
Inta berhenti melangkah ketika tiba di samping Malinda. "Katakan kepadaku, cerita di antara kalian ... cerita siapa yang benar? Malinda yang dikejar oleh Bibi, atau Bibi yang mengejar mobil orang tuaku?" tanya Inta.
Bibi Linta mendengus mendengar pertanyaan dari keponakannya. "Kenapa Inta, apa selama ini kau tidak tahu tentang sahabatmu sendiri? Kau tidak menyadarinya?" alis Bibi Linta terangkat.
Inta menatap bingung dengan semua yang terjadi. Dia sebenarnya dilanda kecemasan dan ketakutan yang mendalam.
Sejujurnya, Inta tidak ingin ada di posisi ini. Dia seperti mengores lukanya yang telah di lupakan. Namun, takdir benar-benar mempermainkan Inta, dia harus mengetahui semua yang telah terjadi dimasa lalu.
"Akan ku jelaskan nanti," ucap Malinda yang merangkul Inta.
Inta hanya diam menerima rangkulan itu. Dia menatap Bibinya yang tidak bisa bergerak sekalipun. Tubuh Bibinya tampak lumpuh setelah menerima tembakkan Malinda.
"Inta, Sahabatmu itu adalah anak dari seorang pembunuh. lebih tepatnya, seorang Mafia yang berhati dingin hingga rela membunuh anaknya sendiri. Sekarang, Dia menjadi buruan Ayahnya!"
ucap Bibi Linta dengan menundukkan kepala.
Mata Inta membelak seketika, dia menoleh ke arah Malinda yang ikut terkejut mendengar perkataan Bibinya.
"Apa Malinda juga baru mengetahui hal ini?" benak Inta.
"Jangan berpikir aku akan tertipu. Sebenarnya, aku memang mengejar orang tuamu, Inta. Tapi ketika melihat seorang gadis masuk ke dalam mobil mewah. Aku mengubah tujuanku,"
"Kau tahu ... Malinda adalah putri tunggal dengan marga Z di namanya. Orang lain tidak mengetahui itu. Tapi, aku! Aku mengetahuinya ...,"
"Marga Z bukan sembarang marga. Orang yang membunuh keturunannya sendiri demi menjaga keberadaannya dari dunia. Berkelana di dunia bawah hingga yang bisa kabur dari jangkauannya hanya dia saja, Malinda Z."
Inta lagi-lagi melirik Malinda. Sahabatnya itu kini tampak seperti orang lain. Wajahnya datar seperti Zacry, tapi datarnya tidak ada kehangatan di sana.
"Aku mendengar desas-desus tentang wanita yang kabur dari jangkauan Ayahnya. Jadi, ketika ada kesempatan untuk membunuhnya, aku mengubah titik tujuanku untuk membunuh Malinda! Tapi,"
"Siapa yang menduga, mobil orang tuanmu sudah menghalangi jalan hingga Malinda mendorong paksa dan menepisnya untuk kabur. Dengan begitu, orang tuamu meninggal karena kecelakaan."
"Merasa aku yang mendapatkan keuntung, aku meninggalkan orang tuamu dan memutuskan untuk menjagamu agar kau berguna bagiku."
Penjelasan santai Bibi Linta membuat Inta tersenyum pahit. Dia segera berbalik badan untuk pergi dengan Malinda.
"Aku sudah mendengar semuanya. Bibi, ternyata sesuatu yang sudah kotor itu. Akan tetap kotor meski sudah dibersihkan sekalipun."
"Sampai di sini hubungan kita, aku dan Bibi mulai sekarang akan menjadi orang asing. Tenang saja Bibi, aku tidak takut dengan Malinda. Dia adalah sahabatku yang rela menjagaku dari pada Bibi yang sudah tega menjualku."
"Melakukan one night stand yang menghilangkan segalanya, kini aku benar-benar masuk ke dalam masalahnya. Bibi, ku harap bibi tidak pernah lagi terlihat, ah iya ... jalani hidup bibi dengan baik."
Inta melangkah pergi setelah berucap demikian. Dia sudah cukup mengetahuinya. Sekarang dia mengerti, alasan Malinda yang tidak terlalu ingin menjadi sorotan di sekolah bahkan saat pernikahannya.
"Jika seperti itu, maka ... sudah berapa lama Malinda kabur dari Ayahnya?" benak Inta.
Melihat sahabatnya telah masuk ke dalam mobil, Malinda mengangkat tangan kanannya. Beberapa orang asing yang bersiaga di belakang mobil Malinda segera datang.
"Iya Nona." sapa semuanya dengan sedikit membungkukkan kepala.
