
Di layar laptop. Flashdisk tersambung dan menunjukkan dua file di sana. Tertulis Video dan berkas penting.
Mata Zacry menatap layar laptop dengan wajah serius. Sama seperti Zivta yang duduk di sampingnya.
Kursor tertuju pada file penting di sana. Saat mereka membuka file itu, sebuah pesan muncul seketika.
...-Lihat Video terlebih dahulu-...
Kerutan alis muncul di wajah keduanya. Kursor itu segera mengklik file Video. Ada sebuah Video dengan durasi dua menit.
"Apa kita harus membukanya? Tidak ada virus di dalam flashdisk ini." ucap Zacry.
Zivta mengangguk dengan pelan. "Bukalah, aku penasaran kenapa Malinda mengirim flashdisk ini."
Zacry segera mengklik Video yang kini terputar. Layar laptop itu menampilkan warna hitam untuk beberapa saat. Hingga, tampak seorang wanita yang duduk menatap kamera.
"Sudah aktif?"
Zacry dan Zivta fokus menatap wanita yang tidak lain adalah Malinda.
"Hallo, ku harap yang menonton ini bukan hanya Zacry. Melainkan, Zivta ikut menontonnya."
Kesunyian muncul di sekitar Zacry dan Zivta. Mereka berdua saling bertanya-tanya, kenapa Malinda mengatakan hal seperti itu.
"Oke baiklah! Kita akan langsung ke intinya saja. Apa kalian kelelahan mencari keberadaan Inta?"
Perasaan Zacry setelah mendengar pertanyaan itu hanya ada satu, kelegaan. Tebakkannya benar, Malindalah yang membawa Inta pergi.
Sebelumnya, Zacry sempat ingin mengatakan siapa yang di maksudnya dalam membantu pencarian Inta.
Waktu itu, sebuah pesan terkirim padanya. Tertulis di sana bahwa Inta baik-baik saja bersamanya. Dan di pesan itu, terselip satu huruf yang langsung di tebak oleh Zacry, kalau huruf M itu milik Malinda.
"Syukurlah, aku tidak akan melepaskanmu Inta. Ku harap, Kakak ipar membantuku." benak Zacry.
Sedangkan Zivta, mulai merasa perasaan tidak enak di hatinya. Dia memiliki firasat kalau ada sesuatu yang akan di sampaikan oleh orang yang dia cintai.
"Aku sudah mengirim pesan kepadamu, Zacry. Pesanku mengatakan kalau Inta ada padaku. Tapi, keluargamu ini benar-benar merepotkan. Kalian bahkan mengirim drone untuk mencari jejak Inta?"
"Aku jadi sulit bergerak karena hal itu. Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang, aku hanya ingin menyampaikan kalau Inta baik-baik saja. Dan, tarik semua polisi yang kalian gunakan. Aku tahu, kalian akan menyuruh polisi mencari keberadaan Inta."
Zacry mengangguk kepala mendengar hal itu. Beberapa hari ini, keluarganya segera menyuruh kepolisian untuk mencari Inta. Dan dugaan Kakak Iparnya itu benar sekali.
Dengan cepat Zacry mengirim pesan kepada orang kepercayaannya untuk menarik kembali para polisi.
"Aku tahu kalau Zacry akan bertindak setelah aku perintahkan. Bagus, aku menyukai Adik Ipar sepertimu. Namun, jangan beranggapan kalau Inta akan kembali."
"Saat ini, Inta sedang menenangkan dirinya. Jika keputusan Inta ingin kembali. Aku akan memberi kabar dan lokasi di mana kita akan bertemu. Tapi, jika Inta menolak kembali. Maka, maafkan aku, aku akan membawa Inta pergi lebih jauh darimu."
Alis Zacry berkedut. Dia sebenarnya penasaran, siapa Kakak Iparnya ini. Semua rencana Malinda tampak rapi hingga dia tidak mencurigai apa pun di sini.
Yang membuatnya bingung, bagaimana seorang wanita bisa memiliki kekayaan seperti ini.
__ADS_1
Bukankah, Malinda berasal dari desa seperti Inta?
