Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
23 : keluarga bahagia


__ADS_3

Abi berlari dengan keringat yang sudah membasahi kepalanya. Dia akan meraih rekor tercepat dalam berlari untuk bisa memenangkan lomba besok.


Inta dan Zacry berdiri tepat di depan Abi yang akan tiba tidak lama lagi. wajah bahagia Inta menjadi daya tarik Zacry, dia tersenyum hingga mengenggam tangan sang Istri.


Semenjak pernyataan cinta itu dan pengakuan yang di lakukan oleh Inta. Dia sedikit menyesal setelah mengucapkannya, karena pria di sampingnya ini tampak tidak akan melepaskan dirinya.


“Aku risih tapi juga suka.” benak Inta dengan menghela napas. Dia membalas genggaman tangan Zacry dan memperhatikan Abi yang hampir tiba di garis finish. “Ayo Abi!” semangat Inta.


Mendapatkan ucapan semangat itu, Abi tambah semangat. Dia benar-benar senang karena Ibu dan Ayahnya mau mengajaknya ke taman untuk berlatih.


“Tiga, dua, Satu, YEAH!” pekik Inta mematikan Stopwatch diponselnya. Dia melihat skor waktu yang ada di ponsel itu, “Waah, lihat ini ... skormu keren Abi, kau akan menjadi juara satu dalam lomba lari.”


Abi mengangguk senang, “Hm, Abi akan menjadi juara satu!” semangatnya.


Zacry mengelus kepala Abi dan segera membawa putranya untuk duduk di kursi taman. “Luruskan kakimu, jangan di tekuk nanti kakimu akan kram.” ucapnya dengan memberikan air mineral untuk Abi.


Mengangguk kepala, Abi menyambut botol mineral itu dan meneguknya dengan perlahan.


Inta menatap Zacry yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun, entah kenapa, Inta seakan tahu kalau ekspresi itu sedang bahagia. “Apa dia sebahagia itu dengan pengakuanku?” benaknya.


Berpikir tentang ekspresi Zacry, Inta tiba-tiba mengingat tentang Sahabatnya, Malinda. Tidak ada kabar selama dua hari ini. Dia sempat mencari tahu di kampus, apakah Malinda sedang melakukan suatu perjalanan hingga tidak ada kabar darinya.


Dosen Pemimbing Malinda pun menjawab,“Malinda sedang liburan, jadi dia tidak bisa masuk beberapa hari ini.”


Mendapatkan jawaban itu, Inta akhirnya tenang meski masih tidak bisa mempercayai semua itu. “Mungkin, dia tidak mengkabariku karena lupa.” Benaknya.


“Inta!” seru Zacry dengan menyentuh bahu Inta.


Mendengar seruan itu, Inta tersenyum dan menatap ke arah Zacry. “Hm?”


“Kau tidak mendengar Abi berbicara.” ucap Zacry.


Inta segera menoleh ke arah Abi yang menatap padanya. “Eh, maafkan Ibu sayang. Ada apa hm?” Inta berjongkok dan menatap Abi yang duduk dengan kaki lurus di kursi.


“Ibu, aku mendengar kalau lomba besok tidak hanya lomba lari.” ucap Abi dengan begitu antusias. “Lalu, lomba apa saja yang ada di sana?” tanya Inta.


Abi semangat menjelaskan semuanya. “Ada lomba lari, lomba senam, lomba kekompakkan dan lomba kaki seribu. Ibu, aku tidak tahu bagaimana lomba kaki seribu itu.”


Inta tersenyum, dia segera memegang pundak Abi dan berkata, “Ayo kita berlatih kaki seribu itu.” ajaknya.


Mendengar hal itu, Abi seketika semangat dan berdiri dari tempat duduk. Dia segera menarik tangan ibu dan ayahnya dengan begitu bahagia. “Ayo kita berlatih!”


Inta menatap Zacry yang juga menatap padanya. Sambil tersenyum, Inta menuntun Abi untuk berdiri di depannya.


“Oke Abi, lihatlah kakimu dan lebarkan sedikit.” ucap Inta.


Abi segera melebarkan kakinya dan menatap Inta. “Sudah Bu,” ucapnya.


Anggukkan kepala Inta lakukan, dia segera memegang pundak Abi dan memposisikan diri. Lalu, pandangannya menoleh kepada Zacry yang berdiri tidak jauh dari mereka.


“Dadry, berdirilah di belakangku dan sama-kan barisan kita. Oh ya, pegang pundakku.” ucap Inta.


Zacry yang tadi memperhatikan segera mengangguk dan melangkah mendekati Inta. Dia memegang pundak wanita di depannya dan menyamakan posisi mereka.


“Oke, Abi dengar ... melangkah ke depan dengan kaki kananmu. Lalu Dadry, kau harus melangkah dengan kaki kanan juga ya.” pinta Inta.

