Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
25 : Menjemput Abi


__ADS_3

Tidur yang begitu nyenyak itu berakhir dengan mata yang perlahan terbuka. Inta tidak akan bisa melanjutkan tidurnya karena ada kuliah di pagi hari.


Tidak ada yang dirasa oleh Inta saat dia menikmati suasana pagi dalam keadaan bengong. Namun, lama-kelamaan, ada sesuatu yang memberatkan bagian perutnya. Lalu, bantal yang dia gunakan bukan seperti bantal biasanya.


"Tunggu, apa ini?" benak Inta.


Diperhatikan bantal yang menjadi tempat berbaringnya, ternyata itu adalah lengan seseorang. Inta masih bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut.


Lirikkan mata Inta mengarah ke perut yang mengembang dan mengempis secara perlahan. Dia melihat tangan seseorang yang memeluknya. "Fiks, dia...," benak Inta.


Saat memperhatikan tadi, Inta baru sadar kalau di atas kepalanya, terdapat hembusan napas yang begitu tenang. Dia segera memejamkan mata karena tahu, saat ini dia berada dalam pelukkan Zacry, sugar daddynya.


"Sudah bangun?" bisik seseorang.


Inta membelakkan matanya dan segera menoleh. Mata Inta semakin membulat ketika merasa sentuhan lembut di pipinya. Tidak hanya itu, hidung mancung Zacry hampir mengenai mata.


"Astaga, Inta apa yang kau lakukan?" benaknya mengerutuki diri.


Zacry segera menjauhkan kepalanya dan menatap ke arah lain. Dia melepaskan pelukkan tangan yang berada di perut Inta.


"Tenang, tenanglah!" Dia berbenak dengan hembusan napas kasar.


Inta yang melihatnya segera menunjukkan ekspresi bingung. "Kenapa berpaling?" tanya Inta tanpa berpikir.


Mendengar itu, Zacry menoleh dan menatap Inta yang tepat di depan mata. "Tidak ada," jawabnya.


Rasa jangal mengebu di hati Inta. Meski begitu dia tidak ingin berurusan dengan lelaki ini. Ada hal yang harus dia pentingkan,Kuliahnya!


"Selamat pagi Dadry ...," ucap Inta. Dia bangun dari tidurnya untuk duduk dan menyegarkan diri.


Abi, putranya itu tengah tertidur pulas hingga baju tidurnya terangkat. Dengan lembut, Inta merapikan baju itu dan menyelimutinya.


Memikirkan gaya tidur Abi, Inta segera memperhatikan Zacry yang meneguk segelas air putih.


"Dadry, kenapa kau tidur sambil memelukku?" tanyanya.


Zacry yang baru saja meneguk air putih, merasa tersedak. Dia menaruh gelas di meja samping tempat tidur. Lalu berdiri dan menatap Inta.


"Ikutlah denganku, kita berbicara di sofa." ajaknya.


Inta langsung mengikuti langkah Zacry. Dia penasaran bagaimana bisa pria ini ada di sampingnya.


Duduk di sofa, Inta memilih untuk lebih dekat, agar dia bisa mendengarkan ucapan Zacry. Sedangkan pria yang di dekati itu, menahan diri agar tidak menikamnya.


"Kau memiliki kebiasaan tidur yang buruk!" ucap Zacry memulai pembicaraan dengan wajah datarnya.


Melihat hal itu, Inta segera kehilangan rasa penasaran. "Tuan Zacry, bisakah kau berbicara dengan ekspresi yang sesuai. Kau tampak bercanda tapi wajahmu selalu serius. Sudahlah, aku tidak ingin mendengarnya."


Inta ingin bangun dari tempat duduknya, tapi segera di tahan oleh Zacry dan diduduk kembali. Namun, dudukkannya kali ini bukan di sofa, melainkan di pangkuan Zacry.


Mendapati hal itu, Inta terdiam dan memperhatikan wajah datar milik Zacry. Pria yang dianggap sugar daddy hanya diam dan membiarkan dia duduk dengan tenang.


"Saat kau tertidur, Tidak lama gaya tidurmu berubah. Kau begitu gelisah hingga Abi hampir terkena hempasan tanganmu," ucap Zacry.


