
Inta terduduk lemas di kursi umum. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Malam akan tiba, tidak ada niat untuk Inta melangkahkan kaki kembali.
Tidak, memang tidak seharusnya dia melangkah kembali. Jika seperti itu, dia sama saja memasuki kandang hewan buas.
"Uh, tolong tenanglah, Inta." gumamnya.
Niat hati, Inta ingin meminta maaf setelah tahu siapa yang dia ajak untuk melakukan hubungan satu malam itu.
Akan tetapi, jawaban Bibinya berhasil membuat Inta bungkam. Dia bahkan tidak bisa memahami semua itu.
Ingatan jelas tergambar di kepalanya. Bisa Inta ketahui kalau dia telah membuat kesalahan fatal dengan menjadi seorang istri keluarga park.
"Aku harus bagaimana?" gumam Inta kembali.
Pikirannya berjalan dengan mengingat kalau Zacry dan Abi sangat membenci wanita yang mengendung Abi. Wanita itu adalah dirinya, dia lah yang telah melahirkan Abi dan pergi tanpa memberikan apa-apa.
"Abi pasti akan membenciku ketika tahu kalau ibu kandungnya itu adalah aku! Sial, kenapa aku harus terjebak di dalam lingkungan ini!"
Sembari merenungkan kesalahannya, Inta tanpa sadar meneteskan air mata. Dia merasa dirinya telah begitu kotor. Tidak ada lagi kebaikan yang tersimpan di dalam dirinya.
Saat di usia 17 tahun itu, Inta tidak memiliki jalan hidup karena dia kehilangan orang tua di usia yang masih muda. Lalu, rasa kehilangan menghantuinya hingga dia mengikuti apa yang di sarankan oleh Bibi Linta.
"Aku, aku," Kepanikkan melanda pikirannya. Inta seketika melihat seseorang berdiri tepat di depannya.
"Kenapa kau melakukan itu, Inta?"
"Ibu, kenapa kau meninggalkanku, kenapa tidak ada kasih sayang dari hatimu untukku."
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!!!"
Inta berlari berharap bisa menjauhi semua yang dia alami. Orang-orang yang melihatnya hanya menatap aneh sembari menduga kalau Inta sedang mengalami gangguan jiwa.
Langkah kaki membawa Inta menuju ke sebuah jalan yang tidak asing baginya. "Ma-malinda, Malinda!" gumam Inta.
Hanya berbekal pakaian tanpa alas kaki. Inta melangkah memasuki sebuah gang kecil yang menjadi tempat tinggal Malinda.
Dia berjalan sembari mengusap air matanya. Perlahan dan pasti, Inta melangkah terus menerus hingga berhenti di sebuah rumah yang baru dua kali dia kunjungi.
"Mal!" seru Inta.
Hari yang makin gelap, dihadiri rintikkan hujan yang mulai mengalir deras. Inta segera menuju teras dan mengetuk pintu rumah tersebut.
"Malinda! Malinda!" serunya kembali.
Namun, Tidak ada jawaban dari panggilannya. Inta menatap ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau ada orang yang bisa dia tanyai.
"Ku mohon, Malinda jangan tinggalkan aku!" gerutuk Inta.
Tidak ada tempat untuknya kembali. Jika pergi ke kediaman Park, dia sama saja menyerahkan diri. Lalu, pasti dia akan diusir dan bahkan dikucilkan.
Tidak! Inta tidak mengharapkan itu semua. "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, aku tidak-... Hiks! Mal!"
Perlahan tubuh Inta merosot ke bawah. Dia bersandar dengan kepala yang tertunduk. Air mata begitu deras mengalir, semua masalah yang di hadapinya seketika bermunculan.
"Ibu, Ayah ... aku tidak ingin berada di sini, semua pergi meninggalkanku. Ayah, Ibu ... apa lebih baik aku mengikuti kalian!" gumam Inta.
Disaat rasa putus asa muncul, Inta mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Kepala yang tertunduk itu segera mendongak dan penglihatannya perlahan membaik.
