
_Bell Yaker_
Ini tentang pertama kali aku bertemu dengan seorang wanita yang berusia 2 tahun. Wanita itu, memiliki lirikan yang sangat aneh. Aku penasaran dengan arti lirikkan itu.
“Dengar, dia adalah putriku. Putri kandungku! Namanya, Malinda!” ucap Tuan Qaisar dengan kencang.
Seluruh anak buah yang ada termasuk aku segera mengangguk. meski kami mengetahui bahwa Malinda, anak berusia 2 tahun itu adalah anak kandung Tuan kami. Tetap saja, aku merasa ragu akan hal itu.
Setelah perkenalan, aku bergegas melakukan tugasku untuk berdiri di dekat mobil. Menunggu Tuanku di dalam mansion. Seperti ucapannya, dia memiliki seorang anak dan akan menjemput anak itu. aku tidak tahu, kenapa bisa Tuanku menemukan anak itu.
“Aku dengar, anak Tuan Besar tinggal di panti.” bisik salah seorang yang juga merupakan anak buah Tuanku.
Aku melirik ke arahnya sesaat, lalu kembali fokus ke depan. “Jangan banyak bicara, lebih baik fokus dengan pekerjaanmu,” tegurku. Apa yang ku ucapkan ada benarnya.
Semua yang menjadi anak buah Tuan Qaisar, mereka tidak boleh bersantai. Bersantai di sini, selalu bercerita hingga melupakan tugas mereka sendiri. yang dia tahu, berkerja di sini selalu penuh akan keseriusan. Karena, semua musuh tidak akan melewatkan kesempatan jika kita lengah.
Seseorang yang ada di sampingku hanya mengangguk dan kembali fokus. Namun, beberapa sesaat kemmudian, dia berbisik sedikit yang membuatku terdiam. “Putri Tuan Qaisar, matanya memiliki niat membunuh.”
Setelah ucapan itu, aku terdiam dan memikirkannya. Kepalanya mengingat sebuah gambar yang Tuan Qaisar tampilkan di depan mereka. “ aku sendiri tidak mengerti, bagaimana mereka bisa mengetahui semua itu hanya melihat gambar?” benakku.
Menunggu lama, akhirnya aku berangkat dengan mengantarkan Tuanku sendiri. pangkatku tinggi, sesuai dengan apa yang menjadi kerja kerasku saat ini. dulu, aku hanya menjadi gelandangan yang dipungut oleh Tuan Qaisar. Dilatih keras hingga sekarang peluru bukan hal yang ku takuti. Bagiku, jika kematianku telah tiba. Maka, aku tidak akan mempermasalahkannya.
Jika, kematianku masih lama, peluru yang tertanam di tubuhku, tidak akan membuatku takut.
Mobil membelah jalan dengan waktu yang cepat. Beberapa polisi yang melakukan penilangan tidak mengangguk mereka. karena, Tuan Qaisar telah berkerja sama dengan para kepolisian ini.
Perjalanan pun berakhir dengan berhentinya mobil di tepi jalan. Ada sebuah panti asuhan yang tampak ramai dengan anak-anak bermain di luar. Mereka begitu bahagia, kecuali satu anak yang aku lihat.
Anak itu tampak tenang, dia tertawa dan tersenyum saat ada yang berbicara atau mengajaknya bermain. Tapi, setelah itu, wajahnya kembali datar.
“Dia, putrinya Tuan Qaisar.” benak ku.
“Oke, Bell, ayo ikut denganku!” ucap Tuan Qaisar.
Aku segera mengangguk dan mengikuti langkahnya. Mataku melirik sekitar, memperhatikan anak-anak panti yang menatapku juga. Di satu sisi, tatapan itu memiliki ketakutan, tapi di sisi lain tatapan itu tampak bahagia. mungkin, mereka senang ada orang lain yang mengunjungi panti.
Pemilik panti tahu kalau mereka akan menjemput Malinda. Jadi, Malinda di bawa masuk ke dalam dan di suruh untuk beristirahat. Aku mendengar itu dari pembicaraan pemilik panti ini.
Di ruang tamu, aku berdiri di belakang Tuan Qaisar dengan posisi beristirahat seperti upacara. Aku memfokuskan pandanganku sebelum akhirnya mengikuti langkah Tuan Qaisar untuk menjemput Putrinya.