"Singgirkan wanita ini. Letakkan saja dia di dalam mobil pada tepi jalan. Jika beruntung, dia akan hidup. Jika tidak,"
Malinda mendekati Bibi Linta yang tidak lagi bisa bergerak karena Malinda menembakkan cairan lumpuh ditubuhnya.
"Ku harap, tidak ada hewan di sini yang mau memakannya. Oh ya Bibi, cairan yang ku tembakkan kepadamu itu ... terdapat racun di sana. Bebaskan dirimu dari racun itu sebelum mengerogoti isi kepalamu hingga kau akan menjadi gila!"
Malinda tersenyum puas dengan apa yang baru saja dia katakan. Tidak mendapati reaksi Bibi Linta, Malinda melambaikan tangannya untuk memberitahu, kalau dia menyuruh orang-orangnya melakukan tugas mereka.
"TIDAK! TIDAK! HEI MALINDA, BERANINYA KAU MELAKUKAN INI KEPADAKU!"
__ADS_1
"TIDAK, LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU! TIDAKKK."
Teriakkan Bibi Linta menjadikan backsound untuk Inta malam ini. Tidak ada lagi rasa iba di hati Inta. Dia lebih memilih untuk meninggalkan keluarganya, melihat Bibi Linta yang masih mempertahankan niat jahatnya.
Inta, tidak akan bisa hidup seperti itu. Tidak masalah jika dia ada di dalam pengawasan Malinda. Dari pada dia masih terikat dengan Bibinya dan Zacry Park.
"Huh, tidak ... mari lupakan rasa cinta ini, Inta." benaknya.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mobil terus melesat melewati jalan raya hingga ke tempat sepi yang Inta tidak tahu di mana.
Mata Inta melirik ke kanan dan ke kiri. Dia merasa mobil ini melewati beberapa pengunungan hingga berhenti secara tiba-tiba.
"Ayo keluar," ucap Malinda.
Inta segera membuka pintu mobil. Udara yang dingin segera menyelimuti tubuhnya. Dia melihat pemandangan yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.
"Bagaimana bisa ada Vila di tebing ini?" kaget Inta.
Vila yang dia lihat menghadap ke arah kota yang jauh darinya. "Ini Vila Ayahku!" sahut Malinda.
Inta dengan cepat menoleh ke arah Sahabatnya. Dia melihat Malinda melangkahkan kaki masuk ke halaman yang begitu indah ini.
Langkah kaki Inta mengikuti ke mana Malinda membawanya. Meski sudah tahu siapa Malinda, hati Inta berkata untuk terus mengikuti sahabatnya ini.
"Kau akan aman di sini, Inta. Jadi, tidak perlu takut." ucap Malinda.
Inta mengangguk tanpa menjawab. Dia lebih memilih untuk mengikuti Malinda hingga mereka masuk ke dalam Vila.
"Selamat malam, Nona Malinda Q." sapa pelayan yang berbaris di samping pintu.
"Hm," balas Malinda yang melangkah menaiki tangga.
Melihat suasana yang tidak sesuai dengan dirinya. Inta tanpa berpikir panjang berucap, "kenapa kau berlagak miskin saat kau bersamaku, Malinda?"
Setelah melakukan itu, dia menutup mulutnya. Mereka masih menaiki tangga, belum ada suasana untuk bercanda.
"Kenapa? Hm ... karena aku tidak suka seorang penjilat. Aku tidak mau orang lain tahu jika aku orang berada. Mereka akan menjadi penjilat jika tahu hal itu." sahut Malinda.
Inta menghela napas ketika balasan Malinda lebih baik dari harapannya. "Oh, begitu ya. Terima kasih Malinda, kau lagi-lagi menolongku."
"Sama-sama ... Ada satu hal yang aku ingin katakan kepadamu. Meski tempat ini aman untuk menghindari Zacry Park. Tapi, aku ada di wilayah Ayahku. Jadi, mungkin kita tidak bisa bertahan lama di sini,"
Inta mengerutkan alisnya. Malinda membawanya ke sebuah kamar yang luasnya lebih luas dari kamar Zacry. Mata Inta membelak kagum melihat semua ini.
"Aku bisa melindungimu selama satu bulan. Inta, pikirkan lagi semua yang terjadi. Menurutku, baik Zacry maupun Abi, keduanya tidak akan membencimu."
Melihat keindahan kamar yang dia dapat. Inta tidak menghiraukan perkataan Malinda. Namun, saat mendengar nama orang yang dia hindari, Inta segera menatap sahabatnya.
"Maksudmu?" tanya Inta.
"Saranku, pikirkan lagi ... tidak akan ada yang membencimu jika kau jujur, Inta." jelas Malinda kembali.
"Mal!" Inta mencengkeram baju Malinda hingga anak buahnya datang sembari menodongkan pistol.
