Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
40 : Maafkan aku


__ADS_3

Di dalam mobil, Inta duduk diam tanpa berkata apa-apa. Bernapas pun terasa sulit untuknya. Dia mengkhawatirkan sahabatnya, tapi dia juga sedang menghadapi masalahnya.


Apa lagi, melihat raut wajah Kakak Iparnya yang tidak baik-baik saja. "Apa mereka tahu kalau Bibi Linta hampir di bunuh oleh Malinda?" benak Inta.


Saat perjalanan yang Inta tahu, kalau mereka menuju ke kediaman Zacry. Dia selalu merasa kalau Suaminya ini, mengenggam tangannya. Berkeringat pun tidak akan di lepas oleh pria ini.


"Apa dia tahu kalau aku akan kabur. Oh Malinda, aku tampaknya salah mengambil keputusan. Seharusnya, aku kabur denganmu saja. Jika aku beban, aku akan sebisa mungkin untuk membantumu kabur." benak Inta.


Air matanya telah berhenti mengalir karena Zacry selalu mengusap wajahnya. Inta tidak mengerti denga sikap pria ini. "Apa dia berpura-pura?" benak Inta.


Setelah perjalanan panjang itu, Inta tiba di kediaman Zacry. Dia keluar dari mobil dengan Zacry yang selalu ada di sampingnya.


Yang membuat Inta semakin bingung, pria itu menuntun tangannya untuk merangkul dia. Seakan mereka telah hidup bahagia sebagai keluarga sempurna.


"Inta tenanglah, dia pasti sedang berakting." benak Inta. Matanya melirik ke arah Kakak Ipar yang tampak muram bahkan langkahnya pun sedikit lambat.


"Apa Kak Zivta seperti Alfazi? Menyukai Malinda?" benak Inta menebak. Dia teringat dengan orang kepercayaan Malinda yang menitipkan surat.


Tidak, ingatannya lebih dari itu. Dia mengingat saat mereka bermain di mall. Saat itu, Dia dan Malinda saling bertarung untuk memenangkan permainan. Dan tentu saja, permainan itu di menangkan oleh Malinda.


Hal yang dia ingat, tangan Malinda yang mengenggam tangan Zivta. Lalu, Kakak Iparnya itu tampak bahagia dengan apa yang terjadi.


Memikirkan orang lain, membuat Inta lupa dengan keadaannya sendiri. Dia terkejut ketika mendengar suara tangis yang pecah di ruang tamu.


"Kakek! Ibu belum pulang ... ibu pasti marah kepada Abi karena Abi tidak tidur dengan baik. Ibu juga marah karena Abi kurang belajar. Huaaa! Kakek, kapan ibu pulang."


Mata Inta berkedip berkali-kali. Dia menatap Abi yang menangis tersedu-sedu karena mencarinya. Hati seorang ibu tersentuh melihat hal itu. Inta merasa ingin memeluk putranya, karena dia sekarang tahu kalau Abi adalah anak kandungnya.


"Abi!" seru Zacry mengema di ruangan.


Kepala anak kecil berusia 5 tahun itu segera menoleh. Matanya yang penuh air mata, segera di usap. Dia bangun dengan mata berbinar dan melangkahkan kaki yang kemudian berlari.


"IBU!!!" teriak Abi.


Tangan mungil terbentang di mata Inta. Dia segera berjongkok untuk menyambut kedatangan putranya.


Namun, saat akan tiba untuk memeluk. Zacry tiba-tiba mengendong Abi dengan santai.


"Bangunlah, Inta." ucap Zacry.


Inta terteguh mendengar namanya di seru, dia segera bangun dan menatap Zacry.


Pandangan Zacry menatap ke arah Abi. Inta bisa melihat kalau kedua orang ini sangat mirip. Tidak heran, orang lain akan langsung mengetahui mereka adalah Ayah dan Anak.


"Abi dengar, Ibumu sedang sakit. Dia tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Abi cukup digendong Ayah. Dan saat ingin memeluk Ibu, peluk dia saat duduk ya. Kasihan, ada Adik kecil di perut ibumu." ucap Zacry.


Kakek dan Ayah mertua Inta segera mendekat. Mereka memberi Inta syal lembut.


"Berarti liburan Inta karena bayinya?" Kakek Haqir menatap Inta sembari mengusap-usap kepala Istri Cucunya.


