
Sembari menikmati makanannya, Inta menatap ke arah Malinda yang tampak tenang.
"Hm, Mal?"
"Iya, kenapa?" tanya Malinda menyerahkan sebuah syal di leher Inta. "Pakailah, tubuhmu tampak tidak tahan dengan suhu ruangan di sini."
"Hehe, terima kasih." ucap Inta sembari mengenggam syal yang Malinda berikan.
"Ada yang ingin kau tanyakan. Oh, tentang margaku ya," Malinda menempatkan dirinya untuk duduk di samping Inta.
"Margaku ada dua Inta. Z dan Q. Kedua marga ini memilik Ibu dan Ayahku. Ibuku adalah Zarqila Morfos sedangkan Ayahku adalah Qaisar Xiles."
Inta menatap Malinda yang menjelaskan kedua orang tuanya. Ada perasaan tidak enak di hati Inta, dia seperti membuka luka seseorang.
"Hm,"
"Kenapa aku bisa mengunakan Marga Z dan Q. Karena marga Z adalah marga ibuku. Sedangkan Marga Q adalah Marga ayahku. Keduanya ku gunakan tergantung situasi." sambung Malinda.
Inta tidak bisa menghentikan ucapan sahabatnya ini. Apa lagi melihat Malinda yang tampak bahagia menjelaskan tentang asal usulnya.
"Aku setelah lahir mendapatkan nama Malinda Z di panti. Ibuku mengirimku ke panti karena Ayahku. Seperti yang Tante Linta katakan, kalau aku menjadi incaran Ayahku. Makanya, aku di kirim ke panti saat lahir ke dunia."
"Selama di panti, aku di rawat dengan sangat baik oleh Ibunda Panti. Namun saat usia ku sudah menginjak dua tahun, seorang pria datang dengan meminta izin untuk melakukan tes DNA."
"Saat itu, hasil yang di lampirkan begitu membuatku terkejut. Karena aku adalah Putri seorang Tuan Misterius yang berprofesi sebagai pembunuh."
Inta memperhatikan ekspresi Malinda yang kali ini membuatnya bertanya-tanya. Kenapa Sahabatnya itu baik-baik saja dalam menjelaskan semua yang dia alami.
"Setelah mengetahui kalau aku adalah putrinya, aku di bawa ke kediaman ini dan di kurung hingga usiaku menginjak Sepuluh tahun."
"Sepuluh tahun?" kaget Inta.
Malinda mengangguk. "Usiaku saat itu baru mengerti, kenapa aku di bawa oleh Ayahku di sini. Bagiku, Vila yang kau tinggali ini adalah penjara Inta. Meski di penuhi semua keinginanku, tetap saja aku akan berakhir di tangan Ayahku."
"Kenapa Ayahmu begitu ingin membunuhmu?" tanya Inta. Rasa penasarannya sudah sampai di puncak.
"Karena aku penerus yang tersisa. Jika aku tetap hidup, semua orang akan menjadikanku sebagai kelemahan ayahku sendiri. Maka Ayahku mengurungku di sini dan akan membunuhku saat tiba nanti. Namun,"
Inta menatap Malinda yang menunjukkan ekspresi seriusnya. "Aku tidak ingin di bunuh oleh Ayahku sendiri. Saat usiaku menginjak dua belas tahun. Aku segera melarikan diri dari sini dengan mengunakan anak buahnya sendiri."
"Siapa yang menduga kalau anak buahnya menjadi pengikutku sekarang. Mungkin, mereka akan menghianatiku."
Kepala Inta menunduk mendengar apa yang sahabatnya katakan. Siapa yang tahu, hidup Malinda lebih mengerikan dari pada senyum ceria yang dia tampilkan.
"Sudahlah, itu saja penjelasan dariku tentang dua marga yang membuatmu penasaran. Sekarang, aku memperlukan keputusanmu."