Tangan Malinda terangkat, dia melarang semua mendekati mereka. "Aku tahu kau di landa kebingungan. Bagaimana bisa takdir mempertemukanmu dengan mereka, itulah yang kau pikirkan."
"Maka dari itu, aku membawamu ke sini untuk membantumu menenangkan diri. Tenang saja, apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya." ucap Malinda.
Inta melepaskan cengkramannya. "Kau memang sahabatku Malinda, aku tidak akan melupakan semua kebaikkan yang kau lakukan kepadaku."
__ADS_1
Malinda tersenyum, dia memeluk Inta dengan mengusap-usap kepalanya. "Hm, jangan lupakan aku jika aku pergi suatu saat nanti." celetuknya.
Inta diam mendengarkan apa yang Malinda katakan. Dia malah merasakan perasaan kehilangan yang mendalam.
"Sekarang istirahatlah, Aku akan menyuruh pelayan menyajikan makan malam untukmu." ucap Malinda.
Inta mengangguk mendengar hal itu, dia melihat kepergian Malinda dengan punggung tegap seperti seorang prajurit yang siap perang.
"Kenapa kau masuk ke dalam sangkar Ayahmu sendiri, Malinda?" gumamnya.
...***...
Zacry duduk dengan lelah di sofa. Dia menatap langit-langit tempat tinggalnya.
"Tuan, tuan muda tidak bisa tidur. Dia terus merengek dengan memanggil Nyonya Inta." ucap Pelayan dengan suara gemetar.
Saat ini, Zacry benar-benar tidak dalam suasana yang baik. Dia ingin menghabisi orang lain sebagai pelampiasannya.
"Aku akan ke sana." ucap Zacry dengan suara yang berat.
Pelayan tersebut segera pergi. Tidak tahan lagi berdiri di dekat Zacry.
Pria yang mengenakan kaos biasa itu segera melangkah menuju ke kamar putranya. Mengingat kalau Abi putra kandung sekaligus mengetahui kalau Inta adalah Ibu kandung Abi.
Tanpa di sadari, wajah Zacry tersenyum mengingat semuanya. "Inta, akan ku pastikan kau tidak pergi lagi dariku." gumam Zacry.
Pintu kamar dibuka, terlihat Abi yang terseguk-seguk menahan tangisnya.
"A-ayah?"
Zacry mendekati kasur sang putra yang kini tampak takut. Dia tahu kalau Abi melihat raut wajahnya yang tidak dalam keadaan baik.
"A-abi tidak akan menangis lagi, Ayah. Abi-,"
"Tidurlah, Ibumu baru saja berpesan kepada ayah. Dia bilang, kalau kau tidak tidur, dia tidak akan kembali pulang." potong Zacry sembari mengusap kepala putranya.
Mata yang sembab itu berbinar setelah mendengar perkataan Ayahnya. Abi segera memeluk Zacry dengan begitu erat.
"Hm, Abi akan tidur ayah!" pekik Abi dengan suara serak akibat menangis.
Anak berusia 5 tahun itu segera berbaring dengan menyelimuti dirinya. Sesegukkannya masih tersisa, membuat Zacry mencium kening Abi untuk menenangkan hati anak kecil itu.
"Tenang sayang, Ibumu tidak akan pergi. Ayah akan pastikan, jika dia ingin kabur lagi karena masalah one night stand itu, ayah akan patahkan kakinya." benak Zacry.
Setelah memastikan Abi tertidur nyenyak. Zacry segera melangkah keluar untuk menemui Kakaknya.
Di ruang tamu, Zivta terduduk lelah setelah mencari bukti-bukti tentang Inta.
"Aku tidak bisa menemukan rekamannya." ucap Zivta.
Zacry mengambil minuman yang berwarna cantik di atas meja. Diteguk minuman itu sembari duduk dengan posisi layaknya seorang bos besar.
"Tidak perlu kak, aku sudah menemukan keberadaan Inta." Zacry menaruh gelasnya dengan santai di hadapan Zivta.
"Hilangkan kebiasaanmu itu. Jangan menjadi gila ketika istrimu tidak ada. Kau akan minum saat kau tidak dalam suasana hati yang baik." tegur Zivta.
Zacry mengangguk, "semenjak aku tahu Abi putraku. Aku suka minum jika moodku berubah. Tenang saja, aku tidak semudah itu untuk mabuk." sahutnya.
Zivta hanya menghela napas mendengar sahutan adiknya itu. "Baiklah, lakukan sesuka hatimu ... jadi, siapa orang yang tahu keberadaan Inta?"
__ADS_1
Zacry tersenyum mendengar pertanyaan Kakaknya. Setelah bertemu Inta, Zacry telah banyak belajar cara mengubah ekspresinya. "Dia...,"