
Inta duduk di kamarnya dengan memikirkan semua ucapan Malinda.
Sahabatnya itu, sangat memperhatikan dia dan selalu memberikan kata-kata positif untuknya.
"Apa sebaiknya aku kembali saja. Jika memang Zacry tidak mau lagi menerimaku. Maka, aku hanya perlu yakin kalau semua akan berakhir dengan baik-baik saja." benak Inta.
Meski berpikir yang positif. Hati Inta merasa sesuatu yang tidak bisa dia mengerti. Kenapa Malinda selalu mengatakan kalau dia akan baik-baik saja?
"Aku sudah tidak tahu harus berpikir apa. Apa Malinda hanya menunggu keputusanku saja?" gumamnya.
Saat asik merenungkan diri, Inta di kagetnya dengan pintu yang terbuka tiba-tiba. Padahal, dia sudah mengunci pintu itu agar tidak ada orang yang bisa membukanya. Namun, Malinda yang kini ada di depannya, berhasil membuka pintu tersebut.
"Ada apa Mal?,"
Belum selesai Inta bertanya, dirinya sudah ditarik oleh Malinda. Mereka melangkah keluar dengan cepat seperti tengah ada masalah besar.
"Mal, apa yang terjadi?" tanya Inta sembari menatap sekelilingnya. Beberapa bawahan Malinda segera mengikuti mereka, bahkan ada yang sudah memegang senjata masing-masing.
"Maaf Inta, tampaknya aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu. Aku minta maaf," ucap Malinda.
Inta mengerutkan alisnya, dia ingin bertanya lagi saat mereka melewati ruang tamu. Mulutnya bungkam dengan mata terbelak ketika dia menoleh ke arah sofa.
Di sana, terdapat seorang pria yang tersenyum sembari melambaikan tangannya. Lalu ada di belakangnya, dua pria bersenjata yang siaga untuk menyerang.
Melihat hal itu, Inta segera menoleh untuk menatap Malinda yang masih menariknya keluar. "Tuan Qaisar, kembali?" gumamnya.
"Benar, Ayahku kembali saat harimu akan berakhir. Inta, aku hanya bisa mengunakan rencana dadakkan ini. Semoga kau menerimanya dengan baik." ucap Malinda.
Inta menarik tangannya hingga mereka berhenti di teras. "APA MAKSUDMU MALINDA? KAU INGIN AKU PERGI SEDANGKAN DIRIMU BERADA DI SINI. APA KAU GILA?" pekiknya.
Malinda tersenyum, "aku tidak akan kenapa-napa. Tenang saja, yang terpenting kau dan anak yang ada di kandunganmu." ucapnya.
Inta mengerutkan alis, dia menatap Malinda yang kembali menariknya hingga mereka berhenti di sebuah mobil.
Pintu di buka dengan cepat oleh Malinda dan Inta di masukkan ke dalam mobil dengan wajah yang masih kebingungan.
Setelah itu, Malinda menatap supir yang ada di samping Inta. Segera kepala Inta menoleh untuk melihat siapa yang mengantarnya.
"Alfazi?" kaget Inta.
Pria yang pernah menyukai Inta, tersenyum. Dia melambaikan tangannya sesaat, lalu menatap sahabatnya.
"Hei Malinda, apa setelah ini aku boleh menikahimu?" tanya Alfazi.
Inta mengerutkan alis mendengar perkataan itu. Dia menjadi bingung dengan situasi sekarang. Kenapa Alfazi yang menjemputnya?
"Lakukan saja tugasmu Al, setelah ini mungkin tidak akan ada harapan lagi untuk kita. Satu hal yang bisa ku katakan kepadamu, terima kasih." ucap Malinda.
Mendengar hal itu membuat Inta segera menahan tangan sahabatnya. "Mal, apa kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Inta.
__ADS_1
Senyum yang jarang Inta lihat, kini terukir di bibir sahabatnya. Dia terteguh seketika dan mengenggam erat tangan Malinda.
"Dengar Inta, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Mungkin, kedepannya kita tidak akan pernah bertemu. Meskipun begitu, aku akan selalu ada untukmu." ucap Malinda bagai pesan untuk Inta.
Genggaman erat itu sangat mudah di lepas oleh Malinda. Dan tidak ada kesempatan untuk menahan sahabatnya, Inta terdiam di dalam mobil karena Malinda menuntup pintu dengan cepat.