__ADS_1


Kedua orang yang di ajak bicara itu segera mengangguk. saat Abi ingin melangkah, Inta segera menahannya. “Tunggu dulu, sebelum melangkah, kita akan saling memberi aba-aba. Aku akan menjadi pemimpinnya. Jika satu, melangkahlah dengan kaki kananmu, oke?”


Abi mengangguk paham dengan apa yang di katakan oleh Ibunya. Dia segera menatap ke depan dan mempersiapkan diri.


“Oke, kita mulai ya, Sa-Tu!” Inta melihat Abi segera melangkahkan kaki kanannya ke depan. Dia menyusul bersamaan dengan Zacry.


“Du-a!” lanjut Inta yang membuat Abi segera melangkahkan kaki kirinya.


Awal mula mereka berlatih, kesamaan tidak bisa terjadi dengan mudah. Inta kadang merasa tidak akan berhasil jika mereka terus seperti ini.


Namun, melihat kebahagiaan Abi, Inta pun kembali bersemangat. “Abi, ayo melangkah dengan kaki seiring. Aku akan menganti kodenya. Bukan lagi SATU tapi KANAN KIRI, oke?”


Abi mengangguk, dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Dia segera menempatkan posisi untuk memulai latihan kaki seribu.


“Oke, Kanan!” ucap Inta dengan tiba-tiba. Dia melangkahkan kaki kanannya dengan cepat hingga Abi terkejut.


Anak kecil itu menatap ibunya dengan wajah bingung. “Ibu, kenapa tiba-tiba?”


Inta tertawa bebas hingga menyandarkan tubuhnya pada Zacry yang ada di belakang. Dia sengaja melakukan itu untuk menghilangkan rasa bosannya. “Bwahahah, maafkan ibu!” ucapnya dengan memegang tangan Zacry.


Abi segera cemberut, dia merasa tidak terima dengan apa yang baru saja ibunya lakukan.


“Hei, jangan cemberut. Oke, Maafkan ibumu ini ya, Abi ya sayang.” bujuk Inta dengan mengusap-usap lembut kepala Abi.


Mendengar bujukkan ibunya, Abi mengangguk dan kembali tersenyum. “Ayo Ibu, hari senja akan tiba.” ajaknya.


Inta mengangguk dan segera bersiap untuk memulai latihan mereka. “Oke baiklah ... ayo!”


Ketiganya memulai kaki seribu itu dengan begitu tenang dan kekompakkan mereka perlahan terbentuk. “Kanan, Kiri,Kanan,Kiri,” ucap Inta sebagai komandonya.


“Ibu, lihat mereka kompak!”


“Waah, mereka lagi bermain apa?”


“Bermain kaki seribu kayaknya, eh tunggu dulu ....”


“Kenapa?”


“Dia bukannya tuan muda keluarga Park? Kalau tidak salah, tu-tuan muda, tuan muda, Ah! Tuan Muda Zivta.”


“Eh bukan, Tuan Muda Zivta tidak memiliki ekspresi seperti itu. Dia pasti Tuan Muda Zacry.”


“Waah ... bukankah mereka pasangan yang baru saja menikah.”


“Jadi iri, ternyata Tuan Zacry bisa seromantis ini.”


Hanya bisa berbicara dari kejauhan. Para ibu-ibu dan bapak-bapak di sana tidak bisa mendekati keluarga yang penuh kebahagiaan itu.


Abi berhenti melangkah ketika mereka tiba di tempat semula. Dia dengan bahagia berbalik badan dan memeluk Ibunya.


“Yeah! Kita berhasil bu.” pekiknya.


Inta segera mengendong Abi dan menatap Zacry yang kini membawa tas kecil yang sempat dia tinggalkan. “Ayo pulang,” ucap Zacry menatap Inta.


Setelah mereka menyelesaikan latihan itu, ketiganya pulang dengan kebahagiaan masing-masing.

__ADS_1


...***...


Mobil berhenti dengan depan halaman sekolah. Semua mata melihat ke arah mereka karena tahu siapa pemilik mobil mewah itu.


“Itu, mobil keluarga Park bukan? Pasti Abi yang membawa orang tuanya.”


“Aku dengar, pria beranak satu itu punya seorang istri. Kira-kira, seperti apa dirinya?”


“Eh, kamu belum pernah bertemu dengan mereka. kalau tidak salah, saat di taman kemarin, aku bertemu keluarga Abi. Oh ya, wanita itu cantik. Tapi, sedikit tomboy?”


Semua pandangan melirik kearah keluarga baru itu. mereka melihat, satu-persatu angota keluarga keluar dari mobil. Mulai dari, Pria yang bernama Zacry, lalu di gendongnya sang Putra bernama Abi.


