Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
30 : Usia 17 Tahun


__ADS_3

Perlahan mata Inta terbuka. Ada sesuatu yang menganggu pendengarannya.


"Dengar Inta, lakukan dengan benar ya." ucap seseorang berbisik di telinga.


Inta tidak melihat jelas siapa yang telah berbisik padanya. Yang terpenting, kenapa dia berada di sebuah ruangan aneh ini.


Pintu kamar berwarna coklat itu menarik perhatian Inta. Dia saat ini terkejut dengan keadaannya sendiri. Di mana, pintu kamar itu terbuka oleh tangannya.


'Apa yang ku lakukan?' Pikir Inta saat dia memasuki ruangan tersebut.


Kegelapan muncul seketika, dia menjadi panik hingga melirik ke segala arah. 'Di mana, tolong! Tolong aku!' pikir Inta dalam jeritannya.


Tiba-tiba, cahaya putih muncul dengan menampilkan sosok pria yang ada di atas tubuhnya. Napas terhenga-henga hingga sesuatu yang penuh terasa diantara kakinya. Inta tahu, bahwa dia di sini sedang melakukan hubungan terlarang.


"Tidak, jangan!"


Pekik Inta dengan duduk tiba-tiba. Dia mengatur napasnya agar terpompa dengan normal.


"Inta, apa yang terjadi?" tanya Zacry. Dia memeluk Inta sedari tadi. Tetapi, mendengar Inta yang memekik membuatnya ikutan kaget.


Inta melihat wajah Zacry yang begitu datar. Ada ketenangan melihat wajah suaminya. Dengan perlahan, Inta mendekat dan memeluk Zacry.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Zacry sembari mengusap-usap punggung Inta.


Gelengan kepala Inta berikan. Dia tidak bisa mengatakan mimpi yang baru saja dia alami. Semua terasa nyata, apa lagi hubungan yang terjadi itu.


"Apa yang terjadi, saat aku berusia 17 tahun." benaknya.


Pagi yang indah memberikan kebahagiaan kepada orang-orang. Tapi, tidak dengan Inta yang menghela napas. Langkah kakinya begitu malas untuk menuju ke kelas.


"Ada apa denganmu?" tanya Malinda yang berjalan berdampingan dengan Sahabatnya.


Inta menggeleng sebagai jawaban. Dia tidak memberikan respon lain.


Setiba di dalam kelas, kesunyian yang Inta buat benar-benar terjadi hingga kelas mereka berakhir.


Di Gazebo kampus. Inta duduk dengan membaringkan kepalanya di atas meja.


"Kau tampak lesu, katakan saja apa yang terjadi." ujar Malinda.


Inta segera mengeser posisi kepalanya untuk melihat Malinda. "Ada sesuatu yang telah terjadi. Malinda, apa kau ingat saat usiaku 17 tahun yang lalu?"


Malinda menggeleng, "Tidak ada yang ku ingat saat usia 17 tahun. Namun, ada satu bayangan yang menghantuiku. Saat itu, aku merasa tengah mengejar sesuatu dan di saat itu juga, aku mendapatkan pukulan di kepala."


Rasa malas yang ada di hati Inta seketika berubah. Dia duduk tegap dan menatap sahabatnya dengan begitu serius.


"Jadi, pasti telah terjadi sesuatu diusia 17 tahun itu. Aku yakin, aku telah melewatkan sesuatu." ucap Inta.


Malinda hanya mengangguk-angguk kepala. "Lalu, apa yang membuatmu murung sekarang."


Inta menghela napas pelan. "Aku memimpikan seorang pria yang datang dengan melakukan hubungan serius. Kau tahu kan hubungan yang ada di kasur itu."


Malinda terteguh mendengar perkataan sahabatnya. "Hubungan seperti itu, ada di mimpimu?"


Anggukkan kepala Inta berikan. "Iya."

__ADS_1


"Sudahlah, itu pasti hanya sebuah mimpi. Mungkin, ada sesuatu yang terpendam di dalam dirimu dan kau ingin merasakannya. Jadi, mimpi itu pun mewujudkan apa yang kau inginkan." tutur Malinda.


Inta bungkam kembali. Dia mengerti tentang ucapan itu. Namun, tidak mungkin mimpi seperti ini di inginkan olehnya. "Tidak seharusnya aku mimpikan semua itu. Apa ini terjadi karena ingatanku yang hilang?" benak Inta.


