Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
35 : Z atau Q


__ADS_3

"Dia,"


"TUAN!"


Zacry dan Zivta segera menoleh ketika mendapati seorang supir datang dengan terhenga-henga.


"Ada apa pak?" tanya Zivta sembari menuntun Pak Supir untuk duduk di sofa.


Setelah menenangkan Pak Supir, mereka bertiga saling menatap. "Sekarang, bapak bisa menjelaskan apa yang terjadi." ucap Zivta dengan mengarahkan tangannya.


Pak supir mengangguk dengan helaan napas yang tampak menyiapkan dirinya. "Tuan, Nona Linta sedang dalam bahaya. Dia ... dia,"


Kerutan muncul di antara alis Zivta. "Apa yang terjadi kepada Wanita itu?" tanyanya.


"Nona ditembak pada bagian paha kanannya, lalu dia sedikit aneh karena berteriak hal yang tidak jelas." ucap Pak Supir.


Zivta segera berdiri setelah mendengar semua itu. "Aku akan menjenguknya."


"Aku juga," imbuh Zacry.


Keduanya segera pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, Zivta dan Zacry mengunjungi ruang khusus untuk keluarga Park.


"TIDAK! AKU TIDAK MAU DI SINI!"


"BIARKAN AKU PERGI, AKU AKAN MEMBUNUHNYA!"


"AKU AKAN MEMBUNUH WANITA ITU, DIA TIDAK SEHARUSNYA ADA DI DUNIA INI!"


"DIA AKAN, DIA AKAN, DIA...."


Di luar ruang rawat, Zivta dan Zacry terteguh melihat kondisi Linta yang begitu berantakkan. Di tambah pakaiannya lusuh seakan di robek secara paksa.


"Cari rekaman di mobil, setiap mobil memiliki dashcam. Cepat!" perintah Zivta.


Seorang supir segera pergi untuk menjalankan apa yang di perintahkan.


"Kak, tampaknya Kakak Ipar telah di le-,"


"Diam Zacry! Aku tidak akan memaafkan orang yang telah menyentuhnya!" ucap Zivta dengan amarah yang memuncak.


Melihat hal itu, Zacry hanya diam tidak berniat untuk melawan. Dia tahu Kakaknya menghargai wanita. Meski, tidak ada cinta di pernikahan Zivta dan Linta. Tetap saja, seorang suami tidak ingin Istrinya di sentuh oleh orang lain.


Di tambah, Zivta tidak pernah menyentuh Linta. Maka dari itu, kenapa Zivta bisa seemosi sekarang.


Pak supir yang di perintahkan untuk mengecek dashcam segera kembali membawa memori rekaman.


"Tuan, ini dia." ucap pak supir sembari memberikan memori tersebut.


Zivta segera melangkah menuju ruang lain untuk melihat rekaman yang kini ada di tangannya. Zarcy juga ikut untuk melihat siapa yang telah membuat Kakak Iparnya seperti itu.


Di depan komputer, rekaman dengan cepat terlihat. Semua mata melihat dengan teliti, mengamati hingga menemukan kejanggalan yang terjadi.


"Kenapa bisa dia keluar dari mobil, lalu masuk mobil dengan paksa oleh orang lain?" gumam Zivta.


Dalam rekaman itu, Linta keluar mobil membawa pistol, lalu kembali dalam keadaan berdarah di paha. Di tambah, beberapa orang yang tidak terlihat wajahnya, mendudukkan Linta pada kursi pengemudi.


Setelahnya, mereka menunggu rekaman berjalan hingga tiga puluh menit kemudian, sekumpulan orang mabuk mengetuk-ngetuk pintu.


Dan yang terjadi selanjutnya membuat Zivta memutup mata dengan perasaan kesal. "Kenapa dashcamnya tidak merekam suara mereka?" tanya Zivta.


Pak supir segera menjawab, "saya tidak tahu tuan. Selama ini, semua mobil telah saya cek dan mereka semua aman. Tapi,"


Zivta menatap ke arah komputer yang memperlihatkan Linta hampir di lecehkan oleh kumpulan pria mabuk. Jika pak supir tidak menghajar mereka, Linta mungkin akan menjadi lebih mengerikan.

__ADS_1


"Cih, siapa pelakunya!" kesal Zivta.


Zacry hanya diam menatap semua itu, dia seperti tahu siapa pelakunya tapi tidak yakin mengatakan semua itu. Di dalam rekaman, ada bayangan dua orang yang menjauh. Terlihat dari kaca mobil belakang yang memantulkan cahaya dua orang tersebut.


...***...


Keesokkan harinya, Malinda duduk di sebuah cafe yang tengah ramai di kunjungi semua orang.