"Inta, aku tidak bisa menahanmu di sini lebih dari satu bulan. Ayahku, dia akan kembali setelah mengetahui jejakku ini. Vila yang kita tinggali sangat aman dari jangkauan orang lain. Mereka tidak bisa melacakmu karena jaringan di sini akan teracak entah kemana."
"Lalu, aku bisa masuk ke sini karena seperti perkataanku, ini adalah penjara bagiku. Jadi, apa pun yang ada di sini, aku telah mengingat semuanya."
"Jadi, aku menunggu keputusanmu. Setelah satu bulan, berikan jawaban yang tidak akan kau sesali. Aku akan mendukungmu, apa pun itu."
__ADS_1
Malinda bangun dari tempat duduknya. Dia menepuk pundak sahabatnya. "Nikmati waktu bersantaimu untuk menenangkan diri. Aku percaya padamu, Inta."
Inta mengangguk, dia menatap kepergian Malinda yang menunjukkan punggung tegarnya.
"Aku tidak tahu kalau asal usul Malinda semengerikan ini. Pantas saja, dia tidak begitu perduli dengan kekayaan atau pun jabatan. Dirinya sendiri adalah seorang penerus pembunuh." gumam Inta yang kembali menyantap makanannya.
Di luar kamar, Malinda bersandar pada dinding di samping pintu Inta. Seseorang segera mengendongnya dengan begitu hati-hati.
"Nona, sudah saya katakan kepada Anda untuk beristirahat. Kita akan menemui Tuan Besar untuk pengobatan Anda." ucapnya dengan nada kacau.
Malinda tersenyum, kepalanya menggeleng mendengar apa yang di katakan oleh Pria yang selalu ada di dekatnya. "Tidak perlu, aku sudah menunggu waktu ini tiba. Satu bulan, aku akan meninggalkan segalanya."
"Dengar, atur flashdisk yang kalian buat. Setelah itu, aku akan melakukan rekaman untuk mengirimkannya kepada keluarga Park. Atur semuanya sesuai dengan harapanku." ucap Malinda dengan mata yang penuh akan rencana.
Pria yang mengendongnya segera mengangguk kepala. Tatapan matanya sama seperti tatapan Malinda.
...***...
Hari demi hari berlalu hingga sudah dua puluh hari Inta berada di Vila Malinda. Satu hal yang dia tidak bisa tebak, keputusannya.
Selama tinggal di Vila, Inta selalu merasa di manjakan oleh sahabatnya sendiri. Pagi akan di temani sarapan mewah, siang di temani makanan yang membuat dirinya tergoda. Lalu malam harinya akan ada Malinda yang menemani di malam yang indah ini.
Seperti sekarang, Malinda membawanya keluar Vila untuk melihat indahnya bintang di langit.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Malinda sembari melirikkan mata ke arah Inta.
Senyum Inta terangkat dengan terpaksa. "Aku tidak tahu, belakangan ini aku tidak enak badan. Mungkin belum beradaptasi dengan Vila ini." sahutnya.
Dan malam ini, aroma parfum Malinda membuatnya mual seketika.
"Huek!" Inta menutup mulutnya dengan cepat.
Malinda yang mendengar hal itu segera mendekati sahabatnya. Namun Inta menahan Malinda agar tidak mendekat.
"Jangan Mal, aku tidak menyukai parfum yang kau kenakan. Maaf, tampaknya adaptasiku di Vilamu benar-benar buruk. Padahal, tempat tinggalmu ini mewah." ucap Inta sembari menatap ke arah lain.
Malinda mengerutkan alisnya ketika melihat reaksi Inta yang tampak aneh. "Pelayan!"
Dua pelayan pria datang dengan wajah yang begitu datar. Inta melihat mereka segera mundur. "Tidak, Mal bisakah pelayanmu ini menjadi wanita. Aku tidak suka disentuh oleh pria." ceketuknya.
Malinda tercenga mendengar hal itu, dia tertawa beberapa saat hingga pandangannya kembali tenang. "Panggilkan dokter, wanita dan carikan pelayan khusus untuk Inta. Harus wanita dan rahasiakan keberadaan kita."
