
"Milanie?" panggil kak Lucky.
"Iya, ada apa kak?" jawabku.
"Meski ini sudah terlambat, semoga Kamu bahagia dengan keluargamu!" kata kak Lucky dengan tersenyum.
"Iya, Terimakasih" kataku.
Setelah itu Aku berjalan meninggalkan ruangan Kak Lucky.
Tidak terasa, waktu terus berputar. Jarum jam yang paling pendek telah bertengger diantara angka 4 dan 5. Menunjukkan bahwa waktu untuk pulang telah tiba.
Seperti biasanya, semua staff karyawati seketika sibuk mengemasi berkas-berkas yang berserakan di meja masing-masing. Lalu dilanjutkan mengemasi barang pribadinya.
"Aniya, ini!" kataku dengan menyodorkan secarik kertas yang telah tertulis nomer ponsel.
"Nomer siapa ini Bu?" tanya Aniya.
"Siapa lagi kalo bukan milik kak Lucky" kataku.
"Benarkah?" kata Aniya dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, cepat hubungi dan mulai PDKT" kataku dengan tersenyum genit.
"Wah,,, terimakasih banyak Bu Milanie" kata Aniya.
"Ya sudah Aku pulang dulu" kataku.
"Iya, hati-hati Bu Milanie" kata Aniya.
Aku segera pulang seperti biasanya.
...****************...
Kali ini, Graha sedang dititipkan kepada Ibu mertuaku.
Karena trauma akan perkataannya yang pernah menusuk hati saat lalu, Aku tidak pergi ke sana kecuali bersama dengan Zaidan.
Malam itu, Kami menjemput Graha bersama.
Bersama mobil sederhana yang dinaiki Zaidan. Karena Zaidan masih belum bisa menyetir sepeda motor.
Jadi, mobil yang mewah dulu dijual lalu digantikan dengan mobil yang sederhana.
Lebih tepatnya, mobil sedan bekas berwarna abu-abu yang didapati dari bazar penjualan mobil second bulan lalu.
Mesinnya sih masih rumayan enak. Tapi rasanya sangat panas karena AC nya telah rusak. Jadi, jendela selalu dibuka saat mengendarainya.
Tak lupa juga sebelum Aku menaikinya, seperti syarat wajib bagiku. Aku menempelkan permen karet di hidungku. Untuk pengalihan aroma mobil yang mampu membuatku mabuk perjalanan.
Saat tiba di rumah, Aku harus menyisihkan rasa trauma untuk memasuki rumah. Demi keutuhan keluarga. Bagaimana pun Zaidan dilahirkan dari rahim Ibunya. Zaidan yang kini menjadi Suamiku.
Karena tidak dipungkiri, wanita adalah ahli sejarah. Sedikit hatinya tergores. Dia akan tetap mengingatnya hingga 30 tahun mendatang. Bisa jadi juga lebih.
"Tok, tok, tok" ketukan pintu.
"Krieeettt!!" pintu terbuka.
Ibu Zaidan membuka pintunya.
Saat itu, Aku melihat Graha sedang di lantai asik bermain sendiri bersama mainannya.
"Zaidan mau menjemput Graha Ibu" kata Zaidan.
__ADS_1
"Duduklah dulu. Apa Kamu akan langsung pulang setelah lama tidak ke sini?" kata Ibu Mertua.
"Baiklah" kata Zaidan.
Aku langsung menghampiri Graha dan menemaninya.
Menyibukkan diri dengan dunia sendiri hanya bersama Graha tanpa ingin bercakap atau mendengarkan apapun lagi.
Tapi, entah kenapa saat itu Aku merasa Ibu Zaidan berbeda.
Ibu Zaidan lebih diam dan tidak mengomentari apapun lagi tentangku.
Setelah mengetahui anaknya mengalami kebangkrutan. Dan Aku harus bekerja untuk kebutuhan.
Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari itu.
Seketika rasa sombongnya runtuh, karena tidak ada kebangga'an lagi yang bisa dipamerkan.
Tidak dipungkiri, jika Ibu Zaidan sudah mulai bisa melepas anaknya karena sadar. Jika anaknya bukanlah miliknya seorang lagi. Tapi sudah menjadi seorang Imam dari anak perempuan yang Dia ambil sendiri dari kedua orang tuanya.
Melihat Ayah Zaidan juga masih berproses pengembangan usahanya.
Selain rasa bersalah.
Saat itu, umur pernikahanku sudah menginjak 5 tahun. Dan saat ini penyesuaian karakter, watak, dan merasa seorang pemilik telah stabil.
Dan semua berjalan dengan sangat mudah mulai saat itu.
Ibu Zaidan juga mendukungku untuk bekerja. Dan kadang juga memberi bantuan beberapa kebutuhan primer. Seperti beras, atau kadang sayuran dan lauk.
