
Alfazi tercenga melihat mobil mewah dengan laptop di atas kap bagian depan. Layar laptop itu menyala, tapi hanya ada huruf Z yang terlihat di sana.
Di mata Alfazi, Malinda tengah berdiri ditengah-tengah kumpulan Penjaga. Dengan santai Malinda berucap, "Apa yang Anda inginkan?"
Layar laptop itu mengeluarkan suara pria yang sedikit diubah. Alfazi tahu, kalau orang itu pasti dekat dengan Malinda. Dia pun ikut di bawa karena berhubungan dengan wanita ini.
"Kau puas bersembunyi?"
Malinda mengubah wajahnya menjadi datar tanpa menunjukkan ekspresi yang lain. Alfazi yang melihat hal itu juga terkejut. Dia tidak menduga kalau Malinda menunjukkan ekspresi seperti ini. "Dia, siapa sebenarnya wanita ini?" benaknya.
"Kenapa tidak bertemu secara langsung denganku. Anda bisa membunuhku, membuangku atau mengejarku seperti sekarang." cibir Malinda.
"Naif sekali. aku bisa membunuhmu kapanpun yang ku mau."
"... Sudahlah itu tidak penting. Sekarang ku tanyakan lagi kepadamu, apa kau akan terus berlari dan terus bersembunyi?"
Malinda melirik ke arah Alfazi yang terteguh. Dia kembali menatap laptop di depannya. "Aku ingin, Anda membebaskan pria yang membosankan itu. Baru aku akan menjawabnya."
"Kenapa? Apa kau takut dia akan tahu identitasmu?"
"Justru sebaliknya, bukankah dirimu yang takut menampakkan diri, Ayah!" potong Malinda.
Alfazi semakin terkejut mendengar perkataan itu. Dia sudah mencari tahu tentang Malinda. Tidak ada informasi kalau Malinda memiliki seorang ayah. Dia bahkan tinggal di panti saat masih kecil dan tidak ada satu pun orang tua yang menemuinya.
Namun, siapa pria itu. Kenapa bisa Malinda memanggilnya Ayah?
"Jawab saja pertanyaanku. Kau ingin kembali atau terus berlari?"
Malinda tersenyum tipis dan menjawab, "aku akan terus berlari hingga Ayah tidak akan bisa menangkapku."
"Bwahahaha, lakukan lah sesukamu. Yang terpenting, matilah digenggamanku, Malinda."
Layar laptop itu seketika padam dan tidak menunggu lama, asap keluar dan meledakkannya. Para pengawal siaga memadamkan api. Mereka melepaskan Malinda dengan memberikan hormat.
Tangan Malinda terangkat sebagai tanda menerima hormat itu. dia berbaik badan dan melangkah menuju alfazi yang masih berdiri di tempat.
"Apa Lo hanya akan berdiam diri? Rumahku di dekat sini, mau mampir?" tanyanya dengan melangkah melewati Alfazi.
Entah kenapa, Alfazi malah menurut dengan mengikuti Malinda. Dia ingin menolak, tapi pikiran dan hatinya menyuruh ikut hingga kakinya bergerak sendiri.
"Tidak, aku harus berhenti melangkah. Aku tidak seharusnya mengikuti dia." benak Alfazi. Tapi tetap saja, dia melangkah mengikuti Malinda.
Ada perasaan aneh yang muncul di hati. dia merasakan perasaan membara ketika melihat punggung wanita di depannya. Perasaan ini, sama dengan perasaan saat dia melihat Malinda untuk pertama kali.
Saat itu, di taman kampus. Alfazi melangkah dengan tergesa-gesa. Kelas pertamanya akan berakhir jika dia melewatikan semua itu. Saat asik berlari, tiba-tiba...
__ADS_1
Seorang wanita dengan ramput hitam sepinggul. Berlari cepat melewati dirinya. Alfazi melihat jelas, mata yang menatap dengan aroma sampo dari rambut itu. Degupan dihatinya berdetak cepat hingga dia bergumam, "aku? Tidak, ini kah cinta pandangan pertama?"