"Inta!" seru Malinda.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Inta segera membangunkan tubuhnya dan memeluk Malinda. "Mal, ku mohon, tolong aku!"
"Tolong, tolong bantu aku melarikan diri. Tidak! Sembunyikan aku hingga tidak ada satu orang pun tahu keberadaanku."
"Ah tidak, kau pasti bisa membunuhku," Inta mencengkram lengan Malinda. "Bunuh aku, Mal! Bunuh aku!" pinta Inta.
"Tenangkan dirimu Inta, ayo ikut denganku. Aku akan membawamu pergi meninggalkan semua penderitaanmu." ucap Malinda.
Inta melihat pandangan serius sahabatnya itu. Kepalanya dengan cepat mengangguk. "Hm, bawalah aku ... jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku."
"Aku tidak akan membunuhmu." ucap Malinda.
Inta segera masuk ke dalam mobil. Dia bersadar di dalam dekapan Malinda. Air matanya terus mengalir dengan perasaan yang belum bisa tenang.
"Tidurlah ... tidur bisa membantumu untuk lebih tenang." Malinda menepuk pelan kepalanya.
Inta mengangguk, dia segera memejamkan matanya dan tertidur dengan cepat.
...***...
Di kediaman Zacry Park, Abi baru tiba bersama Zivta. Dia segera turun dari gendongan Pamannya untuk mencari Sang Ibu.
"Ibu! Ibu!" teriak Abi.
"Sudah pulang?" tanya Zacry yang keluar dari dapur sembari membawa secangkir teh.
"Hm, kami bermain di taman bersama Malinda." sahut Zivta.
"Ayah, Ibu di mana?" Abi mendekati Ayahnya.
Zacry segera menaruh teh yang masih beruap itu. Dia menoleh ke arah pelayan.
Zacry mengerutkan alisnya. "Kenapa dia pergi dengan terburu-buru?" benak Zacry.
Suara langkah kaki seseorang dari arah pintu menarik perhatian. Zacry maupun Zivta segera menghampiri orang tersebut.
"Dokter? Ada apa Zacry, ada yang sakit?" tanya Zivta yang kaget melihat seorang dokter tiba di sini.
"Abi, mandilah bersama pelayan. Ayah ada urusan dan untuk Ibumu, dia pasti akan pulang." ucap Zacry tanpa menjawab pertanyaan Kakaknya.
Abi segera mengangguk dan mengikuti pelayan untuk segera mandi. Dia tidak sabar menemui Ibunya dan menceritakan apa yang dia alami.
Setelah kepergian Abi, Zacry menyuruh Dokter tersebut untuk duduk di ruang tamu.
Zivta yang masih dilanda rasa penasaran segera duduk disofa menyusul dua orang tersebut.
"Silahkan," ucap Zacry.
Dokter mengangguk dan mengeluarkan sebuah amplop coklat. Dia segera membuka amplop tersebut dan menampilkan kertas putih di sana.
"Dari hasil laporan yang saya dapatkan. Tuan Muda Abi Park dan Nyonya Inta Park. Mereka berdua di nyatakan sebagai Ibu dan Anak. Kecocokkan dari rambut yang Anda bawa mencapai 99,9%." ucap Dokter yang memberikan lembaran kertas itu.
Zacry segera membacanya dan beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah menjadi penuh kebahagiaan.
Meski seperti itu, di mata Dokter, wajah Zacry tetap sama. Datar dan tanpa ada ekspresi yang lain.
"Kalau begitu, Adik Ipar dan Abi adalah Ibu dan Anak. Bukankah ini bagus!" pekik Zivta.
Zacry mengangguk, "Hm ... aku akan menjaganya dan tidak perlu lagi berpikir yang lain."
__ADS_1
"Tapi, bukankah kau sendiri bilang, kalau kau akan mencari Ibu Kandung Abi. Sekarang, kau sudah menemukannya. Apa kau puas, Zacry?" tanya Zivta.
Dokter segera pamit karena dia tidak ada urusan dalam keluarga ini. Kepergiaannya membuat Zivta dan Zacry saling membangun suasana yang berbeda.
