Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
33 : Putri tunggal


__ADS_3

...(🚫⚠️ Ada bagian dewasanya, mohon untuk bijak dalam membaca. Terima kasih⚘⚠️🚫)...


Cahaya remang-remang membuat Zacry kesulitan untuk melihat dengan jelas. Di tambah rasa panas yang membuatnya hampir kehilangan akal.


Zacry ingin segera pergi, dia datang ke hotel ini karena ada klien yang ingin di temui. Tapi, siapa yang menduga dia malah terjebak dengan wine yang berisikan obat perangsang.


"Ugh!"


Zacry merasa seseorang menaiki tubuhnya. Matanya yang sayup berusaha untuk melihat jelas, siapakah orang tersebut.


Setelah pandangannya menjadi jernih, Zacry terteguh melihat tubuh seorang wanita yang tanpa sehelai benang di sana.


"Siapa kau!" Zacry berucap dengan penekanan yang begitu dalam. Dia tidak ingin melakukan kesalahan di sini, apa lagi menghabiskan malam dengan wanita yang kebetulan dirinya terkena jebakkan.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu. Zacry segera mencengkram tangannya. "Katakan kepadaku, siapa dirimu!" tanya Zacry kembali.


Namun, wanita yang ada di depannya ini tidak menjawab sama sekali. Zacry mengeram hingga menjatuhkan wanita itu yang kini berada di bawahnya. "Cih, sial!"


Nafsu yang selama ini di tahan bersama dengan hasrat yang terpendam. Zacry akhirnya melepaskan semua tali penahan diri dan mulai menyerang wanita yang tidak dia kenali.


Seolah burung yang baru menemukan tempat ternyamannya. Zacry akui, dia telah terbuai dalam indahnya rasa panas di antara mereka.


Seluruh pakaian terlepas dengan suara khas milik wanita itu. Zacry seperti mendengarkan sebuah alunan musik yang menuntunnya untuk terus bertindak.


Saat tiba pada waktunya, Zacry memasukkan apa yang sudah seharusnya dia lakukan. Saat melakukan itu, dia merasa sesuatu yang mencengkramnya.


"Sempit sekali!" gumam Zacry yang sadar kalau wanita ini bukan wanita malam. Melainkan seorang gadis yang menyerahkan keperawanannya.


Sadar akan hal itu, Zacry menghentikan kegiatannya untuk membuat wanita di dalam pelukkannya itu merasa tenang. Dia perlahan mendekat sembari bertanya, "Kau masih perawan?"


Lagi-lagi dia tidak menerima jawaban apa pun. Namun, Zacry yang masih menyimpan sedikit kesadarannya segera mencium singkat bibir wanita itu.


"Aku akan berhati-hati."


Meski begitu, seperti apa yang dia katakan. Dia sendiri baru pertama kali berhubungan seperti ini. Apa lagi, nafsu yang tidak tersentuh itu kini lepas kendali.


Zacry, tidak memenuhi janjinya. Dia berulang kali mengeluarkan cairan yang mengisi bagian dalam wanita di pelukkannya. Hingga rasa kesalnya memuncak.


"Sial, kau akan hamil!"


Pelepasan yang entah keberapa Zacry lakukan. Dia benar-benar memakan penuh wanita di depannya hingga rasa lelah dan kantuk menyerang.


"Aku, tidak akan melepaskanmu!" benak Zacry sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya. Dia memeluk wanita itu agar tidak pergi.


Namun, di pagi harinya. Zacry mendapati kamar kosong yang berantakkan.


"Wanita itu, dia melarikan diri?" ucap Zacry.


Helaan napas Zacry lakukan. Dia akhirnya mengingat jelas apa yang dia alami saat itu. Jujur saja, setelah membersihkan diri dari hotel. Zacry memutuskan untuk meriksa rekaman cctv.


Akan tetapi, hasil yang dia dapat tidak lah memuaskan. Tidak ada satu rekaman yang menunjukkan kalau ada seorang wanita yang memasuki ruang VIP.


Saat itu, Zacry begitu frustasi hingga dikejutkan dengan kedatangan Abi. Dia semakin menderita dan perlahan melupakan semua itu hingga ingatannya kembali lagi.


Zacry membanting stirnya ke kanan karena telah tiba di lokasi yang terakhir kali dia lihat.


Tanpa menunda-nunda, Zacry melangkah keluar dan menuju sebuah rumah yang tampak sepi. Dilirik kanan dan kiri yang juga tidak ada seorang pun di sana.


"Aku yakin, lokasi Inta di sini." ucap Zacry.

