
Dua hari berlalu, Inta merasa begitu lambat melalui hari itu. Seperti sebelumnya,menghindar kini menjadi pekerjaan sekaligus hobi Inta.
Tidak hanya itu, makan malam, sarapan hingga di ruang tengah untuk bermain dengan Abi. Inta berusaha menghindari situasi yang akan membuatnya ingat semua kejadian malam itu.
"Aku tidak akan mau mengingatnya lagi." benak Inta dengan keteguhan di hati.
Tapi, hati itu mudah rapuh, keteguhannya goyah ketika Zacry dekat dengannya. Selalu ada kata, 'katakanlah' yang muncul di hati. Namun, mulutnya juga tidak tinggal diam. Dia bekerja untuk bungkam saat ada peluang mengatakan semua itu.
"Ibu!" seru Abi yang baru saja pulang. Hari ini, dia tampak bersemangat karena mendekati hari ulang tahun sekolah.
Tangan mungil itu membawa selembar kertas yang diberi kepada Inta. Dengan cepat Inta menyambutnya dan membaca apa yang tertulis di sana.
...*Acara Ulang Tahum Sekolah PAUD*...
...Kami mengundang wali siswa untuk hadir dalam acara ini pada hari besok di tanggal x-xx-xxxx. Untuk memeriahkan acara kami....
...-Kami menanti kedatangan kalian-...
Setelah melihat kertas lembaran itu, Inta mengendong Abi dengan wajah bahagia. "Waah, ada acara sekolah. Kau pasti tidak perlu belajar." celetuknya.
Abi seketika murung mendengar perkataan sang Ibu. "Apakah sebegitu bencinya ibu dengan belajar?"
Inta tersadar seketika, dia lupa sikap Abi ini mirip Ayahnya. Serius belajar dan tidak ada niat untuk bermain. "Ah-hahahah ... ibu hanya bercanda." elaknya.
"Dasar anak genius, kalau seandainya aku pintar. Aku tidak akan seperti ini. Bermalas-malasan."
benak Inta. Dia tidak menyadari, jika utang di kampus tidak ada. Skor KKM Inta hampir seimbang dengan Malinda.
"Aku akan memberi tahu Ayah. Ibu, bersiaplah untuk esok hari." pekiknya.
Inta tersenyum dan mengangguk, dia melihat kepergian anak kecil itu. "Oke, saatnya melihat makan siang hari ini."
Status sebagai Istri sekaligus Ibu sudah menjadi peran untuk Inta. Tinggal bersama para pelayan di kediaman Zacry, dia begitu akur hingga Pelayan pun menjadi temannya.
Tiba di dapur, Inta memperhatikan pelayan yang sedang menyajikan makan siang. Dia mendekat dan melihat bagaimana hidangan itu tersaji.
"Waah, steaknya tampak enak sekali." ucap Inta dengan mata berbinar.
Dua pelayan yang di panggil Ya dan Ri terkejut hingga mereka salah menuangkan sausnya.
"Eh! Steaknya jadi hancur gitu, kenapa terkejut." Inta melihat Ya dan Ri yang menghela napas untuk menenangkan jantung mereka.
"Nyonya, Anda tiba-tiba muncul membuat kami kaget. Kapan Anda tiba?" tanya Ri.
Inta menggeleng, "aku tidak tahu sudah berapa lama tiba. Sudahlah, apa makan siangnya selesai, Ri?"
Ya dan Ri mengangguk dengan bersama-sama. "Waktu makan siang akan segera tiba. Nyonya boleh menunggu di meja makan." sahut Ya.
Inta tersenyum, dia merangkul dua orang pelayan ini. Mereka cantik dan memiliki body yang baik. Sayang, keduanya berakhir menjadi pelayan.
"Oke, aku akan menanti makanan yang kalian buat." ucap Inta.
Langkah kakinya membawa Inta menuju ke meja makan. Terlihat Abi yang duduk dengan wajah murungnya.
"Eh, kenapa kau murung Abi?" tanya Inta. Ditarik kursi yang berada di samping anak kecil itu, lalu duduk dengan menatap Abi yang masih murung.
__ADS_1
"Apa Dadry menolak untuk ikut acara sekolah ini?" benak Inta. Dia mengusap kepala Abi dengan begitu lembut dan berkata, "ayo, jangan memendam sesuatu sendirian. Berbagilah, agar kau tidak merasa sakit di hati. Sini, Cerita kepada ibu."
