hm, ini kami ... ayo beristirahatlah, Zacry akan menjagamu." ucap Kakek Haqir dengan mengusap kepala Inta.


Kepala Inta mengangguk pelan. Dia tidak bisa berucap lagi karena tenggorokkannya kering.


"Sudah, Kami akan pulang dan Zivta akan mengantar pakaian ke sini. Abi, ayo ikut kakek." ajak Ayah Harxa.


Abi yang tidak lama lagi berusia 6 tahun itu mengangguk. Dia mengerti kenapa dia harus ikut dengan Kakeknya.


"Ibu, Abi pulang dulu ya ... nanti, besok Abi akan menjenguk Ibu." ucap Abi.


Zacry sedikit menurunkan Abi dari gendongannya. Wajah Inta segera di cium oleh Abi. "Cepat sehat, Ibu."


Senyum Inta terukir, dia senang anaknya bertingkah dewasa saat usianya masih terbilang muda.


Setelah itu, semua keluarga pun pergi meninggalkan Inta dan Zacry.


Mata Inta melihat wajah tampan suaminya. Di hatinya saat ini merasakan berbagai emosi yang akhirnya, membuat Inta menangis.


Zacry segera mengusap wajah istrinya, dia mendudukkan diri di samping Inta. Untungnya, brankar itu bisa di naiki olehnya.


"Kenapa menangis hm?" tanya Zacry.

__ADS_1


"Hiks! Zacry, aku dulu berpikir dan mengatakan kepada Malinda. Aku, tidak akan pernah kembali ke sini. Aku merasa, kau akan mengusirku dan akan membenci diriku, hiks!" sahut Inta dengan derai air mata.


Zacry memeluk tubuh Istrinya dengan cepat. Tidak lupa kecupan singkat di kelopak mata Inta. "Aku saat itu mengatakan kalau, aku akan membenci orang yang melahirkan Abi. Namun, orang yang ku cintai adalah dirimu Inta."


"Ditambah, Aku senang karena kau yang melahirkan Abi. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir dengan rumah tangga kita. Tidak ada perceraian dan tidak akan berakhirnya cintaku ini. Inta, aku takut kehilanganmu."


"Apa kau ingin menikah lagi denganku, hm? Jika kau mau, aku akan menikahimu untuk yang kedua kalinya." ucap Zacry.


Inta tidak bisa menjawab semua perkataan itu. Namun, dia senang mendengarnya.


"Sekarang berhentilah menangis. Istriku baru saja melahirkan, mending minum dulu hm?" gida Zacry.


Anggukkan di beri oleh Inta. Dia segera menerima air yang menyegarkan tengorokkannya.


"Inta," seru Zacry.


Inta segera memandang Zacry. Dia merasa belaian di pipinya yang kemudian terasa benda kenyal menyentuh bibirnya.


Cinta telah berlabuh, hati telah menemukan kapalnya dan menepi di tempat yang tepat. Berlayar di lautan cinta hingga berakhit dengan hidup bahagia.


Inta merasa senang di hati, dia bahagia hingga sulit untuk mengatakan semuanya. "Terima kasih Malinda, berkatmu ... aku bisa hidup bahagia dengan semua ini. Ku harap, aku bisa menemuimu lagi, di masa depan." benak Inta menutup mata untuk menikmati apa yang Zacry lakukan.


...***...


Di sebuah restorant terkenal, seorang oria berjas hitam sedang berkencan dengan wanita cantik. Rambut wanita itu pendek sebahu. Dia juga memiliki mata biru yang langka di kota ini.


"Makanlah," ucap Alfazi sembari tersenyum.


Wanita yang ada di depannya pun ikut tersenyum. "Tentu, Anda juga." sahutnya.


Alfazi segera mengambil garpu dan pisau kecil. Dia memotong steak yang mereka pesan.


"Hm, Tuan Alfazi,"


Alfazi segera melirik wanita yang menyerunya. "Katakan saja, apa yang ingin kau katakan Nara Lyn?"


"Aku mendengar kabar kalau Anda telah jatuh cinta dengan seorang wanita. Bagaimana kalau pertimbangkan untuk pertunangan kita ini."


"Aku hanya takut, suatu hari wanita yang Anda cintai datang ke rumah dan menganggu kehidupan kita." ucap Nara Lyn.


Alfazi tersenyum mendengar hal itu. Dia mengunyah steak yang di makan. "Sudah hampir sepuluh bulan berlalu. Anda tahu Nona Nara, wanita yang ku cintai tidak akan pernah kembali. Dia, tidak ada lagi di kota ini."


Nara, wanita itu terteguh mendengar apa yang Alfazi katakan. "Apa dia telah meninggal dunia?"


Gelengan di berikan sebagai jawaban. "Tidak, aku merasa dia tidak akan meninggal semudah itu. Dia, adalah Wanita yang bisa menipu siapapun."


"Begitu ya, jadi dia hanya tidak ada di kota ini." ucap Nara dengan mengangguk-angguk kepala.


"Kenapa? Apa kau khawatir kalau aku berpindah jalur. Tenang saja, aku belajar banyak darinya. Jika aku mencintai seseorang, aku harus menjaga orang tersebut dan mengingatnya dalam sumpah pernikahan."


"Dengan begitu, orang yang ku cintai tidak akan menghilang." ucap Alfazi.


Wajah wanita di depannya seketika memerah. Dia menunduk karena malu.


Melihat hal itu, membuat Alfazi senang. Meski, di dalam hatinya, masih di isi oleh satu nama. Dia adalah Malinda.

__ADS_1


__ADS_2