"Bukan aku ingin mengadu domba kalian. Hanya saja, jika Inta memang ibu kandung Abi, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Apa selama ini dia berbohong kepada kita?" tanya Zivta.
Zacry memikirkan apa yang dikatakan oleh Kakaknya itu ada benarnya. Selama ini, Zacry terus mencari orang yang melahirkan Abi. Sekarang, orang itu adalah Istrinya sendiri. Orang yang dia cintai.
Kebingungan muncul dibenaknya. Zacry tentu kesal karena bagaimanapun, kejadian di hotel itu telah direncanakan. Lalu, kenapa Inta tidak mengatakan yang sebenarnya.
Meski ada kekesalan di benak Zacry. Ada kebahagiaan saat tahu kalau wanita itu adalah Inta. Zacry tidak merasa sedih karena dia lah yang memang sepenuhnya memiliki wanita yang dia cintai.
"Aku tidak tahu ... mungkin, lebih baik bertanya padanya secara langsung." ucap Zacry.
"Tuan!"
Keduanya segera menoleh kepala untuk melihat Pak supir yang tampak lelah.
"Ada apa pak?" tanya Zivta.
Pak supir mengatur napasnya sesaat lalu menatap dengan wajah paniknya. "Tuan, Saya membawa Nyonya Inta untuk pergi ke kediaman utama. Namun, saat Saya menunggu Nyonya kembali, saya malah melihat Nyonya berlari tanpa alas kaki."
Zacry terkejut mendengar perkataan Pak Supir di depannya. Reaksi Zacry begitu berbeda hingga Zivta berdiri karena adiknya saat ini berdiri dengan tubuh tegap.
"Dia berlari?" tanya Zacry.
Pak supir mengangguk dengan cepat. "Saya menyusul Nyonya mengunakan mobil, tapi entah bagaimana ... saya kehilangan jejaknya."
Zacry seketika terdiam mendengar semua itu. Pikirannya tiba-tiba teringat akan ucapan Kakak Iparnya, Malinda.
"... Ada beberapa hal yang tidak bisa ku katakan kepada kalian. Yang bisa ku katakan, bahwa kami tidak bersama diusia 17 tahun. Tenang saja, Inta dijaga oleh Bibinya."
"Jangan bilang, Inta mengandung Abi di usia 17 tahun?" gumam Zacry.
Zivta menjadi teringat perkataan Malinda. Usia 17 tahun itu sempat membuatnya penasaran. Namun, penasarannya itu dialihkan dengan ketertarikan Zivta kepada Malinda.
"Kalau begitu, apa ini ada hubungannya dengan jebakkan hotel itu. Aku akan memeriksa rekaman cctv di sana." ucap Zivta yang bergegas pergi.
"Pak, terima kasih." Zacry segera melangkah menuju ke kamarnya. Dia akan melacak nomor Inta untuk menemukan jejak wanita itu.
"Inta, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Lalu, Abi adalah putramu dan kau adalah Istriku. Inta, Aku tidak akan melepaskanmu!" benak Zacry.
...***...
Suara barang yang hancur lebur terjadi di teras rumah. Inta menghancurkan ponselnya dengan cepat. Dia tidak akan memberi jejak apa pun kepada keluarga Park.
"Kau sudah siap?" tanya Malinda.
Inta menatap sahabatnya. Mereka saat ini akan menuju ke suatu kota yang Inta sendiri tidak tahu di mana.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya kepadamu. Siapa kau, Malinda?"
Malinda tersenyum, dia membuka pintu mobil yang akan mereka naiki. "Kau akan tahu setelah kita tiba di sana." jawabnya.
Inta mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil yang di susul oleh Malinda.
"Maaf Zacry, bukan aku ingin mengakhiri ini semua. Tapi, aku malu untuk menemui kalian. Maaf, aku harus meninggalkan kalian." benak Inta.
Di sisi lain, Zacry mengerahkan mobilnya menuju titik terakhir dari ponsel Inta. "Inta, jangan harap kau bisa lepas dariku!"
__ADS_1