
Setelah acara sambut menyambut, kini perlombaan pun di mulai. Banyak yang di lakukan meski ada kekalahan di dalamnya. Namun, Inta bahagia melihat Abi senyum ceria bersama teman-temannya.
Tidak hanya itu, ada salah satu lomba yang mengharuskan orang tua untuk ikut. pertama yang di pilih oleh Abi adalah ayahnya. Dia membawa Zacry untuk ikut lomba lari bersama orang tua.
Sebenarnya, Zacry menolak untuk ikut. dia tidak menjawab ajakkan Abi meski sudah di tarik-tarik oleh putranya. Inta tidak terima melihat Abi sudah memaksa seperti itu, tapi Ayahnya tidak bergeming.
“Ikutlah, senangkan dia!” ucap Inta sedikit mengerutkan alis. Dia tidak mau membuat acara sekolah Abi bersama orang tuanya berakhir buruk.
Zacry yang mendengar ucapan Inta segera bangun. Dia melihat wajah Istrinya yang tampak marah. “Baiklah, aku ikut.” ucapnya dengan bergumam.
Inta tidak mendengar gumaman itu, dia lebih memilih untuk memperhatikan pertandingan ini. Abi sudah mendapatkan juara satu hingga juara tiga. Namun, lomba bersama orang tua, belum mendapatkan apa pun.
“Oke, bersiap ... MULAI!” teriak guru lain.
Abi dan Zacry segera berlari, mereka begitu semangat untuk mencapai garis pinis dengan mengenakan karung yang begitu sempit.
“Ayo Abi!, Ayo!” teriak Inta memberi semangat.
Pandangan orang tua yang lain seketika menoleh ke arahnya. Mereka melihat wanita dengan celana kulot, sweeter oversize dan rambut pendek yang berkibar-kibar.
“Eh, dia ... Nyonya Zacry Park?”
“Hm, dialah yang ku maksud.”
“Cantik, tapi ... tampak seperti laki-laki.”
“Itu lah!”
“Sudah diam, yang kalian ceritakan itu keluarga Park. Hati-hati.”
Semua orang tua yang ada segera bungkam dan memilih untuk diam di tempat. Mereka sesekali melirik Inta yang merekam momen perlombaan Zacry dan Abi.
Setelah rangkaian lomba selesai, tiba lomba kaki seribu yang di nantikan oleh Abi.
“Baiklah anak-anak sekalian. Kalian bisa membawa kedua orang tua kalian, paman, bibi atau kakak kalian untuk bermain kaki seribu.” Ucap Delfi.
“Ibu, Ayah, Ayo kita bersiap!” teriak Abi yang berlari mendekati tempat duduk orang tuanya.
Dia segera menarik tangan mereka berdua dan melangkah menuju area perlombaan.
“Ayo Abi, kita tunjukkan kalau lomba kaki seribu ini akan di menangkan oleh kita.” Ucap Inta.
Bersiap di tempat lomba. Abi,Inta dan Zacry berdiri dengan persiapan pondasi mereka. wajah ketiganya begitu serius hingga para orang tua yang melihatnya masing-masing bergumam.
“Mereka benar-benar keluarga ya.”
“Keluarga yang begitu bahagia.”
“Tapi, tidakkah kalian melihat ... wajah ketiganya mirip.”
“Eh, matamu itu kenapa. Jelas ada perbedaannya. Lihat Abi, dia tampak ceria dengan mata elang yang dia miliki. Jadi, sedikit dingin. Lalu, wanita itu, dia ceria bahkan lirikan matanya menarik perhatian orang-orang, dan...”
“Dan apa?”
“Dan Tuan Muda Zacry, wajahnya selalu berekspresi datar. Jadi, mereka tidak sama.”
__ADS_1
“Kamu benar juga.”
“Baiklah, semuanya bersedia?” tanya Delfi.
Inta menunduk sedikit untuk berbisik, “Abi dengar komando ibu ya. Kanan, kiri, kanan,kiri, oke?”
Abi mengangguk dan fokus menatap ke depan. “Oke semua, siap! Mulai!” Delfi meniup peluitnya dengan cepat.