"Oke, basa basi tentang Inta selesai di sini. Intinya, dia baik-baik saja. Makan dan tidurnya teratur di sini, jadi tenangkan dirimu. Oh ya, beri salam kepada Abi. Ibunya merindukan dia."
"Sekarang aku akan membahas ini ...,"
Sebuah kode yang di layar muncul seketika. Ada empat angka di sana.
"File penting itu bukalah, kalian akan melihat gambar-gambar yang ada di sana."
Zacry segera mengingat kode tersebut, dan melesatkan kursornya menuju File penting.
Mata keduanya membelak seketika, ada banyak gambar di sana. Mulai dari gambar di dalam hotel, hingga di luar hotel. Bahkan, bagaimana bisa Inta yang masih berusia 17 tahun, mengenakan baju seksi untuk melakukan One Night Stand dengan Zacry.
"Ini?" kaget Zivta. Di dalam pikirannya, hal yang tidak bisa mereka dapatkan, malah di temukan oleh Malinda. "Siapa, Malinda ini!" pekik Zivta.
Zacry menggeleng untuk menjawab kalau dirinya pun tidak tahu, siapa Malinda ini.
"Oke, sudah melihat semua. Fokuskan pandangan kalian dan lihat, gambar wanita yang menepuk pundak Inta."
Video itu terhenti otomatis, seperti di kendalikan dari jauh. Zacry dan Zivta segera menatap ke arah gambar yang menunjukkan foto Linta.
Sekali lagi, mereka terkejut melihat hal itu. Tidak lama, video otomatis itu memutar sebuah rekaman.
-Sebenarnya, aku tidak senang dengan keluarga cemara itu. Mereka selalu saja mengangguku dengan mengatakan kalau aku lebih baik menerima lamaran orang lain,-
-Kau tahu, aku menginginkan seorang pria yang jabatannya lebih baik lagi. Bukan seperti Mereka. Aku malu jika menikah dengan seorang karyawan kantor. Lebih baik, aku menikah dengan pemiliknya!-
-Dan kau tahu, pemilik perusahaan itu adalah Zacry Park. Orang yang sangat ku incar ... aku melakukan berbagai jebakkan untuk laki-laki itu, tapi tidak pernah bisa mendapatkannya.-
Zacry dan Zivta tahu suara siapa yang berbicara. Mereka saling berbenak dengan menyebutkan satu nama, Linta.
"Rekaman ini, ku ambil saat aku membawa Inta pergi. Oh ya, aku melupakan hal pentingnya."
Zivta merasa degupan di hati memuncak. Ini bukan perasaan senang, melainkan perasaan takut akan sesuatu. Dia takut kalau ada yang dia ketahui tapi dirinya berusaha tidak ingin tahu semua itu.
"Ku harap, bukan dirimu yang...," benak Zivta terhenti.
"Aku lah yang menembak kaki Linta. Dan aku juga yang hampir menyebarkan racun di tubuhnya. Lalu, Aku yang membuat mentalnya terusik. Oh ya, jika kalian melihat dashcam itu,"
"Sebagian rekamannya telah ku ubah, semua rekamannya jadi satu dalam video ini. Tontonlah hingga puas dan cermatilah dengan teliti."
"Aku minta maaf kepada Zivta, karena telah membuat Istrinya berada di tingkat kegilaan. Sejujurnya, aku tidak ingin melakukan itu. Tapi, karena dia berhasil mengetahui identitasku, terpaksa aku harus mengubah hidupnya."
"Niatku, ingin membunuhnya. Tapi, aku memikirkan keluarga Park yang akan menjadi duda seumur hidup jika istrinya meninggal. Jadi, maafkan aku."
Video itu segera berakhir dengan menampilkan rekaman asli yang ada di dashcam. Zarcy dan Zivta yang menonton itu hanya bisa terdiam.
Ada perasaan yang berbeda di hati mereka. Zacry yang tidak perduli dengan masalah Kakak Ipar Linta, karena Dia telah membuat Inta pergi darinya.
Sedangkan Zivta merasa bingung dengan semua ini. Di dalam benak Zivta, Malinda adalah gadis baik yang selalu menolong orang lain. Namun, apa yang di benaknya itu berbeda dari Video yang di tunjukkan oleh wanita itu sendiri.
