
Aku berjalan memenuhi panggilan dari Zaidan.
Saat ini, Aku melihat laki-laki yang sedang berdiri di tengah taman Instansi. Dengan dada yang bidang, tinggi dan paras yang sempurna.
Taman itu terletak di depan pintu masuk. Berjarak 20 meter dari pintu.
"Kenapa memanggilku? Kamu sengaja ingin membuatku tersudut di sini?" kataku.
"Kenapa ucapan itu yang kudengar. Sedangkan Kita telah lama tidak bertemu Sayang?" kata Zaidan.
"Sudah Saya bilang Kita sudah selesai Zaidan" tegasku.
"Lihatlah!" kata Zaidan dengan memajukan kepalanya ke arah ruang kantor.
Aku menoleh ke arah yang Zaidan arahkan.
"Di luar sana, banyak perempuan yang mengantri ingin memilikiku Milanie. Ini pertama kalinya hatiku terlanjur masuk ke jurang rasa pada seseorang. Bisakah Kamu berhenti menghardikku dan mencoba menghargaiku?" kata Zaidan.
"Hah, justru itu masalahnya Zaidan. Kamu terlalu sempurna. Banyak Mereka yang mengantri. Tidak salah, banyak perempuan yang iri dengan posisiku. Dicintai oleh pria mapan seperti mu. Tapi, itulah masalahnya" kataku.
"Apa maksudmu?" kata Zaidan.
"Ibumu, dengan merasa bangganya memiliki anak sepertimu. Sedangkan Aku? Aku sadar diri. Aku hanyalah wanita bawahan yang hanya pantas sebagai gelar karyawati" kataku.
"Inilah hidupku yang cocok untukku" kataku dengan berdiri tegak menunjuk diri apa adanya.
"Bisakah Kamu mengerti?" kataku.
"Dia, benar-benar tidak berniat merebut kekayaan yang kumiliki" batin Zaidan.
"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya Milanie. Ayo Kita melangkah bersama" kata Zaidan.
Di tengah percakapan Kami. Aku sempat melihat beberapa staff Karyawan melihat Kami berbincang di balik kaca. Wajah Mereka menggambarkan betapa penasarannya Mereka dengan percakapan Kami.
"Sebaiknya pulanglah. Kehadiranmu mampu membuat mata Mereka terbelalak dan penasaran" kataku.
"Baiklah, Aku akan pulang ke rumah setelah dari Kantor Pak Mahardika. Tunggu Aku pulang nanti ya!!!" kata Zaidan bersemangat.
"Aku tidak faham dengan maksudmu" kataku.
Dengan berjalan kembali ke kantor dan meninggalkan Zaidan berdiri sendiri di taman.
Sedangkan Zaidan mengecek lokasi grape yang dipesannya tadi sebelum Aku datang.
Terlihat masih butuh 2 menit perjalanan untuk menjemput Zaidan.
"Sial, kenapa lama sekali sopirnya" gumam Zaidan.
Zaidan tidak ingin terlihat bodoh dengan menunggu jemputan mobil sendirian. Akhirnya Dia berlari dan meraih salah satu tanganku.
"Tunggu!" kata Zaidan.
"Ada apa lagi?" kataku.
"Ini pertama kalinya hatiku terlanjur digenggam oleh seseorang. Rasanya sangat sakit melihat orang yang ingin dipeluk, ingin dipegang dan ingin kutemani jauh dari jangkauan. Apalagi rasa sukaku lebih membara saat Kamu jauh Milanie. Bisakah Kamu menghargai hatiku?" kata Zaidan dengan menatap mataku.
"Laki-laki selalu merasa yang paling tersakiti saat Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Lalu bagaimana dengan hatiku yang telah hancur dan membeku?" kataku.
"Tring!!!"
__ADS_1
"Tring!!"
Ponsel Zaidan telah berbunyi.
"Halo Pak, Saya sudah ada di depan CV. Mulia Jadi" kata sopir.
"Iya Saya segera keluar" kata Zaidan.
Tanpa berkata apapun Aku sudah berjalan masuk meninggalkan Zaidan.
"Semoga Dia faham. Betapa trauma dan sakitnya di dalam lubuk hati" batinku.
"Milanie, semakin Kamu menolakku. Semakin itu menjadi tantangan untukku!" batin Zaidan.
Setelah Aku bercakap dengan Zaidan. Aku masuk ke ruangan.
Masih saja ada beberapa mata yang memandangiku.
Dan saat itu, seketika pandangan Rena berubah padaku.
Yang tadinya sinis sekarang Dia senyum dan sok akrab denganku. Entah apa yang Dia fikirkan. Tapi berubahannya terlihat menonjol sekali.
"Pasti ada maunya" batinku.
...****************...
"Selamat! Sekarang Anda telah bebas" kata salah satu petugas polisi di sana.