Setelah perbingcangan itu, Inta memutuskan untuk mengistirahatkan diri di rumah. Dia ingin menenangkan pikiran dan mencari tahu alasan semua ini terjadi.


Setiba di ruang tamu, Inta terkejut melihat seorang wanita duduk sembari menyeduh teh hangat.


"Inta, sudah kembali dari kampus?" ucap Linta.


Wanita itu bangun dan menghampiri Inta dengan senyum yang hadir di wajahnya. "Keponakkanku masih berkuliah? Ah tidak, seharusnya aku bertanya bagaimana kau bisa berkuliah sayang?"


"Bibi, jangan berbicara seakan-akan aku ini orang yang tidak mampu mengejar pendidikanku." sanggah Inta.


Linta tersenyum dengan mengangguk-angguk kepala. "Bukan tidak mampu, bukankah di usiamu 17 tahun saat itu. Kau masih menginjakkan kakimu di kursi SMK."


Inta mengerutkan alis mendengar penuturan Bibinya. Dia menatap tajam sembari berkata, "Jika bibi tahu semua yang terjadi, kenapa bibi tidak menceritakannya saja kepadaku."


"Aku ingin menceritakannya. Namun, jika terjadi sesuatu kepadamu. Maka, suamimu itu akan mengusirku, hahaha." Ketawa Linta menggema di dalam ruangan.


Inta semakin yakin, pasti telah terjadi sesuatu padanya saat itu.


Linta tersenyum melihat wajah Inta yang tampak gelisah. "Apa kau ingin ku beritahu sesuatu, hm?"


Tidak ada jawaban yang bisa Inta berikan. Dia yang mendapati sang bibi mendekat dengan wajah bahagia, membuatnya gelisah hingga ketakutan muncul dibenaknya.


"Tanamkan ini di dalam otakmu, Kamar VIP!" ucap Linta yang kemudian pergi meninggalkan Inta.


Ucapan Bibinya itu bagai sihir yang selalu terbayang-bayang dalam ingatannya. Langkah kaki yang tidak menentu, membawa Inta menuju kamar Zacry.


Dibuka pintu kamar hingga terlihat seorang pria yang mengenakan jas rapi sembari mengikat dasi. Inta mendekatinya dengan wajah gelisah.


Pria tinggi itu tidak memperhatikan wajah Istrinya. Saat Inta memeluk dari belakang, Zacry segera menghentikan kegiatannya.


"Ada apa, apa terjadi sesuatu?" tanya Zacry. Dia melepaskan pelukkan Inta dari belakang. Menuntun wanita yang dicintai untuk memeluknya dari depan.


Wajah Inta bersembunyi diceruk leher Zacry. Menghirup aroma tubuh dari sang pria untuk menenangkan pikirannya.


Zacry mengusap lembut kepala Inta. Belaian demi belaian dia berikan hingga tanpa sengaja mendapatkan beberapa helai rambut istrinya.


"Inta, aku tidak bisa mengatakan kejangalan di hati ini. Ku harap, kau akan memaafkanku nanti." benak Zacry menyimpan rambut tersebut secara diam-diam.


Inta melepaskan pelukkannya setelah merasa tenang. Dia tersenyum dan memberikan kecupan singkat di pipi Zacry. "Dadry, maaf menganggu ya. Hehe," ujarnya yang kemudian melangkah pergi.


Akan tetapi, Zacry menahan tangan Inta dan menariknya. Wajah keduanya saling bertemu dengan napas yang berhembus secara bersamaan.


"Kurang, kau hanya mencium pipi ini." Zacry menunjuk pipi kanan yang baru saja Inta cium.


Mengetahui tingkah kekanakan Zacry, Inta segera memberikan kecupan di pipi kirinya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Zacry.


Kepergian Inta membuat pria bernama Zacry Park itu menatap datar. "Ini hanya dugaanku, jika kau benar ibunya Abi. Maka ... mimpi yang ku alami bersama seorang wanita. Dia adalah dirimu, Inta." gumamnya.


Inta melangkah dengan perasaan yang sedikit tenang. Dia ingin mengunjungi Abi untuk mengajaknya bermain. Sesekali menghilangkan stres karena masalahnya barusan.


Namun, langkah kaki Inta terhenti ketika sesuatu hal aneh terlihat di benaknya. Kamar Abi, persis seperti kamar yang ada di dalam mimpi.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Inta melihat jelas hal aneh itu. Dia mendapati di pintu ada sebuah tulisan Kamar VIP seperti perkataan Bibinya.