Isyarat di lakukan Malinda dan mobil pun di jalankan oleh Alfazi.
"Al, hentikan Al! Malinda, dia akan di bunuh oleh Ayahnya!" pekik Inta sembari berusaha untuk membuka pintu mobil.
Mata Inta menoleh ke belakang, dia melihat Malinda berdiri dengan mulutnya yang di tutup oleh tangan seseorang. Lalu, seseorang yang menutup mulut sahabatnya itu, tengah melambaikan tangan seperti memberikan perpisahan padanya.
"Aku sudah mengambil kesepakatan dengannya, Inta. Kalau aku akan mengantarmu ke tempat tujuanmu." ucap Alfazi.
Inta tidak menghiraukan ucapannya. Dia masih melihat keadaan Malinda yang kini terbaring lemas di pelukkan pria tersebut.
"Tidak ada gunanya kalau kau terus berada di sana. Kau sama saja membuat Malinda kesulitan untuk bergerak." gumam Alfazi.
Inta segera menatap pria yang menyupir. "Apa maksudmu? Apa kau mengatakan kalau aku beban Malinda?"
Gelengan diberikan oleh Alfazi. "Aku tidak mengatakan itu. Tapi, ada baiknya kau tidak bersama Malinda. Asal kau tahu, Dia sama seperti Ayahnya. Kau tidak melihat tatapan mereka?"
Inta terdiam mendengar apa yang Alfazi katakan. Dia ingat pandangan Tuan Qaisar yang ada di sofa. Inta sebenarnya tidak begitu yakin, kalau pria yang melambaikan tangan itu adalah Ayahnya Malinda.
Apa yang membuat Inta langsung mengatakan kalau Tuan Qaisar kembali. Itu semua karena tatapan pria yang menatap ke arahnya sama dengan tatapan Malinda.
"Aku yakin kau sudah bertemu dengannya. Bahkan, kau lebih beruntung dari pada diriku, Inta. Aku saat itu hanya bertemu dengan sebuah foto keluarga, di mana seorang pria tengah mengendong seorang gadis berusia 5 tahun."
"Kau tahu akan hal itu. Sedangkan diriku baru saja mengetahui siapa Malinda. Tapi, aku masih penasaran, kenapa Ayahnya tega membunuh anaknya sendiri?" ucap Inta.
Alfazi masih fokus membawa mobil menuju ke sebuah tempat. Vila Malinda berada di tengah-tengah hutan dan berada di dekat tebing. Untuk kembali ke kota, mereka harus melewati tebing curam itu.
"Apa kau tidak pernah mendengar kalau Tuan Qaisar itu hanya gelarnya. Nama asli Pria tua itu adalah Zufei Yi. Keturunan china yang berhati dingin. Dia memiliki banyak wanita di sekelilingnya."
"Selain itu, semua wanita yang ada bersamanya selalu hamil. Siapa yang tidak menginginkan keturunan baik seperti Tuan Qaisar. Namun, saat mereka melahirnya, di saat itu juga mereka akan meninggalkan nama."
"Semua keturunan Tuan Qaisar adalah laki-laki. Hanya, Malinda yang lahir sebagai perempuan. Dan kau tahu, Nama Malinda ini di ambil oleh Tuan Qaisar sendiri." jelas Alfazi.
"Bagaimana kau bisa tahu itu semua?" tanya Inta.
"Aku tahu semua itu, karena aku mengunjungi panti asuhan tempat Malinda tinggal." sahut Alfazi.
Inta menoleh ke arah Alfazi. Dia begitu terkejut dengan apa yang pria itu ucapkan. "Malinda mengatakan kepadaku, kalau dia dijemput Ayahnya saat berusia 2 tahun."
Alfazi mengangguk kepala. "Benar, di usia itu, dia baru mengetahui kalau Tuan Qaisar adalah Ayahnya. Namun, ada satu hal yang mungkin tidak dia ceritakan kepadamu."
Kerutan muncul di alis Inta. Dia menatap Alfazi dengan serius agar bisa menyimpan apa yang Alfazi katakan.
"Saat Malinda di jemput, Dia tidak langsung mengakui kalau Tuan Qaisar Ayahnya. Melainkan, seorang pria asing yang ingin dia bunuh. Inta, Malinda bukan sembarangan wanita. Dia, adalah keturunan Tuan Qaisar yang berhati dingin."
