
Di ruang tamu, seorang dokter duduk dengan membereskan perlengkapannya.
"Nona,Nona yang saya periksa telah mengandung dengan usia dua minggu. Janinnya pun sehat dan ibunya juga. Hanya, sangat di harapkan untuk menghindari stres dan makannya harus ditambah. Agar janinnya berkembang dengan cepat." jelas Dokter.
Malinda mengangguk-angguk kepala sembari menikmati minuman dinginnya. "Karena usianya dua minggu, apa yang baik ku berikan kepadanya."
"Buah-buahan, sayur-sayuran dan hindari hal-hal berbau soda. Dan satu lagi, harap tidak memakan nanas muda, itu akan membunuh janinnya." sahut Dokter.
Malinda lagi-lagi mengangguk. Dia senang mendengar kalau Inta tengah hamil. "Baguslah, dengan begitu, aku mendapatkan dua keponakkan. Semoga, aku bisa melihat wajah keponakkanku."
Di saat dia tengah bersenang-senang. Inta yang ada di dalam kamar merasa sedih. Ada rasa rindu yang muncul di hatinya.
"Tidak Inta, kau harus menahan dirimu." gumamnya.
Meski berucap seperti itu, dia tetap saja merasa kerinduan yang mendalam hingga tanpa sadar, selimut di genggam olehnya.
"Zacry, Abi!" seru Inta.
Setelah pemeriksaan dadakkan. Pagi harinya, Inta terkejut melihat buah-buahan ada di meja makan. Yang membuatnya kaget, semua buahan itu di berikan kepadanya.
"Apa ini Mal?" tanya Inta dengan wajah bingung.
Malinda duduk di sampingnya dan mengambil buah semangka dengan garpu. "Buah," jawabnya.
"Aku tahu ini buah, tapi kan...."
Malina tersenyum dan menyodorkan buah itu padanya. Melihat perhatian Malinda, Inta merasa dimanjakan hingga dia segera memakan apa yang diberi.
"Makan saja, menjadi sehat itu bukan hal buruk 'kan?" tanya Malinda yang kembali memberikan makanannya.
Inta hanya bisa tercenga dan memakan semua itu. Dia jadi penasaran dengan apa yang Malinda berikan.
"Setelah ini, istirahat. Minum air yang cukup, jangan minum soda." ucap Malinda dengan memberikan nasehat.
Mendengar hal itu, rasa penasaran Inta semakin menjadi. Tetapi, Inta menahan perasaannya dan memilih untuk menikmati apa yang Malinda berikan.
Setelah makan buah di pagi hari. Inta mendapati spa yang tiba-tiba. Di bawah indahnya pagi, Inta bertelungkup untuk menikmati pelayanan seorang wanita.
"Mal, kau tidak gila kan?" tanya Inta memastikan. Sedari tadi dia benar-benar di kejutkan dengan hal aneh dari Malinda, sahabatnya ini.
Malinda yang juga menikmati spa pagi segera menoleh. "Kenapa? Nikmati saja Inta." sahutnya.
Lagi-lagi Inta menikmati apa yang Malinda berikan. Dia mendapatkan pijatan yang menyegarkan tubuhnya.
Sarapan buah sudah, Spa pagi hari pun sudah. Inta berniat untuk mandi dan menikmati acara televisi. Namun, dia terkejut ketika Malinda menariknya.
"Ke mana?" tanya Inta.
Malinda tidak menjawab, mereka menuju ke belakang halaman Vila. Terdapat sebuah kolam berenang yang sudah ada pelayan wanita di sana.
"Ayo kita berendam di kolam susu ini!" ajak Malinda.
Inta tercenga mendengar hal itu. Di depan matanya memang ada kolam yang berwarna putih. Bukan berwarna jernih. Lalu di sana terdapat bunga-bunga yang cantik terapung dengan baik.
"Silahkan, Nona." ucap pelayan wanita.
Malinda melepaskan pakaiannya hingga menampilkan pakaian dalamnya. Sahabat Inta itu segera masuk kolam dengan santai.
"Ayolah, kapan-kapan kita menikmati semua ini. Ayo berendam di sini." seru Malinda.
Inta sedikit ragu untuk membuka bajunya. Meski begitu, dia tetap memutuskan ikut berendam.
"Bagaimana, enak kan?" tanya Malinda.
Inta yang tengah menikmati kolam susu mengangguk kepala. "Kenapa kau memperlakukanku seperti?"
"Oh, karena ada sesuatu yang akan hadir nanti." sahut Malinda.
Inta mengerutkan alisnya sembari menatap Malinda. "Sesuatu yang akan hadir? Apa kau tengah berhayal, atau memenangkan undian?"
__ADS_1
Malinda menggeleng mendengar hal itu. "Tidak, apa kau tidak sadar Inta. Kau tidak mabuk kan?"