__ADS_1
“Hallo Malinda, bagaimana kabarmu?” Tanya Tuan Qaisar. Gadis yang ku lihat berusia 2 tahun itu hanya mengangguk sambil tersenyum. “Aku baik, Ayah!” ucapnya dengan semangat.
Di dalam pikiranku, menilai mereka bukan hal sulit. Malinda tampak seperti gadis lemah yang tidak akan bisa melakukan apapun. Itulah yang ada di dalam benakku.
Tapi, beberapa hari kemudian. Semua yang ku pikirkan berubah saat mataku melihat jelas, seorang gadis berusia 10 tahun yang di anggap sebagai putri kesayangan berhasil mengores leher Tuan Qaisar.
“Tuan!” aku segera datang dan menolongnya. Memberikan sapu tanganku untuk menutupi leher Tuanku.
“Uhuk! Tidak apa Bell ... setelah delapan tahun bersamaku. Akhirnya, sikapku ada di dirinya. Kau lihat bukan, aku pernah mengatakan kepadamu. Ada sesuatu yang akan kau ketahui dari putriku”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Melihat seorang gadis memegang benda tajam tanpa rasa takut. Gadis itu segera melangkah pergi dengan mengendong tas di bahunya.
“Tuan, dia kabur!” ucapku dengan kaget. Aku ingin mengejarnya tapi Tuan Qaisar segera menghentikannya.
“Tidak perlu di kejar, biarkan dia pergi... aku akan menangkapnya sendiri dan membunuhnya. Kau tahu, dia memiliki riwayat penyakit yang sama seperti ibunya. Kebocoran jantung, meski saat kecil dia baik-bak saja. Semakin tumbuh besar dirinya, dia akan merasakan rasa sakit yang membuatnya ingin kematian.”
“Hei Bell, jadilah anak buahnya dan dekati dia. Tidak perlu takut, aku tidak akan membuatmu berhianat kepadaku dan kepadanya.aku hanya ingin kau yang menjaganya. Aku, percaya padamu.”
Setelah ucapan itu, seperti apa yang di inginkan oleh Tuan Qaisar. Aku memenuhi semua keinginannya dan menjadi anak buah Malinda. Apa yang dia katakan, semua benar. Usia Malinda semakin bertambah, dia selalu merasa sakit hingga mengetahui tentang penyakitnya sendiri.
Sempat ingin melakukan operasi, tapi pada akhirnya Malinda memutuskan untuk tidak melakukannya. Dia pernah berkata, “Biarkan ayahku saja yang membunuhku. Itu lebih baik, aku ingin membuatnya menyesal karena dulu selalu ingin membunuhku!”
Lalu, Tuan Qaisar tidak berniat membunuhnya. Tapi, berniat untuk menjaganya. Karena, Malinda adalah putri yang sangat dia cintai. Aku tidak lagi mengerti dengan semua ini, hanya saja semakin hari Malinda tampak tidak sehat. Membuatku khawatir dan berharap dia bisa di sembuhkan.
Namun, seperti ucapan gadis itu, dia tetap tidak ingin menemui Ayahnya hanya untuk kesembuhan. Hingga, Dia tertangkap sendiri oleh Ayahnya.
Di usia yang ke 21 tahun, Malinda melakukan operasi dengan Tuan Qaisar yang mengorbankan jantungnya. Dia memilik kematian dan menyerahkan semuanya kepada Malinda.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, selain terdiam dan menatap operasi itu berjalan. “Tuan, apa ini pengorbanan Anda agar Nona Malinda bisa mencintai Anda seperti mencintai seorang Ayah?” tanyaku di dalam benakku sendiri.
Perlu beberapa hari, hingga pemakaman selesai untuk Tuan Qaisar. Nona Malinda itu segera sadar dengan wajah yang sudah di penuhi air mata. Dia menangis seorang diri, aku melihatnya saat aku ingin menjenguk dirinya.
“Ayahku benar-benar tidak waras. Dia meninggalkanku, tidak membunuhku? Seharusnya dia membiarkanku pergi!” pekik wanita itu.
Kesehatannya benar-benar meningkat, tidak ada mimisan dan tidak ada batuk darah. Nona Malinda ini benar-benar sembuh total. Tapi, wanita itu sudah berubah, senyum ceria dan caranya berbicara berubah.