Tanpa terasa air mata Abi mengalir dengan perlahan. Dia menatap ibunya dengan wajah sedih. "Hiks, Ibu ... Ayah, Ayah tidak ikut acara sekolah ini. hiks, aku ingin menghadirinya bersama Ibu dan Ayah. hiks, kenapa Ayah tidak mau...."
Inta memeluk Abi dan menenangkannya. Dia merasa gejolak amarah memuncak setelah mendengar jawaban Abi.
"Sudah ku duga, ada apa dengan Dadry ini, agh bikin emosi." benak Inta.
"Abi dengar, duduk di sini dan tunggu Ibu kembali oke." pinta Inta. Abi sebenarnya bingung mendengar permintaan itu, tapi pada akhirnya dia mengangguk kepala.
Inta bergegas pergi meninggalkan Abi di meja makan. Dia membawa selembar kertas dan melangkah menuju ruang kerja Zacry. Untung dia sudah menjelajahi kediaman mewah ini.
Rumah bagai istana dengan keluasan yang entah berapa hektar. Ada taman kecil, halaman luas dan tidak lupa rumah ini sendiri.
Berhenti di depan pintu, Inta mengetuk terlebih dahulu. Dia mendengar persetujuan pemilik ruang kerja itu. Dengan segera Inta membuka pintu dan melihat Zacry tengah menghadapi layar komputer.
Saat ingin berucap, Inta mendengar suara seseorang yang berasal dari layar komputer.
"Begitu pak, laporan dari analisa hari ini sekian...."
"Hm," angguk Zacry.
Melihat hal itu, Inta memilih duduk di sofa yang berdekatan dengan pintu. Dia menatap lembaran kertas yang berhasil membuat Abi kegirangan. Tidak ingin anak angkat itu berwajah sedih, Inta harus bisa membawa Zacry mengikuti acara ini.
"Hm, rapat berakhir di sini. Terima kasih," ucap Zacry mengakhiri rapat siangnya. Dia tidak ke kantor karena tidak ada hal penting di sana.
Meski begitu, Zacry akan selalu datang ke kantor dengan waktu yang tidak pasti. Dia bisa saja datang pagi hari, siang atau sore. Tergantung seberapa penting hal yang menunggunya.
"Ada apa?" tanya Zacry. Dia bangun dari tempat duduk dan melangkah mendekati Inta.
Kesigapan Zacry sudah menjadi keahliannya. dia segera menangkap Inta dengan menahan tubuh itu di dadanya. "Hati-hati," ucap Zacry.
Inta membelakkan mata ketika sadar kalau dia berada di dalam pelukkan Zacry. Dia segera menjauhkan diri.
"Ehem, maafkan aku ...," Inta melirik ke arah lain dengan menyembunyikan wajahnya saat ini. Dia benar-benar memerah sekarang.
Tahu apa yang di sembunyikan Inta, Zacry memilih untuk duduk di sofa. "Ada apa?" tanyanya kembali.
Inta segera menoleh dan menunjukkan amarahnya. Dia menunjuk lembaran kertas di tangan. "Abi membawamu ke acara ini. Apa kau menolaknya?" tanyanya.
Zacry memperhatikan isi dari lembaran itu. Setelah membaca semuanya, dia menatap Inta dengan wajah yang sama. Datar tanpa ada ekspresi.
Inta begitu kesal melihatnya. "Agh, kenapa kau tidak bisa menunjukkan reaksi yang lebih baik lagi, wajah datarmu tidak bisa ku mengerti." ucap Inta.
Zacry menghela napas dan berucap, "sudah dari dulu ekspresiku seperti ini. Ada apa dengan lembaran itu?"
Wajah Inta benar-benar melongo, dia berkedip berkali-kali untuk menunjukkan kalau dia terkejut mendengar ucapan Zacry.
"Kau tidak tahu? Abi menemuimu barusan, apa kau tidak menyadarinya?" tanya Inta.
Zacry mengingat rapat siangnya. Memang benar, ada Abi datang dan berdiri di samping meja. Saat itu,
"Ayah, ada acara di sekolah. Ayo kita pergi bersama dengan Ibu." ajak Abi.
Zacry tidak mendengar apa yang di katakan oleh Putranya. Dia terlalu fokus dengan pembicaraan di room meet. "Tidak," ucap Zacry untuk menjawab pertanyaan dari karyawannya.
