Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
11 : Ibu, jangan pergi


__ADS_3

Abi menatap kesegala arah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang akan menganggu dirinya.


"Tuan muda!" seru pelayan yang menghampiri Abi. Melihat pelayan mendekat, Abi sekali lagi melirik ke segala arah. "Ada apa?" tanya Abi.


Pelayan terteguh mendengar pertanyaan Abi. "E'em, Tuan muda maaf sebelumnya. Justru, Saya yang ingin bertanya, ada apa dengan Anda. Semenjak masuk ke dalam rumah, Anda tampak gelisah." ucap Pelayan.


Abi menoleh ke arah wanita yang berbicara dengannya. "Tidak ada. Aku hanya kelelahan." ucap Abi. Dia kembali melangkah menuju ke kamar meninggalkan pelayan yang kebingungan.


Dihari ini, Abi pulang lebih cepat dari biasanya. Dia sepanjang jalan pulang memikirkan kejadian tadi pagi. Sebenarnya, Abi tidak tenang setelah berkata seperti itu kepada Inta. Namun, dia merasa kesal dengan perbuatan Ibu angkatnya itu.


Di dalam kamar, Abi menaruh tas di meja belajar. Dia melepas sepatu dan dasi kecil yang di kenakan. Hanya seragam yang tersisa. Duduk di tepi kasur, Abi menunggu kedatangan Ibu angkat untuk mengasuh dirinya.


Lima menit berlalu, hingga sepuluh menit pun terlewati. Abi yang masih duduk di tepi kasur mulai merasakan hal aneh.


Dia mengingat kedatangannya. Tidak ada suara panggilan yang memekik ditelinga. Tidak ada yang menjengkuknya saat tiba.


"Apa dia, benar-benar ingin berhenti mengasuhku?" gumam Abi. Diam sesat, dia mengambil keputusan. "Yeah, Dia sama seperti pelayan lainnya. Dia tetaplah, pelayan."


Abi bangun dari tempat duduk. Dia melangkah menuju cermin dan menatap seragam yang dia kenakan. Dengan perlahan, Abi mencoba membuka kancing baju itu. Dia bisa membukanya, hanya saja semua memakan waktu yang membuatnya merasa kesal.


Baru dua kancing baju yang terbuka, Abi sudah menyerah. Dia akhirnya memanggil pelayan untuk membantu. Abi tahu, Sang Ayah tidak bisa selalu bersamanya. Dia juga tahu, alasan Sang Ayah menikah karena ingin dia selalu di jaga dan mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Namun, Abi benar-benar tidak menyukai sosok Ibu ini. Dia bahkan sempat menaruh dendam untuk membalas perbuatan Ibunya. Tetapi, keluarga Sang Ayah menyuruhnya untuk tabah dan menerima semua ini. Suatu saat nanti, akan ada jawaban dari apa yang di alaminya.


Diusia lima tahun yang seharusnya bermain. Namun, Abi tidak menerima semua itu. Dia memang bermain, tapi selalu terdidik dengan lingkungan yang ada. Yang membuatnya berpikir lebih cepat dari pada anak-anak seusianya.


"Sudah tuan muda. Apa Anda ingin saya mandikan juga?" tanya pelayan yang mengajaknya berbicara tadi pagi.


Abi menggeleng. Dia tidak bisa sembarangan mengijinkan orang lain merawatnya. Mengingat hal itu, Abi memandang datar. "Kenapa dulu aku mau dimandikan oleh, Tante itu." benak Abi.


"Baiklah, kalau ada apa-apa, panggil saya tuan." ucap pelayan yang kemudian undur diri.


Abi terdiam di tempat. Hatinya benar-benar merasa bersalah. Akan tetapi, pikirannya menolak perasaan itu. Dia masih menanamkan tekad untuk mengadu kepada Ayahnya.


Siang hari berlalu menjadi sore dan sore itu ikut berlalu, menjadi malam. Abi duduk di depan sang Ayah yang sibuk mengetik sesuatu dibenda persegi empat yang seperti buku mapel.


"Ada apa nak?" tanya Zacry.


Abi menarik napas sesaat dan menghembuskannya. "Ayah, Aku tidak menyukai Ibu!" ucap Abi tanpa perlu basa-basi.


Pria yang tadinya mengetik, segera menghentikan kegiatannya. Diletakkan laptop itu pada meja dan matanya menatap ke arah sang putra. "Kenapa kau membenci ibumu?" tanya Zacry.