__ADS_1


Matanya terteguh melihat sebuah benda yang telah hancur lebur dengan beberapa serpihan kaca di sana. Perlahan Zacry mendekat dan memperhatikan apa bentuk asli dari benda itu.


"Ini?"


Zacry mendapati sebuah sd card yang terpatah dua. Dia tertawa melihat apa yang ditemukan.


"Kau, apa kau akan seperti saat itu Inta. Pergi, tanpa memberi tahu alasan yang jelas."


Mata Zacry menatap ke arah indahnya bulan. Tidak ada awan di sana, hanya ada bulan tanpa bintang.


"Aku benar-benar mencintaimu hingga tidak akan ada yang bisa membuatmu pergi dariku. Inta, aku akan membawamu ke dalam dekapanku!" gumam Zacry.


Langkah lebar itu segera di ambil menuju ke arah mobil. Zacry segera melajukan kendaraannya untuk mencari jejak yang lain.


...***...


Di dalam mobil, Inta menatap ke arah Malinda yang memegang benda pipih sedikit lebih besar dari pada ponsel.


"Apa yang kau kakukan?" tanyanya.


Malinda tersenyum sembari mematikan tablet di tangannya. "Aku, hm ... sedang mengerjakan tugas kuliah."


Inta mengerutkan alisnya. Dia mengenal Malinda, sahabatnya ini tidak akan berbohong bahkan dalam masalah kecil sekali pun. Tapi tampaknya, Malinda telah menyembunyikan sesuatu.


"Nona, ada sebuah mobil di depan." ucap Pak supir.


Inta segera melihat siapa yang menghentikan mereka. Apakah keluarga Park begitu sadar akan kepergiannya.


"Oh, tampaknya seseorang benar-benar mengenalku." ucap Malinda.


Inta mengerutkan alisnga kembali. Dia menatap Malinda yang juga menatap padanya.


"Hah? Apa yang kau katakan?" tanya Inta dengan rasa terkejutnya.


Sebuah tembakkan terdengar dengan Inta yang cepat-cepat meringkuh. Dia merasa sesuatu melesat di dekatnya.


"MALINDA KELUARLAH! AKU TIDAK AKAN DIAM DENGAN KAU YANG IKUT CAMPUR DALAM URUSANKU."


"Oh ya, aku sudah mengenalimu dari dulu. Seorang Nona Muda yang tidak bisa di pandang sebelah mata."


Inta segera mengangkat pandangannya. Kaca mobil yang retak itu karena terkena peluru. Meski retak, Dia masih bisa melihat Bibinya yang ada di sana sembari membawa senjata.


"Malinda?" Inta menoleh untuk memastikan kalau semua ini bukan mimpi. Baru saja sore itu, Inta bertemu dengan Bibi Linta. Tidak ada tanda-tanda kalau Bibinya seperti ini.


"Kau ingat kematian orang tuamu, Inta?" tanya Malinda dengan tiba-tiba.


Inta seketika mengingat orang tuanya yang meninggal dunia. Saat itu, Inta menduga karena sebuah kecelakaan. Namun, bagaimana bisa mobil yang dibawa dengan kecepatan sedang tiba-tiba menubruk tepi jalan hingga hancur parah.


Tentu saja Inta tidak mempercayai lagi tentang kecelakaan itu. Hingga dia sadar kalau Orang tuanya tanpa sengaja di tabrak seseorang yang identitasnya di rahasiakan.


"Akulah yang telah membunuh orang tuamu." ucap Malinda.


Jantung Inta terasa berhenti berdetak. Dia tidak berkedip saat menatap Malinda. Telinganya begitu jelas mendengar apa yang sahabatnya itu katakan.


"Kau tahu, alasan semua itu terjadi. Karena dia! Bibimu Linta mengejarku untuk membunuh diriku."


"Saat itu, Aku sedang bersembunyi dari seseorang. Namun, Bibimu mengenal diriku hingga dia mau membunuhku demi sejumlah uang. Dan saat itu ketika aku melarikan diri. Aku harus menabrak mobil orang tuamu hingga menubruk tepi jalan."


Inta terdiam mendengar perkataan Malinda. Dia hari ini telah mendapatkan penyerangan yang langsung mengenai otaknya.

__ADS_1


Pikirannya berhenti seketika, dia menjadi pusing hingga memegang kepalanya.


"Aku ingin bertanggung jawab. Tapi sayang,"


Inta mencengkram baju Malinda. Dia menghentikan sahabatnya itu yang kini banyak bicara.


