
Seorang pria terdiam menatap isi surat yang dia dapat. Saat ini, dia tengah berada di ruang kerjanya. Dengan di temani lampu kerja, Zivta membaca isi surat yang Malinda berikan.
- Zivta, apa kau mencintaiku? Haha, aku tahu ini lucu karena langsung menanyakan hal ini. Namun, aku mudah menebak perhatian orang. Jika, kau mencintai seseorang, kau akan berusaha untuk selalu ada di sampingnya.-
-Itulah yang kau lakukan. Bagaimana aku bisa tahu, karena aku memperhatikan dirimu dan Alfazi. Kalian berdua adalah pria baik yang mau mencintaiku. Aku sangat berterima kasih dengan cinta kalian.-
-Teruslah mencintaiku meski aku tidak membalas cinta kalian.-
-Cukup basa basi cinta ini. Aku ingin mengatakan hal penting kepadamu. Yakinlah, di saat kau membaca surat ini. Maka, di saat itu juga, Istrimu Linta. Dia, akan meninggal.-
Mata Zivta terteguh membaca apa yang tertulis di sana. Dia tetap meneruskan bacaannya meski rasa khawatir telah muncul di hati.
-Kenapa bisa? Karena aku harus membunuh orang yang telah mengetahui identitasku. Bahkan, jika kau bukan kakak ipar Inta, aku mungkin akan membunuhmu juga. Sejujurnya, Inta pun akan menjadi target untuk ku bunuh. Tapi, Dia adalah satu-satunya sahabat yang akan selalu ku lindungi.-
-Aku tidak akan membunuh sahabatku sendiri. Dan lagi, Aku mengaku dengan baik apa yang terjadi kepada Istrimu. Jika kau ingin menangkapku, tanggap saja saat kau melihatku nanti. Itu lebih baik dari pada kau memendam amarahmu.-
-Itu saja yang ingin ku katakan. Aku mengirim surat ini bukan takut kepadamu. Tapi aku harus menyelesaikan masalahku dengan Ayahku.-
Zivta baru selesai membaca surat yang Malinda berikan. Di saat itu juga, dia mendapati pintu ruang kerjanya di buka tiba-tiba.
"Tuan, maaf sebelumnya. Nyonya Linta, Dia bunuh diri!" pekik orang kepercayaan Zivta.
Mendengar hal itu membuat Zivta segera meninggalkan ruang kerja. Dia melangkah pergi menuju ke rumah sakit. Di mana, Linta tengah di rawat.
Perlu waktu lima belas menit untuk tiba di sana. Zivta akhirnya tiba di ruangan istrinya. Terlihat Linta yang sudah menghabisi nyawanya dengan sebilah pisau.
"Bagaimana bisa?" gumam Zivta.
Ruangan khusus ini di jaga oleh anak buahnya. Zivta yakin tidak akan ada yang berhianat.
Seorang bawahan datang mendekat. Dia membawa sebuah Ipad yang menunjukkan rekaman sebelum Linta mengakhiri nyawanya.
Sembari melihat video itu, Zivta tiba-tiba teringat sesuatu. Sebelum menjemput Inta, dia mengunjungi Zacry yang tengah memeriksa sebuah hasil laporan.
"Apa itu?" tanya Zivta.
Zacry memberikan sebuah laporan kepada dirinya. Tertulis di sana, sebuah data perkenalan Malinda. Usia, tinggi badan hingga berat badan dan latar belakangnya.
Tidak semua yang mereka dapat, tapi ada hal penting yang ada di sana. Sebuah tulisan kalau Malinda dibesarkan pada panti asuhan. Dia juga di jemput oleh seorang pria misterius.
"Tuan Qaisar?" gumam Zivta.
Zacry mengangguk sembari memberikan arahan kepada anak buahnya. "Tampaknya, Malinda bukan sembarangan orang. Tuan Qaisar, seorang pria yang ahli di bawah tanah. Berhati dingin dan mudah menghabisi siapa pun. Bahkan, keluarga sekalipun." jelas Zacry.
