Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
17 : Berangkat bersama


__ADS_3

Pagi hari yang indah, Inta mengendong tas ransel miliknya. Dia hari ini akan memulai pelajaran dengan keseriusan tinggi, siap untuk menyelesaikan skripsinya.


"Pagiku cerah ku, matahari bersinar...," Inta mengenakan sepatu sambil bernyanyi. "Ku gendong tas hitamku di pundak. Selamat pagi semua, ku nantikan dirimu ... la la la."


Pintu kamar terbuka, Inta melangkah menuju ke kamar Abi untuk menjemputnya. Yeah, dia sekarang bisa bangun lebih pagi, semua itu dilakukan untuk merawat Abi. Rasa sayangnya kepada anak kecil itu begitu besar. Bahkan tidak bisa dia tunjukkan.


Semenjak makan malam bersama, Inta begitu bahagia dengan suasananya. Dia bahkan lupa tentang dirinya sendiri.


"Abi!" panggil Inta.


Pintu kamar segera di buka, terlihat Abi yang sudah rapi dengan seragamnya. Senyum anak kecil itu tampak di wajah dengan uluran tangan.


Uluran itu di sambut lembut oleh Inta yang mencolek hidung Abi. "Ayo sarapan." ajaknya, Abi mengangguk dan mengikuti langkah Inta.


Tiba di meja makan, terlihat seorang pria yang baru saja mendudukkan bokongnya.


"Waah kebetukan sekali, Pagi Daddy!" sapa Inta dengan sedikit menjerit.


Abi maupun Zacry menatap wajah Inta yang berseri-seri. Terlihat seperti seseorang yang barus saja mendapatkan sesuatu.


"Ibu, apa yang membuat ibu bahagia?" tanya Abi yang kini di dudukkan oleh Inta.


"Ibu? Hm ... ibu hanya merasa makan malam kemarin istimewa. Sekarang juga seperti itu," sahut Inta. Dia duduk dan menyantap sarapannya.


"Istimewa, sekarang juga?" Abi menunjukkan eskpresi bingung. Dia terus menatap sang ibu untuk meminta jawaban yang lebih jelas.


Dengan pikiran sesatnya, Inta merangkul Zacry yang ingin menikmati sarapan. "Itu semua karena Ayahmu mau sarapan bersama kita. Yeah, lebih tepatnya Abi bisa sarapan bersama Dadry."


Suasana di meja makan seketika hening setelah ucapan Inta. Mengetahui keheningan itu, Inta melepaskan rangkulannya dan kembali duduk di tempat semula.


"Kenapa malah jadi hening begini." benak Inta.


Abi menatap wajah Ibunya yang kini ikut terdiam. "Ibu, terima kasih." ucapnya.


Inta terteguh mendengar perkataan anak asuh itu. "Haha, terima kasih untuk apa Abi?" tanya Inta dengan wajah bingungnya.


Abi segera menjawab sambil melirik sang ayah. "Ibu menjadi pelengkap di meja makan ini. Lalu, Ayah yang bisa sarapan bersama. Aku, ingin kita selalu seperti ini."


Zacry mengusap kepala Abi dan menyinggirkan remahan roti di sudut bibir anaknya. "Maafkan ayah, ayah tidak bisa sarapan bersamamu seperti dulu. Tapi, ayah akan sarapan denganmu disetiap harinya."


Tanpa diduga, air mata Abi mengalir yang membuat Inta dan Zacry mendekatinya. Kedua orang tua itu segera mendekap Abi dengan pelukkan yang hangat.


"Ayo, jangan menangis Abi." ucap Inta yang terlebih dahulu memeluk Abi.


Zacry yang ingin mengendong anaknya seketika terhenti. Dia hanya bisa mengusap-usap kepala putranya.


Mengetahui hal itu, Inta segera menatap Zacry dan menarik tangannya. "Peluk dia!" ujarnya dengan nada menyuruh.


Zacry pun memeluk Abi bersama dengan Inta. Mereka saling menenangkan hingga Abi berhenti menangis.

__ADS_1


"Terima kasih ayah, ibu." ucap Abi.


Inta dan Zacry menjauhkan diri dan kembali duduk di tempat mereka. Namun, kali ini Inta duduk di samping Abi.


