
Putra kembali ke arah tempat Zaidan duduk dengan mengampit map yang berisi berkas katalog barang yang sudah disiapkannya sebelum berangkat bersama Zaidan.
"Dari melihat wajahmu sepertinya Kamu berhasil" kata Zaidan.
"Bagaimana Pak Zaidan tahu? Jika kafe itu pasti akan membeli barang Kita?" kata Putra.
"Itu karena Mereka memang membutuhkannya" kata Zaidan.
"Tapi Pak Zaidan benar-benar genius dalam membaca peluang pasar. Saya tidak menyangka jika Mereka benar-benar pesan barang Kita" kata Putra.
"Pertama, itu karena sebuah kafe memang membutuhkan sebuah design indah dan unik untuk mencuri minat pelanggan agar sejuk dipandang mata oleh pelanggannya. Kedua, Bos dari Kafe itu tidak mengenaliku dan tidak mendengar berita burukku. Dan yang ketiga, itu karena Kamu percaya diri dan pintar" kata Zaidan.
Mendengar seorang CEO menyanjung pekerjaan Putra, tentu membuat hati Putra berbunga-bunga saat itu.
"Hari ini kerja bagus Putra. Kita bisa kembali" kata Zaidan.
"Terimakasih Pak Zaidan" kata Putra.
...****************...
Esok Pagi,,,,
"Ayo, ayo cepat. Pagi ini Kita lebih fokus untuk membersihkan bangunan. Karena nanti siang ada asisten dan Direktur datang kemari. Jadi bersihkan seluruh lingkungan sebersih mungkin. Mengerti?" Perintah Ketua di tempatku bekerja saat ini.
Pagi itu, suasana terlihat mendung tanpa hujan. Suasana yang sejuk seperti ini, membuatku sangat ingin di pulau kapuk tertidur pulas tanpa gangguan. Tapi kenyataannya itu hanya bisa jadi bayangan saja kali ini.
Aku harus mulai membersihkan lingkungan kantor. Tak lupa juga jalanan depan, taman dan lapangan.
"Hah, di rumah bersih-bersih. Di tempat kerja juga bersih-bersih" racauku.
Semua anggota dibagi menjadi 4 tim. Tim 1 bagian kebersihan kantor. Tim 2 bagian kebersihan jalan. Tim 3 bagian kebersihan taman. Dan tim 4 bagian kebersihan lapangan. Setiap tim hanya beranggota 2 orang saja.
Kebetulan Aku mendapatkan tim pada bagian lapangan. Yaitu dengan teman kerjaku yang bernama Rindu.
Pada kebersihan bagian lapangan di sini lebih banyak dedaunan yang kering sedang berserakan. Aku dan temanku Rindu menyapunya dengan sapu sada.
Sesekali angin sepoi-sepoi terasa mengibas bajuku kala itu. Terasa segar dan sejuk. Ada sebuah kenikmatan tersendiri saat beraktifitas pagi hari.
Entah kenapa badanku juga lebih ringan dan ototku tidak kelu.
Dalam 1 jam, akhirnya semua telah selesai. Kami semua duduk dan beristirahat. Bersama aqua gelas yang dibagikan oleh ketua kepada Kami.
__ADS_1
Dalam duduk, di sana Kami saling mengobrol satu sama lain sebagai staff karyawati.
"Direktur itu selalu kemari setiap 3 bulan sekali. Entah kenapa baru kali ini Dia berkunjung dalam jangka 2 bulan" kata salah satu staff karyawati.
"Lebih cepat lebih baik kan? Aku tidak sabar ingin bertemu dengan asistennya" kata staff lainnya.
"Aish Kamu ini!" kata staff lainnya.
Di samping Mereka duduk, tentu Aku mendengar pembicaraan Mereka dengan sangat jelas.
"Emang kenapa dengan asistennya?" tanyaku penasaran.
"Asisten itu memiliki wajah yang tampan, badannya tinggi, pendiam, dan pintar lagi. Bayangkan,,,, di usia mudanya Dia sudah menjadi asisten seorang direktur. Dan satu hal lagi yang ada padanya. Dia juga sangat pintar menarik hati wanita dengan pesonanya" kata staff karyawati lainnya.
"Owh" kataku tidak tertarik karena Aku tahu statusku sudah menjadi seorang istri sekarang.
