
(🚫⚠️ Bagian ini mengandung unsur dewasa, mohon bijak dalam membaca⚠️🚫)
Zacry penasaran, kenapa Istrinya itu tidak tidur di jam seperti ini. Meski Abi libur sekolah, Inta tidak mendapatkan jadwal libur karena mempersiapkan skipsinya.
Namun, semua rasa penasaran Zacry terjawab. Wanita itu tengah menunjukkan sesuatu padanya.
Pakaian yang berjubah, menampilkan lekukkan tubuh Inta karena transparan. Di tambah, wanita itu mengurai rambut pendeknya, hingga Zacry merasa hasratnya terlepas begitu saja.
Saat masih dalam posisi berdiri, Zacry mendengar pintu kamar lain dibuka. Dia segera masuk ke kamar Inta dan menutup pintu kamar tersebut.
Abi, melihat sekeliling karena mendengar suara Ibunya. Dia terbangun saat ingin membuang air kecil. "Apa tadi itu ibu?" benaknya. Dia masuk kembali dan bergegas tidur.
Di dalam kamar, Inta bernapas tidak beraturan karena dia berada dalam pelukkan Zacry. Ada sesuatu yang menganggu dirinya.
"Tu-tu-tu,"
Mendengar Inta kelagapan, Zacry menjauhkan diri dan melangkah menuju sofa kecil. Dia duduk di sana dengan membelakangi Inta.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Inta melihat Zacry seperti itu merasa kesal. Dia seketika terlihat seperti wanita yang tidak menarik untuk Zacry. Padahal keduanya sudah saling menyatakan cinta.
"Ini tantangan Malinda. Dia menyuruhku menunjukkannya kepadamu." sahut Inta.
Kamarnya ini, dibuat kedap suara. Sama dengan kamar Zacry. Sebenarnya, kamar ini akan di gunakan oleh Zivta. Namun, Zivta tidak menerimanya. Jadi, Inta lah pemilik kamar ini.
"Hal bodoh apa yang Kakak Ipar katakan. Sudah, ganti pakaianmu!" perintah Zacry dengan sedikit penekanan. Dia sedang mengontrol diri agar tidak lepas kendali.
Namun, Inta bukannya menurut. Dia malah semakin merasa kesal. Di pikirannya saat ini, Zacry tidak tertarik dengannya.
Langkah lebar Inta ambil, dia segera berdiri di depan Zacry dan melihat pria datar yang tengah duduk.
"Apa aku tidak menarik untukmu?" tanya Inta.
Zacry yang mendengarnya terkejut. Dia segera memalingkan wajahnya. "Kau salahpaham."
"Salahpaham, lihat aku Tuan Zacry!" seru Inta.
Zacry tidak menoleh sekali pun meski Inta memanggilnya Tuan. Inta segera menaiki pangkuan Zacry dan mengalungkan tangannya diceruk leher.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Zacry.
Seolak tuli, Inta memberanikan diri mencium benda kenyal yang baru saja memekik itu.
Merasa benda kenyal yang membentur bibirnya, Zacry mengeram hingga menjatuhkan Inta di lantai.
"Inta, kau tidak akan menyesalinya bukan?" tanya Zacry saat ciuman mereka terlepas.
Inta yang tipe wanita penuh tantangan, mengangguk. Dia tidak akan takut apa pun selama semua itu sudah ada kebenarannya.
Di dalam pikiran Inta, dia adalah istri Zacry. Jadi, dia tidak akan di sebut pelakor atau apa pun itu.
Melihat Inta mengangguk, Zacry melepaskan seluruh kekangan diri. Dia segera menunduk dan menghirup aroma tubuh Inta dan mencium ceruk leher wanita itu.
Sentuhan dalam ciuman singkat membuat Inta merasa geli. Dia sedikit terkekeh mendapati perlakukan Zacry.
"Aku mungkin, sedikit kasar." ucapnya memberitahu.
__ADS_1
Inta lagi-lagi mengangguk. Hal itu membuat Zacry tersenyum dengan tatapan berbeda. Dia mengendong Inta dan segera berpindah tempat.