Namun, setelah menemui Inta. Perasaannya berubah. Dia menyukai Inta yang bersikap biasa saja dengan kejujurannya. Meski begitu, Inta di kenal sebagai wanita ceroboh yang membuat orang lain menjauh darinya. Hanya, Malinda yang mau berteman dengan Inta.
Mengingat kejadiaan saat semester pertama. Alfazi menggeleng cepat untuk menepis semua itu. Dia tidak akan mengakui, kalau dia jatuh cinta pada wanita di depannya ini.
Berhenti di rumah yang tampak sederhana, Alfazi mengikuti Malinda hingga tercenga. Dia pertama kali datang di kediaman wanita ini. "Mal, lo itu anak orang kaya?"
"Entahlah, tebak sesukamu." jawab Malinda.
...***...
Pagi tiba dengan cepat. Mata Inta perlahan terbuka dengan pandangan yang mulai jernih. Dia merasa tengah memeluk seseorang dan ada hembusan napas yang tiba-tiba mengenai wajahnya.
"Hm, aku ... tidur di mana?" celetuk Inta sambil melirikkan mata kesegala arah. Dia seketika membelak ketika tahu kalau dia berada di kamar Zacry.
"Eh? EEHHH!" Inta menjerik dalam pikiran. Dia bergegas bangun dan tersadar kalau Pria yang dipeluk sudah bangun.
Zacry menatap Inta dengan pandangan datar. Dia duduk dan berucap, "Segera siapkan Abi. Sudah pagi!"
Inta mengangguk dan bergegas bangun untuk melangkah pergi. Namun, dia terkejut melihat pakaiannya sudah terganti.
"Eh? Tu-Dadry, apa kau yang menganti pakaianku?" tanyanya tanpa berbalik badan.
Mata Inta membelak, dia seketika ingat tentang apa yang terjadi tadi malam. "Dasar Alfazi bajin**n, aku akan menghajarmu!" benaknya.
"Inta?" panggil Zacry. Dia berdiri dan melangkah mendekati Inta.
Melihat hal itu, Inta lagi-lagi mengingat kejadian tadi malam. Entah kenapa, Obat yang diberikan oleh Alfazi, masih bisa membuatnya ingat semua hal yang di lakukan.
Sekarang, Inta bingung dengan keadaannya sendiri. 'Tidak, aku tidak boleh mengatakan kalau semua yang terjadi saat itu ... ah tidak, bagaimana mungkin.' pikirnya.
Tiba di depan Inta, Zacry menatap begitu serius hingga berdiri tepat di depan wanita yang kemarin malam berhasil mengoyahkan keteguhan hatinya. Dia memperhatikan wajah Inta yang tampak menghindar.
"Apa kau mengingat kejadian tadi malam?" tanyanya.
Inta tertawa mendengar pertanyaan itu. Dia segera mengaruk tengkuknya dan menjawab, "mengingat? Apa yang terjadi tadi malam?"
Kerutan muncul di alis Zacry. Meski tidak tampak, kerutan itu tetap ada karena dia merasakannya. "Apa dia sedang berbohong." benak Zacry.
"Sudahlah, aku tidak seharusnya berharap. Wanita ini, datang hanya karena uang. Lagi pula, hubungan kami sebatas ibu angkat untuk Abi. Bukan Istri sesungguhnya." benak Zacry kembali. Dia segera melewati Inta untuk menuju ke kamar mandi dan bersiap.
"Bangunkan Abi, ini sudah pagi. Dia sekolah hari ini." ucapnya.
Inta mengangguk dan segera pergi dengan perasaan bersalah. Dia berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri. Melakukan itu semua karena dia merasa ragu dengan apa yang terjadi malam itu.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju kamar Abi, Inta begitu dipenuhi bayangan ingatan dari kejadian tadi malam. Bagaimana dia merasakan sentuhan Zacry hingga suara indahnya keluar begitu saja.
