Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
7 : Dijemput


__ADS_3

Di kantin. Inta dan Malinda menikmati makan siang mereka. Dengan Mie Goreng dan Bakso bersama Teh Es menjadi menu terbaik untuk keduanya. Tentu, Inta lah gang mentraktir makan siang kali ini.


"Eh, bewtewwe-,"


"Selesaikan dulu makanmu itu, jangan berbicara saat makan." tegur Inta. Dia menggeleng melihat tingkah Malinda.


"Hm, kau benar!" Malinda segera menyelesaikan makanan yang ada di dalam mulut. Di seduh teh es yang sudah hampir habis.


"Tumben si penguntitmu tidak muncul?" celetuk Malinda. Inta melirik sekelilingnya, dia memang ingin mengajak Alfazi untuk berbicara.


"Oh, Itu dia!" Malinda mengangkat tangan kanan dan melambai ke arah Pria yang sedang kebingungan. "Hei Pria sejati, kemarilah!" teriaknya.


Inta menatap Alfazi yang mendegus. Pria itu melangkah mendekati mereka. "Di pikir-pikir, Alfazi juga tampan. Tapi, Zacry jauh lebih dari dirinya." benak Inta.


Alfazi duduk di depan Inta dengan nampan di atas meja. Dia melirik kearah Malinda dengan tatapan tajam.


"Aku tahu kok! Dasar, huh!" Malinda bangun dan melangkah pergi ke meja lain. Dia tahu kalau saat ini, Alfazi ingin berbicara berdua dengan Inta.


Setelah kepergian Malinda, Inta mengubah posisi duduk dengan gugup. Dia begitu engan untuk masalah seperti ini. Saat tahu Alfazi menyukai dirinya, Inta selalu mendekati Malinda. Semua itu bertujuan untuk menghindar permasalahan ini. Sekarang, Inta tidak perlu menghindar. dia sudah menikah. Dengan alasan ini, Alfazi akan menjauhinya.


"Apa benar, Kau sudah menikah?" tanya Alfazi.


Inta mengangguk. Jari manisnya tampil baik di atas meja. Melihat hal itu, Alfazi meneguk salivanya dengan perasaan sedih.


"Kenapa harus menikah? Kalau hanya karena utang, aku bisa membantumu." kata Alfazi dengan nada sedihnya.


Inta tersenyum, dia merasa tengah berakting dengan kamera di mana-mana. "Aku menikah bukan karena utang. Tapi karena hal lain. Jadi, berhentilah mencintaiku, Alfazi."


"Tidak!" Alfazi mengenggam tangan Inta secara tiba-tiba.


Melihat tingkah pria di depannya. Inta segera menarik tangannya dan memberikan senyum paksa. "Kau tidak berhak mengaturku." ucap Inta.


Perkataannya membungkam Alfazi. Dia baru kali ini melihat keseriusan Inta. "Oke, maafkan aku." Alfazi menenangkan dirinya sesaat, lalu kembali berucap. "Tapi, untuk berhenti mencintaimu. itu mustahil. Inta, perasaanku ini tulus."


"Tulus atau tidak, itu engak ada hubungannya denganku. Jadi, hentikan harapan yang tidak bisa nyata. Sudahlah, aku ingin makan siang, lebih baik kita akhiri disini." Inta menatap kearah Malinda yang sibuk menikmati makanannya.


"Aku sudah menikah dan aku tidak bisa membalas cintamu." ucap Inta. Dia bangun dan melangkah mendekati Malinda.


Alfazi yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Dia menatap punggung Inta yang selalu tegap memikul segala masalah. "Kenapa, kenapa kau tidak ingin mencobanya bersamaku. Apakah sulit untuk melakukannya?" gumamnya.


Inta duduk dan menghela napas dengan kasar. Dia serasa sesak untuk mengucapkan semua itu.


"Ada apa? Apa Alfazi menolak untuk meninggalkanmu?" tanya Malinda.


Inta mengangguk, "Dia begitu serius. Padahal aku sudah berakting untuk membuatnya takut. Eh, dia malah semakin menjadi."


"Yeah, dia mencintaimu dari awal semester, apa salahnya dengan cinta tulus yang dia berikan. Apa kau tidak ingin berselingkuh saja?"


Inta menjentik jidat sahabatnya. Bagaimana bisa, Sahabatnya berucap seperti itu. "Sudah ku bilang, jangan ajari aku dengan sikap iblismu itu. Kau benar-benar ya."

__ADS_1


Malinda mengangkat bahunya sesaat. "Kau kan tahu sendiri, aku bisa berbuat semauku selama itu berguna."