"Cukup katakan saja kalau kau pembunuhnya. Jangan memberiku alasan, kepalaku tidak bisa berpikir untik mencari yang mana benar dan salah." potong Inta.


Malinda mengangguk. Dia segera memberikan Inta sebuah mantel untuk di kenakan.


"Aku bertanya kepadamu, biarkan Bibimu hidup atau membunuhnya?" tanya Malinda dengan membawa sebuah pistol di tangannya.


Inta menelan saliva tanpa sadar. Dia tidak tahu kalau Malinda akan bertindak seperti ini. Padahal dia sendiri yang mengenal Malinda.


"Inta?" seru Malinda.


Inta segera menjawab, "dia Bibiku. Aku tidak ingin mengakhiri hidupnya di sini."


Malinda mengangguk, "Baiklah ... tapi, aku tidak bisa menjanjikan apakah dia bisa bertahan dengan seranganku."


Inta melihat sahabatnya keluar dari mobil dan melangkah mendekati sang Bibi. Rasa khawatir memenuhi hati Inta. Dia takut, takut ke hilang Malinda.


"Baguslah kau keluar, jadi mari kita selesaikan masalah saat itu." ucap Bibi Linta.


"Masalah, apa yang terjadi kepada mereka?" benak Inta.


"Aku tidak ada niat untuk menghancurkan keluarga orang lain. Saat itu, kenapa kau mengarahkan mobil mereka kepadaku?" tanya Malinda.


"Sebenarnya, aku tidak senang dengan keluarga cemara itu. Mereka selalu saja mengangguku dengan mengatakan kalau aku lebih baik menerima lamaran orang lain,"


"Kau tahu, aku menginginkan seorang pria yang jabatannya lebih baik lagi. Bukan seperti Mereka. Aku malu jika menikah dengan seorang karyawan kantor. Lebih baik, aku menikah dengan pemiliknya!"


"Dan kau tahu, pemilik perusahaan itu adalah Zacry Park. Orang yang sangat ku incar ... aku melakukan berbagai jebakkan untuk laki-laki itu, tapi tidak pernah bisa mendapatkannya."


"Namun, siapa yang menduga. Saat aku mengunakan Inta, bagai sebuah keberuntungan. Zacry Park terjebak dalam pesona keponakkanku hingga melahirkan seorang putra yang sangat mirip dengan Zacry."


"Kau sudah gila!" ucap Malinda memotong perkataan Bibi Linta.


"Tentu saja, tapi takdir benar-benar tidak mengijinkanku bahagia. Bukannya mendapatkan Zacry Park. Aku malah harus mengoda Tuan Zivta Park untuk bisa di nikahinya. Lalu, tidak ada cinta di antara kami. Bahkan aku!"


"Tidak pernah di sentuh olehnya. Zivta Park, tidak memiliki cinta untukku. Dia menikahiku karena sebuah rasa terima kasih. Menjijikkan!" ucap Bibi Linta.


Malinda terteguh mendengarnya. "Kau tidak pernah di sentuh olehnya? Pantas saja dia begitu ingin aku menjadi miliknya. Sayang seribu kali sayang, aturan keluarga Park dilarang menikah lagi."


Bibi Linta menodongkan pistol di kepala Malinda. "Iya, semua ini karenamu, Malinda. Kau bagai sebuah malaikat yang selalu melindungi Inta. Aku katakan kepadamu, orang yang memukul mu hingga lupa ingatan saat itu, adalah Aku!"


Malinda mengangguk kepala. Dia juga menodongkan pistol ke bagian kaki Bibi Linta. Tanpa banyak bicara, pistol itu menembakkan sesuatu dengan senyap.


"Agh! Kau!" Bibi Linta segera berlutut karena rasa sakit di kakinya. Dia menatap Malinda dengan mendongakkan kepala.


"Kau, kau Putri Tunggal dari keluarga Z. Kau memang seorang pembunuh!" cibirnya.


Malinda mengangkat salah satu alisnya sembari tersenyum. "Benar, aku memang tampak seperti pembunuh. Tapi, hanya satu orang yang pernah ku bunuh dengan tanganku sendiri. Apa Bibi ingin menjadi yang kedua?"


Bibi Linta mengerutkan alisnya. Dia merasa kaki kanannya tidak bisa di gerakkan. Selain itu, ada darah di balik tembakkan Malinda.


"Aku katakan kepada Bibi. Inta, mendengar semua yang bibi katakan. Karena dia, berada di dalam mobil." ucap Malinda sembari melirik ke arah Inta yang keluar dari mobil.


"I-inta?"

__ADS_1


__ADS_2