Seketika itu juga, kepala Inta merasakan rasa sakit yang begitu kuat. Dia segera menjatuhkan dirinya di pintu Abi.


Tidak ingin ada orang yang melihat keadaannya ini. Inta segera melangkahkan kaki menuju ke kamarnya. Dia dengan kaki lebar meninggalkan ruangan yang di mana, Zacry baru saja keluar.


Pintu kamar segera di tutup, terkunci dengan cepat oleh Inta. Rasa sakit di kepalanya itu membuat Inta meringkuh.


"Agh! Sakitnya." gerutuk Inta.


Semakin menekan kepala yang sakit, Inta malah merasakan rasa yang begitu mengerikan. Dia tidak tahan dengan rasa sakit kepalanya hingga membuat pandangan gelap muncul seketika. Tanpa terasa kesadaran Inta menghilang.


...***...


Malinda menatap malas melihat seseorang datang menghampirinya.


"Hallo, Malinda." sapa Zivta dengan membawa makanan di tangan. Dia mengendong Abi yang melambaikan tangan kepadanya.


"Oh, kenapa bisa Abi ada bersama Anda?" tanya Malinda yang mengambil alih gendongan.


"Paman membawa Abi jalan-jalan Tante Mal. Dia bilang kalau Abi akan bertemu Tante Mal di sini." Abi mengunyah krepes yang ada di tangan.


Ucapannya menghadirkan kerutan di antara alis Malinda. "Tuan Zivta punya waktu membawa Abi bermain. Apa itu bisa di bilang sebagai waktu luang keluarga? Atau ada maksud lain di dalamnya?"


Zivta tersenyum, dia tidak akan berbohong sekarang. "Hm, ada maksud lain kok. Alasanku utamaku adalah menemuimu." sahutnya.


Malinda segera mengubah ekspresinya menjadi datar dengan pandangan tenang. Hal itu membuat Zivta terteguh.


"Anda sudah menikah. Jangan melakukan sesuatu yang merugikan diri Anda sendiri. Tuan Zivta, singgirkan perasaan Anda kepadaku." tutur Malinda.


"Kau langsung mengetahuinya, kenapa menyuruhku untuk menyinggirkan perasaanku. Aku berhak memutuskan seperti apa yang harus ku lakukan. Malinda, yang perlu kau tahu, kalau aku mencintaimu." ucap Zivta.


Keramahan pria itu membuat Malinda merindik ngeri. Dia sebenarnya tidak tega jika sudah mengetahui perasaan seseorang. Contohnya, Alfazi yang belakangan ini selalu mendekatinya.


Meski begitu, kedua pria ini tidak memaksa Malinda untuk membalas cinta mereka.


Akan tetapi, jika keduanya bertemu. Mereka seperti teman di depan,musuh dibelakang. Keduanya akan saling beradu kekuatan jika bertemu.


Seperti sekarang, tanpa ada angin atau hujan. Alfazi datang membawa motor kesayangannya. Mereka saat ini berada di taman. Yang memiliki lokasi khusus orang-orang berjualan.


Dikeramaian ini, ada alasan khusus kenapa Malinda berkunjung ke sini.


"Hai Malinda!" pekik Alfazi dengan lambaian tangannya. Dia mendekati Malinda dan segera memeluknya tanpa basa-basi.


Zivta dan Abi membelak melihat tingkah laku Pria aneh itu. Berbeda dengan Malinda yang memandang wajah datar.


Dia selalu memberikan pukulan di wajah pria ini ketika memeluknya secara tiba-tiba. Namun, tidak ada rasa kapok untuk Alfazi. Jadi, Malinda sudah lelah memberikan pukulan itu dan berakhir membiarkannya.


Zivta tidak senang ketika orang yang dia sukai dipeluk begitu saja. Dia segera memisahkan Malinda dari Alfazi.


Alfazi terteguh mendapati Malinda yang ditarik secara tiba-tiba. Dia mengerutkan alisnya melihat tangan Zivta mengenggam bahu Malinda.


"Lepaskan tanganmu!" perintah Alfazi.


Zivta yang memiliki sikap ramah dari lahir, tiba-tiba mengubah ekspresinya. "Kau lah yang menjauh dari Malinda."

__ADS_1


Malinda menatap Abi yang kesulitan makan. Dia juga merasa risih dengan dua pria yang begitu gila ini. Dia segera menjauh dari keduanya.


"Lanjutkan saja perkelahian kalian, Aku pergi!"


__ADS_2