Semua yang mengikuti lomba bergegas memulai langkah mereka. sedangkan keluarga Zacry sedikit mengalami kendala.
Kekompakkan mereka menghilang saat langkah pertama. Bagaimana bisa, Inta melangkah kaki kiri terlebih dahulu. padahal, dia sendiri yang mengucapkan Kanan.
“Astaga, aku merusak ritmenya.” Benak Inta. “Ka-Ka,” Inta bingung melanjutkan komandonya.
Saat ini, mereka masih berada di dekat garis start, bahkan memulai langkah pun tampaknya sulit karena Abi dan Inta tidak beraturan.
Zacry yang berada di belakang Inta menghela napas. Pegangan di pundak itu berubah menjadi pegangan di pingang. Dia meletakkan dagunya di bahu Inta dan berucap, “Kanan, Kiri, Kanan,Kiri.”
Berulang ucapan itu seperti bisikkan untuk Inta. Ritme yang hancur seketika membaik. langkah ketiganya seirama hingga bisa menyusul peserta yang lain.
Melihat hal itu, para orang tua semakin merasa iri hingga mereka meremuk-remuk baju, kertas atau apa pun itu sebagai pelampiasan.
Kanan, Kiri,Kanan,Kiri. Itu yang ada di dalam otak mereka masing-masing. Beberapa peserta sudah di lewati. Namun, garis finish di depan mata yang membuat Inta khawatir tentang kemenangan ini.
“Apa kami akan menang?” benak Inta.
Kekhawatiran itu membuat Inta menutup mata karena takut melihat hasilnya. Mereka saat ini sedang menghadapi dua peserta di depan.
“Finish!” ucap panitia yang lain.
“A-Abi?” panggil Inta.
Anak berusia lima tahun itu menoleh dan tersenyum dengan bahagia. “ Ibu, kita menang!” ucapnya.
Inta tercenga hingga bergumam, “menang? Bukankah kita kalah?”
Zacry mendengar itu segera memberikan usapan lembut di kepala Inta. Dia mengendong Abi dan mengandeng Inta menuju bagian tepi garis. Mereka menjauhi arena lomba karena masih ada peserta yang belum mencapai finish.
“Dadry, apakah kita menang?” tanyanya dengan wajah penasaran.
Zacry mengangguk, “Hm, tapi bukan juara satu.” Sahutnya.
Inta menatap Abi yang menatap teman-temannya. Dia tahu, anak kecil itu pasti kecewa dengan dirinya sendiri. “Aku akan membelikan sesuatu untuknya.” Benak Inta.
Acara sekolah itu berakhir dengan tibanya sore hari. Para guru menutup acara dengan pembagian hadiah. Meski kalah dalam beberapa lomba, Abi tetap mendapatkan beberapa medali yang membuat Inta bangga.
“Lihat, dia mendapatkan banyak medali.” Ucap Inta dengan mengoyang-goyang lengan Zacry.
Melihat kehebohan Inta, Zacry hanya mengangguk dan mendiamkan tangan istrinya itu di lengan.
Di dalam mobil, Inta membaringkan Abi dengan kepala di pangkuannya. Anak kecil itu tertidur karena kelelahan dengan raut wajah bahagia.
Dengan keheningan, mereka tiba di rumah. Zacry pun mengendong Abi dan keluar dari mobil. "Ayo masuk!" ajaknya pada Inta.
Inta mengangguk, dia mengikuti Zacry yang melangkah menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dadry," ucap Inta dengan suara pelan.
Ucapan itu terdengar di telinga, Zacry segera menyahut dengan dehemannya. "Hm?"
"Apa Abi akan sedih?" tanya Inta.
"Menang atau kalah itu sudah wajar. Setiap perlombaan yang mengharuskan kita untuk berjuang, selalu ada hal seperti itu. Jadi, jangan berlebihan." sahut Zacry.
Tiba di kamar putranya, Di baringkan Abi dengan lembut oleh sang Ayah. Namun, tidak lama mata kecil itu bergerak hingga terbuka. "Ayah? Ibu?" gumamnya pelan.