“Bell, aku telah menyelesaikan mereka. apa ada lagi yang harus ku bunuh?” tanyanya saat mereka harus membereskan beberapa orang yang menjadi musuh Ayahnya.
Wanita itu, dia mengenakan pakaian seksi saat malam hari dan pakaian tertutup saat siang hari. Begitu berbeda dari apa yang aku sendiri ketahui. Lalu, cara dia menembak seseorang. Jika seorang mafia akan melakukannya dengan memberikan beberapa tembakkan lagi, hingga mayat itu segera kehilangan nyawanya.
__ADS_1
Berbeda dengan Malinda yang memilih untuk sekali menembak dan menumbangkan musuhnya. Bahkan, dia lebih menyukai pembunuhan secara diam-diam dari pada terang-terangan. Dia selalu membawa pisau kecil yang siap membunuh siapapun di jalan.
Pernah suatu hari, dia membunuh musuhnya di depan umum. Pria itu tengah menikmati kencannya dengan seorang wanita. Dan saat itu, Malinda mengunakan kesempatan untuk membunuh dengan menusuk perut pria itu.
Anehnya, tidak ada yang melihat bagaimana Malinda yang melakukannya. Bahkan, polisi tidak bisa menemukan bukti sekalipun. Dan Malinda di anggap sebagai orang yang tidak bersalah.
Aku, tidak bisa berpikir dengan baik setelah ini. sekarang, Malinda berusia 25 tahun dengan kecantikkan dan badan yang lebih mempesona. Dia banyak mendapatkan pria di sampingnya, tapi akulah yang memiliki dia.
Apa yang ku katakan itu benar, gadis itu lebih memilih diriku dan memintaku untuk menikahinya. Lalu, dia ingin mengandung seorang anak yang saat ini telah berusia 4 tahun.
Oke, sekarang aku telah menikahinya dan mendapatkan seorang putra yang memiliki wajah seperti ibunya. “Aku merasa di rugikan” benakku saat tahu itu. tapi, orang yang ku nikahi ini, ternyata menerimaku dan mau membalas cintaku dengan baik.
“Bell, Bary keyzo mencarimu!”
Aku segera menghentikan tulisan di memoku dan meranjak bangun. “Aku ke sana sayang!” teriakku membalas itu.
Inilah ceritaku, bertemu Nona Muda yang merupakan Nonaku dan Nyonyaku. Sekarang, telah menjadi Istriku.
...***...
_Malinda_
Hari ini, aku berjalan di sekitar sambil melirik ke segala arah. Langkahku berhenti di sebuah toko roti, melihat satu keluarga yang berkumpul dengan kebahagiaan di sekitarnya.
“Mereka, keluarga yang di penuhi dengan muka datar.” Benakku sambil tersenyum. Seseorang tiba-tiba mendekat dan memelukku dari belakang. Aku segera tahu siapa dirinya, “Ada apa Bary Keyzo?” tanyaku.
“Ibu, siapa yang ibu perhatikan?” tanya seorang anak laki-laki yang kini berusia 10 tahun. Mataku segera menatap padanya dan tidak lupa mengusap wajahnya. “Aku hanya melihat teman lama yang kini bahagia. tidak sia-sia aku membantunya.”
“Membantu?” tanyanya dengan memiringkan wajahnya.
Aku tersenyum melihat itu, dan melirik ke arah keluarga bahagia yang kini menatap padaku juga. Dia tersenyum dan mengangguk. “kau, akan tahu saat kau berteman dengan mereka.” sahutku.
Bary Keyzo mengangguk dan ikut menatap di mana arahku melihat. Aku segera mengusap wajahnya dan melangkah mendekati seorang pria yang kini menjadi suamiku.
Bukan Zivta atau Alfazi, aku menikahi Bell Yaker. Orang yang selalu ada di saat aku terpuruk dan membantuku di saat aku membutuhkannya.
Memang tidak ada cinta, tapi aku merasa bahagia jika bersamanya. Alasanku menikah juga karena ingin seorang penerus yang bisa mempertahankan, seluruh kekayaan Ayahku.
Tapi, aku tetap bahagia menikahinya. Dan tidak perlu bertanya alasanya kenapa. “Ayo, Bell!” ajakku padanya sambil mengenggam tanganya.
__ADS_1
Pria itu mengangguk dan membalas genggaman tanganku. Lalu, Keyzo berjalan di sampingnya sambil mengenggam tangannya.