__ADS_1
Helaan napas berhembus tanpa diperhatikan oleh Inta. "Maaf, itu kesalahanku. Saat rapat siang tadi, Abi sepertinya telah salah paham." ucapnya.
Inta bingung mendengar ucapan itu, dia melihat Zacry bangun dari tempat duduk dan segera menuju pintu.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Inta. Tiba-tiba saja, otaknya menjadi tidak bekerja karena kepikiran dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini. Ayo!" Zacry mengenggam tangan Inta dan segera menuju ruang dapur.
Abi yang masih menangis, berusaha untuk menenangkan diri. Dia sudah begitu bahagia untuk pergi bersama orang tuanya. Namun dia lupa, seharusnya dia tidak menganggu Ayahnya saat berkerja.
"Abi!" seru Zacry yang berhenti di dekat putranya. Tentu saja Inta juga bersama dengan dia.
"Ayah?" Abi menatap bingung melihat Ayahnya datang dengan sang Ibu. Dia turun dari tempat duduk dan mendekati orang tuanya.
Zacry berjongkok untuk bisa melihat lebih dekat wajah putranya. Di usap lembut rambut Abi dan sedikit kecupan pada jidatnya.
"Maafkan ayah ... ayah tidak mendengar ajakmu Abi. Ayah memperhatikan meet yang sedang dilakukan. Lalu tanpa sengaja menjawab kata Tidak hingga kau menganggap itu sebagai jawabanmu. Maafkan ayah." ucap Zacry.
Abi merasa kelegaan di hati. Dia mengangguk dan dengan cepat memeluk ayahnya. "Tidak ayah, Abi yang salah. Seharusnya, Abi tidak mengangguk ayah."
Zacry tersenyum dengan kepekaan Abi. Dia mengusap kepala anaknya dan memberikan pelukkan yang begitu hangat.
Melihat Ayah dan Anak di depannya. Inta tersenyum, "Seandainya ... begini keluargaku. Tidak akan mungkin, aku berakhir seorang diri di sini." benak Inta.
Asik memikirkan nasibnya, Inta dikejutkan dengan Zacry mengendong dia secara tiba-tiba. "Eh? Ada apa ini?"
"Ayah keren! Ayah kuat! Ayo ayah, kita berlari di ruang tengah." pekik Abi yang berada di atas bahu Zacry. Dia memegang kepala Ayahnya untuk berjaga-jaga agar tidak jatuh.
Inta menatap pria yang mengendong dirinya, dia merasa degupan di hati hingga tersenyum.
Zacry mengendong Inta ala bridal style. Dia melangkah lebar untuk mengelilingi ruang tengah. Saat ini, hatinya berdesih hingga ikut tersenyum.
Baik Inta, pelayan yang ada. Mereka tercenga melihat hal itu. Bungkam di tempat dengan rasa tidak percaya. Mereka akan mengingat momen ini di dalam memori masing-masing. Bagaimana, senyum Zacry yang membuat semua terpesona.
Setelah makan siang berlalu, Inta maupun Zacry duduk di halaman dengan memperhatikan Abi yang tengah berlari.
"Dadry!" seru Inta.
Zacry segera menoleh, melihat Inta yang menatap lurus ke depan. "Hm."
"Aku, mengingat kejadian malam itu," Inta menatap Zacry dengan pandangan tenang.
"Semua kejadian malam itu tidak dilupakan olehku. Hanya, aku tidak berani mengakui kejadian itu." lanjutnya.
Zacry diam mendengar perkataan Inta. Hatinya merasa gembira mendengar semua itu. Meski, ada satu hal yang membuatnya jangal. Apakah, Inta benar-benar mencintainya?
"Dadry, malam itu ... semua perkataan ku kepadamu tidak ada kebohongan. Aku, benar-benar mencintaimu." ucap Inta.
Zacry membelakkan mata mendengar ucapan tersebut. Dia bangun dari tempat duduk dan mendekati Inta yang kini menatap padanya.
Berjongkok di depan sang Istri. Zacry bertanya, "apa semua perkataanmu itu benar, Inta?"
Inta mengangguk, dia tersenyum dan menatap ke arah lain karena merasa malu.
"Aku, aku juga mencintaimu. Jadi, kau akan menjadi milikku seutuhnya, Inta." ucap Zacry dengan tatapan yang baru. "Tunggu, tatapan apa itu?" benak Inta melihatnya.
__ADS_1