"Dengar-dengar Dia juga belum menikah" kata Staff karyawati lainnya.
"Dia kan masih muda. Sekitar umur 25 tahun kayaknya" kata staff lainnya.
"Benarkah? Wah, angka itu pas sekali denganku" kata staff lainnya.
Di saat staff karyawati lainnya masih sibuk membicarakan asisten direktur itu. Aku meneguk air aqua hingga habis. Lalu kembali masuk ke ruangan.
Aku duduk di bangku dan menyalakan laptopku. Dengan fokus Aku melanjutkan pekerjaanku. Yaitu membuat format formulir kehadiran Karyawati di aplikasi excel.
Tak lama kemudian, teman-teman kerjaku bergerombol masuk dan melanjutkan pekerjaan Mereka masing-masing.
Waktu telah berlalu,,,,
Jam dinding telah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Menandakan bahwa pada jam ini telah memasuki waktu istirahat.
"Hah,,, akhirnya,,, bisa istirahat juga" gumamku dengan merentangkan tanganku ke atas, memoletkan tubuhku yang tadinya membeku duduk tegak melihat monitor.
Aku langsung keluar mencari makan. Karena kebetulan, di tempat kerjaku yang sekarang tidak ada fasilitas makan. Gaji yang diterima adalah gaji kotor.
Aku keluar berjalan mencari tempat makan terdekat. Kebetulan di sana ada sebuah warung lalapan remaja. Yang memiliki menu segala macam lalapan. Mulai dari Ayam goreng, Ayam bakar, rempelo ati, Bebek goreng, lalapan tempe, lalapan lele dan juga ikan gurame.
Untuk menghemat uang, Tak jarang Aku memilih menu yang paling murah. Yaitu lalapan tempe. Hanya Rp 8000,00 per porsi sudah dengan nasinya. Ditambah dengan air putih seharga Rp 500,00.
Untukku, yang penting adalah kenyang. Rasa enak adalah nomer yang kesekian.
__ADS_1
Dengan uang Rp 8.500,00 Aku bisa makan siang untuk mengisi perutku yang kelaparan.
Kebetulan hari itu Aku juga tidak membawa bekal dari rumah. Karena bangun kesiangan dari biasanya.
30 Menit telah berlalu. Aku kembali ke kantor.
Tak disangka di sana terlihat keadaan sedang gaduh.
Melihat keadaan yang tidak seperti biasanya, Aku mulai bertanya-tanya.
"Bukankah masih jam istirahat. Tapi kenapa Mereka masih ramai sekali?" gumamku.
Aku tanya kepada salah satu teman kerjaku yaitu Rindu.
"Ada apa Rindu?" tanyaku.
"Hei, Asisten sama direktur akan segera datang. Jadi, Kita harus berbaris menyambut kedatangannya" kata Rindu.
"Meski masih jam istirahat?" tanyaku meyakinkan.
"Sudah, nurut aja. Ikut orang memang seperti ini" kata Rindu.
Yang tadinya Aku berencana dalam sisa waktu istirahat akan Aku gunakan untuk meluruskan punggungku. Kini ternyata rencana itu harus di buang jauh-jauh.
Tak lama ada sebuah mobil Toyota berwarna Putih masuk di kantor.
Pintu mobil bagian depan, alias pintu sopir terbuka setelah mobil itu berhenti.
Sebuah sepatu berwarna hitam dengan celana hitam. Pakaian hem putih di balut dengan jas berwarna hitam kini telah mulai keluar.
Lalu Dia segera membukakan pintu sang Direktur yang ada di bagian belakang.
Saat melihat laki-laki yang sedang berdiri tegak itu. Mataku langsung membulat.
Paras wajah, Tubuh, dan gerak-geriknya tidak asing bagiku. Meski sudah 5 tahun telah berlalu. Aku masih kenal lekat dengan porosnya.
Siapa sangka, jika takdir begitu membingungkan.
Karena laki-laki yang saat ini berdiri di samping direktur itu. Dia adalah laki-laki yang pernah Aku cinta. Cinta pertamaku di Masa laluku. Tidak salah lagi, Dia adalah Kak Lucky.
"Astaga, Dia benar-benar Kak Lucky?" gumamku.
__ADS_1
...----------------...