Inta menggeleng, "Ya, aku tahu semua tentangmu. Bagaimana kau menghancurkan hubungan seseorang dan berakhir dengan penjara. Kau itu, panutan yang mengerikan."


Malinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia segera melanjutkan makan siang yang hampir selesai.


"Punya sahabat mengerikan seperti Malinda. Memang berbahaya." benak Inta. Apa yang dia katakan ada benarnya. Dulu, saat sekolah menengah, Malinda terjerat kasus pembunuhan. Polisi ingin memenjarakan Malinda, tetapi hukum anak-anak melindungi Sahabatnya itu.


Saat Kuliah, Malinda pun hampir ikut ke kantor polisi. Namun, lagi-lagi tidak ada bukti kalau dia bersalah. Inta merasa, Malinda bukan orang sederhana seperti ucapan sahabatnya sendiri.


...***...


Langkah kaki santai menuju ke luar gedung. Inta dan Malinda saling bercanda gurau menikmati waktu berdua mereka.


"Jadi, kau sudah pindah Mal?" tanya Inta.


Malinda menganggukkan kepalanya. "Hm, tepat saat aku pulang dari pernikahanmu itu."


"Cepat sekali. Aku ingin membantumu. Oh ya, untuk uang yang selalu kau berikan kepadaku. Bisa di total tidak? Aku ingin mengantinya." ucap Inta.


Malinda terteguh mendengar perkataan Sahabatnya. Dia melirik Inta dari atas ke bawah. "Kau berlagak seperti gadis kaya Inta. Sudah, tidak perlu di ganti. Kau sudah mengantinya dengan selalu semangat untuk berkuliah. itu sudah cukup."


Inta mengerutkan alis. Dia menyentuh pundak Malinda. "Hei, aku serius!"


"Aku juga serius." timpal Malinda.


Saat keduanya ingin mulai perdebatan. Seorang supir menarik perhatian mereka.


Inta terkejut melihat supir Abi ada di sini. Berbeda dengan Malinda yang tersenyum melihatnya. "Wah, sepertinya semua sesuai keinginan Inta. Semoga dia tidak menderita lagi." benak Malinda.


Inta bergegas mendekat ke arah Pak Supir yang tidak jauh dari mereka. "Pak, kenapa Anda di sini?"


"Tuan muda bilang, Dia ingin menjemput Anda." ucap Pak Supir.


Kata tuan muda membuat Inta mengerutkan alisnya. "Abi? Bukannya anak itu tadi pagi membenciku? Apa dia ingin mengerjaiku lagi?" benak Inta.


Malinda mendorong kecil punggung sahabatnya. "Hei, ikut saja. Ini kesempatanmu bukan? Kau harus buktikan kalau jiwa keibuanmu itu bisa memberikan kebahagiaan kepada anak kecil. Sudah, ikut saja." bisik Malinda.


Inta mengangguk dan menatap Pak Supir yang masih menunggu jawabannya. "Baik Pak."


Pak supir segera membuka pintu mobil. Inta masuk setelah melambaikan tangan kepada Malinda. Kepergian Mobil itu membuat dua orang saling berbeda pandangan.


Malinda tersenyum sedangkan Pria yang baru saja patah hati, menatap dengan pandangan masam.


Di dalam mobil, Inta melihat Abi yang fokus menatap jalan raya. Pria kecil itu masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Apa Abi tidak berganti pakaian?" tanya Inta. kelasnya hari ini sampai sore, tidak mungkin paud juga ikutan sampai disore.


"Tuan muda memang bersekolah hingga sore hari Nyonya. Di sana mereka mendapatkan fasilitas terbaik. Tergantung hari juga, ada di mana mereka akan pulang lebih cepat." jelas Pak Supir.

__ADS_1


Inta menganggukkan kepala. Mata Inta melirik kearah Abi yang masih cuek kepadanya. "Terima kasih sudah menjemputku. Sebelumnya, ada tujuan apa Abi melakukan ini?"


Abi menatap kearah Inta dengan pandangan datarnya. Inta yang melihat pandangan itu, seketika ingat dengan Zacry. "Yeah, dia memang putranya." benak Inta.


"Ayah bilang, aku harus bersama Tante. Makanya, Aku melakukan ini. Jika bukan karena itu, Aku tidak akan menjemput Tante." cibir Abi.


Inta merasa tertusuk mendengarnya. Dia berpikir, dari mana anak ini belajar berkata seperti itu. di lihat dari keluarga Park, tidak ada yang berkata kasar. Hanya, Abi ini saja yang berbeda.


"Oh, jadi karena tuan ya...." Inta melirik ke arah jalan raya. Dia memperhatikan beberapa tempat, "Ada kesempatan seperti ini. Lebih baik ku gunakan untuk mengambil hati anak kecil yang cuek di sampingku." benak Inta.