__ADS_1
"Jika dia telah menetapkan sesuatu, apa pun yang terjadi. Dia akan menenuhinya sesuai yang dia janjikan. Kita tiba, Inta."
Inta menoleh ke depan. Dia melihat sebuah tebing yang kini dilindungi oleh anak buah Malinda. Dirinya tahu siapa saja anak buah Malinda. Meski ada lebih dari puluhan orang. Inta masih mengingat pakaian mereka.
Anak buah Malinda memiliki satu tindik di kening mereka. Entah kenapa, semua yang ada di dekat Malinda, selalu memiliki tindik tersebut.
"Al, kau akan mengantarku di sini? Apa Malinda yang mengatakan itu semua?" tanya Inta.
Alfazi tersenyum, dia mengangguk dan kemudian suara pintu di samping Inta terdengar. Dengan cepat dia menoleh dan melihat seorang pria mengendongnya dengan tiba-tiba.
"Kau sungguh berani Inta, meninggalkan diriku dan Abi. Aku, tidak akan melepaskanmu begitu saja." ucap Zacry dengan mengendong dirinya.
Inta terkejut mendengar hal itu, dia tanpa sadar merangkul leher Zacry dan yang membuatnya kaget, Pria ini mengendongnya tanpa menyakiti dia.
"Za-Zacry?" gumam Inta.
Zacry tersenyum dan menoleh ke arah Kakaknya. "Ayo kita kembali."
Zivta yang ada di sana segera melirik ke arah mobil. Alfazi membuka jendela sembari tersenyum. "Tidak ada Malinda, dia bersama Ayahnya. Jika ingin mengetahui keberadaannya. Kalian cukup tahu kalau dia baik-baik saja." pesan Alfazi.
Pria itu segera pergi meninggalkan semua yang ada di sini. Lalu, anak buah Malinda ikut pergi meninggalkan tebing, kecuali seorang yang selalu ada di dekat Malinda.
"Ini adalah surat untuk Tuan Zivta. Peninggalan Nona Malinda." ucapnya memberikan sebuah surat yang diambil oleh Zivta.
Dia pun pergi dengan meninggalkan mereka. Namun, beberapa langkah yang dia ambil, pria itu segera berhenti dan berbalik badan.
"Tuan Zacry, aku melupakan pesan Nona Malinda. Ini pesannya," Pria tersebut menegapkan diri di depan Zacry dan Inta.
"Nona Malinda berpesan,"
-Jagalah Inta dengan baik. Pola makannya pun harus dijaga karena saat ini dia tengah mengandung anakmu, Zacry. Aku tidak ingin, keponakkan keduaku kenapa-napa. Oh ya, katakan juga kepada Inta kalau aku tidak akan kenapa-napa. Semoga, kalian selalu bahagia-
Inta membayangkan, bagaimana Malinda mengatakan semua itu di depan orang kepercayaannya. Entah kenapa, dirinya teringat sesuatu.
Saat malam tiba, tepat setelah Malinda memanjakannya. Inta melangkah menuju ke kamar untuk beristirahat.
Saat dia menaiki tangga, matanya melihat seorang pria tengah berdiri dengan melakukan sesuatu. Melihat semua itu tidak membuat Inta menghiraukannya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat bahwa di depan pria itu terdapat seorang wanita yang tengah mimisan.
"Malinda?" gumam Inta. Dia melihat orang kepercayaan sahabatnya itu mengusap hidung Malinda dan kemudian mengendong Dia. Mereka pergi sembari berucap.
Samar-samar Inta mendengar, kalau orang kepercayaan Malinda berkata, 'Nona lebih baik Anda bertemu Tuan Besar. Aku yakin, Tuan Besar akan merawat Anda.'
Dan balasan Malinda membuatnya terdiam. 'Aku tidak akan mau bertemu dengan seseorang yang ingin membunuhku.' kata Malinda saat itu.
Ingatan yang hampir dia lupakan, kini kembali di ingat olehnya. Dengan bawaan hamil, Inta menangis seketika.
"Inta, jangan menangis." ucap Zacry sembari mengusap pipi Istrinya.
Orang kepercayaan Malinda pun pergi meninggalkan mereka. Inta menangis dengan derai air mata sembari memeluk Zacry.
__ADS_1
Dia benar-benar tidak menduga kalau rencana Malinda benar-benar demi kebahagiaannya. Bagaimana wanita itu bisa mengatur semua yang ada tanpa dia ketahui.
"Mal, tolong jangan pergi." benak Inta.