"Sama-sama, ayo makan dan kita berangkat sekolah." ujar Inta. Abi mengangguk dan melanjutkan sarapannya.


Begitu pula dengan Inta yang menyantap kembali sarapan itu.


Zacry diam dengan memperhatikan hidangan yang ada di depan mata. Dia merasa degupan di hati semakin menjadi hingga lirikkan matanya tertuju kepada Inta.


Wanita itu tengah sibuk menghabiskan sarapannya. bahkan cara makannya pun tidak begitu sopan. Namun, Zacry malah menyukainya.


"Ayo berangkat bersama." ajak Zacry tiba-tiba.


Inta dan Abi tercenga dengan wajah yang mirip. Saking miripnya, Zacry sampai menduga kalau Inta lah ibu kandung Abi. Tetapi, pikiran itu segera dia singgirkan. Karena bagaimanapun, Inta masihlah seorang wanita yang belum di sentuh oleh siapapun.


"Aku tidak akan merusak dirinya." benak Zacry dengan tekad yang kuat. Meski pikirannya sudah tidak menentu.


Dengan senyum senang, Inta segera menghabisi sarapannya. "Abi, ayahmu mengajak kita berangkat bersama. Ayo selesaikan sarapanmu, kita akan bersama Ayah!" pekik Inta.


Abi mengangguk dan segera menyelesaikan sarapannya. Melihat semua begitu semangat berangkat bersama. Desiran di hati Zacry semakin menjadi. Dia pun tersenyum kecil tanpa disadari semua orang.


...***...


Seperti apa yang di katakan oleh Zacry. Mereka semua masuk ke dalam mobil dengan Abi duduk di tengah-tengah mereka.


Pak supir yang selalu bersama Zacry, ikut bahagia melihat hal itu. "Tuan, apa kita mengantar Nyonya atau Tuan Muda?" tanyanya.


Tahu kalau Zacry kesulitan menjawab, Inta segera mengantikan dirinya. "Antar Abi saja dulu pak. Nanti Aku baru Dadry." jawabnya.


Pak supir tersenyum mendengar panggilan Inta kepada Tuan Zacry. Bekerja di sini, baru pertama kali dia tahu ada panggilan seperti itu. Dengan anggukkan pelan diberikan pak supir. Roda empat pun berjalan keluar dari area kediaman Zacry Park.


Kediaman Zacry park jauh dari kediaman yang Inta kunjungi. Saat itu, dia mengunjungi kediaman utama keluarga Park. Seluruh keturunan baik Zacry dan Zivta. Kedua orang itu memiliki rumah masing-masing. Lalu, mereka juga mendapatkan perusahaan sendiri yang harus di jalankan. Agar tidak ada yang saling berebut atau merasa diacuhkan.


Tiba di sekolah Abi. Ada banyak ibu-ibu yang memperhatikan kedatangan mereka. Inta melihat jelas bagaimana kepala ibu-ibu menoleh hingga mobil itu berhenti.


Zacry ingin keluar dari mobil tapi Inta dengan cepat menghentikan dirinya.


"Ada apa?" tanya Zacry.


Inta tersenyum dan menatap Abi yang bersemangat untuk sekolah. "Aku saja yang keluar. Nanti para ibu-ibu akan julid dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Lagi pula, aku tidak ingin berbagi wajah tampanmu." ucap Inta.


Pintu mobil terbuka dengan perlahan. Inta keluar dan mengendong Abi untuk turun dari mobil. Pak supir memperhatikan spion belakang. Dia melihat Tuannya tersipu dengan wajah datar itu. Hampir saja Pak supir menjatuhkan salivanya. Dia segera bungkam dan pura-pura tidak melihat apa pun.


Inta melangkah menuju ke depan kelas. Terlihat para anak-anak berkumpul di sana.


"Nyonya Park?" tanya seorang guru paud yang menghampirinya.


Inta tersenyum, dia melirik ibu-ibu yang memperhatikan dirinya. "Iya, aku ibunya." sahut Inta.

__ADS_1


"Ibu? Apa kamu ibu kandungnya?" cibir salah seorang ibu yang menatap dengan pandangan intes.


Inta merasa tertantang dengan orang yang lebih tua darinya. Kesopanan dan menghormati mereka, seketika menghilang.