"Pak, bisa berhenti di sana." Inta menunjuk taman yang begitu ramai. karena di sore hari, anak-anak menikmati waktu luang mereka.


Pak supir segera menghentikan mobil dan memarkirkannya. Mereka bertiga keluar bersama-sama.


"Apa yang akan Tante lakukan? Aku harus pulang dan belajar." ucap Abi. Inta mengusap kepala anak kecil yang tingginya hingga pinggul Inta. "Sudah, Ikut saja. Pak, bapak bisa menunggu di sini sebentar?"


Pak supir mengangguk. Inta segera membawa Abi menuju ke tempat bermain. Ada beberapa permainan yang di isi oleh pasir. Inta berhenti melangkah tepat pada perosotan yang asik dimaini anak kecil.


"Naiklah Abi, dan cobalah." kata Inta. Abi mengerutkan alis dan menatap kearah sang Tante dengan pandangan masam. "Aku tidak ingin bermain." ucapnya.


Melihat tekad Abi yang kuat. Inta tanpa basi basi mengendong Abi dan mendudukkannya di atas perosotan. Tidak tunggu lama, Abi terbawa hingga menuruni permainan itu.


Perasaan senang muncul di hati, Abi menatap Inta yang juga menatap ke arahnya. "Ehem, aku tidak ingin bermain." Abi bangun dan ingin melangkah pergi.


Namun, Inta lagi-lagi meletakkan Abi di perosotan yang sama. Hingga, lama-kelamaan Abi menikmatinya dengan senyum lebar.


"Lagi, lagi Tante." ucap Abi. Inta tersenyum tipis melihat semangat membara Abi. Tanpa perlu ditemani, Abi bergegas menaiki tangga dan meluncur kebawah dengan Inta yang melindunginya.


Permainan seru itu menghasilkan keringat. Abi akhirnya berhenti dengan duduk di ayunan. "Bagaimana, Seru?" tanya Inta.


Abi mengangguk puas, dia menikmati permainan di sini. Padahal, Sekolah Paudnya juga memiliki wahana bermain. Namun, Abi tidak begitu bahagia bermain di sana. Dia malah bahagia, saat ada seseorang menemaninya.


Tanpa sadar, Abi menatap tangan Inta yang mendorong ayunan untuk dirinya. Dengan keraguan, Abi mengenggam tangan Inta.


"Ada apa? Kau lelah?" tanya Inta. Dia senang melihat keceriaan seperti ini. Melihat Abi yang jarang bersama orang tua, membuat hatinya sakit. Maka, dengan kesempatan ini. Inta memberikan kasih sayang dan perhatian untuk Putra Angkatnya.


Abi menggeleng kepala. "Kalau begitu, mari kita pulang. Ayahmu pasti menunggu kita." usul Inta. Hari mulai gelap, mereka harus kembali ke rumah dan beristirahat.


"Hm," gumam Abi. Inta mengerti kalau mereka bermain dengan waktu yang singkat. Jika ingin berlama-lama pun tidak mungkin, mereka akan kedinginan dimalam hari. Meski Inta tidak memperdulikan hal itu, tapi Tuan muda manja ini tidak menyukai hawa dingin.


"Kemarilah." Inta membentangkan tangannya, Dia mengendong Abi dan melangkah menuju mobil mereka.


Pak supir segera bersiap untuk menyetir. Mobil pun keluar dari kawasan bermain dan meninggalkan taman yang sudah menjadi basecam untuk Inta dan Malinda.


"Nyonya, Tuan besar tadi menelpon." kata Pak Supir.


Inta membaringkan Abi yang kini terlelap karena lelah. Di usap kepala anak itu pada pangkuannya. "Apa yang dia katakan?" tanya Inta.


Pak supir segera menjawab. "Tuan bilang, jangan pulang terlalu larut."

__ADS_1


"Dia mengkhawatirkan Putranya? Heh ... aku bingung, tadi pagi dia menghilang seperti orang yang tidak perduli. Sekarang, dia terlihat seperti ayah yang sangat menyayangi anaknya." benak Inta. Dia menatap wajah Abi yang tidur begitu nyenyak.


"Sebenarnya, bagaimana bisa anak ini hadir dari pria kaku itu? Mustahil sekali pria kaku bercumbu dengan wanita. Sudahlah! Tidak ada hubungannya denganku. Sekarang, aku harus berpikir untuk membuat Abi memanggilku Ibu. Setelah itu, tugas ku akan selesai. Eh, belum ... harus memberikan kasih sayang Ibu." benak Inta kembali.


__ADS_2