Seseorang datang dengan memeluknya dari belakang. Malinda dengan cepat menangkap tangan itu dan mengunci pergerakkannya.


"Hei, ini aku!" ucap Alfazi dengan menepuk-nepuk meja. Dia mengaku kalah dari Malinda.


Melihat bahwa pria yang memeluknya itu adalah Alfazi, Malinda segera melepaskannya dan kembali duduk di kursi yang berbeda.


"Cih, jangan gitu dong!" imbuh Alfazi sembari duduk dengan menatap ke arah Malinda.


"Jadi, apa yang membuatmu ingin kita bertemu di sini? Apa kau akan menerimaku menjadi suamimu?" ceplos Al dengan tersenyum senang.


Malinda mengedipkan matanya sekali dan mengarahkan pandangannya pada Alfazi. Pria itu segera menelan salivanya dengan cengiran untuk menghilangkan rasa cangung.


"Aku membuat pertemuan ini. Karena ini pertemuan terakhir kita. Setelah satu bulan nanti, datanglah kembali dan mari bantu diriku." ucap Malinda.


Alfazi mengerutkan alis mendengar ucapan itu. "Membantu? Terakhir? Emang kau akan ke mana?" tanyanya.


"Aku tidak ke mana-mana, hanya sedang ingin menjaga seseorang. Nanti, tugas itu ku serahkan kepadamu. Dan tentu saja, setiap tugas itu harus kau kerjakan dengan baik." Jelas Malinda.


Seperti sebelumnya, Alfazi tetap bingung mendengar perkataan Malinda. "Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan. Tapi, jika aku bisa membantu, akan ku lakukan untukmu."


Malinda tersenyum mendengar apa yang Alfazi putuskan tentangnya. Dia segera bangun dari tempat duduk. "Bagus ... akan ku beri kabar kepadamu. Aku akan pulang!" pamitnya dengan memasuki sebuah mobil yang sedari tadi menunggu di depan mereka.


Alfazi terteguh melihat mobil tersebut. "Dia memang orang asing jika aku tidak mengenalnya," gumam Alfazi.


Di dalam mobil, Malinda menatap flashdisk yang baru saja di berikan oleh orang kepercayaannya.


Malinda memberikan flashdisk kepada orang di sampingnya. "Edit ulang, jangan masukkan adegan aneh itu. Cukup tampilkan apa yang terjadi di luar ruangan. Tapi, kenapa bisa seseorang menaruh rekaman di dalam ruang VIP?"


"Menjawab Nona, ruang VIP yang di gunakan oleh Sahabat Nona, adalah ruang yang akan menjadi tempat khusus untuk seorang artis. Namun, mereka tidak tahu kalau ruangan itu telah digunakan oleh mereka."


Lirikkan mata Malinda terpaku pada jalanan yang tampak ramai. "Bagaimana kabar Ayahku? Apa kalian tahu lokasinya saat ini?"


"Menjawab kembali Nona, saat ini Tuan Besar sedang ada di kota lain. Mungkin dia akan lama kembali. Seperti dugaan kita, satu bulan adalah waktu untuk kita berada di kediaman utama keluarga Q."


Mata Malinda terpejam dengan kepala bersandar. Dia menghembuskan napas lelahnya hingga orang kepercayaannya itu menuntun kepala Malinda untuk bersandar di bahunya.


"Tidurlah Nona, hari masih panjang untuk Anda." tuturnya.


Malinda tidak tersenyum, terpancing bahkan merasa tergoda mendengar perkataan manis itu. Dia lebih memilih untuk memejamkan matanya agar bisa beristirahat. Namun, sesuatu mengalir di hidungnya.


"Nona, ini!" ucap Pak supir memberikan sapu tangan yang berwarna putih bersih.


Tidak ada niat untuk mengambil kain putih itu. Malinda lebih memilih untuk mengusap hidungnya dengan tangan.


"Tunggu Nona, tangan Anda bisa kotor." ucap seseorang yang sedari tadi banyak bicara. Dia mengambil sapu tangan itu dan mengusapnya di hidung Malinda. Darah membekas di sana dengan begitu indah menghiasi kain putih tersebut.


"Cepatlah pulang, Inta akan kesepian jika aku tidak kembali." ucap Malinda.


Semua mengangguk dan mobil pun segera melesat dengan kecepatannya.


...***...


Di rumah sakit, Zivta dan Zacry masih harus menyelidikkan apa yang terjadi kepada Linta. Mereka tidak beristirahat dari tadi malam.


Keduanya menatap peluru yang berbeda dari lainnya. Peluru itu di buat khusus untuk menyimpan racun.