Mendengar itu, penciuman Inta seketika berfungsi dengan baik. Dia segera merasa mual hingga keluar dari kolam. Pelayan wanita terteguh dengan apa yang di lakukan oleh dirinya.
"Huek!" Inta menepi sembari menundukkan kepalanya. Rasa mual kini menghantui dirinya.
"Oh, ternyata kalau tidak di tanya, mual-mualmu tidak akan hadir." Malinda keluar dari kolam. Dia mengenakan bathrobe yang di beri dan kepalanya juga di kenakan handuk.
"Buang semua isi yang ada di kolam. Ganti dengan air jernih." perintah Malinda.
Para pelayan segera mengangguk dan mengerjakan apa yang di ucapkan oleh Malinda.
Inta benar-benar merasa bersalah karena membuat pelayan bekerja lebih keras. Dia menatap sahabatnya yang kini memberikan bathrobe tebal untuk menghangatkan tubuh.
"Maaf Mal, karenaku semua yang kau siapkan jadi berantakkan." ucap Inta sembari menunduk.
Malinda mengusap kepalanya dan melangkah menuju ke pintu. "Tidak perlu minta maaf. Ayo, makan siang!" ajaknya.
Wajah Inta menjadi bingung mendengar hal itu. Dia melirik kolam susu yang mulai di bersihkan oleh pelayan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" benak Inta.
Setelah mengenakan pakaian dan menikmati semua yang membuat rasa penasaran memuncak. Kini, Inta duduk di meja makan dengan menatap hidangan yang penuh di atas meja.
Aroma makanan itu benar-benar mengoda. Namun, Inta harus menutup hidungkan karena aroma makanan tersebut.
"Huk-," Inta menutup mulutnya dan segera melangkah pergi menuju kamar mandi.
Setelah membuang semua yang dia makan. Inta berdiri sedikit menjauh dari meja makan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Malinda.
Inta menundukkan kepala, dengan suara pelan dia menyahut. "Sayuran."
"Oh, sayuran kah? Okelah, pelayan singgirkan masakkan yang terdapat daging ini. Lalu, buatkan hidangan yang memiliki sayuran di dalamnya. Oh, buatkan dia sup saja." ucap Malinda.
Pelayan pria segera datang dan membawa semua hidangan itu. Mereka segera pergi dari pandangan Inta agar dirinya tidak mual lagi.
Kekehan terdengar di telinga Inta. Dia melirik Malinda yang menggeleng sembari menyeduh teh hangat.
"Bukan, bagaimana kalau kau pikirkan. Apa yang membuatmu bisa mual seperti itu." imbuh Malinda.
Inta memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya muntah. Tidak ada yang di ingat olehnya, dia terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas.
"Aku tidak memiliki daya ingat sepertimu, Mal. Kau tahu kan, aku bisa melupakan apa yang tidak penting untukku." ucap Inta.
Sebuah kotak tes kehamilan terarah di depan mata. Inta mengerutkan alis dan melirik ke arah sahabatnya. "Hei, apa kau hamil Mal? Waah, anak siapa yang kau kandung?" pekik Inta.
Malinda tersenyum dan melesatkan jarinya, hingga jentikkan di kening terasa oleh Inta.
"Aww, sakittt." Inta mengusap-usap kepalanya karena rasa sakit yang muncul di kening. Dia menatap Malinda sembari cemberut.
Tanpa sadar, air mata mengalir di pipi Inta. Hal itu membuat Malinda segera mendekap Inta.
"Eh, Mal kenapa aku menangis?" kaget Inta di dalam dekapan sahabatnya.
"Hm, entahlah ... mungkin moodmu seperti anak kecil." sahut Malinda.
Inta mengerutkan alis berkali-kali mendapati semua ini. Setelah merasa tenang, dia menatap Malinda yang memberikan tes kehamilan itu.
"Ini masih baru, berikan hasilnya kepadaku. Jangan di lihat oke!" ucap Malinda.
Di ambil kotak tes kehamilan yang Malinda berikan. Inta mengangguk dan memutuskan untuk mengunakannya.
Setelah selesai, Inta benar-benar menyembunyikan tes itu darinya agar dia tidak melihat hasil tes tersebut.
"Ini," Inta meletakkan hasil tes di dalam kotak.
"Kalau begitu, buka dan lihatlah." perintah Malinda.
__ADS_1
Inta mengerutkan alisnya. "Aku tidak sedang hamil Mal, aku tidak mungkin hamil." gerutuk Inta.
Di ambil tes kecil itu, terlihat oleh mata Inta sendiri. Ada dua garis merah yang ada di tes kehamilan, wajah Inta memucat seketika.
Dengan sigap Malinda menuntun Inta untuk duduk di kursi. "Atur pernapasanmu, Inta."
