Aku, tidak akan melepaskanmu!

Aku, tidak akan melepaskanmu!
44 : Perpisahan


__ADS_3

Langkah kaki berhenti di sebuah cafe kecil. Mata mereka memperhatikan sekitar hingga tertuju kepada wanita yang duduk santai sambil menikmati minumannya.


“Ibu, itu Tantenya ... dia membelikanku sebuah cake yang manis dan es krim juga.” ucap Zerya dengan menunjuk ke arah wanita itu.


Inta perlahan melangkah mendekat. Dia merasa tidak percaya dengan hal ini. lima tahun bukan hal mudah untuk dirinnya, dia merindukan sahabatnya hingga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya ini.


Tidak hanya Inta, Zivta yang ada bersama mereka juga merasakan penasaran. Wanita itu mengenakan kacamata hitam dengan topi yang menutupi wajahnya. Di tambah rambut panjang itu begitu terurai cantik hingga perasaan Zivta benar-benar tumbuh.


Semua langkah terhenti ketika tiba di tempat duduk seorang wanita. Wanita itu mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah mereka. dia mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya.


“Ma-Malinda?” seru Inta memastikan.


Wanita itu segera membuka kacamatanya dan melepaskan topinya. Dia memiliki tatapan tajam, lirikkan matanya tidak akan pernah di lupakan oleh siapapun.


“Yeah, akhirnya kita bertemu di sini. Duduklah Inta, Zacry,Zivta dan ...” Matanya melirik ke arah Zerya yang ada digendongan Inta. “Dan keponakkan baruku!”


Zerya yang ada digendongan Inta meronta untuk turun. Inta yang melihat hal tersebut segera menurunkan putrinya. Zerya melangkah mendekati Malinda dan duduk di pangkuannya.


Malinda tersenyum dengan begitu indah. dia mengusap kepala Zerya dengan tenang sambil menatap ke arah Inta dan lainnya. “Aku sudah mengatakan kepada kalian, duduklah di sini.”


Semua segera mendudukkan diri dengan menatap ke arah Malinda. Apa lagi Zivta yang seakan tidak berhenti untuk menatap orang dia cintai. Selama ini, bertahun-tahun mencari keberadaan Malinda terasa sulit. Sekarang, wanita yang dicari itu berada di depannya sambil memangku seorang anak yang merupakan keponakkannya juga.


“Mal, aku bersyukur kau baik-baik saja.” ucap Inta dengan nada pelan. Dia senang melihat sahabatnya kini berada di hadapannya.


Malinda yang mendengar hal itu mendengus. Dia memanggil pelayan untuk membawakan beberapa minuman dingin kepada tamunya. Dia pun menatap ke arah sahabatnya kembali.


“Sejujurnya, aku tidak seharusnya di sini. Lima tahun yang lalu, Ayahku memberikan jantungnya kepadaku agar aku bisa bertahan hidup. aku tidak tahu apa yang membuat orang tua itu melakukannya. Padahal, dia sangat antusias untuk membunuhku. Cih!” Malinda berucap sambil merasa buruk dengan apa yang terjadi saat itu.


“Jadi, kau sekarang tidak lagi pergi dari kami bukan?” celetuk Zivta dengan begitu semangat.

__ADS_1


Malinda melirikan matanya kepada Zivta. Dia tidak terkejut melihat pria ini sangat bersemangat tentang dirinya. “Tidak, aku tidak akan pernah lagi muncul di hadapan kalian. Kedatanganku di sini, hanya untuk memberikan sebuah perpisahan.” Sahutnya.


Semua menjadi terteguh mendengar hal itu. mereka ingin segera menanyakan alasan dari ucapan Malinda. Tapi, seseorang dari kejauhan berteriak memanggil namanya.


“TANTE MALINDA!”


Malinda menoleh ke sumber suara. Dia melihat seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Dia sangat tampan bahkan mirip dengan Ayahnya. Tentu saja, Malinda tidak akan melupakan siapa dia. “Abi!” ucapnya.


Abi datang dengan langsung memeluk Malinda. Pelukkannya sampai membuat Zerya menepuk-nepuk tangan kakaknya. “Kakak Abi, Jangan memeluk tante seperti itu.”


Abi segera melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Adik perempuannya. “Kakak senang bertemu dengan Tante Mal. Dia adalah Tante yang sangat baik.” Sahutnya.


Zerya mengangguk senang. “Hm, Zerya juga suka Tante Mal.”


Malinda tersenyum mendengar pembicaraan adik kakak ini. dia segera mengusap kepala keduanya. “Kalian sudah besar ya, sekarang pergilah bersama ibu kalian.”


“Karena Tante harus pergi sekarang. Tante di sini hanya untuk melihat kalian.” Sahutnya.


