Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
31 : Ingatan yang hilang


__ADS_3

...(🚫⚠️Mohon bijak dalam membaca⚠️🚫)...


"Kau sudah siap?"


Mata yang sedu itu menatap pada seorang wanita yang berdiri didepannya.


"Bibi, apakah aku harus melakukan ini?" tanya pemilik mata sedu itu.


"Bukankah kau ingin uang? Inta, dengarkan Bibi ya ... di usiamu 17 tahun ini. Hanya cara inilah yang memudahkanmu mendapatkan uang. Jadi, lakukan dengan benar." ucap Linta.


Inta, dia menatap pintu kamar yang tertulis VIP di sana. Dengan perasaan yang serba salah, Inta akhirnya membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


Setelahnya, suara pintu terkunci sangat jelas terdengar. Inta melangkah menuju kasur redup yang terlihat seorang pria dengan perlahan membuka mata.


"Ingat Inta, Kau hanya perlu melakukannya tanpa bertanya siapa dia dan kau juga tidak perlu menyebut namamu. Ingat itu," pesan Bibi Linta yang ada di kepala Inta.


Dia melepaskan baju kaos yang dikenakan. Lalu, perlahan dan pasti seluruh pakaian itu terlepas dari tubuhnya.


Setelah tidak ada sehelai pun kain. Inta menaiki kasur dan segera mendudukkan diri di pangkuan pria yang kepanasan.


"Siapa kau!"


Ucapannya benar-benar penuh penekanan. Apa lagi, Inta merasa cengkraman pria itu ditangannya.


"Katakan kepadaku, Siapa dirimu!"


Inta tetap tidak menjawab. Dia hanya menatap pria di depannya yang mulai kesal. Tidak perlu menunggu lama, Inta dijatuhkan dengan posisi pria itu di atasnya.


"Cih sial!"


Inta merasa dirinya seperti benda yang disentuh, dicium hingga merasa gigitan kecil di ceruk lehernya. Tidak lama, hawa panas terasa di tubuh dengan keringat yang muncul.


Ciuman tidak lepas dari dirinya, Inta merasa pria di depannya mulai siap memberikan serangan hingga tubuh Inta melengkuk ke belakang.


"Sempit sekali!" gumam pria itu.


Inta menangis kesakitan karena merasa benda aneh itu masuk tanpa permisi. Dia merasa sakit hingga ada sesuatu yang keluar di sana.


"Kau masih perawan?"


Mulut Inta terasa lemah untuk menjawab. Dia hanya bisa terdiam sembari menahan sakit yang luar biasa.


"Aku akan hati-hati."


Itulah yang di katakan seorang pria mabuk dengan obat perangsang yang mempengaruhinya.


Permainan panas itu tidak cepat berakhir. Inta sudah lelah untuk berteriak. Tubuhnya pun begitu lelah menerima serangan dari pria itu. Hingga hentakkan terakhir berpacu dengan semburan aneh yang mengisi perutnya.


"Sial, kau akan hamil!"


Inta tidak mendengar jelas perkataan itu. Yang dia tangkap hanya perkataan Hamil. Setelah itu, dia hanya merasakan tubuh seseorang yang memeluk dirinya.


"Sudah berapa kali dia memasukan miliknya padaku." benak Inta sembari melepaskan pelukkan dari pria itu.


Inta mengambil pakaian yang dia lepas. Tubuhnya yang lengket dengan bagian privasinya yang masih basah. Inta keluar kamar dengan tanda-tanda kemerahan diceruk lehernya.


"Kau melakukannya dengan baik Inta. Baiklah, ayo kita pulang." ucap Bibi Linta memberikan sebuah mantel yang menutupi seluruh tubuh Inta.


Satu bulan berlalu, Inta merasakan rasa mual yang begitu tiba-tiba. Dia segera menghampiri Bibinya di ruang tengah.


"Ada apa Inta?"


"Bibi, aku dari pagi ini mual-mual. Apa terjadi sesuatu padaku?"


Sebuah tes kehamilan terarah di depan mata Inta. Dia mengambil tes itu dengan wajah bingung.


"Kau tidak perlu turun sekolah. Beristirahatlah di rumah hingga kau benar-benar berhasil mendapatkannya." ucap Bibi Linta.


Inta bingung mendengar semua itu. Dia ingin bertanya tapi rasa mual benar-benar menyerangnya.

