Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
16 : Ayam bakar


__ADS_3

Mobil masuk ke dalam garasi. Zacry menatap Inta dan Abi yang masih terlelap dalam tidur mereka.


"Hm, Dadry ... Ayam bakar enak." gumam Inta yang didengar oleh Zacry.


Tidak hanya itu, suara lapar memenuhi ruangan yang membuat wajah Zacry semakin datar. "Kami tidak makan saat di sana." Zacry segera keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu sampingnya.


"Pak!" panggil Zacry dengan melihat ke arah pos depan rumahnya. Seorang pria tua datang mendekat. "Iya tuan, ada yang bisa di bantu."


Zacry membuka pintu mobil dan mengangkat Abi dari gendongan Inta. Pak penjaga yang melihat hal itu tersenyum.


"Bisakah bapak membawa Abi hingga ruang tengah." pinta Zacry.


Pak penjaga segera mengangguk dan mengambil alih Abi dari gendongan Zacry. "Masuklah terlebih dahulu." ujar Zacry.


Pak penjaga mengangguk lagi dan segera melangkah pergi meninggalkan Tuan dan Nyonya Zacry.


Setelah kepergian Pak Penjaga. Zacry menatap Inta yang begitu nyenyak dengan tidurnya. Dengan pelan, Zacry mengendong Inta dan membawanya menuju ke dalam rumah.


Setiba di dalam, Zacry melihat Pak penjaga yang sudah mengantar Abi pada sofa ruang tamu. "Tuan," ujar Pak Penjaga dengan berlalu.


Zacry mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Melupakan Inta yang masih dalam gendongannya.


Para pelayan yang sedang memikirkan hidangan untuk makan malam, di kagetkan dengan ke datangan Zacry.


Semua pelayan itu pun mendekati Tuan mereka dengan wajah terkejut. Terkejut melihat Tuan mereka mengendong Nyonya Inta.


"Buatkan Ayam bakar untuk makan malam ini. Lalu, hidangkan juga makanan yang ada di dalam mobil. Ambil di sana." ucapnya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan para pelayan.


Setelah kepergian Zacry, Pelayan yang ada sekitar lima orang itu segera merumpi dengan berbisik.


"Tuan begitu romantis."


"Waah, aku merasa tidak percaya dengan semua yang ku lihat. Nyonya Inta akan bahagia mendapati Tuan."


"Meski kita tahu kalau pernikahan mereka hanya karena tuan muda. Kita doakan agar mereka bisa saling cinta dan bersama."


"Aku setuju ... oh ya, bagaimana kalau kita membantu mereka agar bisa saling berdekatan."


"Eh, jangan begitu ... nanti kita akan mendapatkan masalah."


"Benar, kita tidak akan lupa kalau Tuan Zacry begitu berbeda jika ada yang menganggu urusannya. Bahkan raut cuek dan datarnya itu tidak bisa kita tebak."


"Aku setuju, tapi setidaknya kita harus mendukung hubungan mereka. Aku ingin, Tuan Zacry bisa bersama Nyonya Inta."


"Sudah-sudah ... ayo kita siapkan makan malam yang tuan minta."


Setelah merumpikan Tuannya, semua pelayan bergegas mengerjakan apa yang sudah di perintahkan.


Di ruang tengah, Zacry membaringkan Inta dengan lembut di seberang sofa Abi. Matanya melirik wantia yang tertidur pulas dengan mengenggam lengannya.


Perlahan dan penuh kehati-hatian, Zacry melepaskan tangannya dari genggaman Inta. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Pelayan!" panggil Zacry dengan nada pelan. Seorang pelayan segera mendekati dirinya. "Aku akan mandi, jika keduanya bangun, suruhlah mereka untuk membersihkan diri." pesannya.


Pelayan mengangguk dan memberi jalan kepada Zacry untuk menuju ke kamar.

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit berlalu, Zacry kembali dan mendapati Inta serta Abi yang masih terlelap.


"Tuan," pelayan menundukkan kepala dan menjaga jarak mereka.


