Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 8: Jika sudah Jodoh tidak akan Kemana


__ADS_3

Saat berjalan, mata Zaidan menyapu ke segala arah ruangan.


"Aku dengar, Milanie bekerja di Instansi ini. Sekarang Dia dimana sekarang?" batin Zaidan.


Saat melihat ke segala arah, tatapan Zaidan terhenti di sebuah ruangan yang tembus pandang karena sekatnya berasal dari kaca.


Setelah pensil yang Aku pegang patah. Aku melihat mata Zaidan menoleh ke arahku.


Dengan gesit tanganku meraba-raba dan mencari buku untuk menutupi wajahku.


Zaidan melihat ada seorang gadis yang tidak wajar di kantor.


Menutupi wajahnya tergesa-gesa saat Dia melihat ke arahnya.


Melihat bentuk tubuh wanita itu.


Zaidan telah mengerti, perempuan itu adalah Milanie.


"Hem, sudah kubilang jika jodoh tidak akan kemana. Kamu pikir Aku orang bodoh" gumam Zaidan.


"Siapa yang bodoh?" tanya Manager lain yang mendengar secara remang-remang suara lirih Zaidan.


"Apa? Owh tidak. Aku tidak mengatakan hal itu" kata Zaidan.


"Benarkah?" kata Manager lain.


"Iya, Kamu pasti salah dengar" jawab Zaidan berdalih.


Manager yang berjalan tepat di sebelah Zaidan merasa tidak percaya. Karena jelas-jelas Dia mendengar Zaidan bergumam demikian.


Beberapa jam kemudian.


Rapat meeting telah selesai.


Lagi-lagi ponselku berbunyi lagi.


Telvon itu tepatnya dari Bos ku.


"Hidangan yang sudah disiapkan bawa ke ruangan meeting sekarang!" perintahnya.


"Baik Pak" ucapku.


Yang tadi pagi Rena Aku suruh mengantar cemilan. Kali ini lagi-lagi terpaksa Aku menyuruh Rena untuk mengantarkan hidangan makan siang.


"Ren, Bos menyuruh untuk mengantar makan siang ke ruang meeting. Saya minta tolong padamu sekali lagi ya?" kataku.


"Maaf Mbak, Aku masih sibuk sekarang. Bukankah perintah bos ke Mbak. Kenapa mbak jadi menyuruh Saya. Saya juga punya pekerjaan sendiri Mbak" kata Rena kesal.


Apalagi Aku sadar jika Aku karyawati yang paling baru di sana.


"Iya tapi ini mendesak Rena" kataku.


"Begini dah, Aku akan mengganti menyelesaikan pekerjaanmu di sini" kataku.


"Pekerjaanku lebih sulit Mbak dibanding nganterin makanan. Apa sulitnya sih nganter makanan ke ruangan meeting doang?" kata Rena tambah kesal padaku.


Sedangkan Aku tidak bisa memberitahu alasanku secara terang-terangan pada Rena.


"Tringg!!!"


"Tringg!!"


Lagi-lagi panggilan masuk dari bosku.


"Milanie, kenapa lama sekali?" kata bosku.


"Iya Pak, ini masih berjalan" kataku.


"Jangan lama-lama" kata Bosku.

__ADS_1


"Iya Pak" kataku.


"Jangan iya, iya saja. Cepet!" kata bosku.


"Tiiiit!!"


Telvon itu sudah dimatikan.


"Hffftttt, sabar Milanie. Hadapi!" gumamku dengan mengipas-ngipaskan semua jariku ke wajahku.


Tak disangka tiba-tiba Aku mendapatkan ide tentang ini.


Segera Aku memakai masker lalu berjalan ke area dapur dan membawa makanannya ke ruangan meeting.


Di tengah perjalanan, Otakku berputar.


"Kalau hanya penutup masker, Zaidan pasti masih bisa mengenalku" batinku.


Segera Aku mencari kacamata hitam. Yang kebetulan saat itu Aku membawanya di dalam tas.


Memakai Kacamata hitam di dalam ruangan dan bermasker.


Berjalan membawa napan yang di atasnya berjajar makanan.


Tentu saja penampilanku seketika menjadi sorotan semua mata di sana.


Yang Mereka fikirkan adalah Aku orang yang cukup aneh.


Karena posisi saat ini bosku ada di depan orang yang memiliki jabatan.


Tentu bosku tidak berani berkata yang tidak pantas di sana. Bos ku hanya melihatku dengan mata yang membulat.


Aku menata makanan itu di meja.


Sedangkan Zaidan daritadi memperhatikan gerak gerikku.


"Apa Dia Milanie? Aku harus memancingnya bicara untuk memastikannya" batin Zaidan.


Seketika semua orang di sana terkejut dengan pertanyaan Zaidan.