Tarikkan napas di lakukan oleh Inta. Dengan perlahan dia menenangkan diri sebelum mengenggam erat tangan Malinda.
"Hei, kau sudah mengetahuinya?" tanya Inta.
"Iya, aku memeriksamu tadi malam. Dokter bilang, usia kandunganmu sudah dua minggu." sahut Malinda.
Inta segera bangun dan menuju ke arah meja makan. "Aku ingin nanas muda, berikan aku nanas muda!" pinta Inta.
Malinda menghentikan tingkah Inta dengan menahan tangannya. Mata keduanya saling bertemu dengan tatapan serius.
"Lepaskan Mal, aku tidak ingin hamil!" pekik Inta.
Malinda menghela napas, "Jangan menjadi wanita bodoh Inta! Kau hamil karena ini hasil dari cinta kalian. Jangan berpikir untuk membunuhnya." ucap Malinda.
Inta menghempaskan tangan sahabatnya. "Lalu, kau ingin aku tambah menderita? Aku, hamil anak orang yang sama. Orang yang telah-,"
"Dengar Inta, kau mencintai Zacry. Anak ini hasil cinta kalian bersama. Tentu saja Abi pun hasil cinta kalian. Jadi, jangan berpikir untuk membunuhnya. Dia tidak bersalah!" jelas Malinda.
Wajah yang tampak marah itu, mulai berubah dengan ekspresi sedih. Inta mudah terpengaruh dengan moodnya.
"Aku malu Mal, aku malu! Aku telah membuat kesalahan dengan bertemu mereka." ucap Inta.
Malinda memeluk sahabatnya. "Tidak ada yang salah. Aku sudah bilang kepadamu bukan, pikirkan semuanya dengan baik. Aku yakin, Zacry mencintaimu dan dia tidak akan membencimu."
"Tapi, dia sendiri yang mengatakan, kalau dia membenci ibu kandung Abi. Aku, akulah yang di benci olehnya." imbuh Inta.
Usapan kepala terasa oleh Inta. Dia merasa Malinda seperti ibunya. Pelukkan sahabatnya itu benar-benar menenangkan hati.
"Inta, aku ingin dia lahir. Aku ingin, dia lahir dengan kebahagiaan kalian. Aku ingin dia memanggilku, Tante Mal. Jadi, jangan berpikir untuk membunuhnya." ucap Malinda.
Inta terdiam, dia mengeratkan pelukkannya. "Sekarang, ayo makan siang dan beri si Pobar, keponakkan baru ku,makan." kata Malinda sembari menuntun dirinya.
Inta mengangguk dan segera menyantap sup yang masih hangat itu. Dia akhirnya mengerti kenapa sahabatnya bertingkah aneh tadi pagi.
Di genggam perutnya dengan perasaan campur aduk. Inta merasa kehadiran baru ini, membuatnya semakin sulit membuat keputusan.
"Jangan banyak berpikir Inta. Aku tidak ingin, Pobarku sakit karena kau stress seperti itu." cibir Malinda.
Inta mengangguk dan menerima semua yang di dapat olehnya. "Tidak apa, akan ku serahkan anak ini dan ku tinggalkan mereka. Ah tidak, aku tidak ingin dicap sebagai ibu yang buruk." benak Inta.
"Yosh, aku ingin memberitahumu, kalau keluarga Park sudah menyebarkan para polisi untuk mencarimu." ucap Malinda dengan santai.
Inta menoleh sembari menunjukkan wajah syocknya ketika mendengar itu. "Mencariku?"
...***...
Di ruang tengah. Dua orang tengah duduk dengan wajah lelah. Zivta dan Zacry benar-benar kelelahan mencari jejak Inta.
"Huh, Zacry ... aku benar-benar lelah hingga tidak bisa memikirkan bagaimana keadaan istriku sekarang." ucap Zivta dengan pelan.
"Aku berterima kasih dengan bantuan kakak." imbuh Zacry.
"Apa itu?" celetuk Zivta dengan menunjuk sebuah paket yang ada di atas meja.
"Mungkin pesanan pembantu, atau pesanan Abi." sahut Zacry sembari mengambil paket yang bertuliskan nama seseorang.
"Aku tidak tahu kalau pembantu memesan sesuatu tapi tidak menghiraukannya." cibir sang kakak sembari membaringkan kepalanya.
Kerutan muncul di alis Zacry. Dia segera membuka paket yang bukan milik pembantu ataupun Abi. Paket itu di kirim untuknya.
"Kau bilang untuk pembantu, kenapa kau membukanya?" tanya Zivta kembali menatap.
Zacry menunjukkan tulisan nama dari si pengirim. Apa lagi, yang ada di tangan Zacry terdapat amplop coklat dan Flashdisk.
__ADS_1
Kerutan muncul di alis Zivta, wajahnya terteguh membaca siapa yang mengirimkan paket tersebut. "Malinda?"