"Zaidan, di dapur ada beras. Kamu bawa pulang nanti!" kata Ibu Zaidan.
"Iya Ibu" jawab Zaidan.
Goncangan badai yang dulu sempat mampu membuat pernikahanku pisah. Kini telah mulai reda. Dan semua berjalan baik-baik saja setelah itu.
Hanya saja, trauma-trauma tentang direndahkan, digunjing, dihina, disudutkan dan sebagainya. Secara tidak langsung telah mengubah sikapku untuk membangun sebuah matriks. Dalam bersikap di lingkup kehidupan yang Aku jalani saat itu.
...****************...
Siang itu, Zaidan telah mengerahkan beberapa staff untuk mulai berkeliling ke lapangan menawarkan barang bahan dekorasi Interior dan exterior bangunan. Setiap dua orang ditunjuk untuk memegang satu kota.
Bukan hanya Karyawan bagian lapangan saja kali ini yang berkeliling.
Delapan orang gudang juga telah dikerahkan semua. Untuk penjaga gudang disisakan 2 orang saja. Yaitu Kak Hilmi dan Kak Bimo.
Zaidan juga ikut serta melakukan demikian. Berharap agar ada sebuah peningkatan penjualan.
Zaidan berkeliling di toko-toko bangunan. Di daerah kota Jember.
Panasnya cuaca yang menyengat. Ditambah lagi AC mobil yang rusak. Telah berhasil membuat Zaidan basah banjir keringat.
Jangan tanya, begitu juga Putra saat itu yang sedang duduk di sebelah Zaidan. Juga berkeringat.
Hantaman ekonomi ini justru membuat Zaidan untuk bekerja lebih keras. Sudah lama Dia telah duduk di singgasana.
Kali ini, keadaan telah membalik seperti saat Zaidan merintis mendirikan Instansinya.
Lagi-lagi Zaidan harus merangkak demi tetap berjalannya operasional Instansi.
"Astaga, panas sekali. Jika cuaca seperti ini terus lama-lama bisa membuatku pingsan" gumam Zaidan.
"Ini karena populasi pengendara motor meningkat. Tidak terasa, setiap hari terjadi polusi udara. Polusi ini membuat atmosfer bumi semakin menipis. Hingga membuat cuaca semakin panas. Jika bumi bisa meringis, pasti Dia akan menangis" kata Zaidan.
__ADS_1
"Iya Pak" kata Putra.
"Tapi bagaimana lagi jika memang sudah menjadi kebutuhan sekarang" tambah Zaidan.
"Andai saja Saya bisa melakukan penghijauan. Agar dapat menyeimbangi polusi udara" kata Putra.
"Kapan-kapan Kita akan adakan acara penghijauan di Kantor. Sekalian juga refreshing" kata Zaidan.
"Wah,,,, itu ide bagus Pak. Iya Saya setuju" kata Putra.
...****************...
Hari ini adalah hari minggu, saatnya Aku libur bekerja.
Pagi itu, bersama dengan secangkir minuman teh yang Aku buat sendiri.
Aku duduk di ruang tamu dengan membaca buku yang baru terbit dari penerbit J-Mastro.
Buku kali ini yang terbit adalah kumpulan kitab semilir puisi penulis se-Indonesia.
Sedangkan Graha saat itu masih tertidur pulas.
Hanya saat Graha tertidur, Aku bisa menikmati aktifitasku sebagai wanita yang normal.
Aku membuka buku lembar demi lembar. Membaca puisi-puisi karya dari penulis.
Kebetulan salah satu puisi yang berada di buku itu adalah karya penulis Shinta Ohi.
Yang tertulis demikian.
...Lingkaran Kepatuhan...
...Oleh: Shinta Ohi...
Bunga pukul tiga berselimut kumbang telah datang ke dunia.
Meski parasnya yang masih rapuh, menjadi kebanggaan oleh pohonnya.
Karena terlihat sangat elok dan mempesona mata.
Hingga Bunga itu semakin merekah,
Pesonanya yang kini mulai merah merona.
Tak jarang lalat, lebah dan kupu-kupu bergerumun mendekat ingin mencicipinya.
Tanpa aba-aba, dengan serakah Mereka berebut untuk menguasainya.
Hingga merusak pesonanya.
Dan dengan terpaksa bunga masuk dalam lingkaran kepatuhan.
Yang dibuat oleh aturan semesta.
Hingga suatu hari jati diri bunga telah gugur.
Dalam batin Bunga, ingin sekali membalikkan waktu agar lebih membalut pesonanya.
Bisakah?
Jember, 15 April 2023
Setelah membaca ini, entah kenapa Aku merasa hanyut di dalamnya. Penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
"Astaga, sepertinya Dia sangat menyesal" gumamku.
...----------------...