Zaidan yang terkenal dingin, Cuek dan hanya gila dalam pekerjaan. Ini pertama kalinya Dia tertarik sesuatu di hadapan semua teman Managernya.


Aku yang mendengar pertanyaan dari Zaidan berusaha untuk tidak menjawab dengan suara. Karena pasti Dia akan mengenaliku.


Akhirnya Aku hanya melambaikan tangan ✋ melambangkan tidak masalah.


"Nona, alangkah baik jika nona tidak memakainya di dalam ruangan" kata Zaidan.


Aku hanya melingkarkan jari telunjukku bertemu dengan jempol. Menandakan kata Oke.


Akhirnya Aku berjalan keluar.


"Siapa nama nona tadi Pak?" tanya Zaidan pada Bosku.


Saat Aku hendak melangkah keluar, Aku mendengar pertanyaan Zaidan. Saat itu Aku berfikir pasti akan ketahuan.


"Maaf Pak Dia Karyawati baru di tempat Kami. Jadi memang masih proses penyesuaian" kata Bosku.


Mendengar jawaban bosku Aku merasa lega.


Tapi saat Aku melangkahkan 1 langkah kaki. Tak lama Zaidan bertanya lagi.


"Iya Saya tahu. Tapi siapa namanya?" kata Zaidan.


"Namanya Milanie" jawab Bosku.


"Oh jelas" kata Zaidan.


"Maksud Pak Zaidan?" kata Bosku.

__ADS_1


"Tidak ada maksud apa-apa Pak. Saya hanya tertarik dengannya" kata Zaidan.


"Oh mau cari istri kedua ya Pak hahaha" kata Manager lain.


"Ini pertama kalinya Zaidan tertarik dengan seseorang" kata Manager lainnya.


"Haha,,,, tunggu...!!! bukankah nama itu mirip dengan istrimu Pak Zaidan?" kata Manager lain.


Semua orang yang tadinya bercanda mendadak hening dan menatap Zaidan semua.


Diantara suasana hening itu, Zaidan menjawabnya dengan sangat santai. Walau suaranya tidak keras. Tapi terdengar sangat jelas di antara keheningan itu.


"Memang Dia adalah istriku" kata Zaidan.


"Ehem"


"Ehem"


"Uhuk uhuk" mendadak bos yang memimpin rapat batuk mendengar jawaban Zaidan.


Tentu bos itu terkejut, bagaimana mungkin. Istri seorang Manager sekaligus Ceo besar kini menjadi karyawati di tempatnya. Dan diwaktu yang sama Bos itu menyuruh Milanie dengan seenaknya.


"Kenapa Dia bekerja di sini?" tanya manager lainnya.


"Aku juga bertanya-tanya kenapa Dia sangat gila dengan pekerjaan" jawab Zaidan.


"Oh, berarti memang Dia wanita yang tidak mau diam di rumah" kata manager lainnya.


"Apa maksud dari tidak mau diam di rumah?" tanya Zaidan.


"Memang ada beberapa wanita lebih nyaman menjadi wanita karir daripada diam di rumah" kata manager lain.


"Menurutku sih, Kita sebagai suami. Jika ingin istrinya mau di rumah. Kita harus membuatnya nyaman di rumah. Entah itu bagaimana caranya" kata manager lain.


"Memang wanita itu sangat rumit" kata manager lain.


"Sudah waktunya untuk makan. Silahkan makan dengann nyaman!" kata bosku mempersilahkan makan ke semua manager.


Bosku keluar agar manager PT. Search makan dengan nyaman.


Setelah itu, tak sengaja Aku bersalipan dengan Bosku.


Saat itu juga bosku memalingkan wajahnya.


"Apakah Aku salah?" batinku.


"Astaga, apa Aku akan dipecat?" batinku.


Saat Aku masuk ke ruangan. Aku mendapati tatapan Rena yang sangat sinis kepadaku.


Tapi Aku tidak mengambilnya dengan hati. Sudah biasa, di dunia pekerjaan pasti akan ada sebuah persaingan. Rasa tak suka, dan rasa ingin berkuasa.


Aku duduk kembali di bangku dan melanjutkan pekerjaanku.


Setelah beberapa jam.


Di luar, Aku melihat para Manager PT. Search sedang berkeliling melihat-lihat barang produksi Instansi tempat Aku bekerja bersama dengan bosku.


Hingga waktu menunjukkan pukul 3 sore. Semua kegiatan para Manager telah selesai.


Manager lain tampak sudah tidak terlihat. Kini hanya tersisa Zaidan.


"Milanie, dipanggil oleh Pak Zaidan" kata bosku.


"Apa? Saya?" kataku.


Semua staff karyawan di sana terkejut dan memandang ke arahku semua.


Tentu, banyak tanda tanya. Bagaimana seorang yang biasa sepertiku bisa dipanggil oleh sosok besar seperti Zaidan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2