Inta bingung mendengar ucapan sang Kakek. Dia tidak tahu kalau dia mengatakan liburan kepada keluarga ini. "Siapa yang mengatakan kalau aku sedang liburan?" benaknya.

__ADS_1


"Inta, lain kali kalau mau liburan bilang ya ... kasihan Suami dan Anakmu ini. Mereka tampak terlantar, seperti melihat hantu hingga wajah mereka pucat pasih. Ayah kaget dengan perubahan mereka." ucap Ayah mertua.


Inta hanya bisa tersenyum dan bingung untuk menjawab apa. Dia bukan sedang berlibur, melainkan kabur dari keluarga ini.


"Sudah, karena Inta telah kembali. Biarkan mereka beristirahat." ucap Kakek yang melangkah pergi terlebih dahulu.


"Inta," seru Ayah Harxa. Inta yang mendengar hal itu segera menatap padanya. "I-iya Ayah."


"Ayah senang kau kembali. Apa pun masalahnya, jangan pergi seperti itu." ucapnya yang kemudian melangkah pergi.


Inta terdiam, dia menatap Zacry. Pria itu memandangnya dengan datar. Namun, ada perbedaan dari pandangan itu. Pandangan pria di depannya begitu lembut.


"Sudah, Abi mau peluk ibu kan?" tanya Zacry.


Abi mengangguk kepala untuk mengiyakan apa yang Zacry tanyakan.


Mereka bertiga duduk di sofa dengan Inta di samping Zacry.


Tidak ada lagi orang di ruang tamu. Zivta memilih pergi meninggalkan keluarga yang baru bersatu. Tidak, Inta belum bisa menyebutnya bersatu.


Duduk di sofa seperti ini membuat perasaan Inta semakin tidak nyaman. Dia merasa dirinya di ajak berbohong tanpa mengatakan kebenarannya.


"Ibu, jangan pergi lagi ya ... liburannya bersama Abi saja. Sekarang Ibu juga membawa Adik kecil, Abi tidak ingin ibu kenapa-napa." ucap Abi dalam pelukkan Inta.


Inta mengusap kepala anak kecil yang imut dan tampan ini. Dia memangkuk Abi yang masih mengalirkan air mata.


"Hm, ibu tidak akan kemana-mana." ucap Inta. Di saat ucapan itu keluar, perasaan tidak tega muncul di hatinya. Selama ini, Abi hanya menganggap Inta sebagai ibu penganti. Lebih tepatnya, bukan ibu kandung.


Sejujurnya, Inta tidak ingin Abi menganggapnya seperti itu. Dengan perasaan tenang, Inta mengenggam tangan putranya. "Abi, boleh ibu mengatakan sesuatu kepada Abi."


"Kau yakin akan mengatakan hal itu, kenapa Abi?" tanya Zacry.


Inta tidak akan berbohong kepada Anaknya. Dia tidak ingin putra dan anak yang ada di kandungannya memiliki kebiasaan berbohong.


Tanpa menjawab perkataan Zacry. Inta menatap Abi yang juga menatap dirinya. "Dengar Abi, ibu ingin meminta maaf kepadamu. Tidak ada niat untuk berbohong, ibu baru saja mengingatnya. Mengingat semua yang terjadi di usia ibu ke tujuh belas tahun."


"Ibumu ini, lebih tepatnya, Aku adalah ibu kandungmu Abi. Aku yang mengandungmu dan juga menelantarkanmu. Aku, aku yang ...," Inta terisak dengan air mata yang membasahi pipi.


Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana keadaan Abi saat itu. Setelah meninggalkan rumah sakit, dia mengalami kecelakaan dan melupakan semuanya.


Apa yang Abi alami tanpa asi, tanpa ada kasih sayang sang Ibu. Sungguh membuat hatinya terluka.


Tangan Abi yang dia genggam kini diletakkan antara keningnya. Inta menangis dengan perasaan bersalah yang besar.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukan itu. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu Abi. Maafkan diriku, aku yang telah melakukan kesalahan, aku yang-,"


Inta merasa tubuhnya di dekap oleh Zacry. Tubuh kekar suaminya itu tidak pernah dia lupakan. Tangisnya pecah hingga tubuhnya melemah seketika.


"Aku sudah bilang, jangan menangis. Lihatlah keadaanmu sekarang. Bayi kita ikut menangis di sini," ucap Zacry menunjuk ke arah perutnya.


Inta mengerutkan alis melihat pria yang dari tadi tidak memarahinya. Seharusnya, Zacry mengamuk atau mengusirnya. Tapi, kenapa pria ini malah seperti bercanda.