__ADS_1
Di mana, Malinda menodongkan pistol tanpa rasa takut sekalipun. Seakan dia sudah ahli dalam memegang senjata.
"Malinda, siapa dirimu sebenarnya?" benak Zivta.
...***...
Inta duduk di ruang tamu sembari menatap Malinda yang kini tengah bermain ponselnya.
"Ada apa?" tanya sahabatnya itu.
"Mal, aku sudah mengambil keputusanku." ucap Inta dengan mengatur perasaannya.
Malinda, sahabatnya kini menaruh ponsel di meja. Dia menarik cemilan yang tersedia dan menatap padanya.
"Apa keputusanmu? Katakan padaku dan biar aku yang putuskan semuanya." ucap Malinda dengan tenang.
"Aku sudah berpikir dengan baik. Apa lagi, aku tengah mengandung anak Zacry. Mal, bantu aku untuk mengaborsinya." ucap Inta.
Dia sudah berpikir dengan matang seharian ini. Menurutnya, lebih baik membunuh anak ini dari pada melahirkannya.
"Alasannya?" tanya Malinda.
Inta menghela napas sembari menunduk kepala. "Karena aku tidak akan bahagia untuk melahirkan anak ini. Aku menikahi Zacry karena utang, anak ini hadir pasti karena hal itu. Bahkan Abi lahir pun karena utang."
Malinda mengangguk kepala. Inta bisa melihat raut wajah sahabatnya itu begitu datar.
"Oke, kau bilang semua ini karena utang. Baiklah, apa ada lagi keputusanmu?" Malinda mengambil ponselnya kembali. "Kau bilang, kau tidak ingin melahirkan anak itu kan? Maka, setelah itu kau akan ke mana?"
Inta meneguk salivanya karena merasa kalau ucapan Malinda begitu dingin. Sahabatnya ini, sedang marah tapi tertahan.
"Kalau kau memutuskan pergi, aku akan mengirimmu ke sebuah desa tempat tinggal ibuku. Di sana, tidak ada yang akan mengetahui jejakmu. Tenang saja, aku akan menganti identitasmu hingga tidak ada yang mengetahui siapa kau sebenarnya."
"Lalu, jika kau memutuskan untuk kembali bersama Zacry, aku akan mengirimmu kepadanya. Tapi, tidak ada niat di dalam hatimu untuk melakukan itu."
Malinda tersenyum sembari menatap ke arah lain. "Karena kau bilang ingin mengaborsinya. Tidak akan bagus kalau memakan nanas muda. Aku akan langsung memanggil dokter untuk membantumu." jelasnya.
Inta menahan tangan Malinda yang ingin pergi meninggalkan ruang tengah. "Maaf, aku mengambil keputusan dengan terburu-buru." ucapnya.
Usapan lembut datang di kepala Inta. Ketenangan di hati muncul seketika. Inta merasa bersalah dengan keputusan itu semua.
"Dengar Inta, aku tidak akan berbohong kepadamu. Jika kau memberikan keputusan dengan benar, aku akan membantumu. Apa pun keputusanmu itu."
"Sebagai sahabatmu, aku lebih mendukungmu dari pada yang lain. Jika kau ingin mengugurkan anak itu, aku akan membantumu. Namun, pikirkan kembali semua keputusanmu, Inta."
"Jangan mengambil keputusan secara tiba-tiba dan tidak di pikirkan dengan baik. Yang kau sakiti, bukan hanya dirimu. Tapi, hatimu, anak yang ada di kandunganmu dan pria ya mencintaimu."
Inta terdiam mendengar hal itu. Lagi-lagi, perasaan sedih memenuhi hatinya. Air mata Inta mengalir seketika, hingga sahabatnya itu memeluknya.
"Zacry mencintaimu Inta, aku yakin ... apa yang terjadi ini, tidak akan di perhitungkan olehnya. Kau tahu, polisi yang mengejarmu sudah berhenti melakukan pencarian."
"Yang menghentikan semua itu adalah Zacry, suamimu." ucap sahabatnya.
__ADS_1
Hati Inta berdegup cepat. Dia merasakan rasa cintanya membara dan kerinduan kepada suaminya itu memuncak seketika.
"Zacry," gumamnya.