Inta yang berdiri dari kejauhan segera mendekat. Dia memikirkan perkataan Zacry, bahwa dirinya telah berlebihan dalam harapan. Menang dan kalah itu hal yang biasa. Tapi, bagi Inta itu merupakan suatu hasil dari perjuangannya.
Berjongkok di depan Abi, Inta mengusap-usap kepala anak kecil yang kini duduk sambil mengucek matanya.
"Abi, maaf ya ... perlombaan kaki seribu itu, ibu mengacaukannya. Ibu merasa bersalah saat itu, maafkan ibu." tutur Inta dengan rasa bersedih.
Abi yang melihat kesedihan Ibunya, segera memeluk dan berucap, "ibu ... Abi memang sedih karena tidak mendapatkan juara satu dalam perlombaan itu. Tapi, Abi senang karena di acara sekolah untuk pertama kalinya, Abi bersama Ayah dan ibu,"
Inta terteguh mendengar ucapan bocah yang di anggap sebagai anak asuh baginya. Tapi, semenjak Abi memanggilnya Ibu. Inta menganggap dia seperti putranya sendiri.
"Ibu, Menang dan kalah itu bukanlah yang paling terpenting untuk Abi. Yang terpenting itu," Abi mengenggam tangan Inta, lalu mengenggam tangan Zacry dan menyatukan dengan genggamannya. "Kita bersama-sama. Ibu,ayah, aku mencintai kalian!"
Senyum terukir dibibir, Inta segera mendekap Abi dan memberikan ciuman kecil dikepalanya. Sedangkan, Zacry mengusap-usap kepala putranya dan senang melihat keluarga kecil mereka.
"Ibu, ayah ... ayo tidur bersama!" ucap Abi dengan wajah bahagianya.
Mendengar hal itu, Inta maupun Zacry terteguh dan saling bertatap.
Tidak ada yang akan menolak jika Abi yang meminta. Meski Inta sempat ingin menghindar, tapi kenyataannya dia berakhir di sini.
Kasur king milik Zacry menjadi tempat untuk tidur bersama malam ini. Semua berkumpul di kasur dengan perasaan masing-masing.
Abi senang,dia akhirnya bisa tidur bersama Ayah dan ibu. Apa lagi, Ibunya ini adalah orang yang paling di cintai oleh Abi sendiri. Dia menjadi tidak sabar di dekap kedua orang tuanya.
Berbeda dengan perasaan senang itu, Inta dan Zacry saling diam dengan pikiran mereka. Keduanya duduk dengan Abi yang berada di tengah.
"Aduh, tidur seperti ini mengingatkan ku dengan kejadiaan itu." benak Inta dengan perasaan cemasnya.
Zacry yang memeriksa jadwal kantor segera mengakhiri pekerjaannya. Dia melihat Abi yang siap tertidur dan Inta yang tampak memucat.
"Ada apa denganmu?" tanya Zacry.
Inta terkejut hingga asal menyahut. "Kepikiran malam itu! EH?!"
Zacry bungkam seketika, ingatan bagaimana dia kehilangan kendali membuat hasrat di dalam hati goyah. "Tidak, tenangkan dirimu Zacry. Kita baru saja saling mengakui cinta, tidak boleh ada paksaan." benaknya.
'Tapi, kalian suami istri. Apa yang memaksa? Bukankah sudah menjadi tugas Istri untuk melayanimu.' pikiran lain Zacry menyahut benaknya, dengan menggeleng dia membubarkan pikiran kotor dan sesat itu.
"Ada apa dengan gelengan kepala pria ini?" benak Inta memperhatikan.
"Ibu, ayah ... ayo tidur!" ucap Abi secara tiba-tiba.
Inta dan Zacry mengangguk. mereka segera berbaring di posisi masing-masing dan mendekap Abi. "Oke sayang, Tidurlah!" Inta memberikan ciuman selamat tidur dipipi berisi itu, membuat Zacry sedikit cemburu melihatnya.
"Tidak, Zacry tenangkan dirimu!" benak Zacry.
__ADS_1