Inta diam mendengarkan dan berbenak dengan mengomentari dirinya. "Buruknya, aku lupa kalau tidurku akan berantakkan jika sedang kelelahan. Memalukan!"

__ADS_1


"Tidak hanya itu, kau juga jatuh dari tempat tidur. Saat aku menghampirimu, kau masih dengan tenang tertidur di lantai yang dingin." lanjutnya.


Setelah mendengar semua itu, Inta akhirnya mengerti. Pria ini tidur di sampingnya dengan niat untuk melindungi dia. Senyum Inta terukir, dia mengusap kepala Zacry.


"Terima kasih telah melindungiku, maaf ... aku belum bisa begitu dekat denganmu. Tapi, cintaku kepadamu itu nyata Zacry." ucap Inta.


Zacry mengangguk. Dia paham kalau hubungan mereka ini masih dianggap sebagai tanaman yang baru saja diberi tanah. Tidak ada pupuk atau siraman pagi yang bisa menghadirkan benih tanaman itu.


"Aku mengerti, aku juga mencintaimu." balas Zacry dengan memberanikan diri memeluk Inta.


Pagi ini, keduanya di dalam suasana indah yang semakin mendesirkan hati. Dipeluk dan memeluk, tampaknya akan menjadi sebuah kebiasaan baru.


...***...


Inta keluar dari mobil, hari ini suasana hatinya begitu bahagia. Dia melangkah menuju gedung kampus dengan langkah tenang.


"Sore ini, aku, Abi dan Zacry akan berjalan-jalan. Tidak sabarnya!" gumam Inta.


Rangkulan datang dari belakang, Inta yang mengenal gaya rangkulan itu tersenyum dan segera memposisikan diri dengan baik.


"Apa kabar hm? Enak ya liburan engak kasih kabar sama aku." celetuk Inta kepada Sahabatnya, Malinda.


Malinda tersenyum, dia melepaskan rangkulannya dan melangkah berdampingan dengan Inta. "Ya maaf, terlalu asik liburan hingga aku melupakanmu."


"Jahat ya, lupa teman sendiri." Wajah cemberut Inta tampak begitu kesal.


Mendengar ucapan itu, Malinda segera memberikan paper bag di tangannya. "Ini,"


Mata Inta begitu menelisik dengan paper bag di depannya. Di ambil paper itu dan dia melihat, ada sebuah syal abu-abu dengan motif berwarna hitam.


"Untukku?" tanya Inta. Malinda mengangguk kepala, "Pakailah!"


"Terima kasih Mal," ucapnya.


Malinda mengangguk, "Hm, sama-sama, ayo ke kelas."


Dua Mapel kuliah telah selesai, tapi ada tugas yang harus di selesaikan hari itu juga. Inta mengaruk kepala karena merasa frustasi dengan tugas kali ini.


"Udah selesai bre? Hari ini cuma dua mapel kan?" Malinda berdiri di depan Inta dengan tangan memeriksa ponselnya.


"Ish, belum selesai ini loh!" celetuk Inta.


Malinda mengerutkan alis melihat isi ponselnya. Dia segera menyimpan ponsel itu dan menatap sahabatnya.


"Sudah hampir jam dua belas siang. Bukan kah kau ada janji dengan suamimu?" ucap Malinda.


Inta menceritakan tentang kedekatannya dengan Zacry. Respon yang Malinda berikan begitu positif, dia dengan semangat menyetujui hubungan Inta.


Mendapati persetujuan sahabatnya, Inta semakin senang. Dia tidak akan lagi ragu dengan kedekatannya bersama Zacry.


"Astaga! Aku lupa!" pekik Inta dengan memegang kepalanya.


Malinda menghela napas, dia sudah tahu sahabatnya ini seperti apa. "Kau telpon supirmu untuk menjemputnya."


Inta tidak mendengar perkataan Malinda. Dia mengenggam tangan sahabatnya, "Mal, bantu aku oke. Kau jemput Abi dan bawa dia ke sini. Tolong!"

__ADS_1


"Hah? Otakmu tidak geserkan? Kau menyuruhku menjemput anak kecil. Lalu membawanya ke sini?" Malinda begitu tidak percaya pada Rencana Inta.