Zivta terdiam mendengar apa yang Zacry katakan. "Bagaimana kau bisa mendapatkan seluruh data ini?"
"Kami mendapatkan kesempatan. Tampaknya, pihak website, mengijinkan kita merobak data diri Malinda. Huh, meski mereka terlihat seperti suka rela dengan menyerahkan data ini." sahut Zacry.
__ADS_1
Ingatan saat di mana mereka mengetahui siapa Malinda. Membuat Zivta tertawa dengan begitu keras.
"HA, Hahaha ... Malinda, kau memang seorang pembunuh." gumam Zivta.
Pikirannya berjalan, semua rencana Malinda seakan tertulis di dalam pikirannya.
Surat yang Malinda berikan, bukan termasuk tanda terima kasih. Atau, sebagai bentuk permintaan maaf. Tapi, sebagai pemberitahu dan peringatan kepadanya.
Malinda, anak Qaisar. Ingatlah, darah tidak akan salah dengan asalnya. Tentu saja, apa yang sudah menjadi takdirnya, tidak akan pernah berubah.
Meski Malinda berubah menjadi baik, dia tetap akan memiliki sikap Ayahnya. Sebagai, pembunuh yang tidak memandang siapapun.
"Itulah alasannya, jika Inta tidak di anggap sebagai keluarga dan sahabat. Keluarga Park akan menghadapi Malinda." benak Zivta.
Karena sudah seperti ini, Zivta segera menyiapkan pemakaman untuk Linta. Dia menatap jendela ruang khusus Linta, di mana pemandangan kota begitu indah untuknya.
"Sial, aku malah mencintai seorang wanita yang sudah di cap sebagai kriminal." gumamnya.
...***...
Inta membuka matanya setelah tidur yang panjang. Pagi ini, dia mendapati Zacry yang tengah memeluk dirinya.
"Apa aku tidur hingga pagi hari?" gumam Inta.
Dengan perlahan Inta bangun sembari menutupi tubuhnya. Kerinduan Zacry hilang dengan melakukan hubungan bersama, selama sore hingga malam.
Semburan merah di wajahnya seketika muncul. Mengingat bagaimana sore dan malam yang tidak henti-henti menghiasi hatinya.
"Bagaimana keadaan Malinda?" gumamnya.
"Tidak akan terjadi apa-apa padanya. Inta, Malinda adalah orang yang tidak akan pernah lagi kita temui." sahut Zacry.
Inta segera menoleh dan menatap wajah suami. Dengan lembut, sepasang tangan memeluk dirinya.
"Apa yang kau katakan? Kami tidak akan bertemu lagi?" tanya Inta.
Zacry mengangguk kepala. "Hm, Malinda pasti mengatakan itu kepadamu 'kan?"
Inta mengingat perkataan Malinda saat dia disuruh untuk pergi. Saat itu, Inta hanya berpikir kalau Malinda akan bunuh diri atau di bunuh oleh Ayahnya.
Namun, ucapan Zacry ini berbeda dari yang dia pikirkan. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"
"Sayang, Malinda adalah anak seorang mafia. Seorang pria yang rela membunuh keluarga sendiri, anak sendiri dan juga orang yang ada di sampingnya."
"Sebagai anak pertama dan perempuan. Sifat Ayahnya akan dengan mudah turun. Di tambah, Malinda adalah anak perempuan yang lahir dari lima saudara laki-laki."
"Mereka beda ibu, tapi sama Ayah. Dan kau tahu, lima saudara laki-lakinya telah di bunuh oleh sang Ayah saat masih di dalam kandungan." jelas Zacry.
__ADS_1
Inta terdiam, dia seketika ingat tentang masalah Malinda dulu. Di mana, Malinda pernah membunuh teman sekelaskan, karena masalah bully.