__ADS_1


"Cek lah, jika garis dua, kau di nyatakan hamil." sambung Bibi Linta.


Inta diam seketika. Dia pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk melihat hasil tes itu.


Benar apa yang di katakan Bibinya. Dia tengah mengandung. "Jadi, hanya di lakukan dalam waktu semalam. Aku bisa hamil?" gumam Inta.


Mengingat hubungan panas itu, dia tidak menduga seperti inilah yang akan terjadi.


Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga akhirnya Inta berada di rumah sakit. Dia akan melahirkan karena sang Bayi siap melihat dunia.


Sejujurnya menjalani semua ini tidaklah mudah. Inta harus bersembunyi dari sahabatnya Malinda yang selalu mencari keberadaannya.


"Selamat bu, ini sudah pembukaan ke delapan." ucap dokter kandungan.


Inta hanya mengangguk tanpa menunjukkan reaksi bahagia. Dia melakukan ini semua demi uang. Setelah melahirkan anak ini, dia akan mendapatkan uang sebesar 40 juta.


Hembusan napas yang berat dengan dorongan dan semangat dari para perawat. Akhirnya, suara bayi menangis terdengar ditelinga.


Inta memejamkan matanya karena sesuatu yang menyiksa tiba-tiba muncul.


"Selamat Bu, anaknya laki-laki. Wajahnya tampan sekali. Oh ya, apa suami ibu akan datang?" ucap perawat dengan niat menyemangati Inta.


Namun, Inta tidak meresponnya. Bayi itu dibawa keluar oleh perawat. Inta tahu kalau Bibinya lah yang akan merawat bayi itu.


"Tidak, aku tidak boleh menangis." benak Inta.


Beristirahat setelah melahirkan. Inta melepaskan infus yang dia pakai. Setelah itu, perlahan dia bangun dari ranjang pasien dan memilih untuk pergi meninggalkan ruangan.


Dia terus melangkah dengan cepat. Hingga Dia merasa ada sesuatu yang memanggilnya yang membuatnya takut.


"Jangan, aku hanya melakukan ini demi uang!" gumam Inta.


"INTA!"


teriakkan orang itu benar-benar menghantuinya. Itu bukan suara Bibi Linta, tapi suara Malinda. Inta tahu, kalau sahabatnya itu ingin menghentikan keputusannya.


"INTA!"


Inta mendengar suara teriakkan seseorang sebelum benar-benar kehilangan rasa kesadarannya.


Air mata mengalir membasahi pipi, Inta membuka matanya. Dia akhirnya tahu, usia 17 tahunnya ternyata seperti itu.


"Jadi, inilah yang ku alami. Huh, siapalah anak itu dan siapa pria itu." benak Inta.


Dia diam sembari menatap langit-langit kamar. Menenangkan diri karena perasaan berkecambuknya.


...-*-...


Di tempat lain, Linta duduk dengan perasaan gelisah. "Aku harus menyinggirkan Malinda terlebih dahulu. Baru, aku akan menjauhkan Inta dan membuatnya ingat semua yang terjadi." gumamnya.


Perasaan gelisah itu membuat Linta segera keluar kamar. Niatnya ingin mencari Malinda dan segera membuat wanita itu pergi. Namun, seseorang menghentikannya.


"Bibi!" seru Inta.


Lintah mengerutkan alisnya. "Ada apa?"


"Bibi katakan kepadaku, siapa orang yang meniduriku saat usia 17 tahun itu." Inta begitu antusias bertanya.


"Kenapa kau masih bertanya. Suamimu dan anak angkatmu itu lah, mereka. Suamimu, Pria yang menidurimu, lalu Abi ... dialah anak yang kau lahirkan." sahut Linta.


Setelah berucap seperti itu, Linta segera pergi meninggalkan Inta. Dia sempat bertanya-tanya kenapa Inta tiba di kediaman utama, lalu bagaimana bisa bertanya semua itu. Namun, Linta lebih memikirkan tentang Malinda.


Sahabat dari keponakkannya itu bisa saja menghancurkan segalanya. Karena Malinda melihat jelas dan hampir menghentikan Inta.


"Akan ku singgirkan wanita itu." gumam Linta.


...-*-...


"Bagaimana Abi, apa kau puas?" tanya Malinda yang akhirnya selesai mengajak Abi bermain.