Laki-laki yang memiliki rambut panjang, janggut yang lebat dengan penampilan acak-acakan itu kini tersenyum tipis miring di sisi salah satu pipinya.
Segera Dia berjalan keluar. Merasakan udara luar yang beberapa tahun tidak pernah Dia rasakan.
Dengan sinar matahari ⛅ yang kini menyorot wajahnya.
Dalam beberapa menit, seorang wanita paruh baya memanggil laki-laki itu dari kejauhan.
"Anakku!" kata Wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu lekas berlari dan memeluk erat laki-laki itu.
"Sayang, maafkan Ibu nak. Ibu tidak bisa melakukan apa-apa terhadapmu" kata wanita paruh baya itu.
"Tidak apa Ibu. Aku tahu, Ibu sangat kesulitan ekonomi setelah ditinggal oleh Ayah. Jadi, jangan merasa bersalah jika Ibu tidak bisa menebus ku atas hukuman ini" kata laki-laki itu.
Wanita paruh baya itu meneteskan airmata melihat putranya telah bebas dari jeruji besi dari sekian tahun.
"Yang terpenting, Ibu masih sehat sekarang" kata laki-laki itu.
...****************...
Malam ini Zaidan pulang di rumahku.
"Tok, tok, tok" ketukan pintu.
Saat itu, Ibuku yang membuka pintunya.
Melihat siapa yang sedang berdiri sekarang. Tanpa pikir panjang, Ibuku segera mempersilahkan masuk Zaidan dengan senyum yang sangat renyah.
Aku yang saat itu sedang menonton tv karena Graha sudah tertidur.
__ADS_1
Melihat kedatangan Zaidan malam itu.
"Astaga, mau apa lagi sih Dia?" gumamku.
"Milanie, cepat Kamu siapkan makanan untuk Suamimu!" perintah Ibu.
"Ibu, Milanie sudah... tidak mau..." kataku tidak Aku lanjutkan melihat Ibuku tidak ingin mendengarkan penjelasanku sama sekali.
Dengan terpaksa Aku harus melakukan perintah Ibuku. Dengan alasan patuh sebagai anak. Bukan untuk Suami yang tidak tahu dengan tanggung jawabnya.
Aku sudah menyiapkan makanannya.
"Makanlah!" kataku kepada Zaidan.
Zaidan tersenyum mendengar suaraku saat itu. Terlihat Dia sangat bahagia.
"Ayo, denganmu" kata Zaidan dengan meraih lengan kiriku.
"Aku harus melihat Graha sekarang. Makan saja sepuasmu" kataku dengan menarik pelan tanganku dari genggaman Zaidan.
Zaidan tidak makan, melainkan mengikutiku berjalan ke kamar.
"Kenapa Kamu ikut kemari?" kataku.
"Aku merindukanmu Milanie. Dan juga Graha" kata Zaidan.
"Ibuku akan marah padaku jika kamu tidak makan" kataku.
"Aku juga heran, yang tidak mau makan siapa yang kena marah siapa? Has,,, benar-benar banyak sekali paradoksa dalam kehidupan ini. Herannya lagi kesalahan selalu disudutkan kepada istri" gumamku.
Mendengar celotehku. Zaidan membalikkan badan lalu berjalan ke meja makan.
Tanpa Aku temani, Dia tiba-tiba makan.
"Apa Dia melakukan itu karena mendengar celotehku tadi?" batinku.
"Difikir-fikir lagi, Zaidan benar-benar laki-laki penyayang" batinku kagum.
"Tidak, tidak, Aku tidak boleh luluh. Sadar Milanie. Ingat bagaimana keluarganya memperlakukanmu di rumah 🏡 itu" gumamku.
Aku menutup pintu kamarku dengan pelan. Ekor mataku melirik Graha yang sedang tidur di ranjang.
Terlihat situasi masih aman. Aku melanjutkan membaringkan badanku di ranjang sebelah Graha dengan hati-hati.
"Hah,,, akhirnya punggungku bisa lurus juga. Rasanya nikmat sekali" gumamku dengan tersenyum.
...****************...
"Klik, klik klik"
Laki-laki yang memiliki rambut panjang itu kini menyalakan laptopnya yang sudah sekian tahun tidak pernah dipakai.
Setelah membenahi semua. Dia mencari informasi data tentang Zaidan di search google.
"Oh, sudah lama sekali kita tidak bertemu Zaidan" gumam laki-laki itu.
"Kamu semakin bersinar. Sedangkan Aku? Sekarang terpuruk karena gara-gara Kamu!!!" pekik laki-laki itu.
"Kamu sudah menghancurkan masa depanku Zaidan!!!" pekik laki-laki itu.
__ADS_1
"Akan Aku pastikan Kamu terima balasannya" pekik laki-laki itu dengan emosi yang membara disekujur tubuhnya.
...----------------...