"Tidak, lupakan! Itu semua pengaruh obat Alfazi. Malam itu, aku hanya mengelantur." gumamnya yang berniat untuk melupakan semua kejadian.
Tiba di kamar Abi, Inta melihat anak berusia lima tahun itu sudah bangun dan duduk di tepi kasur. Dia tampak menunggu kedatangan seseorang.
Inta melangkah mendekat dengan senyum cerah di wajahnya. "Pagi Abi!" sapa Inta.
Abi menoleh dengan cepat dan melihat kedatangan Ibunya. Dia bergegas mendekat dan memeluk Inta. "Pagi Ibu," balasnya.
Pelukkan erat dibalas dengan hal yang begitu lembut oleh Inta. Dia senang jika melihat Abi bahagia. Entah kenapa, hatinya merasa mereka saling dekat.
"Ayo mandi, hari ini kau ada sekolah kan?" tanya Inta sembari membuka kancing baju tidur Abi.
Anggukkan kepala diberi sebagai jawaban. "Iya Bu, hari ini kami akan berolah raga. Oh ya, ibu guru di sekolah bilang. Akan ada perayaan untuk ulang tahun sekolah. Jadi, saat itu tiba Ibu dan Ayah ikut menonton ya? Abi akan ikut semua lomba di sana."
"Waah, lomba ya? Hm ... boleh, beritahu Ibu kapan harinya oke."
Abi mengangguk. Keduanya melangkah menuju kamar mandi dan memulai hari dengan tenang.
***
Inta duduk di kasurnya dengan napas lelah. Dia baru saja menghindari Zacry. Padahal, pria itu tidak ada niat untuk mendekatinya. Tapi Inta merasa harus menjauhi Zacry karena dia merasa bersalah.
Pikirannya mengatakan untuk bersembunyi, tapi hatinya berkata lain. "Sial, apa aku benar-benar mencintai Zacry?"
Kedua tangan itu segera mengacak-acak rambut pendeknya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan begitu cepat.
"Sial, apa ini bisa dibilang kalau Malinda benar. Dia pernah mengatakan kepadaku, kalau mata ku menunjukkan diri ini sudah mencintai sugar daddy itu. Tidak!"
Inta bangun dari tempat duduk, dia menatap ponsel pintarnya yang ada di meja rias. Hari ini, karena kekacauan yang terjadi. Inta tidak turun kuliah dengan alasan sakit. Dia perlu menenangkan diri sebelum memulai harinya.
Takut, jika nanti menumpuk di otak. Inta akan mengacau semuanya dan berakhir menjadi ratu utang. Dia tidak mau hal itu.
"Oh ya, Malinda!" ponsel pintar itu di raih dengan cepat. Inta segera menghubungi sahabatnya dan berharap semua masalah ini terselesaikan.
Namun, panggilan itu tidak mendapatkan balasan. Terhubung tapi tidak di jawab oleh penerima. Inta mengerutkan alis menatap layar ponselnya. "Apa terjadi sesuatu?"
Mengingat kejadian malam itu, Inta sadar kalau Malinda datang menyelamatkannya. "Seharusnya, Malinda menjengukku kan? Yeah, dia seperti itu. Meski Alfazi anak orang berada, Malinda tidak memperdulikan semua itu, selama ada kebenaran dia akan memperjuangkannya."
"Tapi, kenapa dia tidak bisa di hubungi?" Memutar pikirannya, Inta memutuskan untuk menelpon Alfazi.
Hasilnya pun sama, tidak ada balasan dari panggilannya. "Tampaknya, telah terjadi sesuatu...,"
"... apa mungkin, Malinda menghajar Alfazi hingga babak belur dan berakhir di penjara? Wah, itu bisa jadi." pikir Inta dengan kesimpulannya.
__ADS_1