Semua mengerutkan alis termasuk Inta. “Mal, apa maksud dari perkataanmu? Kita baru saja bertemu dan kau harus pergi?”


Malinda mengangguk, dia segera menuntun Zerya turun dari pangkuannya. Zerya pun melangkah mendekati Inta. Zacry yang duduk di samping Inta segera mengendong Zerya untuk duduk di pangkuannya.


“Kakak Ipar benar apa yang di katakan Inta, kenapa kau malah ingin pergi?” tanya Zacry dengan wajah penasaran.


Malinda yang melihat hal itu tertawa, “Aku tidak tahu kalau lima tahun mampu merubah pria yang datar menjadi banyak ekspresi. Zacry, kau harus menjaga Inta. Dia adalah wanita yang mengubahmu. Dulu, aku memahami wajah datarmu, sekarang tidak lagi perlu memahaminya.”


“Oke, untuk kenapa aku ingin pergi. karena aku tidak boleh terlihat lagi. kalian tahu, sekarang diriku harus mengantikan posisi Ayahku yang sudah menjadi abu itu. dia sengaja tidak membunuhku karena ingin menyiksaku dengan tugasnya sebagai mafia itu.” ucap Malinda.


Zacry dan Zivta terdiam seketika. Mereka tahu bahwa Malinda putri dari seorang Mafia. Tapi, mendengar Malinda mengantikan posisi Ayahnya, itu sama saja membuktikan kalau Malinda memiliki darah dingin. Yang berarti, dia bisa membunuh siapapun yang membuatnnya rugi.

__ADS_1


Zivta tiba-tiba teringat dengan surat yang Malinda berikan. Dia tidak menduga orang yang dia cintai menjadi seperti ini. namun, seperti sebelumnya, cintanya tetap tumbuh karena cinta tidak memandang apa pun.


“Apa kau ingin mengatakan kalau semua ini adalah perpisahan kita? Hari terakhir kita bertemu Mal?” tanya Inta. Sejujurnya, Dia ingin tinggal bersama Malinda kembali. Dia ingin Malinda bersamanya dan menjaga dirinya. Tapi, tidak ada yang tahu dengan masa depan. Sahabatnya ini ingin pergi meninggalkannya.


“Hm, ini adalah pertemuan terakhir dan perpisahan untuk kita. Tenang saja, aku akan menjaga kalian dari kejauhan. Aku melakukan ini agar musuh Ayahku tidak mengunakan kalian sebagai kelemahanku. Kalian tahu, kalian adalah keluargaku, terutama dirimu Inta. Kau adalah orang yang ku sayang, aku sudah menganggapmu sebagai adikku.”


Inta meneteskan air mata mendengar hal itu. dia tidak akan bisa menahan sahabatnya. Dia tahu kalau Malinda pasti akan pergi darinya. “Hm, tapi bisakah kau memenuhi keinginanku?” tanyanya.


Malinda mengangguk dengan cepat. “Katakanlah!”


“Mari kita ambil gambar untuk menjadi kenangan. Kau akan pergi dan tidak akan kembali. Biarkan gambar itu menjadi tempatku untuk selalu mengingatmu.” ucap Inta.


Malinda mengangguk lagi, dia segera meminta seorang pria yang tiba-tiba saja datang. Pria itu tidak lain adalah anak buah Malinda sendiri.


Jalan raya yang padat segera di singgirkan. Malinda mengunci jalan tersebut karena mereka akan mengambil gambar bersama. Melakukan semua itu membuat Inta tercenga.


“Aku tahu Malinda orang yang kaya, tapi saat sudah bersamanya dari dia yang sederhana. Aku masih tidak bisa mempercayai semua ini.” benaknya.


Semua duduk di kursi masing-masing. Inta dan Zacry duduk berdampingan. Tentu di samping mereka ada Zerya dan Abi yang ikut. di samping Inta yang lain, ada Malinda dan Zivta. Tampak seperti keluarga besar yang ada. namun sayang semua itu hanya untuk sesaat saja.


Gambar pun di ambil dengan kamera. Tidak lupa senyum bahagia yang terpancar di wajah masing-masing. Hingga di akhir, Inta dan Malinda saling merangkul dan tertawa bersama.


Inilah akhir dari cerita yang ada di dalam hidup mereka. Cinta, kasih sayang, persahabatan, dan rasa suka. Semua hanya bisa diungkapkan meski tidak bisa mendapatkan sepenuhnya. Masih panjang perjalanan hidup untuk semua yang ada di dalam gambar tersebut.


Hingga beberapa bulan berlalu, seseorang mengusap gambar yang dipajang tepat pada ruang tamu. gambar itu selalu membahagiakan orang lain yang melihatnya. Karena tanpa sadar, gambar itu menunjukkan kehangatan dalam sebuah pasangan, keluarga dan persahabatan.


..._Tamat_


...

__ADS_1


__ADS_2