"Tidak bangun?" tanya Zacry.


Pelayan segera menjawab bersama anggukkan kepalanya. "Tampaknya, Nyonya dan Tuan Muda menikmati hari libur mereka. Jadi, tidur ini sebagai pelepas penat."


Zacry memperhatikan Inta yang begitu pulas akan tidurnya. Dia merasa ingin menyentuh wajah itu dan mengusapnya dengan lembut. Namun, langkah kaki Zacry tidak mendukung perasaannya. Jadi, dia hanya diam di tempat.


"Sudah jam tujuh, kalian boleh beristirahat." ucap Zacry.


Pelayan mengangguk dan izin pamit. Zacry melihat pergerakkan mata Inta.


Tidur yang menyenangkan, apa lagi memimpikan dia di gendong oleh seorang pria. Yang lebih memuaskan lagi, pria yang mengendongnya adalah Zacry, sugar daddy Inta.


Dengan tersenyum, Inta membuka mata dan melihat seorang pria tengah memandangnya. "Tampannyaaa," celetuk Inta. Dia mengosok kelopak matanya yang langsung ditegur oleh Zacry.


"Matamu akan sakit."


Inta menghentikan apa yang dia kerjakan. Dia memfokuskan pandangannya dan sadar kalau dia bukan di alam mimpi. Dia benar-benar ada di kediaman Park dan statusnya adalah Nyonya Zacry Park. Jadi, semua yang dia mimpikan itu nyata.


"Tunggu! Apa dia mengendongku?" benak Inta.


Dia melirik Zacry yang kini membangunkan Abi.


Anak berusia lima tahun itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia membuka mata dan melihat sang ayah yang menatap padanya. "Ayah?"


Zacry mengusap dan mencium kepala Abi. "Bangun dan mandilah. Setelah itu makan malam dan belajar. kalau capek, Istirahatlah." kata Zacry.


"Ibu, Ayo mandi!" ajak Abi. Inta mengangguk meski tidak mengerti apa yang Abi katakan.


Mereka pergi meninggalkan Zacry yang menatap dari kejauhan.


Tiba di kamar Abi, Inta segera menuju ke kamar mandi dan bersiap memandikan anak kecil itu.


"Ibu, ayo mandi bersama." ucap Abi.


Otak Inta kembali berkerja, dia segera menundurkan diri dengan wajah terkejut. "A-apa? Ma-mandi bersama?" tanya Inta memastikan.


Abi dengan muka polosnya mengangguk. "Kenapa bu, apa ibu tidak ingin mandi bersamaku?" tanya Abi dengan wajah sedih yang dia tampakkan.


Inta segera menggeleng dan menyentuh wajah Abi. Dia bingung menjelaskan kepada Abi alasan dia terkejut.


"Aku tidak pernah mandi dengan orang lain. Eh? Mungkin saat kecil pernah. Tapi, aku engak pernah mandi se-serius ini." benak Inta.


Abi begitu menanti jawaban ibunya. Dia bahkan menatap wajah Inta dengan begitu imut.


Inta menyerah melihat keimutan itu, dia terdenyum dan melepaskan pakaian Abi. "Oke, kita mandi bersama." ujarnya.


Maka, untuk pertama kali bagi Abi, dia bisa mandi bersama Ibu. Meski bukan ibu kandungnya.


...***...


Di ruang tengah, Zacry duduk dengan memeriksa tabletnya. Dia memperhatikan data-data pekerjaan yang tertunda.

__ADS_1


"Tuan," panggil Pelayan.


Zacry menganggkat pandangannya dan melihat Pelayan yang bekerja di bagian dapur. "Iya?"


"Tuan, ayam bakarnya sudah siap. Makanan yang ada di mobil juga sudah di sajikan. Apa ada lagi?"


Zacry menggeleng. "Tidak ada, kalian beristirahatlah lebih awal." ucapnya. Pelayan itu mengangguk dan segera undur diri, meninggalkan Zacry yang mematikan tabletnya.