Kasur queen itu menjadi saksi malam ini. bagaimana Zacry melahap Istrinya.
Perlahan, tangan Zacry bermain di area bergumpal yang ada di dada. Inta merasa geli hingga tangannya menahan permainan Zacry.
Tidak tinggal diam, Zacry mencari tempat sensitif Inta yang kini dalam genggamannya. Dia mencium hingga memberikan tanda kepemilikkan yang akan dilihat oleh orang lain, jika Inta tidak mengatur cara berpakaiannya.
Memikirkan hal itu, Zacry menurunkan sedikit pemberian tanda, pada dada yang mendekati gumpalan kembar.
Puas bermain di sana, tangan kanannya menyusuri lekukkan tubuh Inta. Hingga berhenti di tempat yang begitu basah.
Dengan hati-hati bersama kewarasan yang tersisa. Sebisa mungkin Zacry mengontrol permainannya.
"Shtt! Apa yang kau masukkan?!" tanya Inta dengan mata penasaran. Dia segera mengangkat kepala dan melihat, apa yang ada di sana.
Permainan jari itu hanya sebagai pemanasan. Zacry mencoba memberi satu jari lagi untuk bisa memasukkan miliknya.
Inta mengeram, dia dengan cepat memegang selimut dan mencengkramnya. "Gila, apa yang dia lakukan?" benak Inta.
Puas di sana. Zacry menatap wajah Inta yang memerah. Dia mendekat dan memberikan ciuman secara lembut. Ciuman itu di mulai dari jidat, kedua mata hingga bibir Inta.
"Inta, boleh?" tanya Zacry lagi. Dia tidak mau Inta menyesal saat keesokkan harinya.
Inta mengangguk, dia tidak akan mempermasalahkan semua ini. Baginya, status mereka jelas, Sebagai suami istri.
Zacry mendapat persetujuan itu, segera memasukkan miliknya yang sudah menanti-nanti. Perlahan dan pasti, dalam sekali hentakkan dia masuk lebih dalam.
"Agh!" pekik Inta hingga tubuhnya melengking setelah menerima serangan itu.
Disaat seperti ini, Inta berucap. "Bagaimana, apa perawan membuatmu kewalahan Tuan Zacry."
"Perawan?" Zacry bergumam. Dia melihat tidak ada tanda-tanda kalau Inta masih perawan. Di tambah, bagian privasi wanita itu sudah pernah disentuh oleh orang lain.
Memikirkannya, membuat Zacry menjadi cemburu. Dia menghentakkan diri dan mulai memainkan permainannya.
Inta menduga, kalau Zacry sedang senang. Dia tidak tahu, kalau saat ini pria itu sedang termakan api kecemburuan.
"Sial, siapa pria beruntung itu. Dia mengambil milikku, sebelum aku yang mengambilnya." benak Zacry. permainannya semakin dipercepat hingga Inta kewalahan.
"Da-dad-dadry, pelan-pelan!" pinta Inta dengan suara merdu di akhir. Zacry menulikan pendengarannya dan tetap memulai aksi.
Pakaian yang sudah terlepas dari tubuh yang membiarkan keringat membasahi mereka. Setelah beberapa permainan dilalui, barulah keduanya beristirahat dengan Inta berbaring di atas Zacry.
"Lain kali, jangan menerima tantangan seperti itu." ucap Zacry dengan mengusap wajah Inta.
Inta mengangguk dengan mata tertutup. Dia merasa milik Zacry masih tertanam di sana. "Kenapa, tidak keluar?" tanya Inta.
Zacry mengusap kepala Istrinya dan menjawab, "Biarkanlah dulu. Tunggu sampai mereka memasuki tempat yang seharusnya. Aku ingin, kau mengandung anakku, Inta."
Dengan cepat Inta mengangkat tubuhnya. Sesuatu yang masih tertaut itu, masuk lebih dalam. "Uh!" Inta meringis seketika.
"Diamlah," Zacry kembali membaringkan Inta. Dia tidak ingin besok pagi, Istrinya sakit karena ditikam olehnya.