Anggukkan kepala Inta berikan. dia berharap sahabatnya mau membantu.


Malinda menghela napas, dia mengangguk dan segera menuntun Inta agar duduk kembali. "Sudahlah, kerjakan tugasmu. Aku akan menjemputnya."


...***...


Sekolah Paud yang tengah ramai karena waktu pulangan tiba. Malinda melepaskan helm di kepala dan menatap sekitar.


"Wow, banyak sekali ibu-ibu di sini." gumamnya.


Turun dari motor, Malinda melangkah masuk ke halaman sekolah. Dia mencari keberadaan Abi karena ingin menjemputnya dan membawa anak kecil itu ke kampus.


"Kalau orang tahu, itu anak angkat Inta. Apa mereka akan mengomentari hidup orang? Yeah, manusia memang memiliki sifat itu, termasuk aku." benak Malinda.


Terpaku pada satu tempat, Malinda segera melangkah menuju ke arah itu karena melihat Abi yang berdiri dengan wajah menanti.


Wajah itu membuat Malinda semakin merasakan sesuatu. "Anak ini, apa aku tidak salah melihat. Dia benar-benar tampak seperti Inta. Tidak, kalau di lihat dengan teliti, wajahnya itu mirip Zacry. Namun, jika sekilas melihatnya, dia tampak seperti Inta." tutur Malinda.


Berdiri di depan Abi, Malinda berjongkok yang membuat Abi menunjukkan reaksi terkejut di campur dengan kebahagiaan.


"Tante Mal!" pekiknya.


Malinda mengangguk dan segera mengendong Abi. "Hei pria kecil yang tampan. Hari ini, Tante Mal menjemputmu karena Ibumu belum selesai mengerjakan tugasnya."


"Oh ya? Tidak apa, ayo Tante Mal, kita beli makanan!" ajak Abi.


Malinda tertawa mendengar hal itu. Dia benar-benar tidak menduga kalau anak ini menyukainya karena makanan.


"Baiklah, ayo kita membeli makanan." Malinda melangkah menuju motornya. Dia akan mampir ke warung-warung kecil sebelum mereka tiba di kampus.


Saat perjalanan menuju tempat motornya terparkir, Malinda melihat sehelai rambut Abi yang ada di kerahnya. Di ambil rambut itu dan tergenggam dalam tangannya.


"Oh, Kakak Inta!"


Malinda menoleh dengan cepat, wajahnya terkejut melihat pria tampan yang ada di depannya.


"Tuan muda pertama, Zivta Park?" ucap Malinda.


Pria tampan dengan pakaian kantornya mengangguk. Dia tersenyum dan mengusap kepala Abi di dalam gendongan Malinda.


"Apa Anda ke sini untuk menjemput Abi?" tanya Malinda setelah Zivta memberikan usapan lembut di kepala Abi.


Zivta mengangguk, "Adik ku menelpon kalau siang ini mereka akan berjalan-jalan bersama keluarga. Namun, tampaknya Adik Ipar belum kembali dari kuliahnya, Jadi Aku datang untuk menjemput."


"Siapa yang menduga, kalau Kakak Malinda datang ke sini." dengan keramahan tutur kata Zivta. Malinda menggeleng kepala dan berucap, "Jangan suka berkata manis seperti itu. Anda bisa menderita jika seseorang memanfaatkannya."


Zivta terdiam, dia merasa desiran di hati dengan degupannya. "Wanita ini, kenapa bisa ucapannya mengetarkan hatiku?" benaknya.


"Tante, Paman ... ayo jalan, Ibu dan Ayah pasti menunggu. Oh, Abi ingin makan dulu bersama Tante Mal." ujar Abi menengahi keduanya.


Zivta tersenyum dan mengangguk kepala. "Baiklah, Paman akan menghubungi Ayahmu untuk menjemput Ibumu dan langsung ke mall. Kita akan menyusul mereka di sana."


Malinda bingung mendengar hal itu, Dia menatap Zivta yang masih menampakkan senyumannya. "Tunggu dulu, lalu Anda akan mengikuti kami?"

__ADS_1


Zivta menggeleng, "Tidak, kalian ikut dengan aku di dalam mobil. Motormu, biar supirku yang membawanya."


"Hah?"


__ADS_2