Abi menjawab, "Ibu, Dia tadi pagi mengangguku. Dia bahkan banyak bicara. Ayah, aku tidak menyukainya. Bisakah ayah menjauhkannya dariku."


Zacry terdiam. Baru pertama kali Abi mengatakan hal ini. Biasanya, Sang anak hanya akan setuju jika dia yang memutuskan. Menolak pun akan di sampaikan dengan ucapan halus. Namun, perkara Inta ini. Abi memang tampak membenci wanita itu.


"Apa kau benar membencinya, Abi? Jika iya, Ayah akan menjauhkannya darimu." ucap Zacry, apa pun untuk sang putra, dia akan memberikan yang terbaik.

__ADS_1


Abi mengangguk. Lalu kemudian terdiam di tempat. Dia memikirkan bagaimana Inta yang merawat dan bahkan memeluknya.


Tanpa sadar, bayangan Ibu angkat itu memenuhi pikiran Abi. Satu demi satu ingatannya bermunculan yang membuat hati Abi penuh rasa bersalah.


Zacry menatap ke arah Abi yang menunduk. Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.


Sebelum Zacry kembali ....


Suara ponsel berdiri memenuhi ruangan kantor milik Zacry. Pria yang duduk tegap di depan komputernya segera menoleh. Terlihat ponsel yang menunjukkan nomor 'Ibu angat Abi'. Tanpa menunggu deringan selanjutnya, Zacry menyambut panggilan itu.


"Hallo!" ucap Zacry.


Bagaimana mereka bisa saling bertukar nomor? Itu semua terjadi setelah kesepakatan waktu itu. Mereka saling bertukar nomor untuk kepentingan yang mendadak.


Panggilan inilah yang pertama kali mereka lakukan. Apa lagi, Sang Istri yang pertama kali menghubunginya.


"Ada apa?" tanya Zacry setelah tidak ada balasan dari ucapannya.


"Tuan, maaf sebelumnya."


Zacry menarik dasi yang tersampul rapi. Dilongarkan sampul itu agar udara bisa menyegarkan dirinya.


"Begini, bisakah kita bekerja sama."


"Bekerjasama?"


"Hm! Jadi, Aku ingin membuat Abi memanggilku ibu. Baik di depan Anda maupun tidak. Anda pasti tahu kalau Abi hanya memanggiku Ibu di depan Anda."


"Hari ini aku membuatnya kesal. Jika dia memang tidak menyukaiku, Anda bisa mengambil keputusan apa pun yang siap Aku terima. Namun, bisakah Anda membuat Abi ragu dalam mengambil keputusannya untuk mengadu. Siapa tahu dia menerimaku sebagai ibunya."


"Baiklah, jika seperti itu aku akan bekerja sama dengan mu. Namun, jika dia kukuh tudak menyukaimu. Maka, setelah itu, aku akan menyampaikan kesepakatan kita."


Zacry segera menutup panggilannya. Dia menghela napas dengan mengusap wajahnya. Tidak ada niat untuk menikah di usia seperti ini. Zacry ingin bekerja dan menjalani hidup tanpa banyak berpikir.


Namun, kehadiran Abi mengubah segalanya. Di tambah Inta yang entah bagaimana bisa selalu terbayang di dalam pikirannya.


Zacry menggeleng mengingat kejadian kantor saat dia akan pulang. Matanya kembali melirik ke arah Abi yang benar-benar tidak tenang.


"Ayah akan segera menjauhkannya darimu. jadi, tenanglah." ucap Zacry memancing sang putra. Terlihat kegelisahan Abi yang mendongak dan segera bangun dari duduknya.


"Tunggu dulu ayah!" ucap Abi.


Zacry menatap sang putra dengan pandangan khas yang dia punya. Datar tanpa banyak ekspresi.


"Ku, ku rasa ...," Abi ragu melanjutkan perkataannya.


Hal itu membuat Zacry merasa lelah. Dia pun mendekat ke arah Abi. "Dengar Abi, Ibumu bukan berniat untuk membuatmu kesal. Dia hanya ingin membuatmu tergantung kepadanya. Abi, apakah kau lupa dengan pesan Ayah. Tidak semua ibu itu buruk. Salah satu dari seluruh Ibu di dunia, dia akan memberikan kebahagiaan kepadamu bahkan nyawanya pun bisa dia berikan."