__ADS_1


"Hm, Terima kasih Tante Mal." Abi memeluk


Malinda dengan erat sembari mencium pipinya.


Malinda tersenyum dan mengusap kepala Abi. "Oke, sekarang waktunya pulang. Hari mulai gelap," Malinda menatap matahari yang mulai menghilang.


Berhenti melangkah, Malinda menatap Zivta dan Alfazi yang menemani dirinya.


"Tuan Zivta, bawalah Abi sudah saatnya beristirahat." Malinda menyerahkan Abi dari gendongannya.


"Terima kasih sudah mengajaknya bermain. Oh ya, ingin diantar pulang?" tanya Zivta.


Malinda menggeleng. "Tidak perlu," tolaknya.


Zivta segera mengangguk dan berpamitan pulang. Dia harus kembali untuk mengantar Abi. Sedangkan Alfazi mengulurkan tangan kepada Malinda.


"Ada apa denganmu?" tanya Malinda.


"Ayo pulang, aku antar." ucap Alfazi.


Malinda menggeleng kepala. Dia melihat mobil terparkir tepat di depannya. "Tidak perlu, aku ada urusan Al. Jangan mengangguku," imbuhnya.


Alfazi hanya pasrah dan membiarkan kepergian Malinda.


Di dalam mobil, Malinda duduk di samping seorang pria. Dialah orang yang selalu mengurus keperluan Malinda.


"Nona, ini laporan yang Anda perlukan. Maafkan kami, membuat Anda menunggu lama." ucapnya.


Malinda mengangguk, dia segera membuka amplop besar yang berisikan hasil tes seseorang.


Membaca dari awal hingga akhir, ekspresi Malinda menjadi penuh keterkejutan. Ingatannya tiba-tiba kembali.


Saat itu, Malinda berlari mengikuti langkah Inta. Dia mendengar percakapan antara Bibi dan keponakkan itu.


"Aku harus menghentikan Inta, dia tidak tahu kalau dirinya diperalat oleh sang Bibi." gumam Malinda.


Saat tiba di sebuah hotel terkenal. Malinda terus mengikuti hingga tiba di sebuah lantai yang khusus pelanggan VIP. Malinda segera menangkap tangan Inta.


"Inta dengar, Bibi mu hanya menjebak dirimu. Jangan lakukan ini, ayo pergi denganku." ucap Malinda.


Namun, Inta seperti wanita yang di sihir oleh mantra. Dia tidak mendengarkan apa yang Malinda katakan.


Bibi Linta segera menyeret Malinda. Dia terus di seret hingga menjauh dari Inta.


"Dengar, jangan menganggu kami. Lakukan saja kegiatanmu. Dan pastikan, Kau tidak pernah berteman lagi dengan Inta!" tegur Bibi Linta.


Malinda ingin mendekat tetapi seseorang menghalanginya. Melihat orang tersebut, Malinda segera melarikan diri untuk menjauhi orang-orang Ayahnya.


Beberapa bulan berlalu, Malinda akhirnya bisa menemui Inta. Namun, pertemuan mereka sedikit berbeda.


Inta mengenakan pakaian paisen dan tampak begitu lemah. Malinda ingin mendekatinya tapi Inta semakin menjauh setelah mendengar teriakkannya.


"INTA!" teriak Malinda.


Dia semakin mengejar Inta hingga melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Inta.


"INTA!!" Malinda ingin mendekat, tapi seseorang memukul bagian tengkuknya hingga kesadaran Malinda menghilang.


"Jadi, itulah yang terjadi saat usiaku 17 tahun. Bibi Linta, kau sungguh keterlaluan." benak Malinda.


Surat hasil tes DNA itu segera di simpan. "Pak, antar Malinda di kediaman satunya. Malinda ada keperluan di sana." ucap Malinda.


Pak supir yang merupakan supir pribadi itu mengangguk. Sedangkan, pria di samping Malinda menatap bingung.


"Nona Muda, Ayah Anda ada di sana. Jika Anda memasuki wilayah Tuan Besar., maka Anda tidak akan bisa lepas darinya." ucap Pria itu.


Malinda mengangguk, "Aku tahu, tenang saja. Tidak akan terjadi apa pun kepadaku."


Tatapan Malinda menjadi datar. "Inta, ingatanku telah kembali. Jika, kau mengingat semuanya. Kau akan datang ke sana." benaknya.

__ADS_1


__ADS_2