"Aku tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu, Zacry. Aku belum lulus kuliah." kata Inta yang seketika itu juga membuat Zacry menjadi bingung.
"Aku tahu nafsu laki-laki pasti bisa lepas kendali. Tapi, bisakah kau membeli pengaman untuk berjaga-jaga. Zacry, aku akan mengandung anakmu ketika aku sudah mendapatkan gelarku." lanjut Inta.
__ADS_1
Zacry mengangguk dan mencium puncak kepala Istrinya. "Baiklah, maafkan aku. Semoga, yang ini tidak berhasil ya." ujarnya.
Inta mengangguk dan memilih untuk diam. Kediamannya menghadirkan dengkuran kecil yang membuat Zacry tersenyum. "Inta, aku tidak akan melepaskanmu. Kau, adalah orang yang ku cintai." gumam Zacry.
Selimut ditarik dengan perlahan. Tautan segera dilepaskan dan mereka saling tertidur dalam pelukkan hangat.
...***...
Pagi yang indah menyambut. Malinda turun dari motor seorang pria yang membawanya. Dia adalah Alfazi.
"Kemarikan helmnya," ucap Alfazi dengan begitu ramah.
Keramahan ini menjadi perubahan pertama Alfazi terhadap Malinda. setelah kejadian itu, Malinda merasa kalau pria ini mulai mendekatinya.
"Nih!" Malinda menyodorkan helm dengan cepat, dia melangkah meninggalkan Alfazi yang masih sibuk memarkirkan motor.
"Eh, Mal! Tungguin aku!" pekiknya.
Tidak hanya itu, panggilan mereka bukan lagi, Lo Gua. Melainkan, Aku dan Kau. Tampak seperti teman dekat.
"Merinding aku, membayangkan kalu dia terus memanggilku, kau, kau, dan kau." gerutuk Malinda.
Saat keluar dari area parkir, halaman sekolah sedang dikerumuni orang-orang. Malinda yang melihat itu mendengus.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Alfazi melangkah di samping Malinda.
Mengangkat bahu tanda tidak tahu, Malinda tetap menatap lurus ke depan tanpa menoleh. Sedangkan, Alfazi mengerutkan alisnya ketika matanya melihat sesuatu.
Di dalam kelas, sambil menunggu dosen. Malinda harus duduk bersama Alfazi. Dia sebenarnya tidak ingin tapi pria itu seperti sebelumnya, selalu mendekat.
"Eh, Mal, kau tahu kan keluarga Margatha?" tanya Alfazi.
Malinda yang tengah memeriksa ponselnya segera menoleh. "Kenapa? Kau ingin menjadi pelayan di sana?" cibirnya.
Alfazi seketika mendatar mendengar cibiran itu. Mulut Malinda benar-benar mengerikan.
"Hei, aku membicarakan hal serius. Saat kerumunan tadi, Mataku tidak sengaja melihat seseorang." ucap Alfazi kembali pada topik pembicaraannya.
Malinda hanya mengangguk-angguk kepala. Dia malas menceritakan orang lain. Yang ada dipikirannya, bagaimana keadaan Inta.
"Apa, Inta di tikam hewan buas?" benak Malinda. Dia merasa jijik memikirkan hal kotor yang tidak pernah dialami. Tapi, tidak mungkin orang menikah belum melakukan itu kan? Oke, lupakanlah.
"Kau tahu, orang itu ialah...," Alfazi ingin melanjutkan ucapannya.
Namun, pintu kelas terbuka dengan menampikan seorang pria mengenakan pakaian ala dosen. Dia tersenyum dan melangkah masuk.
"Selamat pagi, semuanya."
"... Zivta Park," sambung Alfazi.
Malinda terkejut melihat kedatangan pria itu. Dia mengerutkan alis dan segera menatap ke arah lain.
"Oh, hai Malinda!" sapa Zivta dengan lambaian tangannya.
Malinda hanya tersenyum dan mengangguk. Dia merasa harinya akan menjadi buruk.
"Huh, menjengkelkan." gerutuknya.
__ADS_1