Dua pelayan itu mengangguk dan segera melangkah pergi meninggalkan Malinda dan Inta.
"Inta, apa kamu sekarang merasa mual yang hebat?" tanya Malinda.
Inta mengangguk dengan berjongkok secara tiba-tiba.
"Baiklah, aku tidak akan mendekat karena parfumku membuatmu mual. Padahal ku tidak mengenakan parfum sekalipun. Mungkin ini karena pewangi pakaian." celetuk Malinda.
"Tunggulah, pelayan wanita akan datang menjagamu." ucapnya.
__ADS_1
Tidak lama, seorang perempuan datang dengan mendekati Inta dan menuntunnya untuk berdiri.
"Bawa dia ke kamarnya, pelayanku akan menuntunkan jalan." perintah Malinda.
Pelayan wanita dadakkan itu mengangguk dan segera pergi bersama dua pelayan Malinda.
"Nona, dokter telah tiba." ucap Pengawal yang datang dengan dokter di belakangnya.
"Hm, dokter! aku ingin kau memeriksa Inta dengan teliti. Berikan hasilnya kepadaku tanpa di ketahui oleh Inta sendiri."
Dokter tersebut mengangguk dan segera melangkah pergi mengikuti pengawal Malinda.
"Nona, video yang Anda minta telah di kirim ke kediaman keluarga Park. Apa ada yang ingin Anda lakukan lagi?" ucap Pria yang selalu berada di samping Malinda.
Malinda menggeleng, dia melangkah menuju kursi halaman Vila untuk duduk di sana. "Baiklah, sepuluh hari lagi. Inta, apa keputusanmu?"
...***...
"Tuan, kami telah mendapatkan informasi kalau Nona Muda berada di Vila tempat Dia di kurung saat itu."
"Itu bukanlah sebuah kurungan!" ucap seorang Pria dengan nada bicara yang begitu berat.
Seseorang yang berbicara tadi segera membungkam mulutnya karena telah salah berbicara.
"Apa yang Dia lakukan saat ini?"
"Menjawab Tuan, Nona saat ini tengah menjaga seorang wanita yang merupakan sahabatnya sendiri."
"Apa Dia tahu kalau kita akan kembali ke Vila?"
"Tampaknya Nona tahu akan hal itu. Dia bahkan mengatur bawahan yang dikendalikan olehnya."
"Putriku memang luar biasa. Aku semakin ingin membunuhnya!"
Langkah kaki yang lebar itu menuju ke sebuah halaman Vila di kota yang jauh. Senyum seorang Pria dengan tatapan tajam bersama alis menukik membuat orang lain takut melihatnya.
Jas hitam yang dia kenakan dengan rambut tertata rapi yang mempesona untuk wanita. Pria itu adalah Ayah Malinda, Qaisar Xiles.
"Tuan Qaisar, mari bermain bersamaku."
"Tidak tuan, mainlah bersamaku."
Goda wanita yang segera menempel padanya. Namun, pria yang di panggil itu menulikan pendengaran. Bahkan kecuekannya tampak jelas hingga para wanita pengoda segera menjauh.
"Dengar, selalu awasi Malinda. Aku akan menjemputnya sendiri sebelum satu bulan itu tiba."
"Dimengerti, Tuan."
Mata Tuan Qaisar menatap ke arah lukisan seorang wanita yang mengenakan topi bundar dengan membelakanginya.
Wanita itu adalah Zarqila Morfos. Wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta hingga melahirkan seorang gadis yang tidak di bunuh olehnya sendiri.
__ADS_1
"Zarqila, aku tidak tahan dengan para keturunanku. Tapi, putri kita ini sangat mampu bertahan hidup dengan menyembunyikan keberadaannya. Tenanglah, tidak lama lagi aku akan mengantar Malinda kepadamu." ucap Pria itu sembari tersenyum.