Saat menunggu kehadiran pasangan Zacry, suara seseorang dari mic membuyarkan perhatian mereka.


“Ehem! Tes,tes! Selamat pagi semuanya.” ucap guru paud wanita yang nama Delfi.


“Baiklah, untuk para keluarga silahkan mencari tempat duduk yang kalian inginkan, tolong jangan memasuki garis kuning yang sudah di buat ya.” Lanjutnya.


Para ibu-ibu itu segera mencari tempat duduk paling depan agar bisa melihat anak mereka. berbeda dengan Inta yang menatap ke arah Zacry.


“Apa kita tidak mencari tempat duduk juga?” tanyanya.


Zacry mengeleng, dia mengenggam tangan Inta dengan tiba-tiba. Ingatlah, Inta masih belum menerima hubungannya ini. meski pernyataan cinta yang saat itu membuat Zacry membalas cintanya.


Tetap saja, Inta tidak bisa menerima semuanya. Dia perlu beradaptasi dulu dengan hubungan mereka.


Melangkahkan kaki menuju ke arah yang berbeda, Inta memperhatikan ke mana Zacry membawanya. “Dadry, kita akan kemana?” tanyanya lagi.


Zacry segera menjawab sambil terus melangkah, “ada tempat duduk yang memang di sediakan khusus untuk keluarga Park. Sekolah Paud ini, milik Keluarga Park.”


Inta tercenga mendengar hal itu, “Seberapa banyak bisnis keluarga Park ini? mereka bahkan membangun sekolah Paud dan mengelolanya dengan baik, hingga ... terkenal.” Benaknya.


Tiba di tempat duduk, Inta melihat tempat yang tidak beda jauh dengan para ibu-ibu yang lain. dia menduga kalau mereka akan mendapatkan perlakuan khusus, nyatanya semua itu hanya sekedar dugaan.


“Keluarga Park memang kaya, tapi mereka tetaplah manusia. Jadi, aku sudah salah mengambil kesimpulan.” Benak Inta dengan kebahagiaan di hati.


Tempat duduk mereka tidak jauh dari para ibu-ibu, bedanya mereka mendapatkan bagian paling depan. Jadi, bisa leluasa melihat lapangan. Meski begitu, mereka tetap duduk di tanah dengan beralas karpet.


Inta menyukai kesederhanaan. Menurutnya, hidup mewah jika tidak memiliki sikap seperti orang sederhana, maka semua itu percuma. Apa lagi, Inta banyak belajar dari Malinda. Bagaimana anak muda itu mengatur uang untuk makan mereka berbulan-bulan.


Jika orang kaya, mereka mungkin tinggal memasukkan apa pun ke dalam keranjang tanpa memikirkan uang. Tapi berbeda dengan pelajaran yang Inta dapat dari Malinda, sahabatnya itu harus meneliti dan memeriksa mana yang berkualitas dan berharga murah. Intinya, kesehatan dan keamanan uang itu penting.


“Sial, aku malah merindukan sahabatku itu.” benak Inta.


“Baiklah, terima kasih kepada seluruh keluarga yang sudah hadir di acara ini. kami sangat berterima kasih dengan semuanya. Mari tanpa berbasa-basi kita mulai acaranya!”


Sorakkan bahagia mengema di sekolah paud. Delfi sebagai guru sekaligus penangung jawab seluruh aktifitas di sekolah ini tersenyum. “Baiklah, pertama kita akan mendengarkan sambutan dari Abi dan akan di susul dengan anak-anak yang lainnya.”


Inta menatap Abi yang berdiri tegap di atas kotak kecil sebagai altarnya. Dia memegang mic dengan bangga dan ekspresi yang sedikit mirip dengan dirinya.


“Anak ini, kenapa senyumnya begitu sama denganku?” benak Inta. Malas memikirkan semua itu, dia kembali fokus mendengarkan apa yang Abi katakan.


“Terima kasih, kepada Ibu Delfi dan semua guru yang lain. selamat ulang tahun untuk Sekolah Paud, kami senang menjadi murid mu dan belajar dari sini hingga lulus nanti.” Sambutan Abi dengan suara khasnya, Imut dan unyu.


Mendengar hal itu, para Ibu-ibu segera memekik senang hingga diredakan oleh panitia. “Mohon maaf, para orang tua di mohon untuk bisa lebih tenang. Sekarang giliran....”

__ADS_1


Inta melirik ke arah orang tua yang baru saja memuji putranya. Ada rasa senang karena ternyata Abi begitu populer hingga ibu-ibu pun menyukai dia. “Abi-Abi, seandainya ibu kandungmu tahu, dia pasti akan cemburu dengan tatapan mengagumkan itu.” benak Inta.


__ADS_2