__ADS_1


Zacry menutup rapat mulutnya. Dia sudah banyak mengeluarkan kata hari ini. jika memang Abi membenci Inta, dia akan segera menceraikan gadis itu. Tidak perlu menunggu lama, Abi tidak boleh terluka oleh orang lain.


"Ayah ...."


...***...


Inta menatap ponsel yang ada di depan meja. Saat ini, dia berada di kediaman Malinda. Rumah sederhana yang tidak beda jauh dengan rumah yang dulu mereka tinggali.


Bedanya, Malinda memilih rumah ini dengan jarak kampus yang jauh. Sempat bertanya alasan kenapa di sini. Malinda malah menjawab bahwa dia sedang gabut menentukan rumah. Beginilah hasilnya, meski buruk, Rumah itu nyaman untuk di tinggali.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Malinda. Dia membawa pop mie untuk menemani makan malam kali ini.


Inta menoleh dengan wajah cemberut. "Aku takut kalau nanti Zacry benar-benar menceraikanku."


Mendengar hal itu membuat Malinda memutar bola matanya dengan jengah. "Sudahlah ... lebih baik makan pop mie ini. Dari pada menunggu hal yang tidak pasti."


Wajah cemberut Inta berubah menjadi datar. Dia segera menatap kembali pada ponsel pintarnya. "Kau ini, aku sedang memikirkan nasib uangku. Kalau aku diceraikan, uangku akan habis dalam satu atau dua tahun nanti."


"Itu cukup untuk kau gunakan dengan mencari kerja. Lagi pula, ada apa dengan Kau hah! Kau yang malah tampak engan untuk berpisah dari anak angkatmu itu!" celetuk Malinda.


Inta terdiam seketika. Mendengar perkataan Malinda membuatnya ingat seluruh kejadian yang dialaminya. "Apa aku benar-benar tidak ingin berpisah dari anak itu?" benaknya.


Melihat Inta diam seperti robot kehabisan baterai. Malinda menghela napas dan memberikan kunci motor kepada sahabatnya. "Bawalah itu. Pulang dan lihat bagaimana keadaan Putra dan Suamimu." ucapnya.


Tanpa membalas ejekan yang terselip di ucapan Malinda. Inta segera melangkah pergi meninggalkan sahabatnya seorang diri.


Malinda yang melihat hal itu segera menggeleng kepala. "Ku rasa, Dia memerankan peran ibu hingga sikap keibuannya keluar." gumannya.


Perlu waktu lama untuk tiba di kediaman Park. Inta memarkirkan motor sahabatnya dan melepaskan helm dengan menaruh di sembarang tempat.


Di tekan bell rumah dengan perasaan gelisah. Inta begitu takut terjadi sesuatu.


Lumayan menunggu, pintu kediaman Park terbuka dengan seorang pria yang membukanya. Inta terdiam melihat raut wajah Zacry yang datar. Dia masih bingung dengan semua tatapan Zacry.


"Em, Tuan." Inta tersenyum dengan mengaruk tengkuknya. Dia sedikit merasa bersalah karena menganggu pekerjaan pria ini. Saat menelpon Zacry, dia merasa gugup.


"IBU!"


Inta menolehkan pandangannya ke belakang Zacry. Terdapat seorang anak kecil yang berlari mendekat ke arahnya. "Jangan berlari." tegur Zacry.


Abi menulikan teguran Ayahnya, dia tetap melangkah dengan tangan direntangkan.


Melihat Abi yang mendekat, Inta segera berjongkok dan menyambut kedatangannya. Dipeluk Abi dengan erat hingga tanpa sadar ada benih kristal yang mengalir di pipi. "Hei, Abi!" serunya.


"Ibu, jangan pergi lagi ya. Tetaplah di sini dan rawat Abi." ucap Abi. Mendengar hal itu, Inta segera mengangguk. "Hm, Ibu akan tetap di sini."


Zacry menatap dua orang di depannya. Dia tanpa sadar menarik garis tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Ayah ...." Abi menatap ke arah Ayahnya dengan wajah sedih. "Maafkan Abi. Abi tidak membenci Ibu. Hanya, Abi takut di tinggal pergi olehnya. Sekarang, Abi di tinggal. Ayah, apa ibu akan pulang?"


Zacry mengusap kepala Abi dan memeluknya. "Tunggulah, dia akan pulang Abi."


__ADS_2