"Kita semua tahu, Ibu kandung Abi itu tidak ada. Jadi, kenapa kamu mengaku sebagai ibunya." sindir wanita yang lain.


Tidak hanya dirinya, ada seorang ibu yang ikut berpendapat. "Saranku jangan kebanyakkan menghayal mbak, takutnya susah bangun loh. Lagi pula, siapa yang tidak kenal keluarga park. Keluarga yang kaya dan memiliki penerus tampan."


Dia melanjutkan ucapannya dengan mendekati Inta. "Dan Anda hanya seorang wanita murahan tidak akan mampu bersanding dengan pria seperti itu."


Inta tertawa mendengarnya, dia mengusap kelopak mata bagian kanan dan tersenyum. "Iya benar bu, engak bisa bersanding dengan mereka. Bener banget... " katanya.


Para ibu-ibu itu puas mendengar perkataan Inta. Namun, kepuasan mereka menghilang ketika seorang pria datang dengan berdiri di samping Inta.


"Tu-tuan Zacry Park?" kaget semuanya. Inta menoleh dan melihat pria tinggi yang tepat di samping. "Loh, kenapa keluar?" tanya Inta.


Zacry bahagia mendengar apa yang Inta katakan di dalam mobil. Dia jadi ingin mendengar perkataan lain dari Inta. Matanya melirik ke arah sekolah yang terlihat ibu-ibu mendekati Istrinya.


Tidak ingin Inta dan Abi kenapa-napa. Zacry keluar dari mobil dan mendekati keluarganya. "Kamu harus kuliah, Abi belajar dengan benar nak." ucap Zacry.


Abi mengangguk dan segera masuk ke dalam kelas. Para ibu-ibu itu segera tercengir dan menunjukkan ekspresi bersalah mereka.


"Pagi Tuan Zacry." Semua menyapa dengan nada pelan.


Zacry melirik satu-persatu orang yang tidak dikenalinya. Namun, memperhatikan mereka untuk memastikan siapa yang mencibir Inta.


"Sapa juga, Dia istriku ... Nyonya Park." ucap Zacry.


Semua terteguh tidak terkeculi dengan Inta. Dia mendekati Zacry dan memastikan kalau pria itu tidak sedang bercanda.


Para ibu-ibu segera mengangguk dan menatap Inta. "Se-selamat pagi, Nyonya Park." ucap Mereka.


Inta menggeleng kepala, Dia tidak tahu kalau seperti ini jadinya.


"Ah, tidak ... mak-maksudnya, selamat pagi juga." ucap Inta dengan kelagapan.


Tidak tahan melihat wajah ibu-ibu yang tertekan. Inta menarik Zacry untuk kembali pada mobil mereka. Dia masuk terlebih dahulu, lalu di susul oleh Zacry.


"Dadry, apa yang kau lakukan?" tanya Inta. Dia menatap serius kepada pria di depannya.


Zacry melirik Inta dan kembali menatap ponselnya. Sudah ada informasi tentang pekerjaan. "Tidak ada." sahutnya.


Inta merasa kesal dengan jawaban Zacry. Namun, dia juga tidak bisa marah. Karena dia juga ingin membungkam mulut ibu-ibu. Tapi, tidak seperti ini jadinya. "Hah, aku jadi merasa bersalah kepada mereka."


"Apa yang salah, mereka juga harus tahu kalau kau adalah menantu keluarga Park. Istri Zacry Park." kata Zacry tanpa memperhatikan Inta yang tercenga mendengarnya.


Pak supir yang dari tadi di dalam mobil, tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bingung untuk bertindak karena pertama kali melihat pertengkaran Tuan dan Nyonya Park.


"Ta-tapi...."

__ADS_1


"Pak, pergi ke universitasnya." perintah Zacry yang tetap memperhatikan ponselnya. Pak supir mengangguk dan segera menjalankan roda empat itu.


Inta memayunkan bibirnya. Dia menatap ke arah lain dengan wajah menenangkan. Hatinya saat ini tengah berdesir hebat. Seakan ucapan Zacry barusan menjadi penyemangat untuk jantungnya. Tanpa diketahui oleh orang lain, Inta menyentuh dadanya. "Sial, kenapa dengan jantungku." benak Inta.


__ADS_2