__ADS_1


"Dari mana benda ini bisa masuk ke kota kita? Lebih tepatnya negara kita?" tanya Zivta dengan perasaan heran.


"Sepertinya, beda ini berasal dari kumpulan gangster?" tebak Zacry. Dia tidak pernah berurusan dengan para Mafia ini. Meski Gangster tidak mungkin ada di negara mereka.


"Tidak, jawaban kalian salah." ucap seorang dokter yang khusus berkerja sama dengan keluarga Park.


"Ini adalah peluru yang di buat untuk para b*jing** bawah tanah. Mereka mafia yang haus akan kekuasaan dan jabatan. Dan lihat ini, marga Q terselip di antara racun dan timahnya." jelas dokter tersebut.


"Jadi, apa maksud dari tembakkannya ini?" tanya Zivta. keluarga mereka tidak berurusan dengan para Mafia. Tidak mungkin, Kakek terdahulu memiliki perkelahian hingga para Mafia menganggu mereka.


"Cuma gertakkan. Jika dia memiliki niat untuk membunuh, racun ini sudah menyebar di tubuh istrimu. Sepertinya, ini teguran yang Dia lakukan agar Istrimu tidak membuat masalah dengannya." Jelas dokter kembali.


"Dan lagi, mafia tidak akan membunuh orang seperti ini. Dia pasti menyiksa orang tersebut sebelum benar-benar menghabisi nyawanya." sambungnya.


Zivta dan Zacry mengangguk. Mereka menganggap kalau ini merupakan pertengkaran antara Linta dan orang asing yang tidak mereka ketahui.


"Lalu, apa Istriku baik-baik saja dokter?" tanya Zivta.


Gelengan kepala dokter membuat Zivta menjadi tidak tenang. Dia merasa sesuatu akan memberinya tamparan keras.


"Istrimu secara fisik baik-baik saja, hanya mentalnya yang terusik. Seseorang telah membuat mentalnya jatuh hingga seperti ini." jawab Dokter.


Zivta terdiam mendengarnya. Tidak habis pikir olehnya, seorang wanita yang dulu seperti pengemis. Kini menjadi wanita yang hampir di ambang gila.


"Siapa orang yang membuat Linta seperti ini?" gumamnya.


...***...


Seorang wanita baru saja baru tidur dengan tubuh yang kembali segar.


"Hoaam! Tidur di kamar ini terasa seperti di istana."


Inta bangun dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya. Air mata itu benar-benar lengket di wajah. Setelah membersihkan diri dan melihat penampilannya, Inta tersenyum pada sebuah cermin.


"Aku tampak bahagia!" ucapnya. Meski begitu, hatinya tidak seperti apa yang dia katakan. Dia masih dilanda kecemasan mendalam hingga saat ini, berpura-pura ebih baik untuknya.


"Kau sudah bangun?"


Inta segera menolehkan kepala untuk melihat Malinda yang datang dengan membawa paper bag di tangannya.


"Hei, pagi!" sapa Inta sembari mendekati ke arah sahabatnya.


"Jangan berpura-pura tegar di depanku. Aku tahu kau saat ini masih belum bisa menerima semuanya. Di dalam hatimu, kau bertanya-tanya. Kenapa kau bisa berakhir sebagai Istri Zacry Park? Itu lah yang ada di hatimu."


Inta yang mendengar hal itu segera menundukkan kepalanya. "Aku tidak bisa membohongimu, Malinda."


"Aku sahabatmu, kenapa kau harus berbohong kepadaku. Sudahlah, duduk di sini dan nikmati nasi gorengmu yang ku beli di tempat langanan kita."


Inta melihat Malinda duduk di sofa yang memang berada di dalam kamarnya. Sofa itu juga terdapat meja yang seperti ruang tamu.


Dua bungkus nasi goreng terhidang di depan mata Inta. "Aku tidak tahu kalau paper bag mewah itu berisi nasi goreng."


Malinda tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Inta. "Jangan menilai apa yang ada di luarnya. Oh ya, apa ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?"


Inta terteguh mendengar perkataan Malinda. "Bagaimana kau tahu kalau aku ingin bertanya padamu?"


"Mudah saja, kau pasti tidak tenang karena mendapati sahabatmu bisa tinggal di tempat seperti ini." sahut Malinda.


"Benar, aku penasaran padamu Malinda. Siapa kau dan kenapa kau memilih untuk menjadi seorang anak biasa yang tidak memiliki apa-apa,"


"Yang ku ingin tanyakan, Margamu. Apa margamu itu Z atau Q?" tanya Inta.


"Makanlah, aku akan menjawab semua pertanyaanmu," ucap Malinda.

__ADS_1


__ADS_2