"Tapi, Malinda pasti akan berubah Zacry. Bukankah, perubahan itu ada?" tanya Inta berusaha untuk berpikir positif.
Zacry menuntun kepalanya untuk berada di pundak Inta. "Hm, semoga saja seperti itu. Tapi, aku hanya akan mengatakan ini. Malinda, dia adalah seorang pembunuh!"
Mendengar itu, membuat Inta diam tidak bisa berkata apa-apa. Dia ingat jelas bagaimana Malinda menodongkan pistol di kepala Bibinya.
"Jika seperti itu, Mal ... setidaknya kau masih hidup di dunia ini. Ku harap, kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu." benak Inta.
...***...
Di sebuah ruang operasi. Seorang pria dengan rambut putih dan bola mata hitam, melirik ke kanan dan ke kiri.
Dua dokter tengah membelah tubuh pasiennya. Siap memindahkan jantung dan memberikan jantung terbaik.
"Tuan, rentasan tentang Nona Malinda telah di tutup." ucap bawahan yang datang sembari membawa ipadnya.
Bell Yaker, Orang kepercayaan Malinda dan merupakan bawahan Tuan Qaisar. Mata hitamnya segera menatap wajah bawahan. "Tutup dengan rapat, cukup sebarkan apa yang Nona Malinda katakan."
Bawahan itu mengangguk dan segera pergi. Meninggalkan Bell yang menatap dua orang di depannya.
"Bell, aku sudah menulis surat ini untuk Zivta. Sebelum itu, izinkan mereka untuk mencari identitasku. Biarkan mereka tahu, siapa aku."
"Lagi pula, dengan adanya Inta di samping mereka. Mereka akan selamat dan hidup damai. Tapi, jika Inta di usir oleh keluarga itu, siapkan bawahan untuk menghabisi seluruh keturunan keluarga Park."
Bell mengangguk mendengar apa yang Nonanya katakan. Dia segera memberikan sebuah mantel untuk menghangatkan tubuh Nonanya.
"Oh ya, bawakan Inta makanan padanya. Dia saat ini harus mengonsumsi makanan yang bergizi."
Lagi-lagi Bell menganggu dan segera mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasnya.
Mengingat apa yang sudah menjadi pesan dari Nonanya. Sekarang, Bell hanya menunggu kesadaran Malinda.
Gadis berusia 20 tahun itu, mengalami kebocoran jantung saat masih kecil. Tidak ada yang mau mendonorkan jantung mereka, karena takut dengan siapa yang ada di belakang Malinda.
Hingga setiap tahun, Malinda akan melakukan perawatan untuk mempertahankan jantungnya. Namun, semakin lama jantung itu malah tidak membaik. Hingga akhirnya, di sini keberadaan Malinda dan Tuan Qaisar.
Mereka berdua ada di ranjang pasien dengan mata terpejam. Bell menatap serius ke arah keduanya.
"Nona Malinda? Tuan, kenapa aku harus menjaga Nona yang akan menerima ajalnya?" tanya Bell saat mengetahui bahwa Malinda berusia 10 tahun itu adalah anak kandung Tuannya.
"Bell, Malinda adalah putriku. Dengar, kau akan mendapatkan kejutan saat dia telah dewasa dan mengantikan posisiku." sahut Tuan Qaisar.
"Tapi, gadis ini tampak lemah Tuan, bagaimana dia bisa mengantikan Anda?" Bell menatap bingung.
Tepukkan dia rasa, dengan perlahan Bell menatap Tuan Qaisar.
__ADS_1
"Dengar, kau akan tahu saat dia telah sehat kembali."
Itulah perkataan yang berhasil membuat Bell mengikuti Nona Malinda. Gadis yang tampak lemah di setiap saat. Namun, Bell tahu kalau Nona muda itu, memiliki sikap yang sama dengan Ayahnya.