__ADS_1


Di saat rasa penasaran Inta memuncak, Dia dikejutkan dengan Abi yang memeluknya.


"Huaaa, Ibu jangan katakan semua itu. Abi senang kalau Ibu adalah Ibu kandung Abi. Hiks, tidak apa, tidak masalah. Siapapun ibu, apa yang bermasalah untuk ibu. Abi, hiks, Abi teytap syang imbu." ucap Abi dengan perkataan yang tidak jelas.


Inta semakin terharu melihatnya. Dia memeluk Abi dan mengendong putranya itu. Senang dan sedih bercampur aduk di hatinya.


"Abi, maafkan ibu ya." ucap Inta. Abi yang mendengar hal itu mengangguk dan segera mencium pipi Inta.


Tidak tinggal diam, Zacry ikut memeluk ketiganya dengan suasana haru yang penuh kebahagiaan baru ini.


...-*-...


Inta duduk di tepi kasur. Setelah menenangkan hati dan memenangkan hati Putranya. Inta, sekarang harus menghadapi sang suami.


Dari dirinya yang di jemput,tidak ada amarah yang diberikan oleh Zacry. Hanya kasih sayang dan perhatian yang pria itu berikan.


Pintu kamar mandi dibuka terdengar olehnya. Inta menarik napas untuk siap menghadapi semua yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan? Beristirahatlah dulu, baru mandi." ucap Zacry.


Inta mengangkat pandangannya untuk melihat Pria yang tengah sibuk mengeringkan rambut. Zacry hanya bertelanjang dada dengan menatap indahnya pemandangan kota.


"Apa kau tidak marah kepadaku?" tanya Inta. Dia melihat Zacry yang berbalik badan setelah ucapannya.


"Kenapa? Apa sekarang kau mulai menyesal, Inta?" tanya Zacry.


Pertanyaan kembali itu membuat Inta menundukkan pandangannya. Dia memang menyesal, menyesal karena dulu terlalu mudah di bodohi oleh Bibinya sendiri. Sekarang dia tidak tahu kabar Bibinya itu.


Mata Inta terteguh ketika kepalanya dituntun untuk menatap Zacry. Tangan suaminya kini berada di dagunya.


"Benar, aku marah Inta. Aku sangat marah hingga ingin mematahkan kakimu, karena kau pergi tidak memberikan penjelasan apa pun."


"Abi bahkan menangis setiap malam karena merindukanmu. Apa hanya karena hubungan yang kita lalui di usiamu tujuh belas tahun?"


"Apa sekarang kau menyesal telah menikah denganku? Dengar, Aku telah jatuh cinta kepadamu. Aku mencintaimu melebihi apa pun itu, dan,"


Inta melirik ke arah pandangan Zacry. "Jika kau ingin menyentuhnya, sentuh saja." ucap Inta.


Tangan Zacry segera menyentuh perutnya. Perasaan yang entah apa, Inta seperti merasa dukungan besar padanya. Kekuatan yang muncul itu membuat rasa senang memuncak di hati.


"Dan sekarang kau hamil. Aku tidak akan melepaskanmu, kau adalah istriku. Apa pun yang terjadi di masa lalu, biarlah berlalu. Aku tidak membencimu, Inta." ucap Zacry.


Senyum Inta tampak dengan indah. Dia senang mendengar ucapan Zacry. Seketika, ingatannya mengarah kepada Malinda.


"Mal, apa yang kau katakan itu benar. Mereka tidak membenciku. Mereka malah mencintaiku." benak Inta.


Sesuatu yang lembut terasa di bibirnya. Mata Inta menatap mata pria yang berjarak dekat, tidak ada penghalang untuk mereka.


Inta merangkul tangannya di leher Zacry. Tubuhnya dibaringkan dengan lembut oleh Suaminya.


Setelah ciuman yang penuh kerinduan itu, Inta dan Zacry bernapas dengan hembusan yang sama. Mata keduanya saling menatap, seperti memberitahu kalau kerinduan kini telah menghilang.

__ADS_1


"Inta, aku mencintaimu." ucap Zacry. Senyum Inta terukir, dia segera memeluk suaminya. "Hm, aku juga Zacry. Tolong, maafkan diriku yang telah membuatmu khawatir."


"Hm, jangan pergi. Tetaplah bersamaku untuk selamanya."


__ADS_2