Setelah kepergian Pelayan, datang Inta dan Abi dengan wajah segar mereka. Tidak hanya itu, Abi tampak bahagia hingga langkahnya melompat-lompat kecil.


"Kenapa?" tanya Zacry menatap Abi.


Mengerti apa yang di maksud oleh ayahnya, Abi segera menjawab dengan lantang. "Abi mandi bersama ibu!"


Inta memerah seketika, dia mengingat kejadian di dalam kamar mandi. Di mana Abi begitu memperhatikan pakaian basahnya. Meski tidak menunjukkan lekukan tubuh, Inta tetap merasa dia tidak mengenakan pakaian.


Yang membuat ingatanya kembali, ketika Abi bertanya, "Ibu, jika ibu adalah ibu kandungku. Apa aku yang menyusu kepada ibu?"


Hal itu segera membuat Inta terdiam. Dia menatap Abi dengan pandangan tidak percaya. "Hei, dari mana kau belajar semua itu?" tanya Inta.


"Abi mengingat kalau ayah menyewa wanita dan membeli asinya untuk abi. jadi, abi bisa sesehat ini." jawabnya saat itu.


Inta menggeleng kepala. Dia menatap Zacry yang mengendong Abi.


"Maaf Dadry, apa benar Abi diberi asi oleh wanita?" tanya Inta. Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.


Zacry yang mendengarnya segera melirik Inta. Dia seketika mengingat perkataan Abi, tentang mandi bersama Ibunya. Terlintas pikiran kotor yang membuat Zacry segera menghilangkan semua itu. Dia melangkah mendekati Inta dan menatapnya.


"Iya, ayahku ingin abi mendapatkan asupan yang baik. bagaimana pun, usia abi saat itu masih dua bulan."


Inta seketika diam mendengar jawaban Zacry. Wajar saja Abi bertanya padanya. Anak berusai lima tahun ini sudah di tinggal sang ibu kandung di usia dua bulan. Inta tidak berani bertanya lagi. Di dalam hatinya, dia ingin menjaga Abi sebisa mungkin dan memberikan kasih sayang ibu kepadanya.


Melihat Inta tidak bicara lagi, Zacry segera melangkah menuju dapur dengan melewatinya. "Ayo makan!" ajak Zacry.


Inta mengangguk dan segera menuju dapur. Di meja makan terhidang ayam bakar yang sudah terpotong rapi. Lalu ada makanan manis yang menjadi penutup makan malam ini.


Seketika Inta mengingat mimpi yang dia alami. Mimpi itu, dia digendong Zacry dengan lembut menuju dapur. Di sana sudah ada Abi yang menunggu kedatangannya.


Yang lebih membuat Inta terpaku, di dalam mimpinya ada hidangan ayam bakar yang begitu enak. Dia tidak menyangka mimpi itu bisa nyata.


"Ini? Bagaimana Dadry tahu kalau aku ingin ayam bakar?" Inta menatap Zacry yang duduk di kursinya setelah mendudukkan Abi.


"Kau mengumamkannya." jawab Zacry.


Tidak perlu jawaban lebih jelas, Inta sudah tahu detailnya. Dia menarik kursi di samping Zacry dan menyajikan hidangan itu di semua piring.


Abi yang melihat semangat ibunya, ikut bersemangat. Dia segera mengambil paha ayam dan makan dengan tenang.


Tentu saja, Zacry juga menyantap makan malam ini dengan ketenangannya. Sedangkan Inta tetap seperti dirinya. Makan dengan tangan dan menyantap semua yang dia dapatkan.


"Emm, Enaknya...." Inta merasa puas dengan makan malam ini. Selain rasa penat yang menghampirinya, dia juga mendapatkan perhatian dari Zacry.


Yang terpenting, mimpi Inta bisa menjadi kenyataan. Di sela-sela makan, Inta memikirkan bagaimana Zacry mengendong dirinya.


"Dia mungkin mengendongku seperti wanita-wanita umumnya. Ah, seandainya aku bangun saat itu, pasti akan ku rangkul lehernya. hehe...." benak Inta tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2